Simple But Perfect

Simple But Perfect
Farel dan Fanya



"Aaaa kak Kenn!," teriak Fanya kegirangan begitu melihat Kenn yang baru datang.


Kenn dan mamanya sontak dibuat kaget dengan teriakan gadis itu. Mamanya yang sedang duduk di dekatnya pun langsung menutup kuping. Mereka mengernyit heran melihat tingkah gadis itu.


"Apa-apaan kamu Fanya? Kuping mama sampai sakit ini," kata sang Mama.


Fanya tidak menggubris perkataan mamanya. Gadis itu melompat dari sofa besar yang ada di ruang keluarga dan berlari kecil menuju Kenn. Dia dengan riang menarik tangan Kenn menuju ke teras samping rumah besar itu. Namun baru saja melangkah, suara Farel yang berdiri di ujung tangga menghentikan adiknya.


"Fanya tunggu, gue yang mau ngomong duluan sama Kenn,"


"Gak, Fanya yang duluan!,"


"Gue yang nelpon Kenn buat ke sini, jadi gue yang duluan," menuruni anak tangga.


"Tapi tadi kan kakak udah janji sama gue. Ingat perjanjiannya!,"


"Gak ada perjanjian-perjanjian, kamu kurang fokus itu."


"Ah kakak mulai curang lagi kan,"


Kenn dibuat bingung dengan tingkah dua kakak beradik ini. Lelaki tampan itu hanya diam dan menyaksikan perdebatan keduanya. Begitu juga dengan mama mereka yang masih duduk disana keheranan melihat kedua anaknya memperebutkan Kenn.


"Kalian kenapa? Farel, Fanya!," tanya sang mama.


"Ini ma, kak Farel curang. Tadi udah janji sama Fanya, bakal nelpon kak Kenn ke sini, trus Fanya mau ngomong," adu Fanya pada sang mama.


"Gak ada. Sebelum perjanjiannya, gue emang mau nelpon Kenn datang kesini karena gue ada urusan. Gak ada sangkut pautnya sama perjanjian Lo," ucap Farel tidak mau mengalah.


Kenn dan mama mereka dibuat pusing.


"Ada apa ini ribut-ribut?," tanya Papa Farel yang ikut bergabung bersama istrinya di ruang keluarga.


Seketika suasana yang tadinya berisik dengan perdebatan dua kakak beradik itu menjadi hening. Farel dan Fanya sangat menyegani sang Papa. Begitu juga dengan Kenn, yang sudah begitu akrab dengan keluarga Prasetya.


"Ah, enggak Pa, Farel dan Fanya hanya senang melihat Kenn datang," Farel langsung berjalan cepat menghampiri adiknya yang masih berdiri memegang tangan Kenn. Farel mencubit pelan tangan adiknya, memberi kode.


"Iya Pa, Fanya seneng banget kak Kenn main ke sini," gadis itu memaksa senyum menahan perih karena cubitan kakaknya.


"Kenapa kalian hanya berdiri saja di situ? Ayo! Sini duduk. Papa juga mau ngomong sama Kenn," ucap Papanya Farel.


Ketiganya pun berjalan menghampiri pasangan suami-istri yang tak lagi muda itu. Dengan Farel yang berjalan duluan menarik tangan adiknya, sedangkan tangan sebelah gadis itu menarik Kenn. Hal itu justru menjadi pemandangan yang menggelitik bagi pasangan paruh baya itu.


Kedua orang tua itu tertawa melihat tingkah ketiganya.


"Kalian bertiga pada kenapa sih malam ini?" Mamanya bertanya disela-sela tawanya. "Udah kayak tiga serangkai yang takut terpisah aja," masih saja tertawa sambil geleng-geleng kepala.


Ketiganya tersadar dan saling melepaskan tangan, lalu duduk berhadapan dengan kedua orang tua mereka dengan Farel yang berada di tengah.


"Ada apa? Memangnya kalian bertiga tidak bertemu berapa lama? Sepertinya tidak mau berpisah," tanya papanya Farel sambil senyam-senyum.


Ketiganya hanya diam dan saling menatap.


"Ya sudah, sekarang papa mau ngomong sama Kenn," menoleh pada Kenn. "Bagaimana tadi di bengkel, Kenn? masih nyaman seperti dulu kan?"


"Ah iya Om. Masih kok, Om!," menjawab singkat.


