
Maka dari itu, aku akan melangkah santai untuk melihat semua perubahan dari evolusi kubus violet. Hanya dengan evolusi yang ku lakukan, semua dunia iblis kini telah melampaui konsep ruang dan waktu sepenuhnya, dan kubus violet seukuran genggaman tanganku sebenarnya sudah memiliki ukuran tak terhingga yang jauh tak terhingga kali lipat dari lapisan dunia pertama alam sihir dan alam peri.
Dan para iblis ... akan keluar untuk menodai semua dunia sihir dan dunia peri.
"Bagaimana kamu bisa melakukan itu?" Tanya Haumea padaku dengan penuh rasa ingin tahu.
"Kekuatan Daemonic sepertimu tidak mampu melakukannya, bukan? Maka Will Power lah yang mampu melakukannya."
Kami berdua kembali di sebuah ruangan mewah dua kursi dan satu meja untuk pemandangan hutan mati dan langit merah.
Aku duduk di depan Haumea, sambil memberi tanganku padanya dan aku berkata "Mau mencoba hidup normal lagi?" kemudian dia menjawab "kurasa kita bisa mencobanya sekali lagi." jawabnya sambil menyentuh tanganku.
Kami datang ke dunia para penyihir dan dunia para peri. Dan kami berdua datang dari kehampaan yang menciptakan cahaya dan api untuk membentuk tubuh fisik avatar kami.
Aku berdiri disini sekarang, masih sebagai Aiden Leonore yang memegang tangan Haumea. Setiap raja dan ratu pasti menikah, tapi ini lah aku yang menjadi raja dan memiliki ratu tanpa pernikahan.
"Jadi ... aku akan memanggil namamu dengan Marie lagi?" Tanya ku padanya.
Dia kemudian menatap ku.
"Haumea, aku tidak ingin di panggil sebagai Marie lagi. Aku senang kamu mengucapkannya nama asli ku." Ucapnya.
Ini bukan kebahagian sejati di atas realita yang lebih tinggi, namun ... aku sebenarnya sudah bahagia dengan kekuatan sebesar ini dan seorang gadis yang aku sukai. Tidak ku sangka, aku bahkan berani berbicara pada seluruh dunia, kecuali menyatakan balik rasa cinta ku padanya.
Hal kecil apapun yang terjadi, lupakan sihir dan kekuatan kita. Mari menjalankan kehidupan normal sementara itu, biarkan semua iblis yang merusak para penyihir.
Aku merasa kasihan jika penyihir yang bahkan hidup di dunia setinggi ini harus melawan ku. Bahkan seluruh dunia peri melawan ku, aku akan melenyapkan mereka semua semudah membuang nafas.
Tapi seperti sebelumnya, tangan kami berdua yang menyatu mengeluarkan cahaya merah dalam sekejap mata dan meredup sekejap lagi.
Aku menyegel semua kekuatan avatar dirinya agar tidak merepotkan ku.
"A-Aiden? Apa yang kamu lakukan?"
"Hanya menyegel kekuatan mu, sama seperti sebelumnya."
"Itu tidak adil, kenapa harus kamu yang menjadi bebas dengan apapun?"
"Menjadi bebas adalah keinginanku, membuat aturan sendiri, keluar dari semua aturan, atau melampui semua aturan yang ada, tidak ada siapapun yang mengganggu dan bebas melakukan apa saja, itulah kebebasan yang ku inginkan." Jawabku.
Karena kesal, memukulku berkali-kali layaknya gadis biasa yang tidak memiliki kekuatan.
"AHAHAHAHA! Haumea, kamu lemah sekali. Sudahlah, tidak usah terlalu memaksa kan dirimu padaku."
"Berengsek!"
Setelah pertengkaran seperti biasanya, kami mencoba berjalan keluar dari hutan besar ini. Pepohonan nya menjulang tinggi ke atas dengan tinggi sepuluh meter yang rata-rata hampir sama dengan pohon lainnya.
