
Di hari lusanya, kami berkumpul pada area pelatihan pedang khusus sekolah, tempat ini akan di kosongkan untuk kami. Jadi, murid-murid lain tidak akan bisa menggunakan tempat ini selama dua minggu.
Yeah, itu lah waktu pelatihan kami, selama dua minggu menjelang kontes itu akan di mulai. Dan pakaian yang kami pakai sekarang adalah pakaian berwarna hitam panjang yang cukup leluasa. Namun, ada beberapa pelindung besi di dalamnya yang melindungi setiap bagian vital tubuh. Seperti tulang kering dan yang lain.
Valerie dengan pakaian itu terlihat berbeda lagi, dia memberikan kami semua sebuah pedang yang ringan, panjang, namun tidak tajam. Karena ini tumpul dan murni untuk latihan tanpa harus melukai siapapun.
Valerie mengajarkan hal yang membosankan, namun Eiji dan Leon sangat bersemangat. Sedangkan aku tidak, mereka pasti berpikir bahwa dengan meraih kemenangan akan meningkatkan popularitas dan nama sekolah termasuk mereka yang juga ingin menjadi populer.
Menjadi populer memang menyenangkan, kamu di gemari oleh orang banyak, bahkan gadis-gadis cantik membicarakan tentang dirimu di waktu lain. Seolah-olah kamu adalah seorang idol.
Jadi--disinilah kami bertiga berbaris dengan tepat untuk mengikuti gerakan-gerakan berpedangnya. Valerie kemudian terus mengganti gaya-gayanya dengan cepat, namun cukup menarik. Setelah itu, dia berhenti untuk melemparkan sebuah pedang berkecepatan tinggi ke arah wajahku.
WUSHH!!
SING!
Dengan Cepat aku menangkis pedang itu dan membuatnya terlempar jauh ke ruangan ini, tabrakan ini cepat dan berbunyi cukup keras, ini terjadi secara tiba-tiba, bahkan Eiji dan Leon kaget ketika dia berhenti dan melemparkan pedang lain dari dalam tangannya ke arahku.
"Woh! Woh! Kamu tidak ingin membunuhku kan?"
"Tentu saja tidak." Ucapnya dengan santai.
Tapi pedang ini berbeda dari pedang mentor yang dia pakai, yang di lemparkan tadi adalah pedang sungguhan yang sangat tajam. Bahkan ujung pedang itu menancap dengan kuat di lantai.
"Aku akan melanjutkan ke latihan berikutnya, kuharap kalian bisa melakukannya dengan benar. Tetaplah fokus."
Dia memanggil Leon lebih dulu.
"Jadi, ini lah latihan selanjutnya, senjata ini memiliki kecepatan melebihi kecepatan suara, dan jika aku meningkatkan senjata ini dengan sihirku sendiri, seharusnya aku bisa meningkatkan kecepatannya menjadi lebih cepat lagi, cobalah untuk menghindari setiap serangan senjata ini."
Jadi, itu adalah sebuah pistol yang cukup panjang dan ramping, pistolnya tampak tidak seperti dari dunia manusia. Namun, Leon sudah bersedia untuk menjaga jarak sejauh seratus meter lebih dari titik berdiri Valerie.
Ruangan ini hanya sebesar dua ratus meter panjang, dan seratus enam pulu meter lebar.
Tapi ini adalah ruangan yang sebenarnya pantas, walau aku kurang yakin Valerie akan membuat nya terluka dengan kecepatan setinggi itu.
Saat itu juga, Leon telah selesai dengan persiapan dan posisinya. Jadi Valerie langsung saja menarik pelatuk itu ketika senjata di tangannya tiba-tiba terasa mengalirkan aliran kekuatan ke dalamnya.
DOR! ... DOR! DOR! DOR! DOR!
Peluru itu melesat dengan sangat cepat, melaju menuju ke arah Leon. Tapi dia membelah banyak peluru dan berhasil menghindari sebagiannya, percobaan pertama berjalan dengan cukup bagus, aku menghargainya karena memang pantas untuk masuk ke kelas elit tingkat pertama.
Begitu pun Valerie bertepuk tangan dan juga memujinya sedikit, itu cukup baik. Jadi yang selanjutnya adalah Eiji, mengambil posisi berdiri bergantian dengan Leon.
Dia sedikit melompat dengan beberapa lompatan kecil di awal sebelum mengambil posisi, meregangkan tangannya kemudian memegang pedangnya dengan benar, menatap ke arah lubang senjata itu dengan serius.
Aba-aba mulainya adalah ketika dia sudah siap, dia harus menggerakkan sedikit tubuhnya sebagai aba-aba untuk menembak, sama seperti Leon sebelumnya. Jadi, peluru itu melesat beberapa kali dengan kecepatan yang sama. Totalnya adalah lima belas peluru, sama seperti peluru untuk Leon, aku sudah tau hanya dengan mendengarkannya dengan cepat.
