
Sebuah cahaya tiba-tiba menyala tepat pada pijakan ku, sangat cepat dan menghasilkan sebuah ledakan kecil beserta gelombang kejut yang cukup kuat.
Dan ada pukulan yang tepat mengenai perutku, membuatku menjauh dari orang ini. Ketika aku membuka kembali mataku dengan cepat, di depanku hanya ada seseorang yang berdiri dengan wujud iblis sepenuhnya.
Jadi seperti ini dia merubah wujud transformasi nya dengan respon yang sangat cepat. Ternyata iblis yang sekarat pun bisa menjadi baik-baik saja ketika mereka bertranformasi ke wujud iblis selanjutnya.
Aura nya menjadi lebih kuat dari sebelumnya, walau wujudnya sepertinya tidak menutup seluruh wujud awalnya, seperti dia bergabung dengan tubuh mengerikan yang keluar dari dalam tubuhnya sendiri.
Dengan cepat, dia langsung berada di dekatku, bersama tangan yang hampir mendarat di wajahku. Aku hampir tidak bisa merespon kecepatannya.
Hal yang masih bisa kulakukan adalah menghalangi pukulan ke wajahku dengan tanganku, walau aku di terbangkan sejauh puluhan meter.
Pukulannya hebat, bahkan tekanan ini luar biasa. Dia kemudian datang lagi dengan gerakan nya yang cepat, langsung mendekatiku di udara dan memukulku ke tanah dengan kuat.
Rasanya lumayan sakit, ternyata tubuhku tidak kuat menahan pukulan dengan kekuatan besar tanpa dinding inferno. Namun, bagaimanapun, asalkan aku sudah bersentuhan dengan lawanku, aku bahkan bisa memindahkan rasa sakit ini kembali padanya.
Tubuhku benar-benar terbaring seperti bintang laut yang terdampar di tepi di pantai, tangan kanan dan tangan kiriku yang melebar tidak terlalu besar. Menghancurkan beton arena hingga melubangi tanah sedalam satu meter lebih.
Dan dari langit, dia turun seperti kecepatan yang lebih cepat dari cahaya, kecepatan dari ketinggian puluhan meter yang akan menabrakku. Satu hal yang pasti, aku sudah menyentuhnya, sekarang, aku bisa bertukar posisi sesuka hatiku, seperti layaknya aku selalu menukar posisi ku dengan objek apapun yang kuinginkan.
Kurasa ini mirip seperti kemampuan yang dimiliki Sasuke dengan mata rinnegannya nya atau sesuatu yang di sebut dengan amenotejikara, atau seperti kemampuan pertukaran yang dilakukan Aoi Toudou dan Itadori Yuji, umm ... yeah, mereka juga menamakannya dengan teknik Boogie Woogie.
Aku memiliki banyak hal-hal di luar logika sekarang, tapi aku masih berpikir untuk semua nama mereka satu persatu. Karena kekuatan dari Will Power sepertinya sudah diizinkan oleh Fyrena untuk kugunakan sesuka hatiku.
Jadi, seperti yang ku inginkan, aku menukar kembali diriku dengan orang ini. Alhasil, dia hanya menabrak ke tanah seperti orang bodoh.
Kesempatan di langit tidak banyak, aku mengeluarkan beberapa rentetan gerbang neraka lagi, membuatnya di hujani oleh ribuan pedang, tombak, kapak, bahkan pisau sekalipun.
Fyrena juga kembali menemuiku di dalam mimpiku beberapa waktu yang lalu, pesan yang dikatakannya adalah bagaimana agar aku bisa membuka gerbang neraka, membawa sesuatu ke neraka, atau mengeluarkan sesuatu dari dalam neraka.
Fyrena mengizinkanku atas pembukaan gerbang neraka yang sesungguhnya, neraka tak berujung yang paling dalam di balik kegelapan, kesengsaraan tiada tanding. Tempat tinggal selanjutnya untuk jiwa-jiwa busuk dan berdosa, mereka yang menjadi pembunuh, mereka yang menjadi penyiksa anak kecil, pemerkosa wanita, dan kejahatan tak terhingga, tempat di mana semua hal seperti itu akan berakhir di neraka.
Lalu, pedang-pedang ini juga tidak akan pernah habis, entah apapun yang keluar dari sana, tombak, pisau, gergaji, anak panah, trisula, atau apapun itu, mereka tidak akan pernah habis, terus keluar dari neraka secara terus-menerus selama aku terus membukanya.
Semua benda-benda ini adalah senjata yang sebenarnya di pakai oleh para mahluk berdosa, senjata yang mereka gunakan untuk membunuh, semua akan tercatat pada catatan neraka. Neraka akan mengklaim senjata apapun yang di pakai untuk kekerasan atau pembunuhan sebagai senjata harta neraka.
Dan sepertinya sejak pertarungan untuk melawan orang-orang yang tidak ku kenali itu, aku membuka gerbang neraka yang benar-benar banyak untuk pertama kalinya, menghujani seluruh negeri itu dengan senjata tajam berkecepatan cahaya yang tidak terhitung jumlahnya.
Aku tidak tahu, apakah aku berdosa, ketika setiap manusia yang ada di bawah sana akan mati dengan tragis, walau mulut mereka di tembus oleh tombak, mata mereka tertusuk oleh pedang, aku tidak peduli. Namun, orang-orang itu cukup menyusahkan.
