
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Deburan ombak memecah di batu karang, seolah membenturkan utuhnya sebuah hati, hingga pecah dan tercerai-berai seperti buih. Semilir angin pantai yang dingin di sore itu, seakan membekukan separuh hati yang rapuh.
Tampak, seorang lelaki tampan tengah berpijak tenang di atas pasir, dengan pandangan lurus menerawang jauh hingga di ujung cakrawala yang mulai memerah keemasan.
Pikirannya berlari mundur dan mengulang setiap kenangan yang telah tersimpan dalam waktu yang abadi. Di tempat ini, ia pernah mengukir kenangan bersama seseorang yang sampai detik ini masih bertakhta di hatinya. Di tempat inilah, mereka pernah mengikat janji untuk saling menjaga hati dan saling setia dalam penantian. Semua kini berubah dengan kenyataan yang sudah tak sejalan.
Tempat ini pula telah menyimpan kenangan pahit, dimana ia memperebutkan cinta yang telah berpaling. Di sinilah, ia pernah menangis dan mencaci sebuah nama yang menguasai seluruh hidupnya.
Kali ini, di tempat ini, dia ingin mengingat semuanya untuk yang terakhir kali. Meski ia tahu bahwa itu tidaklah semudah mengucapkannya. Ia ingin mengenang ini semua untuk yang terakhir kali, meski cinta itu tak pernah pudar sedikit pun.
Besok dia akan pergi, memulai hidup yang baru tanpa cinta. Seperti sebuah paksaan yang mengharuskannya. Karena itulah, dia ingin mengubur semua kenangan itu dengan indah di tempat ini.
Ia menatap semburat jingga di ujung sana. Tampak, seraut wajah cantik terpampang indah tengah tersenyum manis.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya sembari tertawa bodoh.
"Sekeras apapun aku berusaha, aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa melupakanmu." Mengakui kegilaannya. Yah, dia memang telah lama dibuat gila oleh wanita cantik itu.
"Harus bisa mulai sekarang."
Tiba-tiba sebuah suara yang amat sangat dikenalnya, menyentaknya dari lamunan. Suara yang bertahun-tahun lalu sudah tertanam dan menyatu dalam hatinya. Suara yang selalu mampu menggetarkan dan menghidupkan kembali jiwanya yang seolah mati. Namun, suara itu kini harus dihindarinya. Walau sebenarnya ia tak ingin dan tak akan pernah sanggup. Bahkan sampai detik ini, suara itu masih besar dan kuat menggetarkan hatinya.
"Dan kau melupakan permintaanku?" Berbicara tanpa berbalik dan melihat dia yang sudah berdiri di belakangnya. Suaranya terdengar biasa, tapi hati tidak sedang baik-baik saja. "Bukankah sudah kukatakan untuk jangan pernah menemuiku lagi?" Bibir tidak sinkron dengan hati.
"Aku hanya ingin bicara sebentar saja, Al."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Pergilah!"
"Aku mau bicara."
"Dan aku sama sekali tidak ingin bicara."
"Give me one last chance, just a moment, Al. Please!"
Alvino tersenyum kecil tanpa terlihat.
Keras kepalamu tidak berubah, kenapa cintamu tidak juga demikian?
"Ok. Tapi kali ini, tidak hanya sekedar janji. Namun, bersumpahlah setelah ini, jangan pernah menemuiku lagi!"
Jenn bergeming. Sementara Alvino terkekeh.
"Kau tau bahwa ini tidaklah mudah untukku. Maka ini satu-satunya cara terbaik. Dan aku yakin, kamu tau itu. Karena itu, bersumpahlah. Setelah ini, jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Jangan pernah temui aku lagi. Bahkan lupakan saja tentang sahabatmu. Dia memilih ikut bersamaku, berarti dia siap untuk mengikuti semua aturan ku. Semua tentangmu, tidak akan pernah ada sangkut pautnya lagi dengan kehidupanku."
Terjawab sudah kegalauan Jenn semalam. Laki-laki ini alasannya. Jenn mengepalkan tangannya kuat menahan perih yang berlomba menyerang hatinya.
"Tidakkah ada cara lain yang lebih menyakitkan dari ini?" tanya Jenn dengan suara yang samar bergetar.
Alvino belum juga ingin berpaling menatapnya.
