
Bahkan aku tidak melakukan apa-apa untuk merespon serangannya, dia melancarkan serangan pedang nya ke depan dan menjadi debu dalam sekejap. Kemudian aku berusaha untuk menghentikan kembali efek pasif dari dinding inferno ku, aku mengambil pergelangan tangannya untuk berhenti.
"Huh? Kamu!!"
Ucapnya dengan wajah yang kacau balau.
"Berhenti! Jangan meneruskan, seluruh lenganmu hanya akan terbakar dan menjadi debu seperti pedang ini."
"Tidakk!!!" Gadis ini kemudian berusaha melepaskan pergelangan tangannya dariku, dan menjatuhkan dirinya ke lantai.
Dan kebetulan, beberapa orang yang lewat tiba-tiba mendengar suara teriakannya, jadi, mereka segera berbelok ke koridor tempat kami berada.
"Tolong! Tolong aku! Orang ini mencoba melakukan kekerasan padaku." Ucap gadis itu dengan akting kesakitan.
Aku bahkan tidak melakukan apapun kepadanya, bahkan aku tidak menyerang sedikitpun kecuali membuat pedang nya terbakar dan menjadi debu dalam sekejap. Hanya itu saja, aku bahkan tidak melukai apapun darinya, dan dia memanfaatkan kesempatan ini untuk memfitnahku.
"Hah? Ada apa ini?" Ucap seorang lelaki yang sampai lebih dulu dengan rambut hitam dan kemeja putih.
Gadis petugas: "Orang ini ... orang ini mencoba melakukan kekerasan kepadaku karena melawannya."
Dia bahkan mengucapkan hal seperti itu dengan akting yang bagus, membuat wajahnya terlihat seolah-olah kesakitan dan ingin mengeluarkan air mata. Gadis ini memang licik, dia cukup cantik, dan mungkin memanfaatkan kemampuan aktingnya ini juga untuk mendapatkan seragam petugas itu.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan?"
Ucap orang itu.
"Aku tidak melakukan apa-apa, ini adalah sebuah fitnah." Jawabku spontan.
"Tidak! Dia bohong! Tolong bantu aku, dia bahkan melukai tanganku." Ucap gadis itu sambil memperlihatkan sedikit tangannya yang terkena goresan yang cukup besar dan berdarah.
"Kamu peserta? Berani-beraninya kamu melakukan kejahatan pada petugas!" Ucap lelaki yang satunya lagi dengan pakaian jaket hitam.
Mereka kemudian langsung menyerang untuk mencoba memukuliku. Di pikirnya semudah itu?
"Tidur."
Dua orang yang berlari ke arahku dengan cepat kemudian mulai berjalan memperlambat gerakan mereka, semaking bergerak miring tak karuan, mereka akhirnya jatuh dengan sendirinya ke lantai dan tertidur bagaikan orang pingsan.
BRUAK!
Suara keduanya terjatuh di lantai benar-benar cukup keras, yeah aku rasa itu menyakitkan juga, tapi aku tidak punya pilihan lain selain membuat mereka semua tertidur sampai waktu yang ku tentukan.
Gadis petugas: "Haaahhh?!?!"
Ada apa? Kamu mencoba lari? Kamu gagal.
Mencoba memfitnahku dengan cara licik yang memanfaatkan keadaan seperti itu? Oh ... kamu gagal lagi. Sekarang apa?
Tubuhnya gemetaran sekarang. Giginya terus mengemeretakkan tanpa bunyi, aku tahu itu, dia kini tidak memiliki harapan. Tapi tiba-tiba, dia membuat lingkaran di tanah dengan gambaran dari jarinya, kemudian merobek jarinya untuk meneteskan darahnya dengan cepat, mencoba melarikan diri dengan sihir teleportasi seperti itu.
"Sihir pembalik...."
...RHEDITUZ...
Dan seketika, lingkaran teleportasi senyap seketika dan terbakar menjadi debu, sama seperti pedangnya sebelumnya.
"K-K-Kamu!?!? Membatalkan sihirku?"
"Oo, gadis malang, setidaknya aku akan membiarkanmu pergi dari sini jika kamu memberitahu ku semua rencana dari akademi mu itu."
"Bagaimana jika aku tidak mau mengatakannya?" Ucap gadis itu dengan ekspresi melawan.
"Aku akan mengambil jantungmu, dan menyiksa mu sampai kamu mengatakan rencananya dengan jujur."
Gadis petugas: "Tidak ... kamu tidak mungkin bis-"
KRUAKHHSS!!!
"Ada apa? Apakah dada mu terasa sakit?"
"Mungkinkah kamu mencari ... ini?"
