
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
"Lo gilak. Lo bisa ngebunuh orang tau gak?" Seorang gadis berteriak pada gadis lain yang adalah temannya.
"Gue gak peduli. Sekalian aja dua-duanya mati biar gue bisa dapetin teman kakakmu itu."
Plakkk!
Bunyi tamparan itu menggema di dalam toilet wanita yang tampak begitu sepi. Di sana hanya ada dua orang gadis yang sedang bertengkar hebat. Mereka adalah teman baik. Namun, di situasi ini keduanya jadi berbeda pendapat. Yang seorang membela keluarganya, sedangkan yang satunya lagi tetap dengan kegilaannya. Mereka adalah Fanya dan Nayla.
Apa yang terjadi malam itu, pernah menjadi sesuatu yang ditakutkan oleh Fanya. Dan ketakutannya kini ubenar-benar terjadi. Teman baiknya berubah menjadi monster yang mengerikan di mata gadis itu.
Ia sempat dilema dengan ketakutannya beberapa waktu lalu. Antara ingin memberitahukan pada semua keluarganya, atau hanya memendam sendirian dalam kecemasan. Yang jelas dirinya tidak ingin membuat keluarganya cemas memikirkan hal itu. Terutama Jenn dan Kenn. Dan hal itu nyatanya malah menjadi bom waktu baginya.
"Lo berani nampar gue?" Memegang pipinya yang sudah memerah bekas gambar tangan Fanya.
"Iya, karena Lo udah kelewatan. Gue nyesel berteman dengan orang sakit jiwa kek Lo. Bisa-bisanya Lo menyukai laki orang sampai tega mau ngebunuh bayinya yang bahkan belom lahir. Sinting Lo tau gak!" Fanya terus memaki Nayla.
Plakkk!
Nayla membalas tamparan Fanya yang tidak kalah kerasnya. Dia bahkan menjambak rambut temannya.
"Denger yah, mau seperti apapun diri gue, gak ada urusannya sama Lo. Gue juga gak butuh temen kek Lo. Dan jangan sok ikut campur urusan pribadi gue. Awas aja kalo sampai orang lain tahu kalo gue yang udah ngasi minum buat cewek brengsek itu. Lo akan tau akibatnya!" Ancam Nayla tak main-main.
Fanya berusaha melepaskan tangan Nayla dari rambutnya.
"Gue tetep akan ikut campur karena mereka itu keluarga gue, dan gue tetep bakal ngasih tau buat semuanya. Lo mau apa hah? Gue gak takut sama cewek gilak kek Lo."
Keduanya kembali saling jambak-jambakan sampai dering ponsel Nayla berbunyi menghentikan pertikaian keduanya.
π² "Apa? Sudah ditemukan? Gimana sih, kok bisa? Anak buah Lo ngapain aja? Arrrrgggghhh!"
Telpon itu terputus dengan Fanya yang mengumpat kesal tak henti-hentinya, sembari memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang malah menyeretnya. Sedangkan Fanya menggunakan kesempatan itu untuk lari. Karena sedari tadi gadis penuh obsesi itu terus mencegah dan mengancamnya.
Apa tadi katanya? Sudah ditemukan? Semoga itu kak Jenn.
Fanya terus berlari sekuat tenaga. Sampai di depan ballroom, tampak semuanya sudah sepi karena malam pun semakin larut, bahkan sudah jam 01:30 dini hari.
Gadis itu kembali berlari keluar mencari taksi untuk segera pulang sebelum Nayla mengikutinya. Di dalam taksi, ia mencoba menghubungi mamanya menanyakan keberadaan mereka dan kabar tentang Jenn.
"Rumah sakit xx, Pak," ucapnya pada sopir taksi.
Begitu mendapati kabar dari sang mama, gadis itu langsung menuju rumah sakit. Tidak membutuhkan waktu yang lama, ia pun sampai di sana.
Ia berlari kecil menuju instalasi gawat darurat. Dari kejauhan ia dapat melihat beberapa orang di depan sana. Di antaranya keluarganya, sahabat-sahabat Jenn, dan juga keluarga Fio.
"Ma, apa yang terjadi? Kak Jenn baik-baik aja kan?" tanya Fanya begitu sampai di sana.
"Dari mana saja kamu? Keadaan lagi kacau gini malah ngilang. Hampir saja papamu minta polisi nyariin kamu juga." Tidak menanggapi pertanyaan anaknya, malah mengomel.
"Maaf ma, tapi ka Jenn gimana? Ka Jenn baik-baik aja kan?" Mengulang lagi pertanyaannya.
"Kita doakan saja yang terbaik, Fan," jawabnya dengan lesu dan agak murung. Wanita paruh baya itu menarik tangan putrinya agar duduk di sampingnya.
