Simple But Perfect

Simple But Perfect
Alvino



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Rossa dan Putri sama-sama terbelalak melihat benda yang dipegang Reza.


Sebuah kalung dengan liontin berinisial, membentuk huruf pertama dari nama kedua Rossa. Kedua gadis itu saling tatap. Rossa yang kelabakan, dan Putri yang menatap tajam penuh tanya.


Benar, benda itu yang dicari Rossa selama ini. Dan yang ia pikirkan hanya 'dia' yang mendapatkannya. Sama pula dengan Putri, gadis tomboi itu pun sudah menandai hal itu. Dan ia pernah membahasnya dengan Rossa sebulan lalu. Meski gadis itu berusaha menyangkalnya, tetapi Putri punya feeling yang kuat akan sesuatu yang mengganjal.


"Lo dapat dari mana?" Hardik Putri. "Jadi Lo orangnya?"


"Bukan!!!" Suara Reza dan Rossa menampik hal itu berbarengan.


Saat Rossa ingin meraih benda miliknya, Reza dengan cepat menyimpannya kembali.


"Ikut gue." Ia lalu menarik tangan Rossa.


Gadis manis itu berontak ingin melepaskan diri. "Gak, Reza. Lepasin, gue gak mau." teriak Rossa.


"Dia harus tanggung jawab." Tegas Reza.


Rossa langsung menutup mulut lelaki itu dengan kedua tangannya.


"Aku mohon jangan katakan apapun, Za. Please, jangan!" Rossa memohon sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


Reza menatap gadis itu dengan banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Ia menurunkan tangan Rossa dari mulutnya.


"Gak bisa, Sa. Gue gak bisa ngikutin mau Lo. Ini gak bisa dibiarin. Gue udah menduga hal ini sejak malam itu," ungkap Reza. "Pertanyaan gue cuman satu, kenapa harus dia?" tanyanya.


Dengan tangannya Rossa menutup wajahnya. Ia tidak berani untuk melihat Putri. Reza lalu menuntunnya duduk pada sofa yang berada di ruang tengah.


Reza berjongkok di depannya, sementara Putri tetap berdiri dengan tatapan tajam yang terus mengarah pada sahabatnya.


"Mending Lo ngomong langsung aja sama gue. Sebenarnya Lo tau dari mana hah?" Putri memaksa Reza. "Siapa baj*ingan itu?"


"Yang sabar, Put. Lo jangan maksain dia kek gini. Yang ada dia ngerasa tertekan. Pelan-pelan aja dong."


Ia kembali menatap wajah sembab Rossa. "Lo mau jujur sama Putri kan? Gue hanya perlu tau, kenapa harus dia?" tanya Reza dengan lembut.


"Gue takut, Za. Gue gak berani, gue ... gue seperti seorang penghianat." Rossa menunduk dan menangis semakin keras.


"Penghianat? Maksudnya apa, Rossa?" Rasa penasaran membuat Putri semakin kehilangan kesabaran. "Lo kalo gak mau ngomong juga, gue bersumpah bakal keluar dari rumah ini sekarang juga."


Putri langsung berlalu ke kamar dan menarik koper besar miliknya, dan memasukan semua barang-barangnya.


Rossa berlari mengejar dan menghentikannya. "Jangan, Put. Lo jahat sama gue. Lo tega ninggalin gue sendiri?"


Putri tak menggubris. Ia terus bergerak ke sana kemari membereskan barang-barang miliknya. Rossa terus mengikuti setiap langkahnya.


"Jangan kek gini, Put. Gue punya siapa lagi di sini selain Lo sama Jenn."


"Tapi Lo gak pernah nganggap gue." Teriak Putri. "Lupakan saja persahabatan ini. Gak ada gunanya. Gue gak perduli lagi dengan hidup Lo. Terserah apapun yang mau Lo lakuin, gue gak peduli." tegas Putri. Namun, suara itu terdengar bergetar.


Percayalah, ia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Ketika kata itu terucap, pelupuk matanya sudah lebih dulu menggenang. Persahabatan mereka lebih dari apapun.


Ketika Putri hendak menarik kopernya, Rossa tidak punya pilihan lain lagi, selain mengungkapkan apa yang masih ia takuti saat itu.


"Alvino." Rossa langsung menundukkan wajahnya setelah menyebutkan nama itu.


Putri melepaskan kopernya langsung berbalik menatap Rossa. Nama yang disebutkan sahabatnya, sungguh sangat mengguncang jiwanya saat itu.


"Apa???" Kaget. "Siapa? Katakan sekali lagi." Melangkah menghampiri Rossa. "Siapa tadi?" Sembari menggeleng, Putri menolak percaya.


"Lo gak salah denger. Itu benar, Put." Reza membenarkan perkataan Rossa.


