Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 73 : Tens of millions of viewers




Dan sekarang, inilah jadwal yang kami lihat dari besar nya papan-papan di dinding ini. Sebuah informasi jadwal pertandingan berdasarkan nomor. Aku melihat langsung saja ke akhirnya, total dua ribu sekolah yah? Itu berarti dua ribu sekolah dari dua ribu dunia iblis yang berbeda.


Ini cukup banyak bukan, menunggu jadwal ini memerlukan waktu yang cukup lama. Jadi kami hanya perlu mengetahui persyaratan-persyaratan langsung dalam pertarungan, konsekuensi, dan sebagainya. Namun, ada juga begitu banyak sekolah yang tereliminasi. Beberapa sekolah sudah tereliminasi sebelumnya. Terlihat dari nama-nama mereka di papan yang sudah berada pada warna merah. Sayang sekali, kurasa peserta-peserta itu cukup lemah hingga di pulangkan begitu cepat.


"Jadi ... apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Tanya Leon pada bu Alin.


"Kupikir aku akan pergi bersama guru lain, atau mungkin menonton di rumahku, dan yeah, untuk kalian ikutlah bersamaku."


Ucap bu Alin sambil mengajak kami ke suatu tempat.


Kami terus berjalan mengikutinya, di antara keramaian orang-orang. Menuju tangga besar bersama tiang-tiang di sekeliling nya. Tangga ini memang benar-benar besar bagaikan tangga kerajaan, kami terus berjalan dengan tangga memutar-mutar ke atas. Tangga ini tidak berputar, maksudku bukan tangga spiral atau tangga V dan L, ini adalah tangga U raksasa dengan sekitar seratus delapan puluh tiga anak tangga yang sudah kami lewati saat ini.


Benar-benar memutar ke atas dengan pola U yang begitu panjang. Kira-kira berapa anak tangga lagi? Suara sorakan di atas sana begitu keras dan ramai. Tanpa perlu basa-basi lagi, jika terlihat tinggi seperti itu, sudah pasti jumlah anak tangga kesana adalah di atas seribu atau mungkin menghampiri dua ribu anak tangga, itu terlalu lama. Langsung saja ku pindahkan mereka semua ke anak tangga terakhir di puncak.


Guru, kamu terlalu lama.


"Oh yeah, aku lupa mengatakan padamu."


Ini lah pemandangan besar dan luas yang belum pernah kulihat, ketika orang yang begitu banyak memenuhi suatu arena yang benar-benar besar. Tempat ini seperti tidak bisa di bandingkan dengan stadion bola ataupun bandara terbesar di mana pun. Sisi lain stadion dari arena ini bahkan benar-benar terlalu jauh.


Tangga-tangga bersama tempat duduk yang jauh lagi menanjak ke atas, begitu ramai di penuhi orang dari banyak dunia.


Aku penasaran seberapa luas tempat ini, dan di tengah-tengah tepatnya adalah arena pertarungannya, satu melawan satu di kelilingi penonton jutaan orang, aku tidak bisa mengatakan bahwa ini jutaan, tapi ini begitu banyak. Berjarak lima puluh meter dari tempat penonton di bawah sana adalah arena nya. Tempat penonton di pastikan aman dari segala bahaya dari potensi serangan peserta. Walau di bawah sana mereka benar-benar tidak lain bagaikan sebuah titik. Dua titik kecil yang saling bertabrakan dengan cepat.


Tapi dengan layar proyeksi yang terbuka dari setiap sisi barat, timur, utara dan selatan, semua orang bisa melihat pertarungan mereka dari jarak dekat dengan empat layar proyeksi besar di setiap sisi langit. Kemudian stadion arena besar ini menciptakan sebuah kubah sihir yang melindungi berjalannya pertandingan ini dari hal apapun. Kubah raksasa seperti kubah yang mampu menutupi hampir setengah kota.


Semua di pastikan untuk menjaga ketenangan penonton dan kelancaran berlangsung nya pertandingan. Yeah, satu lagi tumbang di layar proyeksi ini. Terpojok dengan lawannya yang gerakannya lebih gesit. Terkadang, kecepatan dalam pertarungan sangat berarti, respon mu dalam menghindar serangan dari lawan. Entah kamu memiliki hal seperti itu bagaikan reaksi aktif atau pasif.


"Jadi, kalian akan seperti ini setiap hari sampai tiba giliran kalian, oke?" Ucap bu Alin.


Dia akan segera pulang ke rumahnya sepertinya, menyaksikan dari jarak jauh. Ucapnya, dia akan datang kembali menemui kami ketika waktunya tiba, dan dia harus tepat waktu untuk membuat peserta bersiap-siap. Bahkan jika guru ini terlambat dan melupakan sesuatu, aku akan menempelkan sebuah pola tak terlihat di tangannya, jadi ... aku harus menyentuhnya.


SLAP!


"A-A-Aiden? Apa yang kamu lakukan?"


Ucapnya sambil melihat tanganku yang tiba-tiba menyentuh lengannya.


"Bukan apa-apa, kupikir tadi aku menyentuh Eiji."


