
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Jarum jam bergerak dan bergeser dari posisinya dengan sangat cepat. Hari dan musim silih berganti membentuk sebuah ruang yang dinamakan kenangan. Tidak terasa sebulan telah berlalu.
Banyak sudah yang terlewati dalam drama romansa kisah Jenn dan Kenn sepanjang sebulan ini.
Waktu sebulan ini terisi dengan perhatian Kenn yang luar biasa pada istrinya. Mulai dari waktu makan dan minum obat, waktu istirahat, bahkan waktu ke kampus pun dibatasi Kenn kalau tidak ada yang perlu.
Tidak hanya Suaminya, ibu serta adik iparnya pun turut berperan dalam pemulihan Jenn sebulan ini. Setiap ke kampus, Jenn selalu ditemani Kay. Seperti yang diminta suaminya. Mereka benar-benar keluarga yang hangat.
Hingga suatu malam, Jenn berinisiatif untuk terbuka pada ibu mertuanya tentang sepasang suami-istri paruh bayah yang mereka temui di rumah sakit waktu kepulangannya.
Ia merasa bahwa, kasih sayang ibu dari laki-laki yang ia cintai itu terlalu tulus untuk di sia-siakan. Sebab itulah, ia memilih terbuka dan berbagi hal apapun. Waktu sebulan ini semakin mendekatkan mereka. Layaknya ibu dan anak, Jenn kerap bermanja pada sang mertua sama seperti Kay.
Tanggapan sang ibu tentang orangtua dari mantan kekasihnya itu tampaknya biasa saja. Sebab dimatanya, Jenn pun terlihat menjaga jarak dengan mereka. Wanita cantik di usia senjanya itu senang, sebab menantu yang sudah dianggapnya sebagai putri sendiri, tahu cara bersikap dan menghargai perasaan suaminya.
Kehidupan rumah tangga Jenn dan Kenn semakin lebih baik. Kenn sudah kembali bekerja dengan normal tanpa perlu mengkhawatirkan istrinya sendirian di rumah. Sedangkan Jenn semakin bahagia dan telah pulih pasca keguguran sebulan lalu.
Kay pun kini telah mendaftarkan diri pada universitas tempat Jenn dan teman-temannya menimba ilmu.
...***...
Sementara Alvino sendiri, sebulan ini ia benar-benar menghabiskan waktunya hanya untuk sebuah penyembuhan jiwa.
Club dan wanita malam, bukan lagi tempat pelariannya. Sebulan ini ia berteman baik dengan alam. Menyatu dengan gunung dan pantai, melakukan hal-hal baru yang menginspirasi di luar kebiasaannya selama ini.
Berhasil melupakan Jenn? Tentu saja tidak. Bahkan waktu seumur hidup pun ia sendiri tidak bisa menjamin itu.
Namun, setidaknya ia tak lagi meratapi dirinya yang menyedihkan. Ia tak lagi harus berpura-pura kuat atau harus membenci dia yang yang telah menghancurkan hatinya.
Alvino telah berdamai dengan dirinya. Ia dengan besar hati menerima kekalahan yang hampir-hampir menghilangkan nyawanya. Lelaki tampan itu tak memungkiri bahwa healing yang ia jalani sebulan ini, tidaklah mudah menghapus Jenn dari ingatannya. Bahkan hatinya yang terluka pun masih mencintai wanita itu dengan besar.
Omong kosong, jika hanya dengan waktu sebulan dapat menghapus kenangan bersama rasa yang telah tertanam tiga tahun lebih. Namun, perasaan ingin melupakan bukanlah suatu hal yang main-main. Alvino serius untuk itu.
Setelah kembali dari petualangannya, ia bersama kedua orangtuanya berencana untuk kembali ke kota yang pernah menjadi tempatnya menuntut ilmu. Berbulan-bulan lalu ia telah menyelesaikan kuliahnya, bahkan ia sudah memiliki pekerjaan di sana. Ia terpaksa meninggalkannya dan menyerahkan pada sahabatnya yang mengurus. Hanya karena ingin menemui wanita pujaannya. Namun, kekalahan dan kehancuran yang ia temui. Sudah cukup dan kini waktunya ia kembali.
"Kapan, Bang? Perasaan cepat amat." Reza tampak tidak senang mendengar soal abangnya yang akan kembali ke kota xx.
Ada sesuatu yang mengusik ketenangannya seolah ingin Alvino tetap di sana.
"Dua hari lagi," jawab Alvino sembari mengotak-atik keyboard pada laptopnya.
"Gak bisa ditunda lagi beberapa bulan gitu?"
Alvino menghentikan aktivitasnya lalu menoleh pada adik sepupunya.
"Kenapa?" Balik bertanya. "Lo mau gue tetep di sini supaya apa?" Alvino memicingkan matanya. "Lo sengaja mau buat gue terus terluka? Lo gak mau liat gue move on gitu?" cecar Alvino.
"Bu-bukan gitu, Bang." Reza menjadi salah tingkah dan terbata. "Gue seneng banget Abang udah move on, gue orang pertama yang bersyukur untuk itu." sambungnya lagi.
"Terus alasannya apa?" Masih dengan tatapan mengintimidasi.