"Katakanlah jika kau punya cara yang lain." Santai sekali ucapannya. Namun, percayalah! Alvino tengah menahan gemuruh hebat di dadanya.
"Ini kejam, kamu jahat, Al!" Lirih Jenn. Ia ingin sekali menangis tapi sebisa mungkin ditahannya.
Alvino memejamkan matanya. Kepalan kuat di balik saku celananya memperlihatkan urat-urat yang menonjol di kedua lengannya. Jelas sekali bahwa ia tengah meredam gejolak hatinya. Mendengar suara Jenn yang bergetar, ia menyadari bahwa wanita yang teramat dicintainya sedang terluka dengan ucapannya. Alvino membenci ini. Namun, ia dipaksa kejam oleh keadaan.
Lebih sadis caramu melepaskanku, Jennifer.
Alvino berbalik tanpa melihat Jenn. Ia langsung melangkah meninggalkan tempat itu. Rasa tak sanggup melihat luka di mata mantan kekasihnya.
"Baiklah. Aku bersumpah tidak akan menemui dan mengganggu kehidupanmu bersama Rossa setelah ini." Ucapan itu berhasil menahan langkah Alvino yang belum menjauh.
Jenn memajukan langkahnya sedikit mendekati punggung lebar Alvino.
"Aku terima jika kamu membatasi bahkan membangun sekat yang menyudahi persahabatanku. Aku terima jika kamu tak lagi ingin melihatku. Aku memang pantas untuk dibenci." Jenn menjeda, dan Alvino masih tak bergeming. "Satu hal yang aku minta sama kamu, tolong jaga dia. Jika kamu belum bisa untuk mencintainya dan membahagiakannya, setidaknya jangan sakiti dia, baik jiwa maupun raganya." Jenn menatap lekat punggung di hadapannya.
Alvino menunduk sembari terpejam. Menyerap suara dan kata-kata itu dalam pikiran dan benaknya.
Maafkan jika aku tak bisa β¦
"Jika tidak ada lagi yang lebih penting, aku pergi." Mengangkat wajahnya menatap langit yang keemasan, menunggu ucapan Jenn selanjutnya.
Angin pantai semakin berhembus kencang, membelai wajah cantik Jenn, menerbangkan helai demi helai rambut panjangnya, meniupkan perih di pelupuk matanya. Pandangannya tersamarkan genangan embun.
Deg
Deg
Deg
Debaran di hati Alvino semakin menggila. Kerinduan yang ditekannya setengah mati selama ini, kembali memberontak mengguncang jiwanya. Ucapan itu menggoyahkan kewarasannya.
"Sebenci itukah kau padaku?" Di sini suara Jenn bergetar hebat. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa, dirinya menyayangi lelaki di hadapannya itu. Meski tak seperti dulu. Ia ingin menganggap lelaki itu seperti seorang kakak yang sudah melindungi raganya selama ini. Bahkan, ia ingin menganggapnya seorang sahabat seperti Rossa. Namun, Jenn takut melukai perasaannya untuk kesekian kalinya.
"Tutuplah kisah ini dengan damai, akhirilah ini tanpa dendam dan benci. Agar sakit ini tidaklah mendalam," ucap Jenn.
"Pulanglah! Benciku tak sebesar luka yang kau torehkan. Dan aku mohon, jangan mencoba padamkan itu." Sekali lagi Alvino mencoba melangkah meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin menatap Jenn dan hanya akan meruntuhkan tembok hati yang sudah ia desain serapi mungkin dengan susah payah.
"Ini yang terakhir kalinya aku minta, Al. Lihat aku sekali saja." Tidak ingin menjadi lemah, Alvino terus melanjutkan langkahnya. Mencoba menutup telinga dari setiap ucapan yang terlontar dari bibir mungil Jenn.
"Terima kasih!" pekik Jenn. "Makasih untuk pengorbananmu. Makasih, sudah menjaga dan melindungiku selama ini."
Grapp.
Sepersekian detik, tubuh mungil itu sudah berada dalam dekapan Alvino.
Hembusan angin serasa meniupkan segenggam kesejukan di relung hati Alvino. Seolah menerbangkan segala rasa yang tertawan pedihnya kecewa selama ini. Suara itu masih saja berpotensi meluluhkan egonya.
