Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 108 : Another Marie




Bicara soal deklarasi kedatangan sang tirani baru dalam sejarah, tampaknya aku memang tidak pernah memiliki sebuah jubah, tapi aku bukanlah Aiden yang dulu, Aiden yang penuh keputusasaan dan tidak percaya diri. Rasanya aku benar-benar bersemangat ketika hari itu tiba.


"Bicara soal ini, ngomong-ngomong ... kenapa rambutku jadi seperti ini?"


"Tidak ada yang salah dengan rambutmu, itu hanya bertumbuh menjadi lebih panjang, tidak ada yang salah." Ucap Marie.


"Jika tidak ada yang salah, bisakah kamu menjelaskannya, kenapa poni di depanku, tepatnya di bagian kiri ... lihat, aku memegang nya. Kenapa disini memiliki panjang yang berlebihan?"


"Itu mungkin ciri khas."


"Mungkin? Mungkin kamu benar-benar tidak tahu cara menggunting rambut sejak awal."


Hufftt.... Ya sudahlah.


Dia melanjutkan kembali untuk mengotak-atik ponselnya, menekan keyboard yang bahkan dia coba untuk mengetik sebuah kata. Aku bahkan sudah mencoba mencari informasi, selebihnya aku tidak tahu karena aku benar-benar malas menggali informasi lebih. Dan, season dua dari Maou Gakuin bahkan belum rilis.


PING!


PING!


PING!


PING!


Ponselku terus berbunyi dengan nada khusus di sertai getaran di setiap kali bunyinya, sebuah pesan yang terus di spam padaku. Tidak ada siapa-siapa yang memiliki kontak ku, kecuali Marie. Dan pesan teks pada notifikasi di layar atas ini memang benar darinya.


Aku mengatakan padanya untuk menghentikan itu, itu cukup menganggu dan dia benar-benar salah ketik, dia harusnya mengetik di sebuah browser, bukan mengetik pesan chat padaku.


Dia tidak mau meminta maaf, wajahnya malah menunjukkan ekspresi masam padaku dalam sekejap dan kemudian tertawa karena rasa senang menggangguku.


PING!


Satu pesan lagi muncul pada ponselku, walau sudah di peringatkan, dia tidak bisa berhenti.


"Aku menyukaimu"


Pesan yang jelas dan mengguncang perasaanku, tidak, Aiden. Tarik nafasmu dan cobalah untuk berpura-pura cuek dan biasa saja. Aku tahu aku sebenarnya begitu senang ketika mengucapkan itu padaku. Ditambah lagi emot love berwarna merah di akhir kata.


"Aku ingin keluar sebentar."


Aku beranjak dari kasur ini untuk pergi ke tempat lain. Tapi pergelangan tanganku di tahan dengan erat untuk menetap, setelah aku melangkah satu langkah ke depan, dia menarikku dengan kuat hingga jatuh kembali ke kasur.


Lalu dia mencium ku begitu saja.


Apa-apaan ini.


Perasaan ku.


Ini seperti rasa yang belum pernah ku alami. Berciuman dengan seseorang ketika bibir saling bersentuhan, namun ... aku tidak tahu apa yang di lakukannya.


"Marie ... apa yang kau lakukan?"


Dia mencium ku terlalu lama, jadi aku menanyakannya sejenak.


"Kamu belum membalas pesan ku, atau memang sengaja kabur dariku?"


"Baiklah, aku membaca nya, aku melihatnya, tapi apa-apaan dengan berciuman seperti ini, kamu bahkan bukan kekasihku atau apapun itu!"


"Berhenti mengoceh yang tidak-tidak, aku akan menjadikanmu milikku seorang, tidak ada yang bisa memilikimu selain diriku, siapapun itu, akan ku bunuh."


"Dasar gila."


"Ingatlah~ ini bukan ciuman pertama kita, anggap saja ini adalah candaan, oke?"


