Simple But Perfect

Simple But Perfect
Safe Flight



...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Gulita telah menguasai hari. Dewi malam yang muncul, tak sepenuhnya. Hanya separuh. Meskipun begitu, gelap tak lantas benar-benar kelam, bukan?


Seperti halnya hati Jenn dan Alvino saat itu. Rasa sakit dan kehilangan itu ada. Namun, sebagian saja. Sebagiannya lagi terasa lega.


Alvino yang telah mempersiapkan diri … wait, bukan. Dia yang dipaksa oleh keadaan, mau tidak mau, harus siap.


Jenn pun demikian. Ia yang dipaksa berpisah dari sahabatnya, akan siap merajut kembali hati yang patah.


Sama halnya dengan Putri. Di luar, ia akan berbaur di tengah keramaian, tetapi tetap saja ia merasa hampa. Ketika kembali ke rumah, hanya sepi yang menyambutnya, hanya kenangan yang menemaninya.


Perihal Rossa, ayahnya Reza yang merupakan dekan di kampus mereka, ia yang akan mengurus segala urusannya di kampus. Namun, segala kemudahan dan perhatian keluarga besar Dharmawan, tidaklah mampu mengobati rindu yang belum apa-apa sudah mencekiknya perlahan-lahan.


****


"Liburan besok, gimana?"


Kenn sedang berusaha menghibur istrinya. Berbagai hal ia lakukan untuk mengalihkan perhatian wanitanya.


Sepertinya, waktunya memang tepat. Sebulan lalu Jenn pernah meminta untuk berlibur. Namun, saat itu ia baru saja keluar dari rumah sakit pasca keguguran. Kenn membolehkan, tapi syaratnya, Jenn harus menunggu sebulan sampai ia benar-benar pulih. Dan ini waktu yang tepat.


"Putri boleh ikut gak?" tanya balik.


Kenn tersenyum sambil mencium kepala istrinya. Saat ini, Jenn sedang bersandar damai di dada bidang yang menjadi tempat kesukaannya. Tempat yang menjadi sumber kenyamanannya. Sepasang suami-istri itu tengah bersantai di belakang rumah.


Angin malam yang dingin, tidak sampai menyentuh dan menusuk kulit halus Jenn. Ia aman dalam dekapan hangat suami tercinta.


"Boleh, Sayang. Apapun yang buat kamu bahagia, aku izinkan itu." Kenn sangat mencintai makhluk cantik yang ada dalam dekapannya saat ini.


"Terima kasih, Kak." Jenn menengadah dan menatap wajah tampan suaminya. Jemari lentiknya mengelus rahang Kenn. "Terima kasih untuk besarnya cinta yang aku dapatkan setiap saat. Tidak pernah sekali pun aku tersakiti. Satu dunia tahu itu, banyak pasang mata yang menjadi saksi kisah kita." Jenn tersenyum dan menautkan jemari tangan mereka. "Aku bahagia bersamamu, Kak. Aku sangat mencintaimu." Satu kecupan di bibir Kenn, yang malah menjadi ciuman panjang dan dalam. Kenn selalu secandu itu pada istrinya.


"Taukah tadi aku cemburu?"


"Ha-ha-ha, kok gitu sih? Orang aku biasa aja. Gak ada perasaan apa-apa. Tadi pikiranku sempat ingin berontak, tapi hatiku berbisik, tenanglah, sekencang apapun pelukannya, tidak akan mampu menggetarkan hatiku lagi." Kenn tersenyum bangga mendengarnya.


Jenn meraih telapak tangan Kenn dan meletakkannya di dadanya.


Deg, deg, deg!


"Dia hanya akan bergetar untuk kamu seorang."


Jenn menuntun tangan itu berpindah menyentuh nadinya. Sama.


"Akan selalu berdenyut hanya untuk seorang Kennand Wiratama."


Kenn tersenyum bahagia lalu menghujam wajah cantik istrinya dengan ciuman yang penuh cinta.


"Aku bahagia, Sayang. Rasa bersalahku mulai menguap," ucap Kenn penuh damai.


"Aku pun sama. Terima kasih sudah memberiku kesempatan mengakhiri semuanya dengan indah tanpa beban. Kamu lelaki luar biasa, kamu yang paling terbaik." Jenn mengalungkan tangannya di leher Kenn. Kali ini dia yang memulai kembali ciuman panas yang sering membuatnya lupa bernafas.


Bulan sabit yang melengkung di atas sana, seolah ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan pasangan itu.


*****


Pagi menyapa. Hari baru, semangat baru, dan harapan baru.


Sebuah Toyota Alphard berwarna putih, melaju di tengah ramainya lalu lintas di pagi hari, menuju ke bandara. Seorang gadis manis tengah memandang keluar jendela, menelisik setiap sudut kota ini. Entah untuk waktu berapa lama, ia akan kembali lagi, atau mungkin tidak akan pernah.


