Simple But Perfect

Simple But Perfect
Mengingat (Bastian)



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Akibat dari ketidaksengajaan yang dilakukan Reza, keduanya pun ketahuan. Tidak ada pilihan, selain menghadapi situasi yang ada.


Prok, prok, prok!


"Selamat datang, Tuan Kennand!" Sambut lelaki yang adalah ketua dari orang-orang yang telah menculik Jenn. "Hah, besar sekali nyalimu datang kemari." Tertawa dan berjalan menghampiri Kenn.


"Kenn, mereka banyak sekali. Apa kita akan kembali dari sini dengan masih tetap bernafas?" bisik Reza sedikit khawatir.


Kenn bergeming. Ia terus menatap lelaki di depannya tanpa gentar sedikitpun. Diamnya lelaki itu bukan karena takut atau bingung. Namun, ia sedang berusaha mengingat wajah laki-laki kurang ajar di hadapannya.


Seraut wajah itu tampak tidak asing lagi di matanya. Ia ingat betul pernah bertemu dengan lelaki itu di suatu tempat.


"Kau sedang mengingat-ingat siapa aku bukan?" Kembali tertawa. "Tentu saja kau lupa, tapi tidak denganku." Memasukkan tangan dalam saku celananya. "Luka di wajahku memang sudah sembuh, tapi tidak dengan harga diriku." Lelaki itu berjalan memutari Kenn. "Kau dengan hebatnya mempermalukanku di depan banyak orang. Bahkan dengan beraninya kau sendiri yang mengatakan bahwa urusan kita belum selesai waktu itu. Apa kau melupakannya?" Berhenti lagi di depan Kenn. "Hal yang melukai terkadang lebih sulit untuk dilupakan dari pada hal yang manis. Jejaknya lebih membekas, karena darah lebih kental dari pada air, dan raungan tangis lebih nyaring terdengar dari pada tawa." Lelaki itu menatap Kenn dengan tajam. "Kau tau, kenapa saat menangis seseorang bisa melakukannya berjam-jam bahkan berhari-hari, tapi untuk tertawa hanya membutuhkan waktu sebentar?" tanya masih dengan tatapan tajam. "Karena tertawa tidak seserius menangis." Menjawab sendiri pertanyaannya. "Jadi ... sudahkah kau ingat kenangan pahit yang kau torehkan berbulan-bulan lalu, Tuan Kennand?"


Benarkah? Apa aku pernah menyakitinya?


Batin Kenn terus mencoba untuk mengingatnya.


"Hahaha, sebahagia itu hari-harimu selama ini dengannya, hingga melupakan bahwa kau pernah memukul dan melukai seseorang di atas dance floor sebuah club? Kau pernah memaksa seseorang untuk melepas pak ...."


"Ah, jadi Lo rupanya?" Ucapan Kenn mengehentikan kalimat lelaki itu. Ia mulai mengingat siapa orang di hadapannya. Dia adalah Bastian. Lelaki yang pernah mengajak Jenn berdansa saat wanita cantik itu tengah hancur dibabat kekecewaan, dan memilih menghabiskan malam di sebuah club. "Cih, masih saja jadi pecundang." Ejek Kenn sambil terkekeh. "Urusan Lo sama gue, kenapa harus libatkan istri gue?"


"Lo kenal orangnya, Kenn?" tanya Reza dengan berbisik, dan Kenn hanya mengangguk.


Sementara lelaki di hadapan mereka tergelak dengan pertanyaan Kenn.


"Tentu saja istrimu itu ... ah, maaf ralat. Maksudnya calon istriku."


Mendengar itu Kenn emosi dan bergerak hendak memberi pelajaran pada lelaki itu, tapi anak buahnya sudah lebih dulu menghalanginya.


"Gue gak ada urusan sama kalian, urusan gue sama dia." Menunjuk lelaki yang kini bersembunyi di balik para penjaga. "Dan Lo, gue ke sini gak bawa prajurit ataupun senjata tajam. Gue hanya ingin menjemput istri gue, bukan ngajak perang di sini.


"Kau sadar? Apakah kau mencapai tempat ini dalam lima menit? Tidak! Dan itu artinya istrimu sudah menjadi milikku. Seperti itu yang kita sepakati di telepon tadi bukan?"


Kenn mengepalkan kedua tangannya karena emosi yang sudah tak terbendung lagi. Ia begitu geram mendengar bacotan lelaki itu.