Mengerikan! Aku pergi dengan alasan ke toilet, tapi sebenarnya aku pergi ke kamar lain di lantai dua, karena rumah ini memiliki dua kamar. Di atas sini begitu gelap, jadi aku menyalakan setiap lampu yang ada. Suasananya juga sejuk, angin dari jendela yang tidak tertutup rapat masuk ke segala ruang untuk mendinginkan area, bahkan lantai dan dinding terasa dingin.Di tambah lagi, kamar ini juga di lengkapi AC.


Dari sini aku bisa menenangkan pikiranku, ketika pikiranku tenang dalam sekejap, aku bahkan bisa mendengar apapun dari jarak yang sangat jauh, sirene polisi, mobil-mobil perkotaan yang melakukan balap liar, klakson jalanan, pesawat di bandara, kereta listrik yang melaju, bahkan klakson angin pada kapal di lautan. Aku bisa mendengar semuanya dari sini jika aku mau, sekalipun itu suara mahluk dari semesta lain, mengapa indera ini begitu kuat, entah sejauh mana aku bisa melakukannya.


Aku rasanya bosan, bahkan seperti tujuan hidupku tiba-tiba saja ku lupakan, aku mulai menuju alam mimpi dalam kecepatan cahaya. Tempat yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, itulah tempat terwujudnya mimpi.


.....


Tik... tik... tik... tik... tik...


.....


KRIINGGGGG....


TLEK!


Sial! Mengapa ada bunyi alarm yang menganggu seperti ini, ini bahkan seperti memutuskan mimpiku dan memaksa ku kembali ke kenyataan. Aku dengan penglihatanku yang kabur melihat ke langit-langit ketika itu terbuka lebih dulu, kemudian meraba ke arah meja di sampingku untuk mematikan alarm itu.


Rasanya benar-benar dingin, walau aku sebelumnya telah menutup seluruh jendela di lantai dua, aku ingat menyalakan AC pada 16°C dan sekarang terasa seperti melampaui suhu seperti itu, ini terasa seperti 12°C. Rasanya ingin bangun dari sini, dan mematikan AC itu, tapi aku bisa mengatur suhu tubuhku agar tetap hangat, walau tidak ada selimut, tampaknya peristiwa di dalam mimpiku masih menghangatkan ku.


Tubuhku memang terasa sedikit berat dari sebelumnya, seperti ada beban yang menindas ku sedikit, itu bukan benda yang terlalu menghangatkan, rasa kantuk ku berlanjut lagi, bantal ku juga sejuk, terutama ketika aku meraba bagian bawah nya, itu jauh lebih dingin, sejuk, dan empuk, rasanya tidak ingin beranjak dari tempat tidur.


Kurasa mataku tertutup lagi, mencoba melanjutkan tidur ku. Namun, sesuatu benar-benar terasa lebih aneh dari sebelumnya. Aku memang merasakan sesuatu di dekatku, namun seperti itulah kebanyakan orang ketika bangun dari tidurnya, mereka tidak akan sepenuhnya sadar, sama sepertiku dan menyepelekan sesuatu.


Aku akhirnya mencoba bangun ketika sesuatu benar-benar bergerak padaku. Mataku terbuka lagi memandang langit-langit kamar yang sama, akhirnya aku sadar, sesuatu memelukku sejak awal, pantas saja ada yang terasa aneh.


"Marie, apa yang kamu lakukan disini?"


Marie: "Zzzz..."


Tidak ada jawaban satupun, dari celah kecil jendela yang tertutup tirai, ada cahaya tidak terlalu terang, fajar telah tiba. Pantas saja alarm ini berbunyi, berjam-jam waktu malam yang kugunakan untuk tidur hanya terasa seperti beberapa menit, bahkan aku seperti tidak mengingat apa-apa, tentang apa yang ku mimpikan, atau dimanakah aku.


Dan lagi-lagi gadis ini entah kemana menempel padaku, jadi aku segera beranjak dari kasur untuk membasuh wajahku, aku kemudian mandi sepagi ini, tidak peduli dingin atau tidak.


Aku menggosok gigi, menggunakan shampo, dan lain-lain, Anda berpikir bahwa aku akan melakukan semuanya dengan sihir? Oh, ayolah, calon raja iblis ini bisa menyikat giginya secara manual, bahkan mencuci bajunya secara manual jika aku mau.


