Simple But Perfect

Simple But Perfect
Lebih Dari Pantas



...Hola Budies πŸ–οΈ...


...Jumpa lagi 😍...


...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Tiba di rumah Farel, Jenn turun dari motor dan berjalan menghampiri mamanya Farel yang sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.


"Loh, Kenn! Gak masuk dulu sama Jenn dan yang lainnya?" Mamanya Farel melihat laki-laki itu tak juga turun dari motor, lantas membuatnya bertanya.


"Gak, Tan! Kenn mau langsung balik ke bengkel."


"Emang Farel gak ngizinin? Udah sore ini kok." Wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya yang sudah sedikit keriput.


"Iya kak, tadi juga Farel bilang mau pulang kok. Bentar lagi pasti sampai." Fio ikut menahan Kenn.


Iya sih ... isi pesan itu emang aneh.


Batin Kenn begitu penasaran dengan pesan yang dikirimkan dari nomor temannya. Karena itulah, ia tetap ingin ke bengkel.


Namun, baru saja ia menghidupkan kembali motornya, suara deru mobil Farel sudah memasuki gerbang. Kenn pun mengurungkan niatnya untuk ke bengkel.


Nah kan, dia aja udah pulang. Ngapain gue disuruh balik? Benar-benar ada yang gak beres ini.


"Tuh kan, Farel udah pulang, Kak!" Kenn tersenyum menyahut ucapan Fio.


Setelah memarkirkan mobilnya ke garasi, Farel menghampiri Kenn.


"Mau kemana Lo? Gak masuk?" Bingung melihat Kenn yang belum juga turun dari motornya.


Ingin sekali mempertanyakan soal pesan yang dikirimkan Farel tadi, tapi ia tidak mau membuat yang lain cemas, terutama istrinya.


Dia sendiri tidak sadar atau pura-pura lupa? Entahlah, nanti saja bahasnya.


"Gak kok, ini juga mau masuk." Turun dari motor dan berjalan ke arah Jenn. Ia merangkul pundak istrinya dan berjalan masuk ke dalam, disusul yang lainnya.


Siang menjelang sore di rumah besar keluarga Prasetyo, begitu ramai dengan kehadiran sepasang suami istri dan teman-teman mereka.


Yang lainnya sibuk bercanda, bercerita, dan bermain game, seru-seruan bersama di teras samping. Berbeda dengan Jenn yang sibuk merepotkan mamanya Farel membuatkan salad buah untuk dirinya. Sedangkan Kenn dan Farel baru saja menikmati makan siang yang sudah lewat waktu.


"Lain kali ... jangan lupa waktu makan Kenn, Farel. Makan dulu baru kerja. Kalo sakit gimana bisa kerja, ya kan?" Wanita paruh bayah itu menasehati dua lelaki yang sedang sibuk menyantap makanan.


Jenn melirik suaminya yang terlihat sangat menikmati makanan di depannya. Saat itu mereka sedang berada di dapur, dengan meja makan besar yang berada di tengah-tengah ruangan mewah itu.


Maafkan aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Kamu selalu merhatiin waktu makan aku, lakuin pekerjaan rumah yang seharusnya jadi tugas aku. Tapi aku ... istri macam apa aku?


Raut cantiknya tiba-tiba berubah murung, dan itu tidak luput dari perhatian Fio.


"Bebs, Lo kenapa? Kok mukanya sedih?" tanya Fio yang serta-merta mengundang antensi Kenn, Farel, dan mamanya.


"Jenn, ada apa, Sayang? Ini salad buahnya udah jadi, maafin mama yah, udah buat kamu menunggu." Mamanya Farel memberikan dua mangkuk berisi salad buah. Satunya untuk Jenn, dan satu lagi untuk Fio. Sementara itu, ia sudah meminta tolong ART membawakan cemilan dan minuman untuk mereka yang lainnya di teras samping.


Wanita cantik itu diam saja tak menanggapi pertanyaan-pertanyaan Fio dan mamanya Farel. Matanya memandang lurus ke arah sang suami yang duduk berhadapan dengannya dan terhalang meja makan.


"Sayang?" Kenn bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Jenn. "Kenapa hmm? Mau aku buatkan sesuatu?" Hendak berjongkok melihat wajah istrinya, tapi wanita cantik itu sudah lebih dulu memeluknya.


Begitu erat pelukan Jenn. Ia menyembunyikan wajah cantiknya di perut sang suami.


Kenn merasakan getaran kecil dari pundak istrinya. Bersamaan dengan itu, isak kecil pun sayup-sayup terdengar.


Semua yang ada di sana kaget dan bertanya-tanya.


"Hei, ada apa Sayang?" Kenn mengelus punggung Jenn berulang kali. "Mau apa? Bilang sama aku," ucap Kenn dengan lembut. Ia mendadak khawatir.


Jenn menggeleng. "Mau pulang!" ucapnya sesegukan begitu lirih.


