Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 192: Strawberry Ice With Cute Little Girl



Sekitar pukul delapan malam, Aiden menemui seseorang ditelepon sebelumnya. Lelaki itu tampak kebingungan untuk mempertemukan mereka berdua diantara keramaian. Aiden tidak boleh berlama-lama diantara keramaian, bisa gawat jika setetes kekuatan sihir dari dalam cincin itu keluar. Para penyihir-penyihir yang menyamar diantara keramaian pasti akan mengejarnya.


Sampai akhirnya, telepon berdering dari dalam saku jaket lelaki tersebut, Aiden yang menelpon berada di dekatnya, melihat sosok lelaki itu, Aiden segera menariknya untuk keluar dari keramaian menuju jalan diatas kota dan memberhentikan sebuah taksi. Aiden mengatakan, bahwa orang yang dicari lelaki itu adalah dirinya, namun lelaki itu memiliki banyak pertanyaan didalam hatinya.


Aiden bahkan merasa bahwa lelaki yang ditemui nya terasa tidak asing, maka dari itu, dia ingin berdiam diri dulu dan berbicara setelah mereka sampai ke alamat yang dituju. Sebelumnya, lelaki itu menyarankan untuk mengantar taksi menuju alamat rumahnya. Aiden menyetujuinya begitu saja karena itu adalah tempat yang seharusnya tepat.


"Aku tahu kamu memiliki masalah pada seseorang dan ingin menyelesaikannya dengan cara seperti yang kamu pikirkan, jadi ... kurasa kamu bertemu dengan orang yang tepat, aku benar-benar mahir dalam melakukan hal seperti ini." ucap lelaki itu sambil membuka topi hitam nya.


Saat itu juga, Aiden akhirnya tahu bahwa sosok ini adalah seorang kenalannya sendiri, "Dareen?!"


Lelaki itu kemudian terdiam binggung sejenak, karena orang ini mengenalnya. Jadi, dia memutuskan untuk bertanya.


"Kamu? Siapa? Kamu mengenalku?"


"Aiden."


"Kamu? Apa lagi yang kamu inginkan?" ucap Dareen dengan sedikit nada tinggi.


"Aku tahu bahwa aku sudah terlalu buruk dimatamu, bahkan orang-orang? menyebutku monster dan mengaitkan diriku dengan iblis, tapi bagaimanapun juga, inilah kenyataannya." ucap Aiden dengan wajah datar.


"Dan akun tahu, ini adalah bidang keahlianmu, entah seorang Dareen seperti dirimu ataupun orang lain, aku tidak peduli, yang kubutuhkan hanyalah tujuanku. Jadi kerjakan saja dan terima bayaranmu."


Aiden dan Dareen membuat kesepakatan dalam hal ini, Dareen akan menemukan lokasi dan segalanya tentang data mangsa-mangsa Aiden malam ini sekaligus menutup mulut soal ini. Sementara Aiden hanya perlu membayar jasa.


Sejauh ini, mungkin dia lah yang memiliki kasus terparah dalam pembunuhan. Di dalam berita-berita televisi itu, polisi-polisi yang pernah melihat dan mencoba mengejarnya tidak dapat menemukan jejaknya.


"Dia terlalu gila! Dia monster!"


"Dia mampu pergi dari pandangan kami dan mendobrak semua keamanan kota tanpa terdeteksi, dia pasti tidak sendiri." ujar polisi lainnya di dalam siaran televisi.


Bahkan di sosial-sosial media dan website, telah tertulis bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh monster berwujud manusia. Terlalu banyak, sangat banyak orang-orang yang mencoba meneliti kasusnya. Ini bukan kasus kecil, karena ini adalah kasus pembunuhan berantai internasional. Dikutip dari Rebeca Daily News, Pengawasan setiap wilayah akan diperketat, seluruhnya demi keamanan dan kenyamanan bersama dari terror psikopat gila yang mengancam masyarakat.


Ada banyak hal yang terlewatkan, namun urusan dengan direktur itu juga belum selesai. Sampai akhirnya berita baik datang untuk Aiden, Dareen telah menyelesaikan semua peretasan media sosial orang-orang yang di cari olehnya, bahkan kordinat titik lokasi mereka dapat terbaca.


"Gelandangan tua itu." ucap Aiden dalam hatinya dengan ekspresi acak.


Dia akan menghabiskan waktunya lagi di luar tanpa Razel dan putrinya. Di jalanan dia menancap gas dengan cepat menuju arah jembatan Marinhe. Dia ingin Dareen bekerja sama dengannya malam ini. Lagipula Dareen telah jatuh kedalam lubang hitam. Dia tergiur dengan rencana dan kesepakatan yang diberikan Aiden.


Maka dari itu, setiap pergerakan Rosa Vilakh akan terdeteksi dari telepom genggamnya.


Tujuan utama permainan kali ini adalah gelandang itu. Seperti setiap informasi dari Dareen yang diterima, Aiden masih terus menancap gas dijalanan kota menuju Rebbeca Plaza dengan kecepatan 45 kilometer perjam dan beberapa musik acak seperti Mama Said Kock You Out dari LL Cool J, atau beberapa musik lain dari Travis Scott, Playboi Carti, Yeat, dan semacamnya dari transfer file music mobilnya.