Kuharap para penyihir dari dunia manusia itu benar-benar musnah, karena jika mereka masih hidup, ada kemungkinan bahwa mereka akan balas dendam padaku. Itu sudah pasti.
Sekarang, urusanku adalah dengan lelaki berambut putih ini. Setelah kupukul beberapa kali, dia sudah langsung mengubah wujudnya, mau apalagi, daripada dia harus mati konyol dalam hidupnya tanpa menggunakan transformasi nya dengan berguna.
Pedang-pedang ini masih menghujaninya beberapa saat, aku hanya menunggu sekitar sembilan detik. Harusnya itu sudah cukup.
Ketika semua tembakan di hentikan, gerbang neraka tertutup kembali, pedang-pedang ku yang menyerangnya kembali menghilang menjadi debu, menuju kembali ke neraka setelah menyerangnya.
Tapi...
"Siapa yang kau cari?"
Ucap nya yang tiba-tiba muncul di belakang ku.
Hanya beberapa saat untuk jatuh, aku tentu tidak ingin jatuh untuk kedua kalinya. Benar-benar payah.
"Boleh juga!! Bajingan!"
Jadi, aku mengerahkan tenaga ku sepenuhnya untuk menarik lengan kirinya, membawa nya berputar ke depan dan membuangnya jatuh untuk mendarat lebih dulu.
"Pukulan mu itu ... benar-benar tidak ada rasanya lho~" Ucapnya dengan wajah seorang bajingan.
Bertarung dengan mahluk seperti ini tanpa sihir yang banyak memang berbahaya, namun aku hanyalah iblis biasa dengan kekuatan Will Power. Menggabungkan keduanya padaku akan membuat kerusakan tak terukur.
Dia melawan tarikan dari tanganku lagi, dan menendang ku hingga terlempar ke tempat lain.
Setiap kali pukulan atau serangannya masuk, aku akan segera mengembalikan rasa sakit dan kerusakan pukulan ini padanya. Namun, aku berusaha untuk tidak mati.
BRUAKK!!
Kami berdua sama-sama jatuh ke tanah, namun bertahan dengan posisi kuda-kuda yang menganjurkan pijakan. Dia bahkan tidak berhasil tersungkur oleh ku karena perlawanannya.
"Sial! Berusaha membunuhku ya?!"
D: "Kalau ya, maka terima saja kematianmu di tanganku!!"
Dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya, dia bergerak sangat cepat ke arahku. kecepatan seperti ini tidak akan terlihat atau bahkan di terima oleh reaksi normal orang biasa. Mungkin seseorang akan melihat kami bertarung seperti ini bagaikan dua kilatan yang bergerak lebih cepat dari cahaya.
Melayangkan pukulannya lagi, jika bukan untuk bertarung dengan adil, mungkin aku sudah mengaktifkan dinding inferno ku untuk membakarnya sampai habis.
Tapi, aku juga tidak boleh mati hanya karena tidak memiliki medan pelindung, aku hanya berakhir sama seperti seorang pecundang, pecundang yang mengandalkan kemampuan yang di berikan dari seseorang yang tidak di kenalinya.
Mati dalam keadaan seperti itu? Bagaimana jika aku di hidupkan kembali ke dunia yang lebih sial dari dunia manusia?
"Tidak!!"
"Aku tidak akan menerima akhir seperti itu!!!"
Pukulan fisik ku tanpa sihir seperti benar-benar tidak akan memiliki dampak padanya, hanya seperti sebuah pukulan yang bisa meretakkan tembok atau dinding.
Aku mungkin tidak mampu untuk menghancurkan besi atau baja dan sebagainya, jangankan berpikiran seperti itu, memukul tembok saja sebenarnya bisa membuat tanganku benar-benar kesakitan, rasanya seperti tulang-tulang ku akan segera patah.
Namun, mana berlimpah ini membuatku beregenerasi terus-menerus tanpa akhir, menyembuhkan segala luka dan rasa sakit ku dengan kecepatan yang luar biasa.
Menjadi iblis itu menyenangkan, memiliki kekuatan overpower seperti yang sejak dulu ku impikan dalam kehidupan manusia konyol ku, hanya bisa berhalusinasi atau berkhayal sebelum tidur.
Pukulan selanjutnya, aku memukul wajahnya sekuat tenaga ku, benar-benar tanpa ada gabungan sihir apapun, aku hanya mengalirkan mana ke lenganku, hingga membuat pukulan yang mungkin bisa menghancurkan seluruh gigi dan gusi seseorang.
Tapi baginya, pukulanku memang tidak ada rasanya. Dan berbeda dengannya, tanpa pertahan tubuh dengan kekuatan sihirku, aku seperti di tabrak oleh lemari besi berkali-kali.
Setiap kali serangannya mengenaiku, seluruh tubuh dan tulang ku rasanya hampir patah, jika tidak beregenerasi dengan cepat, mungkin tulang ku sudah benar-benar patah, dan menunggu beberapa detik untuk beregenerasi kembali.
Waktu beberapa detik bukanlah waktu yang lama dalam pertarungan seperti ini, kecepatan seperti orang ini tidak mungkin akan menunggu sedetik pun. Bahkan setengah detik pun waktu regenerasi untukku tidak akan di biarkan olehnya.