"Loh, tadi katanya kangen sama mama, ini belom juga sejam masa mau pulang?" Wanita paruh baya itu memasang raut sedih. "Atau mama ada salah ngomong?" Lagi, Jenn hanya menggeleng.


"Apa ada yang sakit, Sayang?" Kenn menunduk ingin melihat wajah istrinya, tapi Jenn terus menyembunyikan wajahnya.


"Mau pulang!" ucapnya lagi.


"Ya udah, kita pulang. Tapi ... gak makan salad dulu?" Kenn sengaja ingin menahan istrinya. Ia ingin menanyakan perihal pesan aneh dari nomor ponsel Farel.


"Gak mau. Mau pulang!" Kenn tak bisa lagi untuk menahan. Ia mengerti jika suasana hati istrinya bisa berubah kapan saja.


"Kalo gitu mama taroh di kotak makan yah, nanti makannya di rumah aja." Melihat Jenn yang mengangguk, wanita paruh baya itu langsung mengambil kotak makan berukuran kecil dan memindahkan salad buah ke dalamnya.


Fio menatap calon mertuanya. "Udah gak papah, ibu hamil emang gitu mood-nya. Mama ngerti kok!" Mengelus kepala Fio. Ia berjala menghampiri Jenn. "Gak marah sama mama kan?" tanya wanita itu lembut.


Masih memeluk Kenn, si cantik itu menggeleng. "Enggak, Jenn mau pulang aja!" Kenn mengambil kotak makan yang diberikan mamanya Farel. Sebelah tangannya membantu Jenn untuk berdiri. Laki-laki itu sampai lupa menghabiskan makannya.


Mereka berjalan menuju teras samping, hendak berpamitan dengan yang lain.


"Guys, kita balik duluan yah." ucap Kenn dan yang lainnya keheranan.


"Lah, baru juga dateng. Masa mau pulang sekarang? Gak bosen apa, mesra-mesraan terus di rumah?" Protes Reza yang mendapat lirikan tajam dari Kenn.


Kenn memaki Reza dalam hati. Reza langsung memalingkan wajahnya tidak mau melihat sorot mata Kenn yang mengancam.


Yang lain pun turut bertanya, dan dijawab oleh mamanya Farel lewat sorot matanya bahwa, bumil cantik satu itu sedang mengalami perubahan mood.


"Gue mau ngomong sesuatu sama Lo. Tapi, nanti aja besok di bengkel." bisik Kenn di telinga Farel. Tak lagi ingin bertanya, Farel tahu pasti ada hal penting yang tidak boleh diketahui oleh yang lain.


"Hati-hati, jangan ngebut-ngebut Kenn! Kalo udah sampai, kabarin Tante yah!" pesan mamanya Farel.


Sesudah itu keduanya segera berlalu dari sana. Sepanjang perjalanan, Kenn terus saja bertanya pada istrinya. Tapi wanita itu tidak ingin menjawab apapun. Diam dan memeluk Kenn begitu erat.


Mungkin perasaannya sedang sensitif dengan sesuatu.


Kali ini mereka masih pulang ke kontrakan. Karena berdekatan saja jadi tidak membutuhkan waktu yang lama.


Begitu tiba di sana, Jenn turun dan melangkah penuh semangat. Membuka pintu dan langsung masuk. Melihat itu Kenn tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.


Hmm, apa aja deh, yang penting kamu bahagia!


Kenn langsung menyusul istrinya ke kamar. "Sayang!" Tidak ada sahutan. Kenn memilih rebahan sejenak di ranjang melepas lelahnya.


Sepuluh menit berlalu dan wanita cantik itu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar sehabis mandi. Kenn menyadari kehadiran istrinya. Ia membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat menggoda membangkitkan gairahnya. Ia bangun dan menghampiri istrinya.


Jenn yang sedang berdiri di depan lemari untuk memilih baju saat itu, terlonjak kaget ketika kecupan keras tiba-tiba mendarat di pundak mulusnya yang terekspos. Bersamaan dengan sepasang tangan kekar yang sudah melingkar di bagian dada dan lehernya.


"Aish, Sayaaaanngg!" Jenn merengut kesal. "Kenapa di situ sih? Itu keliatan nanti tauuuu!" Tidak terima dengan stempel yang diberikan Kenn pada bagian yang terbuka.


"Kenapa? Suka-suka aku dong mau di mana aja." Mulai menggigit daun telinga istrinya. "Semua ini milik aku." Tangannya kini menggerayangi tubuh mungil Jenn dengan bibir yang tak tinggal diam.


Jenn hampir saja mendesah, tapi masih dapat ditahannya. Ia sudah hafal, jika suaranya berhasil lolos maka Kenn tidak akan membiarkannya istirahat dengan tenang.


"Stop!" pekik Jenn tiba-tiba, ketika tangan nakal Kenn berhasil melepas handuknya. "Iya, Sayang! Iya, ini semua milik kamu. Tapi gimana kalo aku keluar rumah? Diliatin orang kan ga enak, Sayang!" Jenn ingin meraih handuknya kembali tapi tangannya digenggam Kenn dengan erat.