Reza tampak berpikir bagaimana caranya menyampaikan maksud yang ingin ia utarakan, yang tentu saja tidak menyinggung perasaan abangnya.
"Selain melupakan dia ... apa Abang juga melupakan sesuatu?" tanya Reza dengan hati-hati.
Kening Alvino berkerut. "Maksud Lo apa? Jangan main teka-teki, Za. Lo tau gue seperti apa kan?" Menatap tajam.
"Gak ada, gue cuman nanya doang. Ya udah, Abang lanjutin aja, gue mau keluar sebentar."
Reza pun segera keluar dari kamar Alvino, meninggalkan laki-laki itu dalam pikiran yang mulai berjalan mundur di beberapa waktu lalu.
Satu persatu ingatan ia kumpulkan, hingga kepingan kenangan pada suatu pagi, dimana ia terbangun dalam sebuah kamar hotel dengan keadaan tanpa busana pasca mabuk berat semalaman.
"Sh*it! Who is she?" Alvino mengumpat mengingat sosok penuh misteri yang telah menemani malamnya.
Memang ada rasa penasaran sejak pagi itu. Namun, sekeras apapun ia mencoba mengingatnya, akal sehat pun lantas tak cukup kuat tuk menyingkapnya.
"Ah, sabodoh." Memilih melanjutkan aktivitas mengetik dan melupakan kejadian yang sedikit membekas di hatinya.
Membekas? Jelas saja. Dari sekian banyak wanita yang menemani dan menghangatkan malam-malamnya selama ini, sosok misterius itulah satu-satunya yang paling berkesan. Kenapa? Biarkan waktu yang akan berkisah.
...***...
Reza menginjak pedal gasnya dan melesat membelah jalanan sore yang terlihat sedikit lengang. Sebuah tempat yang sudah sering ia datangi menjadi tujuannya. Bukan saja tempatnya, tapi seseorang lebih tepatnya.
Beberapa menit setelah berkendara, ia memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sederhana yang tampak asri.
Reza keluar dari mobil sembari memasukan sesuatu ke dalam saku celananya sebelum membuka pintu pagar. Baru saja kakinya melangkah masuk, telinganya sudah lebih dulu menangkap keributan kecil yang berasal dari dalam sana.
Ia mempercepat langkahnya, dan suara perdebatan antara dua gadis di dalam sana semakin jelas terdengar. Salah satu dari mereka bahkan terdengar sedang menangis.
"Gue telepon Jenn sekarang juga."
"Big no! Don't do it, please!"
"Makanya ngomong, dia siapa? Lo jangan bo*doh jadi cewek." Seorang dari mereka berteriak keras.
Reza berhenti di depan pintu rumah dan memilih mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin mencampuri urusan keduanya. Namun, hati kecilnya seolah takut mendengar sesuatu yang ia khawatirkan selama ini.
"Gue takut, Put. Maafin gue, tapi tolong jangan bilang ke siapapun, apalagi Jenn. Gue gak mau." Itu suara Rossa.
Gadis itu terdengar menangis sesenggukan sambil memohon-mohon pada sahabatnya.
"Kalau begitu bilang sama gue sekarang." Suara Putri masih meninggi. "Jawab jujur, Sa!" Bentak gadis tomboi itu lagi. "Siapa dia?"
Reza semakin gelisah di depan pintu. Perasaannya mulai berbaur dengan apa yang ia pikirkan. Sepertinya, apa yang ia takutkan benar-benar telah terjadi.
"Siapa laki-laki breng*sek itu? Bilang, Sa." Emosi Putri semakin tak terkendali. Ia terus berteriak pada Rossa tapi gadis itu tak kunjung bersuara dan hanya meratap dalam diam. "Ok, kalo Lo gak mau ngomong. Gue bakal ngasih tau ke Jenn dan yang lainnya, biar kita cari tau siapa laki-laki breng*sek itu." Putri hendak meraih ponselnya tapi ia kalah cepat dengan gerakan Rossa yang lebih dulu merebut ponselnya.
"Jangan, Put. Gue mohon!" Menggenggam ponsel Putri dengan kuat. "Gue bakal ngasih tau, tapi kasih gue waktu." Bersujud di depan Putri.
"Sampai kapan? Sampai dia membesar dan semua orang tau dengan sendirinya? Itu yang Lo mau?" Rasanya gadis tomboi itu ingin memberi bogem pada sahabatnya yang lugu itu.
"Eng ...."
Baru hendak menjawab pertanyaan sahabatnya, ucapan Rossa tiba-tiba saja terhenti dengan kehadiran seseorang yang berdiri di depan mereka.
Keduanya terperanjat melihat Reza di sana. Rossa segera berdiri dan menghapus air matanya. Ia hendak berlari ke kamar menghindari lelaki itu. Namun, tangan Reza lebih dulu menahannya.
"Lo gak bisa bohongin gue," ucap Reza sembari sebelah tangan meraih sesuatu dari dalam sakunya. "Ini kan, yang Lo cari selama ini?"
..._____ππ»ππ»π_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...###...
Hay, Hay π ketemu lagi π€π₯°
Makasih buat yang selalu mampir π
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie9425