Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 131 : We are lost people




Ya, ya~ aku belum melakukan semua itu. Jadi, aku akan menikmati hal-hal kecil disini, seperti membangun rumah baru lagi dan mencoba untuk tidak memakai kekuatanku sebanyak mungkin.


Aku menarik kembali kata-kata ku.


Membangun rumah itu membutuhkan kan waktu, aku adalah orang yang tidak sabaran dan benar-benar tidak suka menunggu lama. Jadi aku langsung membawa rumah lama kami dari dunia iblis untuk di pindahkan di sini.


Tepat di tengah hutan besar dekat tebing dan air terjun, di bawah adalah sungai yang cukup panjang jika di lihat dari atas sini. Dan ini mungkin cukup jauh dari jangkauan siapa pun. Bentuk rumahku masih sama yeah, hanya halaman nya yang berbeda kali ini.


"Tunggu dulu ... dimana pelayan-pelayan ku?" Tanya ku.


"Aku sudah menghapus kembali semua pelayan karena tidak di butuhkan lagi untuk membimbing mu." Ucap Haumea.


"Eh? Lalu, siapa yang akan melayaniku setiap hari? Makanan ku? Aku bisa menciptakan banyak hal dengan kekuatanku, namun aku ingin tetap di layani."


"Aku yang melayani mu~" Ucapnya dengan sontak.


Hufftt...


Aku masuk kembali di dalam rumah ini, perasaannya masih sama sejak awal, aroma nya, bahkan semua tata letak furniture nya yang memiliki desain seperti perabot rumah iblis.


Sebelum masuk, aku mengubah rumah ini menjadi tidak terlihat dan tidak tertembus, siapapun yang melewati area ini, mungkin akan terkena kutukan. Tubuhnya akan merasa kesakitan seperti ada mahluk kaki seribu berjalan di dalam daging nya, kulitnya akan memucat, dan dia akan berubah menjadi mahluk iblis.


Jika ada yang mampu menembus masuk ke halaman rumah kami, dia akan terjebak dalam ilusi tanpa batas selamanya, seperti dia melayang di angkasa lepas atau mungkin berada di ruang kosong yang tidak bisa di mengerti, ilusi tanpa batas itu bebas, tidak akan ada habisnya untuk membuat seseorang berhalusinasi selamanya.


Sesaat kemudian, aku dan Haumea mendengar suara seseorang berteriak dan tertawa di luar seperti orang gila. Aku kembali membuka pintu depan dan melihat kondisi orang itu. Tapi, orang ini adalah lelaki dengan tubuh kekar dan beberapa bagian tubuhnya yang di lapisi oleh pelindung emas, dia adalah seorang komandan dari pasukan berkuda itu.


Dia tertawa, kemudian menangis, lalu berjalan sambil berputar-putar seperti orang mabuk yang tertawa, menangis, kemudian marah. Sampai tubuhnya menjadi pucat, mata nya mulai menjadi merah, dan dia berteriak kesakitan.


"Kutukannya sudah berjalan." Ucap Haumea.


"Hmhmhm.... pria yang konyol~ apa yang dia lakukan di tempat seperti ini, memburu iblis? Kurasa dia adalah pria bodoh yang mencoba menjadi pahlawan dengan menangkap iblis."


"Pria ini mengikuti jejak kita berdua sampai ke sini." Ucap Haumea dengan tatapan kosong.


ARKHHHH!!!! AHHHHH!!!!!


T-TOLONG!!!!!!


Dia terus berteriak kesakitan, mencoba menggaruk tubuhnya yang terasa begitu gatal, karena mahluk seperti itu berkeliaran di dalam daging nya. Saat dia menggaruk, dia berteriak menjerit lagi dan menggaruk lebih kuat hingga kulitnya robek dan mengeluarkan darah hitam.