"Gak peduli. Justru itu tujuanku, biar mereka tahu kalo kamu cuman milik aku." Meremas lembut area favoritnya. Jenn memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya kuat menahan *******. "Tadi di kampus kamu marah ada yang melihat dan menyentuhku. Aku pun demikian, jangankan menyentuhmu, melirik sebentar saja aku gak rela." Sekali lagi memberikan stempel di leher jenjang istrinya.


"Ah!" Suara lucknut itu akhirnya lolos. "A-ak-aku mau masak, Sayang!" Jenn hampir tak berdaya. Tapi ia mengingat misinya tadi. "Ntar aja yah." Memutar tubuhnya menghadap Kenn.


"Masak buat apa hm? Aku laparnya, lapar kamu. Bukan makanan." Menunduk dan hendak mencium bibir Jenn, tapi tangan mungil itu lebih dulu menempel di bibirnya.


"Aku gak mau jadi istri yang gak becus ngurusin suami. Aku gak mau kamu kelaparan saat bekerja. Aku gak mau ngeliat ... kamu lahap makan di rumah orang. Nanti kata orang aku gak pantes jadi istri kamu!" Ketidakstabilan mood-nya kembali lagi.


"Apa? Hei, ngomong apa sih? Kata siapa, Sayang?" Gairah Kenn yang tadinya tersulut, kini menyurut. Ia menunduk dan memungut handuk Jenn yang tadi dilepasnya, memakaikan kembali pada wanita itu.


Mata indah itu kini meluruhkan setetes deraian emosi yang tadi sempat terpendam.


"Mama bener. Aku gak pernah ngingetin kamu buat makan, aku gak pernah nyiapin makan buat kamu. Malah kamu yang selalu lakuin itu buat aku." Menangis lagi.


"Eh? Jadi kamu tersinggung sama ucapan tante tadi?" Dengan polosnya Jenn mengangguk. Kenn lalu menuntun istrinya untuk duduk di bibir ranjang. Ia pun duduk di depan istrinya dengan sebelah lutut yang dilipat. "Dengarkan aku! Aku meminta kamu dari orangtuamu, bukan untuk menjadikan kamu asisten yang harus menyiapkan segala keperluan aku, makan, minum dan sebagainya. Bukan! Aku nikahin kamu karena aku mau jadikan kamu teman hidup aku. Bukan partner kerja. Kamu itu tulang rusuk aku. Kamu datang untuk melengkapi hidup aku. Artinya, dengan hadirnya kamu aja udah cukup menyempurnakan hidup aku. Gak perlu kamu lakuin apapun. Lagian itu juga tugas aku. Apalagi kamu lagi hamil. Itu hal berharga buat aku, Jenn! Itu pengorbanan yang besar. Aku gak izinin kamu buat ngapa-ngapain. Aku gak mau kamu kecapean." Menghapus air mata di wajah cantik istrinya.


"Tapi kalo cuman masak aku gak capek kok. Aku udah biasa masak juga. Aku pengen bisa ngelakuin sesuatu buat kamu, biar aku pantes jadi istri kamu."


"Kamu lebih dari pantas, Jenn! Justru aku yang gak pantes buat kamu, makanya aku pengen selalu ngelakuin apapun buat kamu." Meraih tangan sang istri lalu mengecupnya. "Aku hanya minta sama kamu, tetaplah setia mendampingi aku, mencintai aku dengan segala kekuranganku, dan jangan pernah pergi dari hidupku." Menatap netra pekat Jenn dengan lembut. "Oh yah, satu lagi. Tugas kamu yang paling penting, jaga anakku baik-baik. Jaga kesehatan kalian berdua. Itu tugas kamu menjadi istriku!" Memberikan kecupan lembut di bibir mungil istrinya.


Jenn tersenyum kecil. "Terima kasih, Sayang! Tapi kali ini aja yah, izinin aku masak. Yah, yah." Mengedipkan matanya beberapa kali membuat Kenn merasa gemas.


"Baiklah! Aku temenin yah." Jenn mengangguk senang. Kenn lalu bangkit mengambilkan baju ganti untuk istrinya. Ia memilih daster rumahan tanpa lengan di atas lutut.


Biar sebentar lancarrrrrr ... ha-ha-ha! Kenn tertawa dalam hati.


Plakkk!!!


"Auh," ringis Kenn begitu ditimpuk istrinya.


"Aku tau apa yang ada di pikiranmu." Melotot horor.


Kenn semakin terbahak dan keduanya berjalan keluar menuju dapur.


..._____☘️☘️☘️☘️☘️_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


Segini dulu yah gaes πŸ€—


Jangan lupa like dan komen 😍


Thinkyuuuw buat yang selalu mampir πŸ™πŸ˜Š


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ‘‹


follow Ig author : @ag_sweetie0425