"Kalau begitu, Om mau kamu kembali lagi bekerja seperti dulu. Jujur, Om senang dengan pekerjaan kamu. Bagaimana Kenn?"


Kenn terdiam ...


"Tenang aja Kenn, Om tau apa yang menjadi pertimbangan kamu. Kamu gak harus setiap saat disana. Sebisa kamu aja Kenn. Kamu boleh menyediakan waktu untuk pelanggan kamu. Tapi gaji kamu tetap sama seperti yang lain. Mau kan?"


"Udah,,, mau aja Kenn, tuh papa udah ngasih pilihan yang baik. Lo kerja di bengkel bisa buat nabung lagi sama kaya dulu. Nah trus Lo ngojek, buat kebutuhan Lo sehari-hari. Keren kan ide gue?," usul Farel.


"Iya kak Kenn, kan papa bilang gak maksa buat kak Kenn tiap saat disana. Itu artinya, kak Kenn punya waktu buat istirahat juga. Benar kan pa?" tanya Fanya pada papanya.


Mudah-mudahan kak Kenn mau. Ayo setuju kak!


Harap Fanya dalam hati.


"Benar sayang," papanya mengangguk.


"Baiklah Om, Kenn mau!," putus Kenn.


"Nah gitu dong." Farel menyenggol bahu Kenn.


Iyessss! this is good news.


Fanya kegirangan dalam hati.


"Sudah selesai kan, pa? Farel sama Kenn mau ke kamar," ucap Farel.


Lelaki paruh baya itu mengangguk "Pergilah!."


___________________


Kenn dan Farel sudah berada di kamar.


"Lo dan adik Lo kenapa sih ? kalian berdua aneh banget tau gak" tanya Kenn yang sedang berbaring di tempat tidur dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal dan kakinya terjuntai ke bawah.


"Tau tuh si Fanya. Katanya ada yang nanyain Lo," jawab Farel.


"Siapa?," lagi tanya Kenn, menoleh ke arah Farel.


"Mana gue tau? Makanya itu, tadi tu anak ngotot mau ngomong sama Lo,"


"Ck, kirain ada apa," Kenn berucap malas lalu memejamkan matanya.


"Kenn," panggil Farel.


"Hmm," masih memejamkan matanya.


"Masih punya rasa yang sama buat Jenn?,"


"Hmm," mengangguk dengan mata terpejam.


Kenn terkekeh mendengar pertanyaan temannya. Dia membuka mata dan merubah posisinya menyamping menghadap Farel, dengan sebelah tangan menopang kepalanya.


"Harus banget yah, dijawab?," balik bertanya.


Farel mengangguk. "Harus dong."


Kenn kembali berbaring dengan posisi memandang langit-langit kamar, Menarik nafasnya sebentar lalu menghembuskan perlahan. "Entahlah Rel,,, makin hari rasa ini makin dalam. Bisa-bisanya mencintai kekasih orang sebesar ini. Coba buat ngelupain, malah tumbuh makin besar ... ," menjeda sebentar. "Jadi, gue biarin rasa ini tumbuh gitu aja," ucap Kenn lalu memejamkan matanya, seolah menikmati rasa cinta sendirian.


"Hebat banget sih Lo. Beruntungnya si Jenn," ucap Farel takjub dengan perasaan temannya. "Tenang aja Kenn, Lo mau tau satu hal gak?," sambungan Farel.


Tidak ada jawaban. Tetapi lelaki itu membuka mata dan menoleh pada Farel. Artinya dia ingin tahu apa yang ingin diucapkan temannya itu. Begitu yang dipikirkan Farel.


"Jenn udah tau kalo Lo punya rasa ke dia," ucap Farel.


Kenn lantas bangun dan langsung terduduk.


"Bagaimana bisa? Ketemu dia dimana? apa yang Lo bilang ke dia, Rel?," pertanyaan beruntun dari Kenn.


Farel terbahak melihat respon temannya. "Nanyanya satu-satu, bro!,"


Kenn mendengus kesal. "Bukan penasaran, nyuk. Tapi malu-maluin tau gak. Ntar dia mikir gue cowok apaan. Gak keren banget. Kesannya gue cemen. Sama aja kek pecundang!,"


"Lo itu selalu mikir yang enggak-enggak. Gue yang minta Fio buat ngasih tau ke dia. Kan gue udah pernah janji," jawab Farel enteng.


