Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 146 : Coffee Bar



Tidak hanya satu pria yang di belah oleh Aiden, dia menggunakan gergaji lagi untuk merobek perut pria psikopat pertama yang di bunuh olehnya. Berjalan menuju ibu nya dan memegang kedua tangannya.


"Maaf, jika aku terpaksa melakukan ini. Mari kita pulang, ibu."


"Aiden? Kamu tahu apa yang kamu lakukan?" Tanya ibunya dengan kedua tangan yang memegang wajah Aiden dengan cemas.


"Ya, aku tahu. Aku menjadi seorang pembunuh sekarang."


"Aiden, setan menguasai diri mu! Sadarlah! Kamu benar-benar membunuh, apa yang harus kita lakukan?" Ucap ibunya sambil mengeluarkan air mata.


"Tenang saja dan biarkan semua kekacauan ini berserakan disini, tetaplah tenang dan jangan pernah membicarakan apapun kepada siapapun." Ucap Aiden sambil membawa ibu nya kembali ke rumah.


Sebelum itu, dia membersihkan terlebih dahulu kondisi berantakan di halaman rumah mereka, berjalan lagi ke daerah yang hampir dekat dengan kota sambil membeli empat botol anggur merah di supermarket. Tapi sebelum itu, dia telah membersihkan seluruh wajahnya dan mengganti pakaiannya. Berjalan pukul tiga malam setelah membunuh dua orang psikopat, dia merasa benar-benar sama saja dengan psikopat-psikopat itu.


Namun apa boleh buat, semuanya telah terjadi. Dia mulai berjalan sendirian kembali ke rumah dalam keadaan mabuk, sebelum memasuki komplek perumahan, dia bahkan sudah menghabiskan satu botol anggur dan memecahkannya botolnya dengan melempar ke sembarang tempat.


"Aku ... Pulang ... hahahahaha!"


Ucapnya sambil terbaring di atas kasur ibunya setelah meletakkan tiga botol lagi di atas meja dari dalam kantong plastik.


"Aiden! Oh astaga, malam yang buruk."


Ucap ibu nya.


"Ibu, kamu tidak perlu panik seperti itu, ayo minum bersama ku dan tenangkan diri mu."


Malam penuh darah pun di lewati oleh mereka, Aiden menjadi orang normal seperti biasanya, gaya rambut bodoh dan kacamata nya ketika di sekolah. Suara mobil ambulance terdengar di luar dari kejauhan. Saat dia keluar dari kompleks, ada begitu banyak orang yang berkumpul dengan hebohnya.


Tentu saja dia tidak tahu apa yang terjadi, bersikaplah seolah-olah tidak mengetahui sesuatu. Sambil berjalan, dia tidak menghiraukan kerumunan orang yang memacetkan jalan tersebut, kemacetan pun terjadi dengan panjang sekitar satu kilometer. Ini semua terjadi karena hebohnya pembunuhan terhadap psikopat.


Kumpulan wartawan dengan begitu banyak kamera mereka yang akan di sebar ke media digital sebagai berita. Bahkan saat sampai ke sekolah, televisi-televisi di setiap bagian sekolah memutar berita yang sama tentang kehebohan hari ini. Tapi Aiden tiba-tiba tersedak oleh makanannya ketika melihat rekaman pembunuhan yang di lakukan olehnya terekam oleh kamera CCTV jalanan.


Sangat jelas, berita mengatakan seorang lelaki acak-acakan yang membunuh dua orang psikopat hanya untuk melindungi wanitanya. Berita malah menjadi buruk, Aiden akan menjadi buronan polisi, kemudian kelompok-kelompok tersembunyi mungkin akan merekrutnya sebagai pembunuh bayaran setelah melihat aksi nya.


"Permisi, bolehkah aku duduk di sebelah sini?" Ucap seorang gadis yang datang di sebelahnya sambil membawa makanan.


Aiden masih belum menjawab setelah melihat gadis tersebut, gadis ini adalah gadis bernama Jeanne di malam itu. Seorang gadis penyihir yang hampir terbunuh oleh sosok bayangan.


"Ya."


"Emmm, kamu tidak pernah melihatku? Padahal kita berada di bus yang sama setiap hari. Ngomong-ngomong, aku Jeanne." Ucap gadis itu dengan senyuman yang baik.


