Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 186: Hungry Homeless



Aiden memutar kendaraannya ke arah Marinhe, setelah beberapa menit mengelilingi gedung-gedung tinggi di sekitar area itu, akhirnya dia menemukan pria gelandangan yang kemarin, pria itu berjalan di dekat halte dengan sebuah kantongan kecil berisi botol-botol plastik.


Untuk memastikan bahwa itu adalah gelandang yang sama, Aiden berhenti di pinggir jalan sambil melihat wajah pria itu dari kaca spion mobil. Pria terlihat bernyanyi sendirian.


"Ohh sayaaang, semua lampu kota tak akan bersinar terang seterang mat—" ketika Aiden keluar dari mobil dan menutup pintunya, gelandangan itu segera berhenti bernyanyi dan memandangnya dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan gerak-gerik seperti orang bodoh.


"Apa kamu melupakanku?" tanya Aiden.


"Aku sepertinya belum pernah melihatmu, tapi seperti pernah melihatmu." ucap gelandangan.


"Chh!"-Aiden tertawa kecil membuang wajah dalam sedetik kemudian kembali memandang pria gelandangan di depannya-"Kamu bodoh ya? Kamu tahu jam berapa sekarang? Di mana rumahmu??"


"Aku tinggal di sana!! Tidak jauh dari sini." ucap gelandangan tersebut.


"Masuk ke mobil, aku akan mengantarmu pulang."


"Mobil?? Woah!! Naik mobil!!!!" gelandangan tersebut sangat bersemangat ketika menyentuh pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


Aiden menancap gas, menyetir sesuai petunjuk gelandangan tersebut, kemudian bertanya, "Kenapa kamu tidak pulang?"


"Aku menunggu seseorang." jawab pria gelandangan yang duduk di sampingnya.


"Untuk apa kamu menunggu seseorang? Dimana istrimu, dimana anakmu?" tanya Aiden sambil terus menyetir.


"Aku menunggu seorang anak muda yang bekerja di kantoran, tapi aku tidak tahu namanya, suaranya terdengar hampir mirip denganmu, wajahnya juga begitu." jawabnya dengan perlahan.


Aiden menjawab dengan spontan, "Orang yang kamu cari adalah aku."


Seketika gelandangan tersebut tercengang dan melihat lagi wajah Aiden dengan gaya rambut yang berbeda. Kemudian dia bertanya, "K-kamu ... anak uda yang kemarin malam? Kamu berjanji ingin memberiku selembar uang kan?"


"Ya, kurang lebih seperti itu, jadi ... jawab pertanyaanku sebelumnya, dimana istri dan anakmu?" tanya Aiden.


Gelandangan itu tiba-tiba mengerutkan wajahnya, dia bersandar di kursi mobil seketika dan mengatakan, "Ohh, yaa, istriku mencampakkan ku, dia juga membawa putri kecil ku bersama selingkuhan barunya, terlebih lagi ... ahhhh!!!! Aku benci takdir ini!!!" gelandangan itu berteriak di mobil sambil menangis.


Aiden kemudian memandang gelandangan yang menangis dalam sedetik, kemudian mengucapkan, "Hidup menyedihkan bukan? Takdir sangat tidak menyenangkan bukan?" dia mengucapkannya sambil tersenyum.


"Rumahkuuuu!!!! Aku tidak memiliki rumahh lagi!!!!! ahghghghg.....!!!!"


Pria gelandangan ini menangis semakin keras, namun itu cukup berisik, jadi Aiden menginjak rem secara tiba-tiba di perempatan kota, lampu lalulintas tidak lagi mengeluarkan warna hijau dan merah, melainkan lampu jingga yang terus berkedip karena telah melewati pukul sembilan. Mobil di jalanan juga tidak lagi terlihat.


"Kenapa kita berhenti??" tanya gelandangan itu dengan air mata kecil yang mengalir di pipinya.


"Hapus air matamu itu, aku tidak suka melihat seorang pria menangis!"


"Berhenti menangis dan hapus air matamu, atau aku tidak akan memberimu selembar uang, kamu tahu? Selembar uang dariku bisa kamu pakai untuk mengisi perutmu selama satu bulan."


"Baiklah ... baiklah. Oke ... aku akan berhenti menangis asalkan aku masih bisa di beri uang untuk makan."


"Bagus." Aiden kemudian menancap kembali gas mobilnya dengan cepat.


Aiden sengaja membuang waktu untuk mengajak pria gelandangan ini berbicara, jalanan begitu sepi dan luas, jadi dia bisa menyetir sambil melaju dalam kecepatan sekitar 196km/jam.


"Sebenarnya aku bisa membantumu lebih daripada sekedar memberi selembar uang." ucap Aiden sambil terus mengemudi.


