Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 170: Don't Shout At Me



Satu-satunya yang masih hidup dan tetap berdiri adalah Karel, dengan penuh darah yang menutupi wajahnya, dia berkata dengan nada suara yang menyakitkan.


"Aiden! Aku tidak akan membiarkanmu hidup!!! Kembali!!! Kembali ke sini kau, bajingann!!!!!"


"Hoh? Kamu masih hidup ya~"


"Pecundang! Kembali ke sini!!!" ucap Karel dengan tubuh yang penuh rasa sakit, tangannya kembali menjatuhkan tongkat besinya dan tersungkur di tanah.


"Apa yang kamu bicarakan? Serangga kotor."


Aiden tetap berjalan jauh keluar dari area pabrik sambil mengabaikan ocehan Karel yang menangis sekarat. Dia kembali memerintahkan setan-setan di dalam cincinnya untuk keluar. Bayangan hitam gelap menyebar ke setiap gudang-gudang yang ada di pabrik ini.


Dan kemudian setan-setan dalam bentuk bayangan yang mengelilingi seluruh area pabrik membentuk lingkaran raksasa di tanah dengan pola bintang. Saat setan-setan itu saling terhubung, Aiden menggunakan sihir yang ajarkan Razel sebelumnya. Bagaimana roh, dapat di perintahkan untuk bergerak, menciptakan tubuh fisik mereka dalam bentuk apapun itu.


Namun tidak hanya bentuk, inilah yang dia lakukan untuk mengubah mahluk tanpa aspek fisik menjadi sebuah energi, materi, maupun antimateri. Sihir terlarang yang gelap tidak akan melahap jiwa penggunanya ketika si pengguna adalah penyihir tingkat tinggi. Namun Aiden adalah manusia biasa yang hanya mencoba apakah dirinya mampu dan layak untuk menggunakan sihir gelap.


Setelah semua setan menciptakan pola bintang di dalam lingkaran yang sempurna, Aiden mengucapkan kalimat "Ivano" sebuah mantra yang telah di siapkan untuk membakar semua mayat secara bersamaan. Lingkaran dan pentagram penuh energi, sinar merahnya bahkan dapat terlihat dari langit, bahkan seseorang yang sedang berada di bulan sekalipun, mampu untuk melihat sigil merah tersebut.


Hawa mengerikan menyebar begitu cepat, sedetik setelah Aiden mengucapkan kalimatnya, sigil raksasa sempurna segera meledakkan seluruh pabrik ini dalam radius empat ratus meter. Tidak hanya mengakibatkan gempa, namun juga mengakibatkan gelombang kejut yang merusakkan beberapa pemukiman warga.


Kembali ke saat di mana dia melarikan diri dari pandangan siapapun. Selama istri dan anaknya telah menuju ke tempat yang aman, dia akan mencari jalan keluarnya sendiri. Aiden yang berjalan cukup cepat juga di hadang oleh tiga orang berpakaian putih. Di tangan mereka terlihat simbol yang sama. ke


Aiden tahu bahwa pandangan mereka mengarah padanya. Seseorang berjubah putih di antara mereka segera menghentikan langkah Aiden.


"Berhenti! Kamu yang di sana!"


Aiden kemudian berhenti melangkah dan menatap semua orang dengan jubah putih.


"Seorang pria gila yang membunuh orang-orang dengan cara seperti itu ... kamu tidak bisa lagi berlari, kami telah lama mengintai mu."


"Siapa kalian ini?" tanya Aiden dengan kelopak mata atasnya yang segera menurun. tatapan mata itu benar-benar meremehkan siapapun.


Salah satu di antara mereka menjawab dengan tegas bahwa mereka adalah anggota penyihir surgawi. Mereka datang untuk mengejar sosok Aiden yang di yakini bersekutu dengan setan untuk membunuh.


"Ch ... kalian semua bahkan tidak terlihat seperti penyihir suci atau semacamnya, jangan menghalangiku." ucap Aiden dengan aura jahat yang mulai bergejolak dari dalam cincinnya.


SWUSHH!!


Sebuah serangan seperti anak panah cahaya kemudian mengikis rambut Aiden, serangannya merusak tembok sekitar begitu saja.


Gawat! Mereka penyihir sungguhan, apakah cincinku sanggup?!?!


Aiden kemudian melancarkan serangan kejut ke salah satu dari mereka yang berada di posisi paling belakang. Serangan dari cincinnya begitu mematikan, satu anggota penyihir suci tewas begitu saja karena setan dari cincinnya yang menyerang jiwa dalam sekejap.


Saat pandangan mereka teralih, Aiden segera memanfaatkan setan-setan nya untuk melarikan diri dengan menciptakan penghalang dari sihir gelap. Namun seseorang terdepan, dengan responnya yang begitu cepat kembali menyadari Aiden yang mencoba untuk melarikan diri. Dia segera melancarkan serangan dengan mengincar cincinnya lebih dulu.


Serangan itu tepat mengenai cincin Aiden, membuatnya hancur menjadi dua bagian dan menyebabkan tangan Aiden melepuh. Sayangnya, Aiden berhasil kabur dari pengejaran mereka. Dia masuk di antara begitu banyak tempat di perkotaan. Menyamar sebagai warga biasa, seolah-olah sedang memesan sebuah makanan.


Namun, tidak ada yang terjadi, Aiden hanya terus berdiri di depan meja kasir. Tidak melihat menu. Dan hanya menatap mana wanita kasir tersebut. Jika firasatnya bahwa penyihir-penyihir itu telah kehilangan jejaknya, dia akan kembali keluar dan memesan taksi segera dan melarikan diri.


