Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 83 : Curse forced contract




Seorang gadis berambut merah bersama anak lelaki yang masih memakai seragam sekolah hingga malam, ya, itu aku. Menunggu waktu yang tidak terlalu lama, hingga pesanan kami datang.


Pada akhirnya, sebuah petugas lain datang dengan kostum yang cukup bagus, membawa dua mangkuk besar yang terlihat menarik. Aku tidak tahu lagi, sesuatu apa yang ku pesan, namun disini ada waffle di dalamnya. Coklatnya benar-benar berlapis begitu manis. Makanan seperti ini biasanya bisa membuat tenggorokan sakit setelah memakannya, jika ada seseorang yang mengunjungi gerai ini dengan rutin hanya untuk menikmatinya sehari-hari, maka dia benar-benar seorang maniak coklat.


Tapi mangkuk coklat besar ini benar-benar bisa di bawa pulang, kupikir setelah memakannya, kami harus meletakkannya untuk di cuci dan di pakai kembali, ternyata mangkuk sebagus ini adalah mangkuk sekali pakai. Tidak heran jika harga nya mahal juga, ini sama seperti kami membeli sebuah mangkuk dengan setengah harga.


"Aiden? Apa kamu menyukainya?"


Tanya Marie kepadaku.


"Ah iya, ku rasa--"


SLUP!!


Sebuah sendok penuh es krim masuk begitu cepat ke dalam mulutku, memenuhi seluruh ruang dan lidahku.


Marie: <( ̄︶ ̄)>


Aku dengan perlahan mencoba menelannya, itu begitu tiba-tiba, dia ternyata hanya bertanya untuk membuatku berbicara dan membuka mulut, karena dia tahu, aku tidak akan mau di suapi olehnya.


"Aiden ... hutangmu bertambah lagi."


Setelah aku menelan semuanya dan meminum air untuk menetralkan diriku, aku segera bertanya utang apa yang kulakukan? Dia mengatakan bahwa aku harus menyuapi nya balik dengan cara yang lembut seperti yang dia inginkan.


"Tapi aku tidak memintamu untuk di suapi! Aku tidak berhutang soal hal seperti ini."


"Mau tidak mau, kamu harus menuruti banyak keinginanku, banyak keinginanmu terwujud karena kutukanku, dan itu adalah hutang besar yang akan menjadi hal utama dalam hidupmu."


Ucap Marie bersama sendok di tangannya.


"Hutang? Jadi aku di beri kutukan yang menguntungkan tanpa harus mengatakan bayaran yang setara? Sekarang ini benar-benar di anggap utang, andai aku tidak menerima kutukan mu."


"Jangan seperti itu, ini adalah kutukan yang menguntungkan hanya untuk kau dan aku."


"Katakan sekarang, apa keuntungannya? Dan hutang apa yang harus ku bayar? Aku akan berusaha untuk melunasinya."


"Tidak, tidak, dan tidak untuk sekarang. Aku hanya akan meminta bayaran atas hutang mu suatu saat nanti." Ucapnya dengan santai.


Jadi, aku paham, ini seperti aku menyetujui sebuah kontrak tanpa draft kontrak atau semacamnya yang harus di perhatikan sebelum menyetujui suatu kontrak atau perjanjian. Aku juga tidak ingat, kapan dan dimana dia melakukan kontrak kutukan ini denganku. Aku benar-benar tidak ingat, tapi jika di berikan oleh raja iblis, maka dialah yang memberikannya padaku.


"Jadi ... apakah kamu menghapus ingatanku? Agar aku lupa soal perjanjian kontrak nya? Soal kutukannya? Atau aku tidak mau hal seperti ini, tapi kamu mungkin memaksa, dan setelah langkah awal keinginan itu tercapai, kamu menghapus ingatanku, bukan?"


"HAHAHA...! Kamu benar, Aiden, aku minta maaf atas kemauanku, tapi aku hanya ingin di lindungi oleh seseorang. Maka aku harus memberikan kutukan ini pada orang sepertimu."


Ucapnya dengan kata-kata dan tawa yang jahat.


Aku benar-benar lelah menghadapinya, dia sulit. Aku tidak tahu keinginan sebenarnya, tapi ini karena hubungan kutukan iblis. Jadi aku terkadang perlu menuruti banyak kemauannya, itu bukanlah kemauan yang sulit, tapi jika aku tidak mau, dia hanya akan mengancam dengan hal-hal yang lain.


Aku memikirkan ini daritadi sambil berjalan dengannya yang benar-benar bersikap tidak ramah padaku. Berjalan-jalan dengan liar, hingga kulihat beberapa lampu di sedikit keramaian yang cukup besar. Sebuah wahana kota yang di buka dari sore hingga malam, jadi aku menuju kesini sambil berjalan bersama es krim coklat berlapis vanilla yang terus di lapisi cukup banyak.


Seorang anak kecil berlarian saling mengejar di sekitar kami dan tiba-tiba menabrak ku, aku tidak terjatuh, tapi coklat ku benar-benar tumpah ke tanah bersama semua mangkuknya. Untung saja aku refleks untuk menjauhkannya dari bajuku.


Tahu hal yang paling pertama ku utamakan? Yeah, itu adalah Marie, aku takut bahwa seseorang yang berani menyentuhku akan membuatnya marah. Ini adalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa, bagaimana jika dia melukai dan membunuh anak kecil begitu saja dengan sadis.


"Aduh, Kakak ... maafkan aku, aku tidak sengaja." Dengan suara yang lamban sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan kecilnya.


Jadi, aku menurunkan diriku ke bawah untuk berbicara dengannya.