Gadis itu juga bertanya tentang nama Aiden, jadi dia menjawab namanya. Gadis berkata, dia juga tinggal di blok sebelah dekat dari rumah tempat tinggal Aiden.


"Tunggu dulu, bagaimana kamu tahu rumahku?" Tanya Aiden.


"Aku hanya pernah melihat mu keluar dari rumah itu, itu saja." Jawab Jeanne.


"Oh, begitu."


"Mengerikan ya, untuk orang biasa. Jadi kamu berpikir bahwa kamu bukanlah orang biasa?" Tanya Aiden untuk pernyataan yang sedikit blak-blakan dari Jeanne.


"Tidak, maksudku, hanya seorang psikopat dengan gangguan mental yang parah yang benar-benar tega melakukan pembunuhan seperti itu."


"Ku pikir tidak masalah jika dia membunuh orang-orang yang mengancamnya, lagipula, kenapa kamu bisa menyimpulkan bahwa dia adalah seorang psikopat?" Tanya Aiden lagi.


"Aiden ... kamu tahu sesuatu? Pembunuhan sadis seperti itu di lakukan oleh orang-orang dengan gangguan jiwa, kamu bahkan bisa melihat gerak-gerik membunuhnya, dia membunuh tanpa ragu."


"Aku akan ke kelasku, datang saja ke kelasku jiwa kamu ada perlu." Ucap Aiden singkat dengan ekspresi datar dan meninggalkan Jeanne.


Tak lama setelah Jeanne di tinggalkan sendirian, Jishu datang sehabis mengamati Jeanne dari tahu.


"Wah-wah~ Jeanne? Katakan padaku, apakah itu adalah kenalan mu? Hmmmm, hmmmm??"


"Tidak, kami baru saja berkenalan walau sudah saling lama mengamati, kami berada di bus yang sama setiap hari, bahkan tadi pagi."


Jeanne kemudian menghembuskan nafasnya...


HUFFT...


Dasar, mengajak seseorang yang cukup dingin itu memang agak sulit yah."


Hingga malam tiba, Aiden memiliki waktu untuk pulang ke rumahnya sejak sore. Dan berangkat ke bar kopi milik Jillian. Setelah masuk ke bar, Aiden langsung di pertemukan oleh Jillian dengan pakaian yang santai.


"Ahh! Aiden, kamu benar-benar datang ya."


Sambut Jillian.


"Ya, begitulah." Jawabnya.


"Pertama-tama, aku akan memperkenalkan pada mu seorang rekan yang akan menemanimu setiap hari, nah Dareen, perkenalkan dirimu."


Dareen: "Dareen Valda ... kamu bisa memanggilku sebagai Dareen, siap untuk mengajari mu banyak hal disini, ok?"


"Terima kasih, Dareen. Aku, Aiden Leonore. Mohon kerja samanya."


"Okeyy~" Ucap Dareen sambil menikmati kopi yang siap di hidangkan untuk para pelanggan.


Jillian juga memberikan celemek apron baru milik Aiden, aromanya benar-benar harum seperti kopi, karena ini adaah bar kopi. Setiap lima hingga delapan menit, pasti ada pelanggan yang datang dan pergi. Jillian prihatin dengan wajah Aiden yang pucat seperti terlihat kurang tidur, jadi dia menanyakan keadaannya, namun Aiden menjawab bahwa dia baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan oleh tugas kuliah.


Pekerjaan pertamanya di mulai malam ini, Dareen yang telah menjadi coffee master menyelesaikan semua kopi pesanan pelanggan satu persatu dengan latte art yang benar-benar sempurna, itulah sebabnya dia memakai celemek apron berwarna hitam, sedangkan Aiden masih mengenakan celemek apron berwarna coklat muda.


Sebagai coffee master, Dareen tidak hanya profesional dalam hal pembuatan dan penyajian kopi, melainkan juga handal dalam berkomunikasi kepada pelanggan termasuk promosi. Aiden akan belajar darinya hari demi hari. Maka untuk malam ini, pekerjaan paling pertama yang di lakukan Aiden adalah mengantar dan menyajikan setiap kopi dan cemilan seperti roti bakar atau sebagainya kepada pelanggan sesuai nomor meja nya.