Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 132 : Death penalty




Lelaki itu melanjutkan lagi....


Dia mengatakan bahwa sebagai orang asing yang merusak, kami harus di bawa ke kerajaan untuk mempertanggung jawabkan kerusakan yang kamu perbuat.


Aku membiarkan Haumea berbicara bersama ku melalui pikiran dan ku tanyakan apa yang akan dia lakukan, namun dia mengatakan hal yang sama juga. Jadi, mari mencoba menerima dan bersenang-senang dahulu.


Haumea masih tetap berada di atas kuda, aku turun ke bawah dan mengatakan bahwa kami akan bertanggung jawab untuk kerusakan yang kami lakukan, namun aku menolak jika harus menekuk lutut ku di tanah.


Ini hanyalah permainan untuk mengisi kebosanan ku. Selama tidak menyuruhku bersujud, aku akan mengikuti semua alur cerita, jika harus melibatkan bagian di mana aku harus bersujud pada mahluk rendahan maka aku tidak akan berpikir untuk membunuh siapapun.


"Baiklah, kami menerima." Ucapku.


Lelaki itu kemudian menciptakan energi cahaya putih bersinar yang membentuk sebuah borgol untuk mengikat tangan kami berdua. Satu borgol untuk dua tangan, begitupun dengan tangan Haumea yang kedua tangannya di borgol ke depan dengan borgol emas.


"Mungkin kalian adalah orang tersesat, namun hukuman juga akan ada dengan perbuatan kalian." Ucap lelaki itu.


Kemudian ada kereta kuda dari langit yang datang bersama beberapa pasukan berkuda lainya. Kami di bawa dengan kereta kuda itu dan di bawa ke area kerajaan.


Perjalanan yang tidak terlalu lama, namun aku sudah mendengar suara berisik yang ramai di depan sana. Sampai akhirnya kereta kuda bersayap ini masuk melewati gerbang dengan tembok setinggi empat puluh meter. Di depan gerbang ada penjaga-penjaga yang cukup perkasa dengan tubuh kokoh mereka bersama zirah nya.


Di depan ada kerumunan warga yang menutup jalan kami seperti mengamuk, mereka ada begitu banyak memenuhi jalan sepanjang ribuan meter ke depan. Pasukan berkuda lainnya yang sudah mendahului kereta ini segera menyingkirkan mereka dari jalanan kota ini sampai jalan terbuka menuju ke depan.


Ada begitu banyak suara dengan nada yang marah.


"Aiden, apa rencanamu?"


"Mengikuti naskah cerita yang mungkin ada."


Suaraku pelan, dan suara semua orang begitu berisik. Rakyat-rakyat yang tak terhitung jumlahnya memenuhi setiap ujung jalan.


"Hukuman mati untuk perusak!!"


"Berengsek! Kamu tahu danau apa yang telah kamu rusak?"


"Biarkan aku mengeksekusi mereka!"


"Tidak ada ampunan! Tidak ada ampunan!!"


Ada begitu banyak ucapan seperti ini yang di lontarkan pada kami yang bahkan benar-benar membuatku harus menahan sabar sedikit lagi.


Sampai ada pria lancang yang akhirnya mengucapkan kata kasar yang benar-benar membuatku harus memberinya sedikit rasa sakit.


"Dasar bodoh! Kenapa manusia najis seperti kalian harus merusak danau suci kami semua!!"


Ucapnya sambil melempar batu seukuran genggaman tangan.


Walau batu itu ke arah kami, aku akan baik-baik saja dengan Inferno wall ku, tapi Haumea tidak memiliki kekuatan apapun dan batu itu mengarah cepat ke kepalanya.


Oh, pria bodoh ... kamu tahu siapa yang kamu ucapkan manusia najis? Mungkin itu adalah dirimu. Ucapku ke dalam jiwa nya.


Sampai batu itu tidak dapat di lihat oleh orang lain, aku mengubahnya menjadi pecahan-pecahan runcing sembilan bagian yang kembali mengarah pada kepalanya dan menusuk bagian-bagian tubuhnya hingga tembus ke luar.


Matanya, otaknya, bahkan jantung nya di tembus oleh batu pecahan runcing yang ku arahkan balik padanya. Dia terjatuh di antara keramaian dengan kematiannya yang sangat konyol. Kemudian tubuhnya segera ku ubah menjadi putih dan membusuk, sekumpulan belatung keluar dari mulut dan matanya yang bocor. Itu hanya terjadi dalam sedetik setelah dia melempar batu ke arah Haumea.


