
...Hai, hai ποΈ Jumpa lagi π...
...Jangan lupa like dan komen yah π€...
...Terima kasih sebelumnya π...
...Salam sehat, dan ......
...*...
...*...
...*...
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...###...
Kebodohan ataukah kegilaan jika seseorang menghitung waktu? Mungkin saja itu hal lumrah dalam semusim penantian, ataukah keisengan belaka kaum pejuang asa? Aku mengatakannya lazim, karena itu realitas.
Namun satu hal yang pasti, setangkas apapun seseorang menghitung waktu, bahkan ilmuwan hebat sekalipun, tidak akan pernah bisa mempercepat ataupun memperlambat lajunya sang waktu hanya karena egoisme semata. Sekedar untuk menahannya barang sedetikpun hanyalah omong kosong belaka.
Siapa manusia hingga ingin menggugat otoritas Yang Maha Kuasa? Jalani saja dan nikmati prosesnya.
Layaknya Kenn dan Jenn. Pernah sama-sama saling menanti dalam diam yang menyiksa. Berharap bisa memacu waktu agar segera melupakan dan menemukan sosok yang lain. Berharap bisa memutar kembali waktu dengan harapan tidak pernah bersua. Tapi akhirnya proses membawa mereka hingga ada di titik saling memiliki.
...#####...
Bentala kini dikungkung gulita, pura mulai dihiasi kelap-kelip lampu di setiap rumah maupun jalanan, memamerkan vista khas yang indah di kala malam.
Di sebuah hunian sederhana, tepatnya hunian baru Kenn dan Jenn, tampak begitu sepi. Hanya terdengar suara jarum jam yang terus berdetak seolah mengajak Kenn untuk berbagi cerita di waktu sunyi.
Sudah sejam lebih, lelaki tampan itu menunggu istrinya yang sedang tidur. Rencananya mereka akan kembali ke kontrakan lama untuk membereskan pakaian serta beberapa barang yang akan mereka pindahkan ke rumah baru mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30, tetapi istrinya belum juga terjaga.
Kenn yang tidak tega membangunkan istrinya, memilih menonton siaran TV di ruang keluarga. Beberapa kali lelaki itu bolak-balik mengganti channel, tapi tidak ada satupun yang disukainya.
Kenn kembali mematikan televisi lalu beranjak ke kamar, bergabung dengan sang istri. Ia naik ke tempat tidur dan ikut berbaring di samping istrinya.
"Nyenyak banget sih tidurnya." Kenn menyibak beberapa helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
Cup!
Ia mengecup kening istrinya dan membawa wanita cantik itu ke dalam pelukannya. Jenn sedikit terusik tapi semakin nyaman dengan kehangatan yang ditawarkan sang suami. Wanita itu menelusup masuk ke dalam pelukan Kenn, membenamkan wajah cantiknya di dada bidang yang selalu mampu menyayikan damai hati.
Melihat tingkah istrinya, sebuah ide jail muncul di kepala Kenn. Lelaki itu tersenyum sambil tangannya berpindah posisi, yang tadinya melingkar di perut Jenn, kini naik di kepala wanita itu. Perlahan Kenn memeluk kepala istrinya dan mengelus lembut hingga Jenn semakin merasa nyaman. Kemudian dengan jahatnya Kenn mendekap erat dan menekan kepala Jenn ke dadanya hingga wanita itu kesulitan bernafas.
"Hmpp." Jenn terbangun dan meronta dalam pelukan suaminya. Tangan kecilnya memukul-mukul punggung Kenn berulang kali dengan kerasnya.
Kenn terbahak dan melepaskan istrinya. Senang sekali rasanya melihat wajah ngambek wanitanya.
"Kalo gak gitu, gak mau bangun kan," ucap Kenn dengan tawa yang tak kunjung reda.
Merasa kesal, Jenn menghujani lelaki itu dengan pukulan. "Ih, gangguin aja deh! Kesel, kesel, keseeeeelllllllll. Pokoknya aku kesel, aku marah." Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu berbarengan dengan pukulan yang ia berikan.
"Ampun, Sayang! Ampun," ucap Kenn dengan masih saja tertawa.
"Ck, nyebelin. Awas sana!"
Jenn menghentikan pukulannya lalu mendorong Kenn dan langsung berbalik, beranjak dari tidurnya. Baru saja kakinya hendak turun menyentuh lantai, tangan besar Kenn sudah lebih dulu menariknya hingga ia kembali ambruk di ranjang. Secepat kilat Kenn mengganti posisinya kini menindih tubuh mungil sang istri.
"Mau kemana hah?" Kenn menahan kedua tangan istrinya, dan semakin mendekatkan wajahnya. "Aku ditinggal tidur selama hampir dua jam, bengong sendirian, dan sekarang kamu mau main pergi gitu aja?" Kenn menatap istrinya dengan kilatan gairah.
Jenn mengerutkan keningnya menatap netra hitam suaminya yang telah berkabut. "Lah, tujuan kamu jailin aku buat apa? Mau balik ke kontrakan kan? Ya, udah kita balik," ucap Jenn yang tidak paham tatapan suaminya.