Tapi benar, ini begitu dingin, jadi aku mengubah suhu udara kamar mandi menjadi benar-benar panas. Ini juga termasuk mengeringkan tubuhnya lebih cepat. Dan sepertinya sudah beberapa bulan berlalu, rambutku menjadi lebih panjang dari sebelumnya, tapi harus ku apakan poni ini? Sebelahnya begitu panjang.


Haruskah aku mengguntingnya?


Aku keluar dengan handuk yang menyelimuti tubuh bagian bawahku, dengan air-air yang berjatuhan kesana-kemari, namun tidak membasahi lantai. Berjalan ke suatu tempat mencari gunting yang bukan untuk kebutuhan dapur. Biasanya sebuah rumah memiliki dua atau tiga gunting, satu gunting dapur, sisanya bebas, atau entahlah, ada juga yang mungkin mengoleksi berbagai gunting dapur lebih dari tiga.


Ada sebuah lemari di ruang tengah dekat tangga, aku memeriksa setiap bagiannya satu-persatu, pada akhirnya aku menemukan gunting silver yang hampir mirip dengan gunting rambut. Sisanya adalah beberapa gunting yang di gunakan khusus untuk media pengobatan, termasuk memotong perban dan lain-lain.


Aku kembali menuju kamar mandi mencoba menggunting poni sebelahku agar mereka sama rata, lagipula ada cermin di kamar mandi.


Apa yang akan...


...Kamu lakukan?


Marie dengan rambut berantakan membuat seluruh matanya tertutup dengan poni, itu sering terjadi ketika dia baru saja bangun dengan acak. Datang di belakangku sambil menyeka rambutnya dan memperlihatkan tatapan mata nya yang mengancam.


"Ehehe, bukan apa-apa, hanya mencoba membuat poniku menjadi sama rata."


"Tidak boleh."


Dia kemudian merampas gunting dari tanganku, aku bertanya kenapa tidak boleh. Dan dia menjawab, karena itu adalah ciri khas yang dia berikan untukku. Kupikir itu sudah berlebihan, sebelumnya dia memberi tanda di leherku dan lenganku, itu harusnya sudah cukup sebagai ciri khas untukku.


"Tau sesuatu?"


"Tidak, katakan, apa itu?"


"Baiklah, hanya memberi tahu padamu, bahwa aku bisa menghapus ini."


Kemudian aku masih tetap menyentuh wastafel di depan cermin dengan kedua tanganku, tanda hitam di leher dan lenganku semuanya menghilang, mereka seperti motif aneh yang tertanam pada tubuhku. Tanda ini menghilang perlahan seperti gambaran yang terbakar, mereka lenyap dan terhapus dengan perlahan, wajahnya berubah seketika.


"Apa?!?! Tidak mungkin! K-K-Kutukanku!"


"Ada apa dengan kutukanmu?"


"Bagaimana bisa kamu menghilangkan kutukanku? Mustahil! Tidak pernah ada seseorang yang bisa menghapus kutukan ku."


"Oh, begitu ya, padahal kamu sudah melihatnya dengan jelas."


Dia kemudian keluar wajah marah, tapi aku masih terus mengeringkan rambutku, ketika aku keluar, ada dua Marie di sana, yang satunya mengenakan daster hitam yang rambutnya berantakan dan satunya lagi yang berdiri di sebelah adalah Marie dengan pakaian merah dan tanduk nya.


Dengan cepat Marie bertanduk menjentikkan jarinya, membuatku terisolasi tiba-tiba di sebuah kursi kayu, kemudian dengan telunjuknya yang mengarah padaku, leherku tiba-tiba terasa sakit luar biasa, kutukan itu di ciptakan kembali untukku.


Aku bohong padanya, ini hanya bercanda, aku memang bisa menghapus kutukan ini, namun aku hanya menghilangkan tanda kutukannya saja dari tubuhku, aku bisa memperlihatkan nya kapan saja.