Wajahnya sudah terlihat seperti mayat hidup, tubuhnya putih dan merah seperti mayat yang membusuk, dan dari kulitnya, mahluk-mahluk berkaki seribu itu sudah terlihat menembus keluar dari kulitnya dan menggerogoti semua organ tubuhnya hingga ke otak.


Dia sudah menemui jalan kematian nya, maka aku langsung membakar hangus semua mayatnya yang begitu busuk hingga tidak tersisa. Tidak jauh dari rumah kami, dia meletakkan kuda putih bersayap nya di antara pepohonan hutan.


Aku dan Haumea berjalan mendekati kuda itu, namun saat melihat kamu, dia segera berteriak dan mencoba melarikan diri. Aku tidak bermaksud menyakitinya, namun aku mencoba untuk menunggangi kuda. Lagipula, aku belum pernah merasakan seperti apa rasanya naik kuda dari hasil curian.


Aku membunuh pemiliknya, dan aku mengambil kudanya.


Jari telunjuk ku bergerak ke arah kuda bersayap yang berlari ketakutan itu, hingga cahaya merah penarikan akan membuatnya berhenti bergerak.


Emm.... aku ingin mengajak Haumea berkeliling hutan dengan kuda ini.


"Aiden~ bawa aku berkeliling dengan kuda ini."


Ucap Haumea dengan wajah gembira nya.


Baru saja aku mencoba mengatakan suatu ajakan, namun dia sudah mengajak ku lebih dulu. Aku menerima, dan Haumea langsung mengambil telapak tanganku yang dingin dan kaku sambil menarik ku ke arah kuda yang terdiam.


Kuda bersayap ini benar-benar tidak bergerak seperti batu yang bahkan tidak bisa di dorong oleh angin. Aku akan membuat kuda ini berpindah tuan dengan membuatnya menjadi kuda iblis bersayap yang akan mematuhi semua keinginanku.


Agar terlihat seperti orang biasa, kami akan menggunakan sihir dengan sedikit proses, karena mengubah segalanya dengan sekali kedipan mata adalah hal yang bisa membuat orang lain merasakan hal mustahil.


Darah nya yang berjatuhan di tanah setelah di beri mantra kemudian ku masukkan lagi ke dalam lehernya dengan menggerakkan jari telunjuk ku. Bekas goresannya menghilang, kulit kuda ini tidak berubah, warnanya tetaplah putih, namun sayapnya menjadi seperti sayap besar berwarna hitam. Dan aku mengubah benda di kepalanya menjadi seperti mahkota kuda besi.


Tapi, kami hanya akan menggunakannya di daratan, jadi sayapnya tidak perlu di gunakan. Lagipula kuda ini mampu membuat sayapnya menghilang dan menumbuhkannya kembali dalam hitungan detik.


"Kamu sudah membuatnya tunduk, tidak ingin mencoba memberinya nama?" Ucap Haumea.


"Hah? Apakah nama itu perlu?"


"Sebagai raja atau ratu, kita bahkan bisa membuat mahluk iblis biasa berevolusi menjadi iblis yang lebih kuat hanya dengan memberikan nama pada mereka."


"Jadi begitu ya, tapi nama tidak perlu untuk sebuah kuda. Lagipula ... mahluk ini hanyalah alat yang ku gunakan untuk membawa mu berkeliling."


"Ahahahaha..... alat? Darimana kamu menemukan kalimat seperti itu?" Tanah Haumea dengan rasa lucu karena ucapan ku.


Dan kujawab, aku pernah menemukan kalimat semacam ini di dalam anime saat aku masih hidup menjadi manusia.


Saat menunggangi kuda itu berjalan di antara pepohonan besar hutan, Haumea bertanya di belakang ku "Apa itu anime?" dan aku menjawab, sebuah animasi kartun dari dunia manusia, tapi aku memilih tidak menjawab banyak, "mungkin aku akan menunjukan padamu nanti." lanjut dari ucapan ku.