"Itu tadi. Sekarang tujuannya beda," bisik Kenn dengan suara serak di telinga istrinya disertai tiupan lembut, membuat bulu kuduk Jenn seketika meremang.
Wanita itu mulai paham apa yang diinginkan suaminya. "Kita kan mau balik, Yang! Nanti aja kalo udah di kontrakan yah," ucap Jenn begitu pelan sambil menahan nafasnya setengah mati, karena tangan Kenn sudah tidak bisa dikondisikan
Kenn tak menjawab ucapan istrinya. Tangan nakalnya yang sedari tadi tak bisa diam, kini mulai menelusup masuk ke dalam kaos yang dipakai istrinya.
"Kenapa?" tanya Kenn sambil menatap istrinya dengan gairah yang tertahan. Suaranya terdengar berat.
"Ya kita harus balik dong. Ini udah hampir jam 8, Sayang! Nanti kemalaman gimana?" Jenn mencoba membujuk suaminya.
"Ya udah tidur aja, besok baru balik juga gak papa kan? Toh ini juga rumah kita," jawab Kenn dengan enteng. Ia melepaskan tangan sang istri yang mencoba menghentikan kegiatannya.
"Tapi, akhh!" Ucapan Jenn terhenti dengan ******* yang tertahan karena ulah tangan jail Kenn yang berhasil menelusup ke dalam bajunya, dan mencengkeram lembut area favorit itu. "Besok pagi aku harus ke kampus, Yang! Aku pakai apa nanti coba hah?" pekik Jenn. Ia mulai tak tahan dengan jamahan suaminya yang memabukkan. "Gak ada baju ganti di sini, akhhh." Lagi-lagi cengkraman lembut Kenn membuat wanita itu mendesah meski mulutnya tak henti-henti mencari alasan.
Plakkk!!!
"Bisa diem dulu gak sih?" Jenn memukul tangan nakal suaminya.
Bukannya ingin menolak keinginan sang suami, tapi Jenn masih mengingat jelas game semalam, dimana suaminya yang seolah lupa untuk mengakhiri game-nya. Hal itu yang membuat Jenn bangun kesiangan, itupun dipaksa suaminya untuk mandi dan sarapan. Sampai ia ketiduran sejak sore tadi pun karena masih lelah, dan kali ini ia tidak ingin gairah sang suami menghalangi niatnya untuk kembali ke kontrakan. Alasan besok ke kampus pun itu benar adanya.
"Sebentar aja, please! ... ya, Sayang yah!" ucap Kenn seraya memohon.
Jenn yang tidak tega melihat wajah memelas sang suami, akhirnya memberikan izin. Ia selalu luluh dengan sikap Kenn tanpa paksaan.
"Janji yah, sebentar aja tapi."
Lampu hijau yang dinyalakan Jenn, laksana percikan semangat yang melebur bersama gairah Kenn. Lelaki itu mulai mengemudikan hasratnya melintasi jalur-jalur rawan, mendaki ancala hingga ke puncak, menuruni lurah, meninggalkan jejak-jejak lintasan, membuat Jenn ikut terseret dalam putaran roda yang memabukkan, yang dengan gagahnya dikendalikan oleh Kenn. Lelaki itu semakin melaju begitu menyusuri jalan tol, dan dengan lihai yang sudah terlatih, ia mengajak Jenn sama-sama menembus awan menemukan firdaus buana yang melegakan.
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Pada waktu yang sama, di tempat yang berbeda, di sebuah klub malam. Tampak seorang lelaki tampan sedang duduk dengan kondisi yang begitu kacau. Rambut yang acak-acakan, kemeja kusut dengan tiga kancing yang terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang. Di depannya terdapat hamparan minuman beralkohol. Tidak lupa sebatang rokok yang masih berasap di tangannya.
"Gue harus memulainya dari mana?" tanya lelaki itu pada seorang rekannya. "Sudah terlalu banyak waktu yang terbuang. Gue gak mau gagal kali ini!" sambung Lelaki itu setelah melukiskan sebuah inisial nama dengan kepulan asap yang ia hembuskan dari mulutnya.
"Harapan membuat seseorang menjadi kuat. Kebahagiaan selalu menjadi milik mereka yang bersabar. Ini hanya tentang waktu." ucap rekannya dengan bijak.
"Ya, waktu yang tidak pernah sedikitpun mampu mengikis rasa ini. Waktu yang selalu terbunuh dengan bayang-bayang dirinya." Laki-laki itu mematikan rokok yang masih menyala di tangannya. Ia beralih meneguk segelas wine untuk kesekian kalinya. "Gue sudah cukup berdiam diri dan bersabar, tidak lagi untuk kali ini. Musim ini harus berakhir, dan waktunya dimulai dari sekarang!"
Lelaki itu meletakkan gelas di atas table di depannya secara kasar, dan langsung beranjak meninggalkan tempat itu.
..._____β°β°β°β°β°_____...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
Halo epribadeeeh π Maaf telat lagi π
Makasih yah buat yang selalu setia nungguin Jenn & Kenn π
Terima kasih buat kesediaannya mampir di karya receh ini ππ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah sayangΒ²ku π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Love you all guys ππ₯°
Follow Ig author : @ag_sweetie0425