Simple But Perfect

Simple But Perfect
Semuanya Demi Kamu



Saat ini, Jenn bersama teman-temannya sudah bersiap-siap untuk pulang kerumah masing-masing. Berbagai cara sudah dilakukan Putri, agar sedikit saja dapat menahan Jenn dan yang lainnya. Kebetulan saat itu, dokter yang semalam melakukan pemeriksaan pada Jenn, kembali memastikan keadaannya. Semuanya baik-baik saja. Dan Jenn diperbolehkan pulang saat itu juga.


Oke, sampai disini aja. Gue nyerah ! selanjutnya gue gak tanggung jawab.


Gadis tomboi itu hanya berharap dalam hatinya, semoga Alvino datang tepat waktu. Karena dia sudah tidak punya alasan lagi.


Komplotan gadis-gadis cantik itu berjalan meninggalkan gedung rumah sakit. Ketika sampai didepan dan hendak ke parkiran, mereka sudah dibuat olahraga jantung pagi-pagi. Dari arah depan, sebuah mobil sport porsche 718 berwarna silver. Melaju dan berhenti tepat didepan mereka.


"Aaakkkhhh ..." sontak ketujuh gadis itu berteriak kompak, sembari memejamkan mata dengan kuat. Dan tentu saja mengundang perhatian orang-orang yang disekitar. Tidak terkecuali dua pengendara motor yang belum bergerak sedikitpun, didepan pintu masuk rumah sakit itu.


Kenn dan Farel yang belum berpindah sejak memberikan jalan bagi pengemudi mobil sport itu, kembali dibuat kesal dengan aksi pengemudi itu yang hampir saja menabrak sekomplotan gadis-gadis.


"Gila ya, tuh orang" kesal Farel.


"Ck, orang kaya dimana-mana emang suka seenaknya saja" ucap Kenn dengan malas.


"Tadi nggak mau ngalah, sekarang malah semakin berulah. Dasar songong" Farel mencebik.


Namun sejurus kemudian, wajah kesal dan malas itu berubah geram. Karena melihat gadis-gadis yang histeris didepan sana, adalah Jenn dan teman-temannya. Kenn yang ingin kesana langkahnya tertahan, ketika melihat pengemudi itu keluar dari mobilnya.


Alvino tersenyum dari balik kemudi. Lelaki tampan itu keluar perlahan dari mobilnya, dengan senyum yang tak pernah pudar. Lelaki yang terlihat kece dengan tampilan slim fit jeans berwarna navy blue, serta kaos putih polos yang dilapisi jaket bomber berwarna army, tak lupa kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Simple, namun pesonanya mampu menghipnotis setiap netra kaum hawa.


Alvino berdiri menyandarkan pundaknya dimobil, dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya. Terus menatap sosok mungil didepannya. Sedetik kemudian Alvino menurunkan kacamata dan semakin tersenyum lebar pada gadisnya. Memperlihatkan lesung pipi yang merupakan ciri khasnya.


Sosok mungil yang berdiri beberapa langkah didepannya, terpaku begitu meliha dirinya. Teman-temannya pun yang tadi menatap tajam, kini berubah takjub melihat lelaki tampan itu. Sedetik kemudian, Jenn tersenyum bahagia dan berlari kecil berhambur kedalam pelukan kekasihnya, yang sudah merentangkan kedua tangannya.


"Bi, i miss you" ucap Jenn lirih, begitu ada dalam pelukan Alvino. Tidak peduli dengan banyak pasang mata yang memandangnya. Jenn tak peduli. Yang dia rasakan saat ini, hanya ingin meluapkan rindu yang bertumpuk-tumpuk selama ini. Rindu yang sudah tidak terbendung lagi. Dan dipagi ini, Jenn ingin meluapkan semua rasa itu. Tangan kecilnya melingkar erat di pinggang Alvino.


"Aku sudah disini, honey" Alvino berkata dengan lembut. Sambil memeluk tubuh mungil itu. Sesekali mengusap-usap surai coklat nan indah milik Jenn. Tak lupa, dia menghujani kepala gadisnya dengan kecupan-kecupan lembut.


"Kenapa nggak ngasih tau aku dulu, kalau mau kesini ?" Jenn mendongak sekilas dan kembali memeluk sang kekasih. Membenamkan wajahnya didada bidang itu.


"Anggap aja kejutan honey, ya walaupun mendadak" Jenn melepaskan pelukannya, dan mendongak menatap wajah tampan yang selalu dirindukannya. Dia mulai sedikit khawatir dengan adanya Alvino.


"Kenapa mendadak, Bi" Jenn sengaja bertanya, meskipun dia sudah tahu.


"Karena kamu, honey" Alvino mencubit gemas hidung kekasihnya.