Jangan coba-coba melakukan hal hina pada nya.


Setan dan iblis yang menghantui seseorang saja sudah cukup untuk meneror hingga seseorang mati secara mendadak, tapi iblis sepertiku tidak akan menghantui seseorang dengan keberadaan iblis seperti di film horor, karena aku bisa membuat seseorang mati menyedihkan hanya dengan melihat ku jika aku mau.


Semua orang segera heboh atas kematian pria itu tanpa sebab dan akhirnya jalan di belakang mulai di penuhi kerumunan pada lelaki itu. Sisanya masih ada ribuan warga kerajaan yang berteriak buruk pada kami.


Melewati semua kota dan penduduk, kami sampai ke jalan yang menanjak ke atas dengan patung-patung yang mungkin merupakan para pahlawan kerajaan terdahulu ini di bagian kanan dan kiri nya. Warga-warga tadi juga bukan semuanya manusia, seperti setengah dari penduduk kota dan kerajaan ini adalah elf dan ada juga beberapa kawanan peri kecil seukuran genggaman tanganku yang beterbangan dengan sayap tipis mereka bagaikan kupu-kupu yang bersinar.


Saat turun dari kereta kuda dan memasuki kerajaan, kami di sambut oleh pasukan dengan baju zirah bersama tameng dan tombak yang berada di sisi kanan dan kiri. Di belakang mereka ada lagi barisan orang-orang di dalam kerajaan yang terlihat marah. Aku bisa merasakan emosi mereka semua, sedih dan marah.


Namun, ini adalah ruangan tertentu di dalam kerajaan tepat di hadapan singgasana raja. Berita kerusakan yang ku perbuat tersebar begitu cepat ke seluruh wilayah ini.


Dengan borgol pada tangan kami, kami di bawa berjalan ke hadapan raja. Seorang raja yang terlihat masih muda, dia duduk layaknya seorang raja berwibawa penuh kuasa dengan mahkota di kepalanya. Rambutnya berwarna hitam mengkilat dengan mata biru cerah.


Di dekat nya ada seorang wanita dengan gaun kerajaan yang begitu mewah sambil menggendong seorang bayi. Pasti itu adalah istri raja dan anaknya, mereka terlihat masih muda. Seperti yang ku lihat, dia adalah raja dengan usia dua puluh tujuh tahun. Dan juga ada beberapa lelaki di sisi lain yang mungkin merupakan pengawal tertinggi kerajaan.


"Kami sudah membawa mereka, yang mulia."


Raja muda itu mulai menatap kami satu per satu dengan tatapan sinis nya yang menjijikan. Rasanya aku benar-benar di rendahkan, namun ini menyenangkan jika ada langkah selanjutnya yang lebih menarik untuk memperlihatkan kekuatan ku.


"Kalian ... orang dari negeri luar yah?" Tanya raja itu


Aku tidak menjawab dan benar-benar tidak ingin menekuk lutut ku sedikitpun, jika pasukan-pasukan ini memaksa kami untuk menekuk lutut, maka bersiaplah untuk menghilang dari kisah mana pun.


"Apa kalian tidak pernah di beri tahu dari wilayah kalian tentang aturan melangkah ke wilayah kerajaan lain?" Tanya nya lagi.


"Yang mulia, hukuman apa yang harus kita berikan pada dua orang ini?!" Ucap lelaki di sampingnya.


"Diam Javel! Kamu tidak berhak memotong pembicaraan ku!" Ucap raja itu pada lelaki di dekatnya.


"T-Tapi ... kedua orang ini merusak danau suci kita semua, dengan keringnya air danau dan hilangnya gurita suci di wilayah ini, maka pertanda buruk akan datang pada kita semua! Yang mulia, tolong hukum kedua orang ini segera." Ucap lelaki bernama Javel itu.


Saat dia mengucapkan kata-kata itu, semua orang di ruangan mewah ini segera melontarkan kata yang sama.


Mereka terus mengucapkan "Hukum dia! Hukum dia! Hukum dia!" hingga raja yang duduk dengan pangkuan tangannya dengan mata tertutup akhirnya menarik nafasnya dan bersuara lantang untuk membuat semua orang terbungkam.


"DIAM!!!"


Suaranya sedikit menggema ke setiap rongga ruangan ini.


"Kalian ... akan ku tanya sekali lagi, dari wilayah mana kalian berdua? Kedatangan kalian di curigai dengan kerusakan yang terasa seperti kehadiran iblis, meski aku belum yakin kalian adalah pelakunya." Tanya nya dengan suara yang pelan namun terdengar ke semua orang.