Bahkan jika itu hanya bagaikan kecepatan suara dalam sedetik, aku akan menebas seratus peluru berkecepatan cahaya dalam setengah detik saja. Ini mudah.
Jadi, Eiji menghindari beberapa peluru dan satu peluru mengikis seragamnya hingga robek sedikit, sementara peluru yang satunya terdengar mengenai bagian kakinya pada area yang terlindungi besi. Untung saja bagian itu memiliki besi pelindung untuk tubuhnya. Sisanya adalah tiga belas peluru yang berhasil di tebas dengan sempurna.
Sepertinya, kecepatan Leon masih lebih cepat bereaksi daripada Eiji. Walau Leon memang terlihat santai. Jadi, Valerie mengatakan pada Eiji untuk lebih fokus lagi dan meningkatkan reaksinya secepat mungkin nanti. Karena waktu hanya tersisa satu minggu lebih.
"Kamu sudah siap?"
"Ah? Jika hanya seperti ini maka sangat mudah."
"Heh, kamu benar-benar sombong, aku mulai!"
Aba-aba bukan di tentukan olehku, dia bahkan langsung menembak tanpa perintahku, jadi begitulah peluru yang cepat mengarah padaku, namun, mereka semua menjadi ganda, setiap peluru terbelah menjadi tiga bagian yang sempurna, atau tercipta semacam kloningan dalam kecepatan tinggi. Lima belas peluru menjadi empat puluh lima peluru dengan sangat cepat. Jadi, aku hanya menangkis satu peluru saja, itu cukup.
SING!
Debu-debu kecil mulai beterbangan ke langit, sisanya jatuh ke tanah menjadi abu yang berbau gosong seperti besi terbakar.
"Apa??"
"Aiden? Kemampuan itu..."
Eiji dan Leon benar-benar terkejut lagi, ini adalah salah satu teknik hebat ku sekarang, Bahkan jika itu hanya perlu menebas satu, maka empat puluh empat yang lain harus hancur menjadi debu saja.
Dengan mengaktifkan pelindung tubuh tak terlihat untuk diriku, maka apapun yang mendekati dan menabrak ku akan terbakar tanpa di sadari dan menjadi debu dengan sangat cepat.
"Sayang sekali, Valerie. Hal selambat itu tidak akan bekerja untuk menyentuhku. Cobalah sesuatu yang lebih cepat."
Dan ... Sushh!
Mataku bahkan tidak berkedip, tapi dia langsung menghilang dan muncul tepat di depanku dengan pistol itu yang hampir menempel di keningku.
Valerie: "Bum!"
Crek!
Dia menarik pelatuk itu dengan penuh percaya diri, bunyi tembakannya memang keluar hanya dengan satu peluru, tapi sayang sekali, wajah percaya diri itu kemudian menjadi wajah bodoh yang kebingungan. Dia bahkan menarik kembali pelatuk itu dua kali tiga kali dengan bunyi tembakan yang sama.
"Sudah kubilang ... sayang sekali, itu tidak akan bekerja untuk menyentuhku jika aku sudah menyadarinya."
Valerie kemudian menjadi semakin dekat untuk menempel pistol itu di keningku, namun mulai dari ujung pistol itu semakin terbakar dan menjadi abu, semakin dia mendekat, pistol itu akan terus terbakar menjadi menabrak batasannya.
Jadi dia tidak meneruskan, ujung pistol itu telah hancur bahkan tidak akan pernah bisa menyentuhku. Sekarang kedua temanku seharusnya paham, betapa hebatnya kemampuanku, tidak peduli jika seluruh orang di sekolah ini menyerangku secara bersamaan, itu tidak akan bekerja untuk membuat kakiku bergeser sedikitpun dari titik awalnya.
"Kukatakan sekali lagi, sebenarnya aku tidak butuh latihan ini, Valerie. Kutukan padaku sudah mulai aktif dan tidak ada siapapun yang bisa menghentikan ku, seiring waktu terus berjalan."
"Aiden, kutukan apa yang kamu maksud?"
"Kutukan raja iblis yang tertanam pada diriku."
Kemudian aku membuka sebagian kerah bajuku agar mereka semua melihat tanda hitam aneh yang mengelilingi leherku, benda ini bagaikan jahitan, tapi berbeda dari jahitan, ini sangat besar dan kukatakan pada mereka untuk tidak membocorkan rahasia ini.
Wajah Eiji dan Leon langsung tercengang, inilah alasan kenapa aku menjadi kuat, karena ini adalah kutukan yang berharga, bahkan tidak akan pernah lepas dariku. Bagaimana jika aku sampai pada batasan kutukan ini dan akan kuhancurkan sendiri batasan untuk diriku.
Itu akan terjadi suatu hari nanti...
...Mungkin.