Tidak ada yang dapat mengenalinya di area umum seperti ini, lagipula dia telah menghilangkan tanda di lehernya dengan benda kosmetik seperti bedak dan lainnya hingga menutup dengan sempurna. Pesan dikirimkan menuju Dareen, ketika Rosa dengan putrinya berhasil diculik, dia ingin Dareen menunggu di halte bus dekat jembatan Marinhe. Jillian pasti akan sedikit kesulitan mengurus bar kopi malam ini tanpa kedatangan Dareen, setidaknya masih ada beberapa barista baru yang dapat diandalkan.


Ada begitu banyak restoran di area plaza ini, putri kecil Rosa menarik bajunya untuk mengatakan keinginannya, putrinya tertarik pada minuman strawberry dengan beberapa potongan buah di atasnya. Seorang ibu pasti menuruti keinginan putri manisnya ini, maka dari itu, sambil mengandeng tangan kecil putrinya, Rosa bergegas menghampiri cafe minuman itu.


Lagipula tempat keramaian seperti itu juga dapat membuatnya sedikit haus, ketika Rosa hendak membayar, Aiden datang dengan kartu debit ditangannya yang kemudian diberikan kepada kasir sambil mengatakan "Bayaran untuk dua minuman mereka, dan satu gelas coklat karamel untukku" diterima oleh kasir hingga struk bayarannya tercetak.


Rosa terkejut dan tidak tahu harus mengatakan apa, tapi dia merasa tidak enak dengan orang baru ini karena telah membayarkan minumannya dengan minuman putrinya. Aiden mengarahkan mereka ke meja yang sama untuk perbincangan kecil, sambil menarik kursi untuk ditempati, gadis kecil itu memberikan tangannya kepada Aiden untuk bersalamanan sambil berkata, "Terima kasih, kakak yang baik hati." Saat itu juga Aiden tercengang sambil melihat gadis kecil itu dan membalas salam tangannya sambil tersenyum.


"Wow, Nona, Anda benar-benar mendidik putri Anda dengan sopan santun yang baik." ucap Aiden sambil menatap mata Rosa.


"Hmm, aku selalu berusaha untuk mendidik dan membesarkan anakku dengan sopan santun kepada siapapun. Itu penting."


"Anak yang pintar." ucap Aiden sambil memegang kepala gadis itu dengan sedikit elusan. Sebelumnya gadis kecil itu memang sengaja duduk disamping Aiden ketimbang ibunya, karena merasa walaupun sosok ini baru bertemu dengannya, tapi perasaannya terasa begitu lembut.


"Kuharap putri ku juga akan tumbuh menjadi anak baik seperti anak lainnya." ucap Aiden sambil memutar minumannya dengan sedotan bagaikan membentuk pusaran air yang menghisap kapal di samudra. kemudian dia menyedot tarikan pertama untuk coklat caramelnya.


"Semoga harapan itu terwujud." ucap Rosa.


"Terima kasih, tapi Omong-omong dimana ayah nya?" tanya Aiden dengan ekspresi normal yang menyembunyikan tawa didalam hatinya.


"Ayahnya sedang lembur dikantor malam ini, jadi dia tidak dapat pergi bersama kami." jawab Rosa dengan yakinnya.


"Begitu ya." balas Aiden sambil terus menatap Rosa dengan senyum kecil.


Betapa menyedihkannya wanita ini jika dia berpikir bahwa keluarganya akan terus harmonis, Rosa pasti yakin sepenuhnya bahwa suaminya tidak melakukan hal macam-macam dan benar-benar lembur untuk pekerjaan kantor. Namun Aiden tahu segalanya setelah berkat Dareen yang berdiri dibelakangnya dengan mengambil alih setiap kamera pengawas yang mereka inginkan. Mengetahui alur naskah sebenarnya cukup membosankan, seperti itulah yang dipikirkan Aiden.


Kenyataannya, setiap informasi tentang Rosa dan suaminya telah diketahui oleh Dareen, bahkan dia dapat membocorkannya di sosial media kapan saja sesuai aba-aba dari Aiden. Entah bagaimana Dareen melakukan hal-hal seperti itu dan menangani bagian rencana ini, Aiden hanya peduli bahwa skenarionya akan berhasil untuk memancing keluarga Netorare iniini karena tangannya sudah begitu gatal.


Dalam pesan ponselnya, Aiden meminta agar Dareen menyiapkan semua catatan perjalanan suami Rosa detail dengan setiap titik yang dia datangi. Sekaligus menyiapkan ponselnya agar terhubung dengan kamera apa saja yang telah diretas. Saat semuanya sedang dalam proses untuk terhubung ke ponsel Aiden, dia kembali menatap Rosa dan hendak bertanya.


"Nona, aku sebenarnya ingin bertanya, dan maaf jika pertanyaanku sedikit lancang."


"Silahkan bertanyalah."


"Apa Anda benar-benar yakin bahwa suami Anda saat ini sedang berada dikantor untuk lembur menyelesaikan pekerjaannya?" tanya Aiden dengan tangan kanan yang memangku dagu bersama senyum menyeringai.


"Pertayaanmu sebenarnya cukup aneh untuk membahas hal yang merujuk pada privasi seseorang, tidak adakah pertanyaan lain selain pertanyaan tentang suami ku? Lagipula kamu ini siapa?" ucap Rosa dengan perasaannya yang mulai tidak enak. Rasanya dia ingin meraih tangan putrinya dan meninggalkan orang ini disini.