
Kemana langkah selanjutnya, aku akan mengikuti nya. Tidak, aku akan langsung berada di depannya. Dengan cepat aku memindahkan diriku ke jalan selanjutnya yang mungkin akan dia lewati.
Buka firasat atau insting, dan juga bukan tebak-tebakan. Tapi aku tahu, dia pasti akan berbelok ke koridor selatan untuk menuju ruangan-ruangan selanjutnya.
Sebelumnya, aku sudah melihat semua rute-rute tempat besar ini. Jadi, aku sudah hapal tempatnya. Karena perempatan dari sini, belok kiri adalah toilet, dan terus adalah gudang yang tidak terpakai. Maka, dia pasti akan berbelok ke kanan. Aku akan menunggunya di sana.
Aha....AHAHAAHAHAHAHAHAH....!!!
Aku terus merasa senang di dalam hatiku.
Berikutnya, dia benar-benar berbelok di koridor selanjutnya. Aku sudah menunggunya tepat di tengah jalan sepi ini. Tidak ada satupun orang dimana aku juga akan melakukan hal yang sama, membuat cahaya lampu mati menyala seperti itu? Pikirmu ini horor? Bagiku tidak. Ini biasa saja.
Dia pikir aku, aku juga tidak bisa menyembunyikan aura seperti itu? Haha, aku akan melakukan yang lebih baik dari yang dia lakukan. Jadi, aku sudah menunggu untuk menggunakan sihir transparan yang membuatku menyatu bersama pemandangan apapun, singkatnya, aku membuat tubuhku menghilang.
Dengan pelan, dia masih tersenyum jahat seperti itu, sambil membawa meja trolley berisi banyak makanan dan minuman ini. Yeah, aku pikir dia berbohong. Dia sekarang tepat berada di depanku, ketika aku menghentikan meja itu secara tiba-tiba. Dan membuat wajahnya menjadi berubah seketika.
Gadis pelayan: "Huh?!?!"
"Hem--hem~ senyuman yang bagus."
Setelah menghentikan meja trolley itu, aku menunjukkan diriku padanya. Wajahnya terlihat benar-benar santai, sama seperti biasanya.
"Um... permisi, apa ada lagi yang bisa ku bantu?" Ucap gadis petugas ini.
"Membantu? Biasalah aku bertanya sesuatu?"
Gadis petugas: "..."
"Sebenarnya, aku ingin bertanya. Bertanya soal suatu alasan, dan alasan mengapa kamu tersenyum aneh seperti itu padaku, katakan. Apa maksudnya itu?"
Gadis petugas: "Maaf, sebelumnya aku tidak pernah berniat atau sengaja untuk tersenyum seperti itu, kurasa aku hanya tersenyum karena mengingat beberapa hal yang mungkin membuat hatiku senang. Jadi, aku terpaksa tersenyum."
Tapi, aku tidak yakin dengan pertanyaannya. Orang ini sepertinya cukup licik. Aku tidak akan membiarkannya berjalan lebih jauh lagi.
Gadis petugas: "Maaf, bisakah aku melanjutkan tugasku sekarang?"
"Kurasa tidak, tapi ... aku ingin bertanya satu hal."
Gadis petugas itu diam lagi, tapi ingin bertanya sekali lagi tentang sesuatu yang mungkin akan ku tanyakan. Jadi, aku memutuskan untuk bertanya, apakah minuman dan makanan ini di berikan bumbu tambahan yang memiliki efek samping? Atau ... racun?
"Makanan atau apapun yang kami berikan untuk semua peserta seratus persen tanpa racun atau bahan tambahan tidak sehat yang mengandung efek samping, karena ini adalah keputusan dari atasan petugas stadion ini."
Ucap gadis petugas itu.
Tapi ... dia benar-benar berbohong, dengan wajah polos tanpa kegelapan sedikitpun. Jika saja ini aku adalah orang biasa, mungkin aku sudah lama tertipu olehnya dan mati, sudah jelas aku bisa melihat racun yang tercampur di dalam minuman ini, begitu juga pada beberapa bagian makanannya. Untung saja aku menyadarinya lebih awal, dengan menyerap semua racun sampai hilang tanpa di sadari Leon dan guruku.
"Oh ... begitu? Tapi, aku sudah meminum nya sejak tadi, bahkan aku menghabiskan milik temanku. Sekarang, aku menjadi kecanduan."
Jadi, aku mengambil satu gelas yang ada di atas meja trolley ini, setiap gelas terlihat higienis dengan bahan aluminium dan penutup nya yang benar-benar meyakinkan orang lain.
Aku membuka penutupnya, meminumnya satu, rasanya baik-baik saja. Ini sebenarnya adalah minuman semacam kopi, rasanya mirip kopi. Tapi, aku tidak tahu, minuman apa ini, yang pastinya ini beracun. Lagipula aku juga ingin mencoba kekebalan tubuhku, disini juga, apakah tubuhku mampu menahan racun ini?
Aku menghabiskannya dengan cepat, ketika wajahnya terlihat berusaha untuk mencegah ku meminumnya. Dan, aku mengambil lagi dua gelas secara bersamaan yang di minum dengan cepat secara satu persatu.
"K-kamu ... bisakah kamu berhenti meminumnya?"
"Maaf, aku tidak bisa, aku—aku jadi kecanduan."