Ini kesempatan terakhirnya memeluk sosok yang teramat sangat ia cintai. Apapun alasannya saat itu, jelas Alvino berterimakasih pada Kenn, yang dengan besar hati mengizinkan istrinya ada di hadapannya saat ini. Dengan seluruh nafas yang berhembus saat itu, dengan debar jantung yang terus bergetar, dengan segenap hati tulus yang tersakiti, Alvino sungguh-sungguh menikmati sisa waktu itu dengan baik.
Harum rambut dan tubuh ini yang selalu ada di setiap rindunya. Alvino memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya, seolah takut waktu berlalu cepat dan membawa pergi sosok itu.
"Maafkan aku," lirih Jenn. Tangisnya pun tak dapat terbendung. Ia membiarkan Alvino memeluknya untuk yang terakhir. Ia tak bisa menolak, sebab hatinya sudah tak bergetar lagi untuk itu. Sekencang apapun pelukan itu, hanya rasa hambar yang tertinggal. Jenn sadar bahwa hati dan semua yang ada pada dirinya sudah dimiliki Kenn. Mungkin ini hanya akan dapat menghapus rasa bersalahnya.
"Kenapa kamu harus tau? Biarkan itu menjadi rahasiaku. Jangan mengungkitnya lagi." Alvino melerai pelukannya, lalu meraih tangan Jenn. "Semua yang kulakukan untukmu, tulus. Tidak perlu ucapan terima kasih." Menatap netra indah Jenn dan menghujamnya dengan sejuta kerinduan yang lama bersarang. "Hanya satu yang kupinta, hiduplah dengan bahagia agar pengorbananku tak sia-sia. Dan jangan pernah berusaha mendekat lagi sebagai bentuk apapun, agar sembuhku lebih berarti." Sebelah tangannya terulur mengelus lembut pipi Jenn.
Air mata Jenn menganak sungai tak kunjung mereda. Sakit sekali mendengar itu. Apakah harus seasing ini? Begitu pikirnya. Dan luka itu tertangkap pandangan Alvino.
"Di saat kamu memilih meninggalkanku, maka semua tentangku harus benar-benar kamu lepaskan. Termasuk sahabatmu sekali pun. Tidak perlu ada basa basi bertukar kabar, atau pertemuan singkat di lain waktu. Karena sejak kamu berlawanan arah denganku, maka semua tentang kita, telah ditinggal pada tempat yang bernama kenangan. Sekalipun nanti salah satu di antara kita terluka, jangan beranjak mendekat. Sebab cerita kamu dan aku telah usai."
Jenn semakin sesegukan mendengar penuturan itu. Ia merasa sangat kehilangan. Apa salahnya jika semua berjalan dengan wajar? Ingin sekali protes, tapi ia telah bersumpah untuk itu.
Alvino tak kuasa mendengar tangisan itu. Sekali lagi ia membawa Jenn dalam pelukannya.
"Sudah, pulanglah. Suamimu sudah sangat baik memberikan sedikit waktu ini. Sampaikan terima kasihku padanya. Katakan padanya untuk menjagamu lebih baik lagi."
Alvino memberikan kecupan perpisahan di puncak kepala Jenn sebagai tanda besar cintanya pada wanita itu. Tidak lupa ia memberikan senyum terbaiknya sebagai bukti keikhlasan.
"Tugasku melindungimu sudah selesai, pelangimu telah lama hadir, bukan? Lupakan saja payung yang pernah melindungimu ketika hujan." Setelah mengucapkan itu, Alvino melangkah pergi dan benar-benar meninggalkan Jenn dan tempat itu.
"Kak," gumam Jenn dengan derai air mata. Itu panggilan pertama kali mereka bertemu dulu. Dan semua kini sudah kembali berubah seperti sedia kala. Jenn tersenyum tulus menatap kepergian lelaki yang pernah mewarnai harinya bertahun-tahun lalu.
Ada hati yang merasa terlepas dari belenggu rindu yang mengurungnya selama ini. Ada hati yang merasa lega jika akhirnya indah seperti ini, dan ada hati yang tersenyum meski tidak ikhlas melihat apa yang menjadi miliknya disentuh oleh yang lain.
Senja menjadi saksi perpisahan yang manis ini.
..._____π¦πΎπ·πΎπ¦_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued β¦...
..._______________...
Hay semuanya π ketemu lagi π€
Makasih buat yang selalu setia nungguin π
Makasih buat yang ninggalin jejaknya π
Jangan lupa kasih like dan komen lagi yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425