"Me ...."
Baru saja hendak berucap, tapi kata-katanya terhenti seketika begitu pintu instalasi gawat darurat itu terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari sana.
Fanya dan mamanya langsung bangkit dan menghampiri sang dokter. Begitu juga yang lainnya.
"Bagaimana keadaannya, Dokter? Menantu saya baik-baik saja kan?"
Dokter itu menatap wajah penuh khawatir dari wanita paruh baya di depannya dalam diam.
"Suami pasien ada?" Balik bertanya.
"Masih dalam perjalanan ke sini, Dokter." Jawab ayah Farel cepat. "Apa terjadi hal yang serius?" tanyanya lagi.
Dokter tampan dan baik hati yang sudah menolong Jenn saat itu, tidak tega melihat wajah-wajah cemas penuh harap di hadapannya.
Seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi terasa begitu berat.
"Katakan saja pada kami, Dokter. Kami orang tuanya." Mamanya Farel memaksa karena perasaannya yang mulai tak keruan.
Dokter itu menunduk sesaat seraya menarik nafasnya pelan dan dalam.
"Kondisi pasien cukup baik untuk saat ini ...." Menggantung kalimatnya dan kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Sedangkan yang lain bernafas lega mendengar hal itu sebelum penuturan berikutnya dari sang dokter, yang mengacau-balaukan suasana hati mereka. "Tapi maaf, berat untuk saya mengatakan bahwa, janin dalam kandungannya tidak terselamatkan. Saya pribadi dan semua tim medis di dalam meminta maaf untuk hal ini."
"Apa???" Pekikan serempak dari sahabat-sahabat Jenn memecahkan keheningan yang terasa mencekam di depan ruang instalasi gawat darurat.
"Ma-maksud Dokter, Jenn keguguran?" Bahkan untuk mengucapkannya saja, bibir wanita paruh baya itu terasa beratnya berton-ton.
Dokter itu hanya mengangguk sebagai jawaban yang membenarkan ketidak percayaan mereka yang ada di sana. Dan hal itu seperti petir yang menyambar hati setiap mereka. Mamanya Farel menekan dadanya kuat dengan bibir yang terkatup tak lagi mampu berucap.
Apa yang harus hambaMu ini katakan untuk Kenn nanti, ya Tuhan!
Fio menggelengkan kepalanya kuat. "Gak Dokter. Gak!" Berjalan menghampiri dokter dengan wajah yang sudah basah oleh keringat ketakutan bercampur air mata. "Dokter harus bisa lakuin sesuatu. Tolongin janinnya, jangan biarkan dia ngalamin ini, Dokter pasti bisa kan, ayo lakuin sesuatu! Apapun itu, lakukanlah! Jangan hanya satu, dua-duanya harus baik-baik saja Dokter." Fio menangis sembari mengguncang lengan Dokter yang sudah dikenalnya.
Wanita cantik yang baru saja menikah malam itu, terlihat kacau dan berantakan. Seharusnya ini menjadi malam bahagianya, tetapi tidaklah seperti ekspektasinya dan orang lain.
Kenyataan bahwa teman yang disayanginya itu jauh lebih penting dari kebahagiaannya sendiri. Bagaimanapun, sejak awal hubungan Jenn dan Kenn tidaklah pernah lepas dari peran dan dukungan pasangan double F. Sepeduli itu dirinya terhadap Jenn. Orangtuanya dan sang mertua menahan dan mencoba menenangkannya.
Bukan hanya Fio, Rossa dan Putri pun tak kalah terpukul mendengar hal itu. Begitu juga Yuni dan Reta. Membayangkan sakitnya Jenn dan kekecewaannya saja sudah menjadi tangis perih bagi mereka.
Sementara itu, Fanya yang hanya mematung di tempatnya sudah hampir ambruk jika tidak dipegang ayahnya.
Maafin Fanya, kak. Harusnya Fanya ngasih tau sejak waktu itu. Menangis dalam penyesalan yang terlambat ia sesali.
"Apa gue gak salah denger?"
Sebuah suara tiba-tiba menyita perhatian mereka.
..._____ππ₯ππ₯π_____...
...Tidak ada satupun kehilangan yang mudah terucap, dan terdengar indah di telinga meraka yang dengan tulus mencintai....
..._AG Sweetie_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Hola epribadeeeh π jumpa lagi π€
Maaf yah, kelamaan nunggu hehe π€
Kali ini dua episod aja dulu yah genkz βοΈ
Maafkan otor yang sok sibuk ini ππ
Jangan lupa tinggalkan like dan komen, kembang dan kopi, vote juga boleh π Gak maksa kok hehe π€
Semoga suka yah tayangΒ²ku π