"What the fu*ck! Omong kosong apa ini? Lo gila, hah?" Mengguncang tubuh Rossa dengan kuat. "Bagaimana bisa? Lo tau siapa dia, hah? Dia cowok breng*sek yang pernah nyakitin sahabat kita, Rosaaaa!" Masih mengguncang tubuh gadis kalem itu. "Ini gila, benar-benar gila. Apa yang Lo pikirkan? Lo ... arrrrgggghhh! Lo sinting yah!"


Putri benar-benar marah. Ia bahkan mendorong tubuh Rossa. Untung saja Reza menahannya.


"Jangan seperti itu padanya. Ingat kondisi dia dong," tegur Reza.


"Gue emosi." Hardik Putri. "Apa gak ada laki-laki lain di dunia ini selain baj*ingan pecundang itu? Lo begok apa tolol, hah? Bisa-bisanya Lo ngasih hal berharga Lo buat sampah kek dia?"


"Cukup, Put!" Bentak Reza. "Orang yang dari tadi Lo maki-maki itu abang gue. Hargai perasaan gue juga dong."


"Gue gak peduli dia siapa, dan apa hubungan kalian. Gue gak peduli!" balasnya berapi-api. "Yang gue pedulikan itu sahabat begok gue. Dan mending Lo gak usah ikut campur." Telunjuknya mengarah tepat di wajah Reza.


Gadis tomboi itu memang tidak pernah bisa menahan emosinya. Apalagi mendengar hal tentang Alvino. Nama itu sudah masuk dalam black list-nya. Jadi, apapun tentang Alvino yang berkaitan dengan orang-orang terdekatnya, ia tidak suka.


"Gue rasa Lo yang jangan terlalu ikut campur. Di sini Lo cuman sahabat. Sedangkan gue, gue adik dari ayah bayi yang dia kandung. Gue keluarganya, jadi gue lebih berhak dari Lo." Membalas perkataan Putri tak kalah tajam.


Tidak ada yang mau mengalah, keduanya terus saling beradu mulut tanpa menghiraukan kondisi Rossa.


Suara-suara yang melambung tinggi memenuhi ruangan kamar di sana, seolah menembus memecahkan kepala Rossa. Ia meremas rambutnya karena frustasi dengan keadaan yang sedang terjadi. Ditambah dengan lelah menangis sedari tadi, tubuh gadis itupun perlahan ambruk.


Untung saja saat itu ia berdiri di dekat ranjang. Pada akhirnya ia berakhir pingsan di sana.


"Rossa!!!" pekik keduanya berbarengan.


Tidak mau menunggu lama, Reza langsung membawa Rossa keluar menuju mobil. Putri menyusulnya dari belakang dan dengan sigap membuka pintu. Keadaan genting membuat keduanya kini mendadak akur, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


Reza mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat di waktu hampir malam saat itu.


Setibanya di sana, Rossa di bawa ke IGD. Putri dan Reza menunggu di luar dengan perasaan sedikit takut.


"Gimana ini, Za? Gue takut." Putri meremas jemarinya sendiri.


"Gak papah, mungkin dia hanya lelah. Tenanglah, sudah ada dokter yang menanganinya." Reza menenangkan Putri. Sedangkan ia sendiri pun sedang khawatir.


Lima menit berlalu dan pintu ruang IGD terbuka dengan seorang perawat berdiri di sana. Putri dan Reza pun bangkit berdiri.


"Suami pasien?"


Keduanya saling tatap dan bingung. "Su-suaminya sedang di luar kota, Suster," jawab Reza beralasan.


"Ada apa, Suster? Katakan saja pada kami. Kami keluarganya."


Dan akhirnya Reza yang masuk.


"Apa ada hal yang serius, Dokter?"


"Tidak ada. Pasien hanya sedikit lelah dan tertekan. Jangan membuatnya stress, dan perhatikan waktu istirahatnya, dan usahakan supaya suasana hatinya selalu baik." jelas sang dokter. "Pasien hanya akan diinfus malam ini saja, dan besok boleh pulang."


"Terima kasih, Dokter."


Reza keluar dengan hati yang sedikit tenang. Begitu juga dengan Putri.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Sepasang suami-istri terlihat berlari kecil di sepanjang koridor rumah sakit, mencari-cari kamar pasien atas nama Rossa Glyn.


"Apa yang terjadi?"


Reza dan Putri kaget melihat kedatangan Jenn dan Kenn.


Gue harus apa? ...


..._____🌿🌻🌿🌻🌿_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Hay guys πŸ‘‹ satu lagi nih buat hari ini πŸ₯°


Terima kasih banyak buat kalian yang selalu mampir πŸ™


Jangan lupa like dan komen yah πŸ™πŸ˜


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_,,sweetie0425