Aku akan segera mengambil gelas keenam, ketika wajahnya semakin panik dan tak karuan, dia mulai mendekat ke arahnya seolah ingin menjatuhkan gelas itu dari tanganku. Tangannya sekarang benar-benar terlalu dekat.
"Ada apa? Aku kecanduan minuman beracun ini, kenapa kamu menghentikan ku? Biarkan aku mati karena racun ini."
Gadis petugas: "BERHENTI!"
PLUWSHHH!!
"Kamu! Jadi, kamu sudah tau tentang rencanaku?" Ucap gadis petugas itu.
"Tidak, aku tidak tahu, memangnya kenapa? Aku hanya tahu bahwa minuman ini memiliki racun tingkat tinggi, bukan? Jadi aku hanya mencoba menghentikanmu memberikannya kepada banyak peserta."
Tubuhku mulai terjatuh dan menahan pegangan pada besi-besi pendorong meja makan ini. Tapi, akting adalah akting, bahkan aku sebenarnya merasa bahwa tubuhku lemah dengan cepat tadinya, aku mencoba menetralkan seluruh racun di dalam tubuhku.
HihiahahaHAHAHAHA!
Gadis itu mulai tertawa secara tiba-tiba dengan tawa yang jelek.
"Yeah! Tapi kamu memang menggangu, aku berasal dari pihak yang seharusnya menang, akademi ku harus menang, temanku harus menang, itu lah tujuan kami, tapi kamu akan mati sekarang, oh~ cukup menyedihkan."
Ucapnya sambil memegang daguku.
Gadis petugas: "Kalau begitu, aku akan segera menuju ruangan selanjutnya, jika kamu mati ... tenang saja, aku akan memindahkan mayatmu ke tempat lain. Hahahaha..."
BRUAK!!
Dia menendang ku untuk menyingkir dari meja trolley ini, karena aku mencoba terlihat begitu sekarat dan pasrah ketika akan mencoba meraih kakinya. Hanya saja, dia merasakan sensasi menendang sesuatu yang sebenarnya palsu. Dia memandangku, tapi tidak menyentuhku. Aku berpura-pura untuk terjatuh cukup jauh ke sisi lain koridor ini dan terlihat menyedihkan. Asal tahu saja, aku tidak suka seseorang menyentuh ku, entah itu benda atau tangannya secara langsung.
Dia kembali menuju ke belakang meja ini dan mendorong nya lagi tanpa wajah bersalah, sekarang, aura nya terlihat, itu benar-benar cukup kuat ketika memenuhi seluruh koridor ini.
Aku berdiri kembali untuk membalas tawa nya. Ketika dia belum terlalu jauh dan berbalik melihat ke arahku dengan wajah yang kebingungan.
Gadis petugas: "Kamu? Kamu kebal racun?!?!"
"Bagaimana jika kujawab, ya?"
PTAK!!
Aku menjentikkan jariku dan membuat seluruh meja trolley beserta makanan dan minuman apapun yang ada di sana terbakar dengan cepat dan menjadi debu.
Gadis petugas: "M-Mejanya? Apa yang--"
"Aku hanya ingin menghentikan langkahmu sampai disini saja, selebihnya tidak ada, jika kamu juga ingin menghentikan ku, maka hentikan lah."
Aku terus berjalan bersama tanganku yang kembali pada saku celana ku. Berjalan perlahan ke arah gadis ini di koridor sepi tanpa siapapun.
"Tetap disana!! Jangan mendekat!"
Ucap gadis itu tak karuan.
Gadis petugas: "Barrier."
FUWHHHZ!
Sebuah penghalang sihir berlapis muncul di depanku, memberi jarak antara kami. Aku menyentuh dinding sihir berlapis ini, rasanya cukup kuat dan sulit di tembus, dinding sihir seperti ini mungkin saja tidak bisa juga di tembus oleh senjata sihir lainnya, apakah itu sebabnya dia tersenyum lagi.
Ya sudahlah~ kalau begitu aku akan membuat penghalang seperti ini bertabrakan dengan penghalang yang akan menghancurkannya.
...INFERNO WALL...
PRUAKKSH!!
Lapisan pertama pecah bagaikan kaca yang hancur berkeping-keping di lempar oleh batu besar. Aku melangkah kan kaki ku terus bergerak ke depan, ketika satu persatu lapisan dinding sihir ini pecah dan menciptakan senyum pahit di wajah gadis itu. Yeah, perlahan senyuman pahit itu akan semakin pahit dan menghilang.
Gadis ini kembali mengarahkan tangannya pada jarak antara kami, menciptakan barrier dinding berlapis ini secara terus menerus untuk membatasi ku, dia bahkan semakin melangkah mundur kebelakang. Semakin aku melangkah ke depan, semakin berlipat ganda lapisan yang hancur. Wajahnya memang tidak lagi tersenyum, melainkan mencoba untuk segera lari dari hadapanku.
Langkah terakhir ku, dia sudah pasti akan berlari dari sini, jadi aku langsung bergerak ke belakangnya, seluruh dinding langsung pecah seketika ketika aku bergerak menembus semuanya tanpa terlihat oleh matanya.
"Kamu, mau kemana?"
Gadis ini langsung menciptakan sebuah pedang di tangannya dan mencoba untuk menyerangku. Tapi sayang sekali, pedang selemah itu bahkan tidak mungkin menembus dinding inferno.