Ku harap kami tidak bertemu dengan pasukan-pasukan itu di hutan ini, jadi kami menelusuri sepanjang hutan ini, aku tidak menyentuh kuda nya, aku menggerakkan nya dengan pikiranku. Kemana arah yang ku inginkan, maka di sana lah kuda ini akan bergerak dan tidak akan pernah lelah untuk menempuh jarak sejauh apapun itu.


"Aiden, pepohonan nya semakin jauh semakin besar yah?" Tanya Haumea.


"Hmm, mungkin begitu, kita memasuki hutan yang lebih besar dan bisa saja ada mahluk berbahaya di dalam sana."


Aku membuat kuda nya berjalan lebih cepat ke depan, hingga kami menemukan air terjun lagi yang mengarah ke sungai dengan aliran deras. Di depan sana ada sebuah gerbang layaknya gerbang istana, temboknya setinggi delapan belas meter.


Dari kejauhan, aku sudah bisa merasakan kekuatan sihir yang di letakkan pada gerbang dan semua temboknya. Sihir ini di ikat begitu kuat untuk mencegah sesuatu melewati tempat ini.


Memangnya tempat apa ini?


"Cobalah buka gerbangnya." Ucap Haumea.


"Akan ku coba."


Aku mendekatkan kuda tepat di depan gerbang, energi sihir pelindung yang kokoh terasa semakin kuat pada gerbang ini. Aku langsung menatap gerbang ini hingga mereka terbakar dan meleleh. Tidak peduli sekuat apapun sihir yang di letakkan disini, aku akan membakarnya.


Di depan, ada sebuah ladang luas sejauh mata memandang, bebatuannya juga begitu besar seperti bebatuan pada zaman purba. Kami melewati gerbang dan meneruskan jalan lebih cepat di tengah ladang.


Tiba lebih jauh lagi, ada kawanan dinosaurus terlihat di depan, ada yang kepalanya memanjang ke langit, ada juga yang beterbangan di sekitar hutan yang jauh dengan sayapnya aku tidak tahu namanya dan aku tidak peduli.


Dataran ini luas dan begitu jauh hingga kami berjalan mungkin setengah jam dengan kuda untuk melintasi ladang besar ini dari ujung hingga ujung nya. Gerbang yang sama muncul lagi di depan, namun ada begitu banyak pasukan berkuda seperti yang sebelumnya.


Mereka semua sudah turun dari kuda bersayap sambil memegang tombak dan tameng silver di kedua tangan mereka. Kami semakin dekat dan memperlambat kecepatan, mungkin seseorang yang tidak memakai tameng adalah pemimpin pasukan ini, dia hanya memegang sebuah pedang dan saat kami berada di depannya, pasukan yang lain segera mengepung kami dari segala arah dan mengarahkan tombak runcing itu pada kami.


"Anak muda! Turun dari kuda kalian dan tekuk kedua kaki di tanah!" Ucap lelaki itu dengan tegas.


"Tunggu dulu ... ada apa dengan ini, dan mengapa kami harus turun untuk menekuk kedua kaki kami?" Tanya Haumea.


"Dasar penyusup, kalian sudah merusakkan salah satu gerbang hutan, akibatnya hewan-hewan dari hutan lain masuk untuk saling memangsa." Ucap lelaki itu.


"Aku bahkan tidak tahu, kalian atau siapapun itu tidak memberikan tanda atau tulisan larangan agar tidak melewati batas, siapa yang salah?"


Tanya ku.


Dia mulai merasa kesal dengan pertanyaan ku dan kembali bertanya tentang apakah kami adalah orang yang tersesat? Dia bilang, penghuni kerajaan bahkan desa di sekitar sini semuanya tahu aturan yang di tetapkan dari kerajaan tanpa perlu tanda larangan, karena aku mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa, maka mereka menganggap kami adalah dua orang dari wilayah jauh yang tersesat ke wilayah ini.