"Di mana istriku?" tanyanya dengan suara berat Manahan marah. "Sekali lagi di mana istriku!?!" bentak Kenn keras, membuat Reza yang berdiri di sampingnya terperanjat.


"Sayangnya, dia sudah tidak di sini. Dan sekalipun aku tahu, aku tidak akan mengatakannya."


"Brengsek!"


Tidak banyak drama lagi, perkelahian pun terjadi antara Kenn, Reza dan para penjaga di sana. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, Kenn dan Reza tidak bisa lagi untuk mundur dan memilih kabur. Keduanya saling menjaga dan melindungi agar tetap mampu bertahan.


Dalam situasi seperti itu tapi mata Kenn masih sempat-sempatnya mengawasi Bastian. Tampak lelaki itu hendak meninggalkan mereka di sana. Secepat kilat Kenn mencegahnya dengan sebuah pukulan keras.


"Lo pikir gue bakal ngebiarin Lo pergi gitu aja, setelah banyak kekacauan yang Lo buat dalam rumah tangga gue, hah?"


Kenn menghujani lelaki itu dengan pukulan yang penuh amarah. Sedangkan Reza sendirian sudah kewalahan menghadapi orang-orang di sana.


"Di-dia ti-tidak di-di sini," jawab Bastian tersengal-sengal.


"Lalu di mana dia? Lo jangan, arrrghhh!" Kenn memekik kesakitan karena seseorang menghantamnya dari belakang. Kini dirinya yang dihajar oleh anak buah Bastian. Reza pun demikian.


Dalam ketidakberdayaan keduanya, terdengar bunyi sirine polisi yang mulai mendekat. Seketika Bastian dan anak buahnya menghentikan aksi mereka. Kenn menggunakan kesempatan itu untuk bebas dan memeriksa setiap ruangan yang ada di sana. Reza pun melakukan hal sama sepertinya. Bastian hendak lari dari tempat itu. Namun, sayangnya polisi sudah lebih dulu masuk dan mencegahnya.


Kenn berteriak memanggil nama Jenn ke sana-kemari, tapi nihil.


Tiba-tiba Farel muncul dan memberitahukan padannya bahwa Jenn sudah ditemukan. Wanita kesayangannya itu tadi sempat berada di sebuah klinik yang berada di perkampungan dekat sana. Tempat yang tidak lain adalah lokasi KKN-nya waktu itu.


Namun, entah kenapa tiba-tiba saja istrinya kembali dilarikan di rumah sakit kota. Dan penuturan Farel membuat jantung Kenn seolah ingin berhenti.


"Ada apa dengan Jenn? Ke-kenapa harus ke rumah sakit?" Kenn kembali kacau. Bahkan ini lebih kacau dari yang sebelumnya.


Tanpa menunggu lagi, Kenn segera berlari keluar dari sana, di susul Reza dan Farel. Meninggalkan Bastian dan anak buahnya ditangani pihak kepolisian.


Jika sampai terjadi sesuatu dengan Jenn, Lo gak bakal gue ampuni.


Kenn dilanda rasa takut yang berkecamuk membantai hatinya terus-menerus tiada ampun.


Kali ini dia mereka bertiga satu mobil menggunakan mobilnya Reza, tapi Farel yang mengemudikannya. Lagi-lagi mereka tidak ingin membiarkan Kenn yang menyetir dengan suasana hatinya yang kacau tak keruan.


"Cepetan, Rel! Lebih cepat lagi!" teriak Kenn tak sabar.


..._____πŸ’¦β­πŸ’¦β­πŸ’¦_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Nah, udah 3 bab kan 😌 Besok lagi yah gaesss πŸ€—


Btw kalian masih ingat dengan Bastian kan? Dia yang pernah bertemu dengan Jenn di club, waktu Jenn lagi down karena Alvino. Dan dia mengajak teman-temannya ke klub malam itu. Ingat kan? Kalo lupa, baca lagi part 58 'Incredible Thing'.


Terima kasih banyak karena selalu setia menunggu cerita receh ini πŸ™


Jangan pada bosen yah tayangΒ²ku 😘πŸ₯°


Jangan lupa tinggalkan like dan komen yah πŸ™ Dukungan dari kalian sangat penting.


Sekali lagi ma'aciih semuanya πŸ™πŸ€—


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425