"Ck, dasar Lo," mengambil bantal dan menimpuk Farel. "Malu-maluin temen aja. Fix, gue dicap pecundang ma dia," Kenn kesal.


"Loh ... bukannya makasih malah mukulin. Setidaknya dia udah tau Kenn. Kali aja dia punya rasa yang sama. Ya kan?," Farel menaik turunkan alisnya.


"Sama apanya?," Kenn tertawa hambar. "Udah liat kekasihnya kan? Udah punya yang perfect kek gitu, mau apa lagi coba? Apalah gue yang hanya remahan rengginang," Kenn menggeleng kepalanya.


"Gue berani taruhan, Jenn punya rasa yang sama kek Lo. Ayo! Kita taruhan Kenn," tawar Farel.


"Gak! Dia bukan barang. Gue nggak akan lakuin hal itu," tegas Kenn.


Di tengah-tengah percakapan mereka, Fanya datang dan menginterupsi.


"Bisa ketok pintu dulu baru masuk gak? Hak sopan banget sih," kesal Farel.


"Ck, gue mau ngomong sama kak Kenn," menghampiri Kenn dan menarik tangannya lagi seperti tadi. "Ayo kita ke balkon kak," ajak Fanya.


"Ada apa sih, Fan? Di sini aja yah, kakak capek banget ini," ucap Kenn.


"Oke! Temen Fanya nitip salam buat kak Kenn. Dia minta nomernya kak Kenn," beber Fanya terus terang.


"Emang kenal sama gue? Bilang aja kakak gak punya ponsel," ucap Kenn dengan malas.


"Ah kak Kenn pelit. Temen gue tadi kebetulan mampir di bengkel. Pas ke kampus, dia cerita. Katanya tadi di bengkel ada montir baru yang ganteng, murah senyum. Ya gue langsung tau, itu pasti kak Kenn," ucap Fanya menjelaskan.


"Hmm," Kenn makin malas.


"Lah kok responnya gitu? Kasih nomernya dong kak. Kali aja dia ada perlu gitu,"


"Udahlah Fan, bilang sama temen Lo, gak bakal mempan. Hati Kenn udah gak bisa kemana-mana. Hatinya udah bertuan," cerocos Farel yang hanya diam dari tadi.


"Kak Farel diem! Gak usah ikut campur urusan gue ma kak Kenn," sahut Fanya pada kakaknya.


"Ok, selamat mencoba. Semoga berhasil, dan udah gue pastiin g a k a k a n pernah berhasil," Farel tersenyum mengejek adiknya.


"Ck, kak Kenn, ayo! Mana nomernya. Fanya juga belum punya nomernya kakak ini," paksa Fanya.


"Hadew, ya sudah, nih nomernya," memberikan nomor ponselnya.


"Aaaaa,,, thank you, kak Kenn ganteng," Fanya kegirangan. "Kak, temen Fanya gak kalah cantik loh sama kak Jenn. Dia suka sama kak Kenn. Dari pada sibuk mikirin kak Jenn, mending kakak ma temen Fanya aja," lanjut Fanya.


Kenn tertawa. "Belajar yang rajin yah, jangan sibuk mikirin hal-hal orang dewasa," ucap Kenn sambil mengacak rambut adik temannya itu.


"Ish, kak Kenn sama aja nyebelin kek kak Farel," mulai ngambek. "Liat aja, kak Kenn bakalan suka sama teman gue pas ketemu lagi sama orangnya," masih ngotot ternyata.


"Sudahlah, gak akan berhasil Fan. Udah dibilangin hatinya Kenn itu udah bertuan. Percuma, jangan buang-buang tenaga dek, mending balik ke kamar Lo dan tidur gih," ucap Farel yang semakin membuat Fanya kesal dengan dua lelaki itu.


"Ck, ini juga mau pergi. Nyebelin banget deh berdua," berjalan menuju pintu dan setelah itu ...


Braaakkk ...


Dan kedua lelaki tampan itu tertawa melihat kekesalan gadis kecil yang baru saja keluar dari sana.


Sorry, Fan! hati kakak cuman buat dia!


Batin Kenn.


.


.


.


.


.


to be continued ...


___________________


Hola gessss .... πŸ‘‹


Thinkyuuuw buat yang sudah mampir πŸ™


Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian di karya receh ini yah 🀭🀭


Happy reading buddies 😊❀️