
Dia akan terus berbaring di sana sampai waktu yang cukup lama, sebagai iblis sekarat yang kehilangan kesadarannya.
Namun, masalah jelas belum selesai, karena lawanku adalah dia.
Inisial D ini baru saja naik ke permukaan setelah aku menyelesaikan satu muridnya.
Karena aku adalah calon raja iblis, sepertinya semuanya semakin jelas. Bahwa seluruh alam iblis menerima diriku, bukankah keinginan Marie semuanya terwujud karena keinginannya? Dan juga kekuatan itu.
Aku hampir bisa melakukan sihir-sihir yang di luar jangkauan iblis biasa. Bahkan iblis dari dunia atas sudah pasti tidak akan bisa melawanku.
.............
...Cerita di waktu yang lain, berada tepat di rumah Aiden....
Valerie: "Emm ... anu ... ratu? Bukankah aku tidak boleh kembali sampai aku menemukan iblis yang menjadi biang kerok itu?"
Marie: "Tidak, tidak, ini perintahku, sekarang kamu akan tetap disini dan jadilah bahan eksperimenku."
Valerie: (°﹏°)
Kemudian Marie menyuruh Valerie untuk tetap berdiri pada tempatnya, dia menjentikkan jarinya dan mengubah Valerie langsung menjadi Aiden.
"Lihatlah ke cermin." Ucap Marie.
Kemudian, Valerie dengan cepat langsung menciptakan cermin dari dimensi kosong. Wajahnya benar-benar terkejut ketika melihat penampilannya di ubah.
Valerie: "A-A-Aku? Aku menjadi Aiden?"
"Yeah, yeah, begitulah~
Sekarang ... aku ingin kamu mengenakan pakaian-pakaian yang akan kuciptakan, jadi, ini akan membutuhkan beberapa waktu saja."
Ucap Marie dengan santai tidak jahat seperti biasanya.
"Pakaian?" Tanya Valerie dengan wajah yang sedikit pucat.
Kemungkinan dia masih trauma dan ketakutan karena serangan Marie yang memotong mereka semua begitu saja, dia masih berani untuk datang kembali dengan cepat, sisanya akan berharap bahwa mereka tidak akan di panggil lagi untuk menghadap pada Marie. Mereka takut akan hukuman yang lebih menyakitkan lagi.
"Sekarang kamu hanya perlu duduk, tepat di depan cermin ini bersamaku, aku akan terus mengubah pakaianmu sampai aku menemukan pakaian yang cocok untuk Aiden." Ucap Marie.
Dan...
ZHUUP!
Valerie yang menjadi Aiden dengan pakaian wanita tiba-tiba berubah menjadi pakaian dengan sebuah jubah.
"Hmmm? Bagaimana ya?" Ucap Marie sambil menilai jubah buatannya.
Valerie: "Daripada pakaian, kupikir ini adalah sebuah jubah."
Marie: "Ya, benar. Ini memang sebuah jubah. Dia mungkin sedang bersama urusannya sekarang, tapi dia pasti melarang ku untuk ikut campur dalam setiap hal yang dia inginkan."
ZHUUP!
Marie mengganti lagi jubah yang di kenakan Valerie dengan jubah lain dalam sekejap. Hanya menggunakan pikiran nya saja, dia mampu menciptakan jubah iblis yang dia inginkan, entah jubah, gaun, atau pakaian apapun.
Termasuk sebuah benang, walau hanya ada sehelai benang dengan panjang yang hanya sepuluh senti pun, dia bisa memanipulasi benang tersebut, menjadikannya sebuah kain dengan benang yang teratur, lalu menciptakan sebuah gaun iblis yang dia inginkan hanya dalam sekejap.
ZHUUP! ZHUUP! ZHUUP!
Terus-menerus mengubah pakaian yang menurutnya cocok, setelah dia sudah mendapatkannya, dia mungkin akan berhenti untuk menciptakan jubah lagi.
Bermaksud membuat agar Aiden memakai kostum ini, namun, ini lebih mirip dengan mencoba membuat seseorang menjadi cosplayer atas keinginannya.
...............
...Kembali lagi di arena....
Aku masih terus bertarung dengan lelaki berambut putih ini, dia bisa menciptakan berbagai macam jenis senjata dari kulitnya. Terutama tangan sebelahnya yang menjadi berukuran berlebihan, benar-benar besar, terlihat keras dan kokoh.
Tangannya bisa berubah-ubah bentuk, menyerangku dengan mengubah tangannya menjadi semacam tentakel yang sangat banyak, namun ini bukan tentakel.
Terlihat hampir mirip dengan kagune milik Kaneki yang ada pada seri Tokyo Ghoul, kurang lebih memang mirip seperri itu, memanjang dengan beberapa bagian, yang bahkan terus menyerangku tanpa celah waktu untuk menyerang balik.
Melubangi tembok-tembok atau apapun yang di tabrak nya. Setiap kali tangannya harus menuju ke arahku dengan cepat, aku juga harus mempercepat gerakanku untuk memotong beberapa bagian tangan yang menjengkelkan itu.
"Mau sampai kapan kamu terus memotong dan memotong seperti itu?" Ucapnya dengan wajah sombong, seolah-olah surat pernyataan kemenangan sudah pasti berada padanya.
"Sampai aku bosan."