Dengan kedua borgol emas di tanganku, aku tersenyum sedikit penuh rasa merendahkan, bagi mereka semua kami adalah orang tersesat, namun bagi kami mereka adalah semut kecil yang akan segera hancur menjadi debu.


"Yang mulia! Tapi mereka bahkan tertangkap melewati gerbang antar hutan, hewan-hewan suci sekarang telah kacau karena kedua wilayah sudah terbuka satu sama lain, dan mereka saling memangsa!" Ucap lelaki yang memberi borgol.


"Benar yang mulia! Tidakkah Anda memikirkan bahwa tidak ada orang atau penyihir yang mampu menembus semua gerbang sihir kita? Mereka pasti iblis! Bencana akan datang seperti ramalan keringnya sungai suci, iblis masuk dan akan mulai merusak apapun!" Ucap lelaki bernama Javel itu lagi.


Mendengar kata "Iblis" semua orang segera terkejut, bahkan aku bisa merasakan rasa takut pada semua wajah mereka termasuk raja ini.


"Yang mulia, tidak hanya itu, komandan Law juga ikut menghilang bersama kuda nya kami bahkan tidak mampu menemukan hawa keberadaannya!" Ucap Javel.


Wajah raja itu mulai terlihat aneh, dia kembali memandang ku dengan posisi duduk yang merasa terancam, terlebih lagi, bayi yang di gendong oleh ratu itu sudah mulai menangis tak henti-hentinya.


"Perkuat borgolnya!" Ucap raja itu dalam sekejap.


Kemudian, pria berziarah yang sebelumnya lagi mengaktifkan lingkaran sihir dan memperkuat borgol kami dalam sekejap, ini adalah borgol yang menetralkan sihir.


"Kalian tidak akan bisa melawan sekarang, itu adalah borgol kerajaan yang di buat khusus untuk meniadakan kekuatan sihir seseorang."


Ucap raja itu.


Sesaat kemudian, dia bertanya lagi.


"Baiklah kalian, aku akan bertanya sekali lagi dan untuk terakhir kalinya. Dari wilayah kerajaan mana kalian?" Tanya raja itu dengan tegas.


Namun, aku dan Haumea benar-benar tidak berniat mengucapkan satu kata pun. Sampai waktu yang lama kami tidak menjawab pertanyaannya, aku bahkan bisa mendengar giginya yang menggertak marah dan emosi yang meluap di dalam hatinya.


Dia berdiri dari singgasana nya dengan perasaan marah dan segera bersuara lantang agar semua pasukan menyiapkan tempat eksekusi dan persiapan algojo. Setalah suaranya terdengar keras, semua pasukan langsung menggiring kami ke suatu tempat di luar istana.


Aku dan Haumea di bawa ke penjara bawah tanah yang begitu gelap dengan banyak tahanan yang terlihat agak brutal. Ada yang matanya buta, ada yang penuh jahitan di wajahnya, dan ada yang kehilangan tangannya.


Ada begitu banyak tahanan di dalam penjara bawah tanah kerajaan ini, di setiap lima meter dindingnya akan di lengkapi oleh obor yang menerangi tempat ini walau redup.


Mereka berniat memisahkan ku dari Haumea di sel tahanan yang berbeda, tentu saja aku tidak akan menerima dan segera memanipulasi pikiran penjaga-penjaga agar menyiapkan sel tersendiri hanya untuk kami berdua.


"Ahh~ jadi kita langsung mendapat hukuman mati begitu saja yeah?" Ucap Haumea.


Di dalam sel, aku terus berdiam diri tanpa berbicara dengannya, hingga Haumea tertawa sedikit padaku, aku merasa lucu ketika melihatnya sedikit, bahkan memikirkan raja itu. Hingga tawa kecil ku juga keluar, Haumea mulai tertawa agak keras seperti tawa iblis yang menggema ke seluruh ruang.


Seluruh obor di jalanan yang menerangi sel tahanan segera padam dalam sekejap dengan tawanya. Mata nya menyala merah di balik kegelapan sambil mencoba berhenti tertawa.


"Hei!! Kalian berdua!! Pelankan suara kalian atau aku akan membunuh kalian ketika aku bebas dari sel ini."


Haumea akhirnya mulai tertawa perlahan dan akhirnya berhenti sambil menatapku di dalam kegelapan tanpa cahaya bersama senyum jahatnya yang tidak terlihat, tapi aku bisa merasakan senyuman itu. Para penjaga itu juga mulai berjalan pergi keluar untuk mencoba mengambil obor yang mati.