
_Mencintai. Bukan semata tentang sebuah rasa di dalam kata. Namun juga sebuah pembenaran di dalam cara. Jika kau salah dengan caramu, maka rasa yang besar pun tak ada artinya_
Bukan hal rumit ataupun hal yang besar, pikiran kita saja yang terlalu sempit untuk memahaminya.
Mungkin hal-hal inilah yang tanpa sadar sedang menyusup dalam hubungan Jenn dan Alvino.
Seperti hari ini, Jenn yang sedang bersiap-siap untuk ke kampus, harus meladeni Alvino kekasihnya yang melakukan panggilan di waktu yang tidak tepat.
Jenn yang dalam situasi terburu-buru, karena ini hari senin. Dimana semua orang tahu bahwa, hari senin adalah hari yang sangat menyibukkan bagi semua orang, untuk mengawali aktivitas selama sepekan. Ditambah jadwal kuliah Jenn pagi itu jam 08:00. Akhirnya Jenn hanya menerima panggilan itu, tetapi tidak mengobrol dengan orang di seberang.
Dia sibuk mengurus semua keperluannya untuk berangkat ke kampus. Sampai sarapan pagi itu pun ditemani Alvino dari balik layar ponsel. Kesal dengan sang kekasih yang mengacuhkannya, Alvino lantas mengeluarkan satu kalimat telak.
"Jenn, tidak usah ke kampus hari ini. Aku tidak mengizinkanmu, Jenn!" ucap Alvino dengan serius.
"Nggak bisa gitu dong, bi. Okhay, aku minta maaf, udah cuekin kamu. Tapi kamu juga tau kan situasinya kaya apa sekarang?" jawab Jenn selembut mungkin. Berusaha untuk membuat lelaki tampan yang kadang suka bossy itu tidak bertambah marah.
Jenn sudah paham dengan cara dan nada bicaranya. Dan jika sudah berbicara serius dengan panggilan namanya saja, maka kekasihnya itu sedang dalam mode marah. Jenn tidak ingin membuatnya marah, karena dia akan nekat melakukan apa saja saat itu.
Pernah dulu hal seperti ini terjadi. Ketika Jenn hendak ke kampus, dan dibatasi oleh Alvino. Hanya karena alasan konyol, tak suka kekasihnya itu banyak yang melirik. Apalagi gadis kecil itu begitu senang menggunakan pakaian mini. Mungkin karena itulah dia dijuluki si mini oleh teman-temannya, dan didukung postur tubuhnya yang kecil. Jenn yang kala itu begitu keras kepala, melawan dan tetap ke kampus yang diwarnai perdebatan sepanjang jalan. Begitu sampai di kampus, Jenn berlari kecil menuju kelasnya karena sudah terlambat. Saat sampai di depan kelas dan tangan kecilnya ingin mengetuk pintu kelas itu, tiba-tiba suara dosen yang mengajar saat itu menghentikan gerakannya.
"Kamu tidak usah masuk. Kamu sudah ditunggu di ruang dekan " kata dosen itu membuat Jenn bingung, terpaku di depan pintu dengan posisi tangan yang masih mengudara. Ada apa pikirnya? Di tengah kebingungannya saat itu, Jenn melangkah keruang dekan lalu mendapat jawaban di sana. Ternyata oh ternyata, dekan itu adalah pamannya Alvino yang sudah dihubunginya lebih dulu, dan bekerja sama membuat alasan. Mengakibatkan Jenn tidak mengikuti kelas hari itu. Dan tentu saja gadis itu tidak ingin hal konyol itu terulang lagi.
"Terlambat. Aku gak mau tau apa pun alasannya. Aku udah bad mood, dan itu karena kamu," kata Alvino tak mau tahu.
"Jangan gila, Al! Masa gara-gara aku? Kan kamu yang telepon di saat yang tidak tepat. Aku mau ke kampus loh ini, bukan keluyuran." Jenn mulai kesal, perasaan dia tak ada salahnya.
"Bebs, gue duluan ya, udah telat ini. Lo nggak ikut kelas?" tanya Rossa sekalian pamit, karena mereka satu kelas dan Rossa tidak mau terlambat. Sedangkan Putri sudah dari jam 07:00 meninggalkan rumah.
"Nggak! Gue ikut. Ayo, bebs!" sahut Jenn lalu memutuskan sambungan telepon begitu saja.
Saat keluar dari pintu rumah, langkah Jenn terhenti begitu membaca pesan chat yang masuk lewat aplikasi berwarna hijau di ponselnya itu.
My Al ❣️
Pergilah jika kau ingin. Tapi aku sudah pastikan, kau tidak akan mengikuti kelas hari ini. Dan juga ingatlah ini. Jika saja kakimu berani melangkah dari rumah itu, beberapa jam kedepan, aku akan ada di sana dan memaksamu ikut bersamaku. Dan kau tahu bahwa aku tak pernah main-main dengan perkataanku, Jennifer.
Seketika itu juga Jenn mengurungkan niatnya untuk ke kampus. Membantah laki-laki itu tidak ada gunanya sama sekali. Jenn memejamkan mata, mencengkeram kuat ponsel di genggamannya lalu menghembuskan nafasnya kasar menahan geram yang tertahan. Alvino keterlaluan, benar-benar sudah keterlaluan. Begitukah caranya mencintai? Pikir Jenn seperti itu.
"Arrgghh, Alvino nyebelin banget sih." Jenn menghentakkan kakinya seperti anak kecil dengan raut cemberutnya.
"Kenapa? Gak jadi ikut ke kampus?" tanya Rossa.
Jenn mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya.
Jenn kembali masuk mengunci pintu rumah. Melangkah menuju ke kamar, lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tak lama setelah itu, ponselnya kembali berdering. Terlihat wajah menyebalkan Alvino di sana. Jenn menggeser ikon berwarna hijau di ponselnya untuk menerima panggilan.
Alvino menyunggingkan senyum manisnya, merasa menang.
"I love you, honey!" sapa Alvino dari balik layar ponsel.
"Puas kamu? Mau kamu apa, hah? Aku selalu turutin semua kemauan kamu. Tapi kamu gak pernah ngertiin aku. Kamu egois, Alvino! Kamu kekanakan tau nggak, kamu nyebelin!" teriak Jenn meluapkan kekesalannya.
"I love you, honey!" Alvino tak membalas kata-kata Jenn, bahkan tidak menggubris sama sekali. Dia masih dengan kata yang sama, namun Jenn juga seakan tak mendengar malah membuang muka ketempat lain.
"I love you, hon!"
"I love you, Jennifer Greecya!"
"Love you too, Al." luluh sudah pertahanannya.
Alvino selalu berhasil memporak-porandakan hatinya. Dan hanya dia pula yang tahu cara menatanya kembali. Kadang Jenn akan merasa seperti menaiki roller coaster, kadang juga dia merasa seperti terhanyut terbawa aliran sungai, dan akan bermuara dengan damai.
.
.
.
.
.
to be continued ....
.
.
.
Happy reading buddies 😊❤️
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah 🙏🥰🥰🥰