"Bukan karena tujuan lain kan ?" Jenn takut, Alvino akan berbuat sesuatu terhadap Willy.


"Mikir apa sih, hon" Alvino terkekeh dengan pertanyaan kekasihnya. "Pasti belum mandi, jadi bawaannya mikir yang aneh-aneh. Ya kan ?" Lagi Alvino tertawa. Jenn hanya bisa tersenyum menikmati pemandangan indah didepannya.


Putri dan yang lainnya dibuat iri dengan keromantisan dua sejoli itu. Mereka tahu, Alvino orang yang sangat menyebalkan. Pacar yang sangat egois, dengan kadar keposesifan yang berlebihan. Namun dia tetaplah sosok yang sangat lembut dan sangat mencintai Jenn.


"Kita di kacangin girls" ucap Alena, dengan suara yang dibesar-besarkan. Sengaja mengusik momen romantis saat itu.


"Iyah ni, gue dilupain. Padahal kan gue yang terlibat dalam kejutan kecil pagi ini" Putri pura-pura kesal.


Jenn menoleh pada teman-temannya, dan tertawa. Tangan kecilnya menarik tangan besar Alvino dan berjalan kearah komplotannya.


"Mau ngapain ? nggak. Aku nggak ijinin kamu pelukan dengan orang lain. Sekalipun itu temen kamu. Aku nggak suka" ucapan Alvino membuat kesal segenap kaum hawa didepannya. Posesifnya kumat lagi.


"Hadew, baru cewek. Temannya pulak. Gimana kalo cowok ? bisa mati dibunuh maybe ! ckckck heran deh" kesal Alena. Jenn hanya cengengesan. Sedangkan Alvino tampak cuek saja.


"Pulang yuk, gerah, belom mandi, mana laper lagi" rengek Maureen.


"Oh iya, makasih ya semuanya. Sudah jagain Jenn dari semalam. Dan sebagai ucapan terimakasihnya, kita makan ditempat mana aja, sesuai rekomendasi kalian. Dan kalian boleh pilih menu apa saja, gue yang bayarin. Gimana ?" tawar Alvino.


"Nah, kalo yang ini baru oke. Gitu dong dari tadi. Cabut sekarang yuk" ucap Reta semangat.


Dan komplotan gadis-gadis cantik itu berpencar menuju tunggangan masing-masing. Alena dan Maureen, Yuni dan Reta, Fio yang sendiri, dan Putri juga sendiri dengan trailnya.


Jenn menatap wajah kekasihnya penuh cinta. "Baik banget sih pacar aku, thank you Bi" ucapnya dengan senyum.


"Semuanya hanya demi kamu honey, i love you" ucap Alvino, dan menunduk memberikan kecupan manis didahi kekasihnya.


Dan semua drama romantis didepan rumah sakit pagi itu, tidak lepas dari pandangan hambar seorang Kenn. Rasa kecewa yang tak semestinya, kini ditelannya. Rasa sakit yang tak seharusnya, kini menggerogotinya. Kenyataan yang tak ingin dibayangkan sama sekali, kini benar-benar menamparnya. Seolah menyurutkan setetes semangat yang baru hendak terpancar dalam dirinya.


Sadar ! ya, Kenn terlalu menyadari diri, bahwa dia terlalu jauh dan tak akan pernah mampu untuk meraih apa yang baru saja disemogakannya pagi itu. Tempat dimana dia berpijak saat itu, seolah mengecil dan menjadi sempit. Memojokkan dirinya disudut bangunan rumah sakit itu. Seolah tidak terlihat oleh dunia, Kenn merasa dirinya begitu kecil. Dia tidak bisa dibandingkan dengan seseorang yang sejak tadi memeluk tubuh mungil yang juga dirindukannya. Gadis itu terlalu tinggi untuk digapainya.


Jadi seperti itu kekasihmu ? Aku memang benar-benar hanyalah butiran debuh.


Bantu aku Tuhan, untuk menghilangkan rasa ini, sebelum aku semakin jauh. _Kenn_


Saat Alvino mengandeng tangan Jenn dan berbalik hendak masuk ke mobil, mata Jenn menangkap sosok yang semalam sudah menolongnya. Ingin rasanya kesana dan mengucapkan terimakasih. Namun itu tidak mungkin terjadi, dengan adanya Alvino disisinya seperti sekarang. Jenn hanya bisa menatap wajah tampan yang sarat akan kekecewaan itu dari jauh.


Terimakasih kak Kenn ! Semoga kita masih bisa bertemu. Dan aku akan mengucapkan terimakasihku didepanmu. _Jenn_


.


.


.


.


.


to be continued ....


.


.


.


Happy reading buddies 😊❤️