"Ya, anggap saja aku akan menjadi pahlawan."


"Bagaimana kamu bisa melakukannya?" tanya gelandangan.


"Apa kamu masih ingin merebut istrimu dari pria kaya raya yang berengsek?" tanya Aiden.


"Tidak, itu tidak mungkin, aku begitu miskin sekarang, aku tidak punya apa-apa lagi untuk melawan. Tidak, bahkan sepotong roti pun aku tidak punya."


"Aku bisa membantumu merebut kembali istrimu, tapi dengan cara yang sedikit kasar, asalkan kamu mau."


"Cara kasar seperti apa?" tanya gelandangan dengan perasaan gugup.


"Aku akan memberitahu caranya, tapi bolehkah aku tahu nama istrimu?"


Pria gelandangan kemudian menjawab, "Istriku bernama Rose, dan putriku—"


"Sebutkan nama lengkap istrimu saja, aku tidak butuh nama lain." tegas Aiden pada gelandangan tersebut.


"Rosa ... vi ... emm ... Vilakh!."


"Rosa Vilakh? Begitu ya. Kalau begitu, sudah berapa lama kamu tidak makan?" tanya Aiden.


"Aku ingat, aku ingat makanan terakhirku sejak kemarin sore sebelum bertemu denganmu."


"Kenapa kamu belum makan selama seharian?" Aiden bertanya lagi sambil terus memandang jalanan.


"Itu karena aku mengingat janji anak muda sepertimu, jadi aku terus berharap dan berharap kamu kembali." ucap gelandangan.


"Apa yang terakhir kamu makan kemarin sore?"


Mendengar pertanyaan Aiden, gelandangan itu dengan gembira menjawab bahwa dia memakan sisa sampah dari sebuah restoran, seperti tulang ayam yang masih memiliki sedikit daging dan beberapa potongan kecil perkedel ikan dan sayur, namun itu adalah porsi yang begitu sedikit.


Setelah mendengar jawaban gelandangan tersebut, Aiden semakin jijik untuk mengetahui aroma mulut pria ini, tidak heran kemarin malam aromanya begitu jelek seperti aroma ikan busuk. Jika gelandangan ini keluar dari mobilnya sekarang juga, aroma busuknya yang menyengat pasti tetap tertinggal di kursi mobil. Itu sebabnya dia tidak menyalakan AC.


"Jika kamu ingin mengunjungi rumahku, aku bisa membuatmu merasakan makanan mewah tanpa perlu mengacak-acak sampah seperti itu. Asal kamu tahu, aku tidak suka gelandangan sepertimu menangis, apalagi berteriak seperti anak kecil, sadarlah, aroma mulutmu begitu busuk."


"Makan? Ya! Ya! Anak muda, tolong berikan aku makanan, aku begitu lapar."


Memandang ekspresi menjijikan orang ini, Aiden mulai menurunkan kecepatan mobilnya dari 192-196km/jam menjadi 80km/jam mendekati putaran-U berikutnya. Pada kecepatan 61km/jam, dia membelokan mobil ke kiri untuk mengambil posisi dengan cepat dan membanting kemudi untuk berputar ke jalur kanan dengan kecepatan yang sama hingga menghasilkan drift ekstrim yang hampir menyebabkan slip.


Nyaris saja menabrak trotoar, pria gelandangan itu berteriak kencang saat Aiden mengubah jalur lintasannya, tidak hanya itu, saat posisi mobil kembali pada posisi lurus yang sempurna, Aiden menancap kembali gas untuk melaju seperti sebelumnya.


"Ahhhh!! Ahh!!!! Astaga! Apa yang kamu lakukan?!?!" ucap gelandangan dengan sedikit histeris.


Dengan memegang kemudi satu tangan, Aiden mengeluarkan sebuah pisau kecil dari saku jas hitamnya dan mengancam jika gelandangan itu muntah di mobilnya, maka dia akan membunuh gelandangan itu dengan menusukkan pisau kecil nya ke bola mata. Mendengar ancamannya, pria gelandangan itu pasrah dan berusaha keras untuk menahan dirinya agar tidak muntah.


"Kamu boleh muntah di luar mobil saat kita sudah sampai di dekat rumahku, jadi bertahanlah sekuat mungkin. Kamu tidak ingin pisau ini menancap ke bola matamu kan?" ucap Aiden.


Pria gelandangan itu menahan muntah tanpa menjawab, dia cukup ketakutan dengan cara Aiden menyetir, di tambah lagi dia di ancam dengan sebuah pisau. Jadi dia memutuskan untuk tidak banyak berbicara omong kosong dan mengeluarkan aroma tak sedap dari mulutnya. Melihat gelandangan yang segera patuh dan ketakutan, Aiden tersenyum lebih lebar dengan tawa kecil.