Ucapku sambil memperlihatkan jantungnya yang berdetak di atas genggaman tanganku, wajahnya kemudian berubah menjadi pucat sepenuhnya. Dia semakin melemah dan melemah. Kakinya mencoba berdiri lagi sana bersama rasa gemetar dan kesakitan itu.
"Bagaimana? Masih ingin berkata jujur? Mungkin hidupmu akan selamat.
"Tidak, bagaimana pun, aku tidak akan mengatakan apapun!"
KRUAKHHSS!!!
Aku mencengkeram jantungnya dengan kuat, seperti menganggap bahwa jantung ini hanyalah sebuah slime, dan aku berpikir bagaimana jika slime itu hancur dan meledak di tanganku. Tapi aku tidak akan menghancurkannya.
Darah nya menyebut lagi dan mulai bercucuran keluar lebih banyak, tubuhnya semakin melemah. Hingga akhirnya, dia pingsan tak kuat menahan rasa sakit ini, berbaring di atas genangan darahnya sendiri, kini warna merah darah ini mulai memenuhi seluruh tubuh dan bajunya menjadi merah.
Kasihan sekali, aku membawa dua orang yang terkena kutukan tidur ke dalam ruang imajiner ku sendiri, begitu juga dengan gadis penuh darah ini. Ruang imajiner itu bebas, menggambarkan suasana apapun dari dalam hatiku. Entah itu kaget, marah, sedih, senang, gila, dan banyak lagi.
Ruang imajiner ku sebenarnya membawa mereka semua ke dalam imajinasiku sendiri, tempat dimana keadaan hatiku saat ini sedang merasa aneh, biasa-biasa saja, namun cukup senang.
Ruang imajiner akan selalu berubah berjalan dengan pikiran dan keinginanku, ketika aku menginginkan sesuatu, atau sebuah khayalan saja, semua akan terjadi disini, tidak ada yang mustahil. Ruang imajiner adalah tempat percobaan sihirku yang sebenarnya, mempelajari banyak sihir dari dalam mimpiku disini, sebelum mereka di tunjukkan kepada dunia nyata.
Aku tidak ingin mengangkat gadis itu dengan tanganku sendiri, karena darah itu tentu saja akan mengenai bajuku, jadi aku membawanya kesini dengan keinginan seluruh tubuhnya tanpa darah, menciptakan langsung guillotine yang di tempati oleh kepalanya disana.
Tidak mungkin untuk menunggunya siuman, jadi aku langsung saja membangunkannya tanpa perintah apapun, cukup dia terbangun disini, membuka matanya perlahan dan melihat kepalanya yang terpasang tepat pada bagian eksekusi.
"Jadi kami sudah siuman?"
Gadis petugas: "..."
"Setidaknya katakan padaku, soal semua rencana yang akan kalian lakukan."
"Tidak! Tidak akan! Silahkan potong kepalaku, hukum aku, eksekusi aku, atau apapun itu."
Ucap gadis itu dengan suara lantang yang memenuhi ruang.
"Begitukah? Apapun itu yeah? Bagaimana jika aku mengikatmu di sebuah rantai saja? Kamu mungkin masih bisa hidup ... sebagai budak **** ku."
Gadis petugas: "..."
"Hahaha!! Bercanda, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, karena memenggal kepalamu adalah hal yang lebih memuaskan."
Aku menciptakan sebuah sofa empuk seperti di rumahku, yeah, pemandangan yang cukup bagus.
Tempat ini bagus bukan? Aku tahu kamu berpikir bahwa ini adalah tempat yang lumayan bagus, karena ini adalah ruang imajiner. Aku bisa menciptakan apapun di dalam imajinasiku, tapi mereka semua tidak akan sempurna, kecuali darahmu berhamburan disini bersama kepalamu yang terpenggal ke lantai.
PTAK!
ZLEEEP...
Tali penahan pisau segera di putuskan dari posisinya, bergerak jatuh kebawah dengan cepat untuk memotong kepala di antara dua balok kayu dan tiang nya.
CERAKK!
Kepalanya terpenggal begitu saja, jatuh di lantai dengan darah yang mengalir tanpa arah.
Di masa lalu, ataupun sejarah yang aku tahu, mungkin hukuman ini adalah hukuman yang di ciptakan untuk mencoba menghukum seseorang semanusiawi mungkin.
Tapi, aku tidak membuat guillotine atau hukuman manusiawi disini, yang ada hanyalah guillotine penyiksa. Otak seseorang masih memiliki kesadaran setelah terpenggal? Berapa detik? Sepuluh? Dua puluh? Atau mungkin, tiga puluh? Oh—aku tidak akan melakukan itu untuknya.
Karena disini, aku akan membuatnya sadar secara terus menerus, dia tidak akan mati.
Bahkan matanya masih memandang ke arahku di atas sini.