"Oh, baiklah, kalau begitu aku akan segera pulang, jangan lupa beristirahat ketika kalian bosan, okeh?" Ucapnya sambil menghilang dengan cepat.


"Aiden, jadi sekarang apa?"


Tanya Leon.


"Sekarang apa? Kita akan duduk terus seharian disini sambil menyaksikan mereka, membosankan bukan?"


"Oh, benar-benar membosankan."


"Bagaimana menurutmu? Mereka cukup hebat, apakah kita bisa menang?"


Tanya Leon.


Kalian tidak perlu khawatir, selama ada aku disini. Kemenangan posisi paling pertama sudah jelas akan menjadi milik sekolah kita. Akan ku tunjukan pada kalian cara menyingkirkan ribuan peserta-peserta ini.


Eiji: "Kamu memang terlalu percaya diri yah."


Di samping kami adalah beberapa tempat duduk paling atas dan di pojok yang kosong. Kami benar-benar berada pada kursi paling puncak. Di kanan dan kiri begitu banyak penonton, mereka semua berteriak-teriak tanpa henti, ini benar-benar membuat kepala sakit.


Mereka yang lelah dan tidak tahan mendengar suara sorakan ini terus-menerus akan pulang sementara, menonton di rumah mereka.


Kalau memang seperti itu, berarti penonton hanya benar-benar memenuhi tempat ini pada hari-hari pertama saja, ini adalah pertarungan pembukaan. Dan jika aku benar, arena ini akan kembali di penuhi dengan penonton yang lebih banyak lagi dari ini, dengan kata lain, mereka semua akan menantikan pertarungan final. Bukankah itu adalah hal yang selalu di tunggu-tunggu? Tentu saja mereka akan memenuhi tempat ini kembali.


Ada banyak juga orang-orang yang berjalan keasaman kemari dengan pakaian petugas yang sama, membawa benda-benda di depan mereka seperti menawarkan produk makanan yang tersedia dari arena ini, orang-orang harus membeli untuk mendapatkannya. Sampai beberapa dari mereka pun rela naik ke pojok tertinggi pada kami hanya untuk menawarkan.


"Permisi adik-adik, apakah kalian ingin membeli paket ayam lengkap bersama soda? Kami bahkan menambahkan bumbu-bumbu ekstra lezat disana. Anda bisa membelinya dengan harga terjangkau." Ucap kakak lelaki yang memakai seragam khusus ini.


"Bagaimana menurut kalian? Kalian beli juga?"


Aku bertanya pada Leon dan Eiji, jika mereka membeli makanan ini, maka aku juga akan membelinya. Lagipula, aku tidak peduli jika dia lelah naik kesini hanya untuk menawa kepada kami tanpa membeli satupun makanan yang di tawarkan nya.


"Kurasa aku lapar saat ini." Ucap Eiji sambil mengeluarkan uangnya.


"Kakak, berapa harganya? Aku akan membeli nya." Tanya Leon.


Kakak penawar produk: "Seratus ribu Scarlet."


"Haah? Mahal sekali! Itu bahkan seperti tiga kali lipat dari harga di restoran." Ucap Leon dengan nada keras.


"Ehehehe, maaf, ini sudah standar harga atas stadionnya, pertandingan setiap tahun di laksanakan seperti ini juga mengambil keuntungan yang lumayan besar hanya dengan menyebarkan kami para pekerja untuk menawarkan makanan ini ke setiap penonton yang ada, jadi bagaimana? Ingin membelinya?"


"Ya ampun, uangku kurang sepuluh ribu scarlet." Ucap Leon dengan nada yang kesal.


"Hemm, punyaku hanya lima puluh ribu scarlet."


Ucap Eiji sambil memperlihatkan lembaran-lembaran uangnya juga.


Jadi, aku memutuskan untuk mengambil uang mereka semua. Aku membuat semua uang mereka tergabung menjadi satu, saling menumpuk begitu erat. Dan langsung kuberikan pada kakak penjual keliling itu.


"Aku membelinya."


"Maaf adik, total uang ini hanya 150.000 Scarlet." Ucapnya dengan nada sopan layaknya lelaki promosi yang ramah.


"Kurasa kamu belum menghitungnya dengan benar, kami tidak bisa menentukan sesuatu langsung tanpa menghitungnya."


Jadi, kakak pekerja promosi makanan ini mengambil tumpukan lembaran uang yang kuberikan padanya. Ketika lima belas lembar uang merah itu menjadi tiga puluh, itu artinya, ada 300.000 scarlet disana, aku telah menggandakannya tanpa terlihat. Eiji dan Leon plonga plongo ketika melihat kakak itu menghitung tepat jumlahnya dengan tiga ratus ribu scarlet.


Bahkan, kakak lelaki promosi ini juga tercengang melihat nya. Jadi kukatakan bahwa kami membelinya. Dia menerima uangnya, dan kami menerima makanannya. Jual beli di lakukan dengan lancar. Yeah, walau beberapa jam kemudian kami akan lapar lagi dan beberapa kakak promosi yang berbeda dari tempat lain akan datang lagi, aku hanya perlu menggandakan uang nya lagi tanpa terlihat. Kukatakan bahwa itu adalah keberuntungan dari tanganku