"Aku ingin kamu tetap jalan"-ucap Aiden sambil mengarahkan pistol nya ke wajah sopir taksi-"Atau aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga tanpa perlu bergerak sedikitpun dari sini."


Sopir yang ketakutan kemudian melihat sesuatu aneh yang bergerak di sekitar cincin Aiden. Kemudian di sebelah kanannya ada sesosok pria kekar dengan pakaian setelan hitam dan kepala kambing. Matanya merah seperti darah, menatap sopir dengan sosok wajah yang mengerikan.


Mau tidak mau, sopir akan tetap menurut dan menerima penumpang seperti itu. Aiden meminta agar sopir itu menurunkannya di jalan trans yang merupakan jalan besar perbatasan kota. Dia akan kembali ke rumah lamanya, karena sebuah panggilan mendadak.


Pintu yang terbuka dengan sendirinya membiarkan Aiden untuk keluar dari mobil saat tiba di titik akhirnya. Orang-orang mungkin akan melihat dengan mata mereka, bahwa pintu mobil terbuka dengan sendirinya, namun sebenarnya setan berkepala kambing ini melayani tuannya. Hanya yang diizinkan saja yang dapat melihat seperti apa wujud setan.


"T-t-tunggu!! Kamu!! Kamu lupa membayar!"


"Pak sopir, ... aku sarankan agar kamu tidak berteriak seperti itu padaku untuk meminta bayaran." ucap Aiden sambil meninggalkan taksi tanpa bayaran.


Dan saat dia pergi tanpa berbalik sedikitpun, puluhan pria berkepala kambing dengan sosok yang hampir sama mengelilingi mobil taksinya. Salah satu di antara mereka berkata dengan suara tegas yang menyeramkan, tidak terdengar seperti suara manusia. "Pergi atau mati" dengan semua tatapan mata merah yang mengerikan seperti itu, Sopir pun memutuskan untuk pergi tanpa bayaran.


Membuka kembali pintu rumah lama nya, tamparan segera datang ke wajahnya, ibu nya menariknya masuk dan menutup pintu segera. Kemudian ibunya kembali duduk di sofa sambil meminta agar Aiden untuk menjelaskan maksud pembunuhan yang dilakukannya.


Endelyn: "Kamu tau apa yang telah kamu perbuat?! Kamu tahu!!! Aiden!! Jawab aku!!!"


Dia bertanya dengan nada yang begitu keras dan marah, kondisinya kacau.


Aiden: "Ibu, aku bisa menjelaskan se—"


Endelyn: "Apa yang kamu jelaskan huh? Membunuh!!! Apa maksud dari semua hal yang kamu lakukan itu?!?! Berita-berita buruk di luar sana! Semua itu tentang dirimu!!!!"


Endelyn, ibunya kembali berdiri dari sofa begitu cepat dan menarik kerah baju Aiden.


Endelyn: "Tanda di lehermu ini ... APA MAKSUDNYA?!?!"


Aiden: "Tanda ini sudah ada sejak lama, awalnya leherku terasa gatal, kemudian aku menggaruknya hingga luka dan berdarah, namun beberapa hari kemudian, semua luka itu kembali pulih dan menghadirkan tanda yang kabur, semakin hari dan semakin hari, tanda itu menjadi begitu jelas seperti sekarang ini."


Endelyn: "Berapa banyak orang yang telah kamu bunuh? Katakan ... KATAKANN!!!"


Aiden: "Mungkin lebih dari seribu orang."


Endelyn: "Seribu orang?? Seribu orang??? Dan wajahmu begitu santainya mengatakan kata seribu?!?! Dua orang yang pernah kamu bunuh saja sudah membuat hidupku trauma dan tidak nyaman!! Asal kamu tahu, orang-orang di sekitar sekarang akan tahu bahwa pembunuh itu adalah dirimu, bahkan rumah ini, aku, sebagai ibumu! Akan ikut terkena masalah besar."


Endelyn, ibu Aiden berteriak marah padanya terus menerus dengan air mata yang mengalir ke pipinya. Aiden mencoba membuatnya tenang dan membujuknya agar tinggal ke rumah baru dan menjual rumah lama ini, rumah baru yang tidak di ketahui entah darimana Aiden mendapatkan uang untuk mendirikannya.


Apalagi soal Razel, sejujurnya Endelyn sedikit keberatan dengan kedatangan menantu sepertinya. Walau memberinya seorang cucu perempuan yang cantik, namun Endelyn benar-benar tidak memiliki hubungan yang dekat dengan Razel sebagai mertuanya. Pada dasarnya, Razel tidak pandai berbicara secara terang-terangan, dia hanya banyak berbicara saat bersama orang yang begitu dekat dengannya.


Maka, untuk menjadi seseorang yang dekat dan akrab dengan Razel membutuhkan waktu yang cukup lama. Setidaknya akan membutuhkan waktu lebih cepat jika seseorang yang mendekatinya tidak memiliki sifat cuek seperti Aiden.


Pertengkaran juga berlangsung hingga matahari terbenam, Aiden hanya mengucapkan sedikit kata untuk menjawab pertanyaan Endelyn. Namun pada malam hari tiba, Endelyn mulai panik dan merasa kacau soal dirinya. Dia terpaksa akan mengikuti Aiden ke rumah baru dan tinggal bersama menantu dan cucunya.


"Aiden, bawa ibu, bawa aku pergi dari sini, identitas mu pasti akan tersebar lebih jauh, dan aku yang memiliki status sebagai ibumu berada dalam bahaya." ucap Endelyn sambil memegang kedua lengan Aiden dengan tangan yang gemetaran.