"Tidak apa-apa kok."


Aku tersenyum, mencoba tersenyum lebih lembut dari yang belum pernah ku lakukan.


"Benarkah?"


"Delvin."


"Delvin yah? Berapa usiamu?"


Kemudian dia menjawab usianya dengan "6"


"Baiklah, lalu ... apakah ini temanmu?"


"Dia adikku, dia bersedih karena kami tersesat dari ayah dan ibu, jadi aku mengajaknya berlarian agar dia tidak bersedih."


Ucapnya dengan memperbaiki wajahnya untuk menjadi baik-baik saja.


Aku menjulurkan tanganku pada nya, bersama sebuah senyuman.


"Kalau begitu, Delvin, mari berteman."


Anak kecil ini meraih tanganku dan berjabatan untuk sebuah tanda sahabat. Dia benar-benar bisa menjaga adiknya, Celia. Walau umurnya masih saja berusia lima tahun. Tapi, orang tua mereka cukup ceroboh jika membiarkan anak-anak mereka terlepas dari jangkauan mereka. Bagaimana jika mereka di culik? Yeah, walau aku tidak tahu apa-apa, mungkin saja ada iblis pemakan sesama iblis, mereka memangsa anak-anak kecil atau sesama iblis lain. Itu bisa saja bukan? Seperti seorang manusia kanibal yang memakan sesama.


"Kakak laki-laki, bolehkan aku mengenal namamu? Karena kita akan menjadi teman, bukan?" Ucapnya dengan nada lambat yang selalu membuat hatiku luluh.


"Aiden, Aiden Leonore. Dan kita akan menjadi teman."


Tiba-tiba saja, dua orang datang dan berlari ke arah kami dengan teriakan memanggil Delvin dan Celia berkali-kali. Itu adalah ibunya yang terlihat bersama wajah panik dan gelisah, emosi ketakutan yang bercampur, kemudian lelaki di belakang nya adalah ayahnya, aku tidak mungkin salah, wajahnya terlihat tenang, namun aku tahu, dia juga khawatir soal anak-anaknya.


"Devin! Celia! Darimana saja kalian? Apakah kalian baik-baik saja?"


Ucapnya dengan nada cepat bersama nafas yang tergesa-gesa sambil memeluk kedua anak ini.


"Eh, maaf, apakah kamu ... apakah anakku melakukan hal yang salah? Jika tidak, mungkin kamu adalah yang menjaga mereka sejak tadi, adik, aku sungguh berterima kasih atas kebaikanmu." Ucap ayahnya.


"Tidak, dia hanya berlari bersama adiknya dan menabrakku karena dia tahu, adiknya sedih dan hampir menangis, dia tahu bagaimana cara mengendalikan situasi, anak Anda adalah anak yang pintar."


"Lalu ... bagaimana dengan makanan ini? Mereka menabrak mu?Kalau begitu aku akan mengganti rugi atas biaya makanan mu yang di jatuhkan oleh anakku." Ucap ayah nya sambil mencoba mengeluarkan dompet dari sakunya.


"Tuan, kakak, itu tidak perlu, aku baik-baik saja. Tidak perlu menggantinya."


"Benarkah? Aku benar-benar berhutang Budi kepadamu. Terima kasih!!"


Ucapnya dengan wajah penuh berterima kasih.


Mereka akan segera pergi, tapi bocah kecil itu terus menatap ku, dan hanya berjarak tiga meter lebih, dia bersuara dengan keras dan lantang memanggil namaku.


"Kakak!! Kakak!! Aiden! Janji, kita akan bertemu lagi menjadi teman!!" Dengan tanda kelingking sebuah pertemanan yang pernah kugunakan ketika aku masih kecil juga.


Jadi, aku membalasnya tanpa sepatah kata pun, dengan jari kelingking yang ku angkat untuk ku perlihatkan padanya. Terkadang, suatu hari nanti mungkin dia akan menjadi anak yang cerdas dan pintar. Aku berharap agar orang tuanya juga akan terus sehat selalu, agar bisa menjaga mereka dengan baik dan didikan yang benar-benar sopan.


Orang tua yang lengkap dengan hubungan keluarga yang harmonis itu penting, lagi pula, mereka masih kanak-kanak, bisa bermasalah pada mental mereka jika orang tuanya mungkin saking bertengkar hingga saling melukai, atau mungkin cerai dan pada akhirnya anak-anak dengan wajah penuh keceriaan ini akan menjalani hari esok dengan wajah suram dan keterbelakangan mental.


Hal seperti itu, aku yakin terjadi seperti kisah kelam Marie, namun kisahnya berbeda, dan aku tidak ingin menyinggung hal itu lagi.


Terdengar bahkan saat sudah agak jauh, Delvin kecil yang berpegangan tangan pada ibunya mengatakan dengan gembira.


"Ibu, ayah! Kakak itu, namanya adalah Aiden, dan dia adalah kakak yang baik, dia tidak memarahiku ketika aku menjatuhkan es krimnya."


"Lain kali jangan berpisah dari ayah dan ibu, kamu tidak boleh lagi merugikan orang lain."


"Baik, bu."


Itulah dialog yang sedikit ku dengar dari percakapan antara ayah, ibu, dan anaknya yang kembali dalam keadaan tenang dan normal.


Dan tidak ada suara atau respon sama sekali dari belakangku, aku daritadi tidak merasakan sesuatu pada Marie. Namun, ketika aku berbalik ke belakang, aku hanya melihat seorang gadis dengan pakaian hitam berambut merah yang mengalirkan air mata di wajahnya.