Banyak tempat yang pernah ia singgahi, banyak lorong kecil dan jalan-jalan yang ia telusuri bersama dua orang yang amat disayanginya.


Jemari tangannya ditempelkan pada kaca mobil, seolah ingin merenggut dan membawa serta semua hal yang telah ia lalui di kota ini.


I'll always miss you …


Memaksakan senyum di tengah kepedihannya itu jauh lebih menyakitkan.


"Jangan sedih, Sayang. Ada mami yang akan selalu berada di sampingmu."


"Makasih, Mi." Bagaimana dengan Putramu? Bukankah harusnya dia? Menetes juga air mata keparat.


Sedangkan, pada jalur yang berbeda, sebuah BMW M8 berwarna maroon, pun melaju menuju bandara. Selama berkendara lebih dari 20 menit, akhirnya tiba juga.


"Gak pelukan dulu, Bang? N'tar gue kangen loh," goda Reza pada abangnya.


"Ck, apaan sih, norak." Menggeplak kepala adiknya.


Reza tertawa ringan. "Jaga dia baik-baik, Bang. Dia wanita baik yang pantas diperjuangkan. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti, Abang akan bangga memiliki dia. Gue jamin itu, Bang."


"Bacot, Lo. Bye, gue pergi." Melambaikan tangannya sambil melangkahkan meninggalkan Reza.


Reza lalu melangkah menemui Rossa dan yang lainnya.


Dari jauh melihat wajah Reza, mata gadis itu kembali berkaca-kaca.


"Hay! Safe flight yah, Sa." Reza tersenyum tapi Rossa malah menangis. "Boleh peluk gak nih, Tan? Gak tega liatnya kek gini," tanya Reza pada ibunya Alvino.


Saat mendapat izin dari tantenya, juga dari Rossa sendiri, Reza kemudian memeluk gadis itu sejenak. Hanya membantu menenangkan hatinya.


"Hiks, jaga mereka berdua yah, Za. Terutama Putri. Dia sendirian, gak ada yang nemenin dia, hiks." Rossa menangis membasahi kaos milik Reza.


"Pasti, gue janji sama Lo. Udah, jangan sedih lagi. Putri gadis yang kuat. Ada gue sama Jenn, gak usah khawatir."


Tidak lama setelah itu, pengumuman keberangkatan pesawat, di siarkan. Rossa bersama kedua orangtua Alvino, melangkah masuk meninggalkan Reza. Sementara Alvino sudah lebih dulu masuk sedari tadi.


"Semoga dia bisa membuka hatinya dan menerima Lo secepatnya." Reza pun berbalik lalu meninggalkan tempat itu.


Beberapa menit setelah itu, di tempat Jenn dan Putri. Seperti sudah memiliki ikatan hati, keduanya sama-sama mengucapkan kata yang sama.


"Safe flight, Sayangku!"


Dan itu ditujukan untuk sahabat terbaik mereka.


Mungkin semesta mengakhiri kisah persahabatan mereka. Namun, jauh di lubuk hati masing-masing, hubungan yang mengatasnamakan persahabatan itu tetap ada, dan tetap terjalin lewat hati.


Selamat tinggal, Jenn, Put, gue sayang banget sama kalian berdua. Entah sampai kapan, tapi gue berharap bisa kembali suatu hari nanti dan bertemu kalian lagi. Maafin gue. _Rossa_


Tiga tahun lebih rasanya terlalu singkat. Dan akan sangat panjang waktu untuk melupakan. Namun, kamu akan selalu menjadi tokoh favoritku dalam kisah ini. _Alvino_


*****


βœ‰οΈ Siapin barang-barang, kita juga berangkat hari ini. Jangan lama-lama, gue tunggu di rumah. Reza yang akan jemput Lo. Kita take off nanti siang. Take care, Beb.


Satu pesan yang langsung membangunkan jiwa tourising Putri. Dengan penuh semangat, gadis itu bangkit dan menyiapkan perlengkapannya. Ini waktu buat menghilangkan bebannya.


****


Di kediaman Kenn dan Jenn


"Hati-hati yah, jangan macam-macam, jangan lupa makan. Tunggu aku nyusul ke sana."


Kenn memperingatkan istrinya. Karena pekerjaannya belum selesai, Kenn harus menyelesaikannya terlebih dahulu. Setelah itu baru dia menyusul istri dan keluarganya.


"Siap komendanku." Tawa wanita cantik itu, sudah cukup menenangkan jiwa seorang Kenn.


Holiday yang dinantikan Jenn, akhirnya terealisasi dengan sempurna.


..._____πŸ’¦πŸ’¦πŸŒ·πŸ’¦πŸ’¦_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued …...


..._______________...


Hay, semuanya πŸ‘‹ satu bab lagi end 😁


Terima kasih buat kalian semua yang sudah mampir ke sini πŸ™ Baik yang ninggalin jejaknya, yang hanya baca pun makasih banget πŸ™


Sampai jumpa di last episode yah πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425