Aku memotong lagi bagian tangannya yang lain, gerakannya benar-benar cepat. Setiap kali aku meloncat dan mencari arah lain dari atas untuk menyerang, dia mengubah lagi tekanan gravitasi untuk menarikku ke bawah dengan sangat cepat.
Tapi, jika hanya gravitasi, aku sudah pasti bisa mengatur diriku sendiri, entah di gravitasi manapun atau tanpa gravitasi sekalipun.
...FLARE...
WHOSH!
Aku melemparkan serangan berupa bola api ke wajahnya, membuatnya terbanting dan menjauh beberapa saat dariku.
"Kamu memang hebat! Tapi sayang sekali, kamu tidak memiliki rencana untuk bertindak menjadi pemenang!" Ucapnya dengan nada sombong.
Seperti dia benar-benar menikmati pertarungan ini. Di saat berikutnya, dia bangkit kembali dengan cepat, secepat kilat yang akan memukulku dengan banyak tusukan dari tangan anehnya itu.
"Begitu?"
FEW!
Aku menukar diriku lagi dengan Levian, iblis menyedihkan yang menjadi gila.
Dan sepertinya itu adalah akhir dari hidupnya, kupikir aku akan membiarkannya tetap hidup dan menjadi iblis gila. Tapi aku menukarkan posisi ku dengannya dari jarak dua kilometer lebih.
Inisial D ini akhirnya mengakhiri nyawa muridnya sendiri, tidak perlu menunggu waktu lama, aku kembali menukar lagi tubuhku dengan mayat Levian, seseorang yang baru saja di bunuh.
FEW!
Aku memang bertukar kembali, dan sampai ke posisinya dalam keadaan tergeletak di tanah, sebagaimana mestinya seseorang ketika terkena sebuah hantaman keras, atau mungkin mayat seseorang yang mati di tabrak mobil.
Dia tepat berada di depanku, ketika memperhatikan bahwa seseorang yang dia pukul bukanlah aku, melainkan anggotanya sendiri. Wajahnya berubah drastis.
D: "Huh?!?!"
Ketika aku muncul lagi, aku langsung menendang ke atas, tepat pada perutnya, membuatnya melayang tinggi ke angkasa.
Aku baru saja ingin mengangkat beberapa permukaan tanah dan batu, untuk mencengkeram nya erat di langit dan membuangnya dengan posisi terburuk. Tapi, dia langsung mengubah posisi melayang dengan cepat ketika aku menendangnya ke langit.
Matanya langsung mengeluarkan laser. Laser yang mirip dengan milik Superman, setiap jalur yang di lewati laser itu membakar pijakan stadion ini, bahkan menuju padaku dengan sangat cepat.
Aku menghindari setiap serangan laser yang berkelok.
"Kena!"
Sesaat dia melayang di langit sambil menyerangku dengan laser mata yang membakar apapun yang di lewatinya, itulah waktu dimana dia lengah, dan aku membuka rentetan gerbang inferno untuk menghujani nya dengan pedang-pedang dari neraka yang tidak terhitung jumlahnya.
Langit sedikit di warnai dengan warna merah dan jingga api dari neraka lagi. Pedang-pedang yang ku luncurkan dengan kecepatan sepuluh kali lipat dari kecepatan cahaya.
Beberapa pedang menusuknya dari belakang dengan cepat, membuatnya terjatuh dari langit dengan cepat juga. Hingga dia hampir menyentuh tanah, aku bergerak menggunakan kecepatan bayangan.
Melampaui kecepatan cahaya manapun, kemudian menebas nya dengan pedangku. Seribu tebasan dalam satu kali serangan.
Percayalah, dia pasti akan merasakan sakit luar biasa dari rusaknya organ tubuhnya.
Lagipula, aku membuat tebasan tanpa sentuhan yang mampu menembus ke bagian internal tubuh, merusak organ-organ tubuh, bahkan mematahkan tulang rusuknya.
Hingga dia tersungkur di arena dengan beberapa pedang hitam yang membawa sebuah lava dari neraka dan menempel sekaligus menusuk tubuhnya.
"Hanya begini saja? Kamu memang benar-benar lemah."
Aku melontarkan kata-kata yang seharusnya bisa membuat seseorang emosi dalam posisi seperti ini, jika dia kuat, dia akan berdiri dari sana–bangkit dan kembali bertarung bersama rasa haus akan membunuh.
Tapi jika dia lemah, maka dia akan tetap tersungkur disini, menjadi seorang pecundang yang sekarat, menunggu kematiannya datang, menunggu seseorang menyelamatkannya, atau, menunggu takdir yang menyimpang dan menyelamatkan nyawanya.
Masih belum ada jawaban, namun hanya ada suara kecil yang mirip dengan dengusan yang menyedihkan.
Aku terpaksa harus mencoba membuat nya marah sekali lagi, ku pijakkan sepatuku dengan kuat pada kepalanya, dari pada sekedar memijakkan sepatu kanan ku, sepertinya ini sedikit lebih kasar.
Karena aku menggunakan sedikit tenaga untuk menginjak nya dengan keras, membuat kepala dan wajahnya tertanam semakin dalam di pijakan beton ini.
Semakin lama dia tidak menjawab, aku akan terus menginjak kepalanya hingga benar-benar membuat lubang besar dan memecahkan kepalanya di dalam sana.