Suara burung-burung hutan pedalaman terdengar dimana-mana, bahkan suara yang menggema dari arah lain hutan ini. Setelah berjalan cukup jauh, kami menemukan sebuah sungai besar di tengah hutan ini.
Sepertinya ini adalah hutan di atas gunung, soalnya, cuacanya benar-benar dingin. Aku melihat kawanan monyet di pepohonan, kawanan burung di langit, dan banyak hewan lainnya di hutan ini.
Haumea berlari dari ku menuju ke arah danau.
"Aiden, Aiden~ lihatlah, pemandangannya indah juga kan?"
Aku tersenyum dari hatiku yang terdalam dan ku jawab, "Ya."
"Mau menyeberangi danau ini?" Tanya nya dengan gembira.
"Emmm....."
"Tidak ada am em am em! Ciptakan perahu untuk ku sekarang, dan berhenti plonga-plongo seperti orang konyol begitu."
"Oh, maaf."
Yang dia katakan benar, aku kosong. Pikiranku kosong dan hampa, entah apa yang perlu ku lakukan, hingga dia terus mengajakku bersama nya menciptakan sebuah perahu di atas danau yang akan kami pakai menyeberangi sisi lain danau ini.
Aku mengambil beberapa ranting kayu dan membuatnya berkembang menjadi perahu kayu dalam hitungan detik.
"Oh terima kasih, raja ku~" Ucapnya sambil memegang pipi ku dengan tangan kirinya.
"Berhenti merayu ku seperti itu."
"Aku tidak akan berhenti, kamu tahu. Cepatlah naik kesini." Ucapnya sambil mengarahkan tangannya dan menarik ku ke atas perahu.
Dia hanya duduk di hadapanku, sementara aku mengerahkan tenaga ku dan mengayuh perahu ke depan.
"Haumea."
"Iya?"
"Bisakah kamu berhenti menatap ku dengan senyum seperti itu? Kamu sudah tersenyum seperti itu padaku sejak tadi." Ucapku sambil terus mengayuh perahu.
"UPS... HAHAHAHAHA! Aiden, bagaimana bisa aku tidak tersenyum, kamu belum berbicara sejak tadi, itu sudah terlalu lama untukku setidaknya ucapkan lah sepatah kata."
Baiklah, aku akan mengatakan sesuatu.
"Haumea, berapa usiamu sekarang?"
"Disini, tujuh belas tahun." Jawabnya.
"Salah. Kamu usiamu dua ribu tahun, dasar nenek tua."
CUUUIIIITTTTT!!
Wajahnya tiba-tiba merah dan marah seperti teko air panas yang akan meledak.
"Berani-beraninya kamu menyebutku seperti itu! Dasar manusia."
"Lupakan! Aku membenci mu."
"Tidak, kamu berbohong. Kamu hanya kesal, kamu tidak membenci ku."
"Ya! Aku kesal, jangan banyak bicara dan teruslah mengayuh!"
Saat dia marah, dia langsung berbaring di pangkuan ku dengan cepat sambil melihat ke arahku lagi.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Berbaring, aku butuh sandaran, dan aku lelah."
"Lelah? Sepertinya kamu bahkan tidak melakukan apa-apa selain berdebat denganku."
"Ya, aku lelah."
.....Kemudian, dia banyak menegur soal langit biru dan awan yang terus berjalan seperti kapas. Dia bilang, itu cukup indah.
Perahunya benar-benar berada di tengah jalur danau, dan bunga dari pepohonan di daratan terbang ke arahku di tiup oleh angin. Aku berusaha menangkapnya karena ... ya, karena aku kurang kerjaan selain mengayuh perahu.
Ranting kecil itu memiliki beberapa daun kecil dan bunga berwarna merah muda di ujung nya, aku memetik satu bunga di tanganku kemudian meletakkan nya di telinga kiri Haumea saat dia berbaring.
"Aiden, apa yang kamu lakukan?"
"Hanya memberi sedikit hiasan untukmu." Jawabku.
Kemudian dia segera berdiri untuk menyentuh bunga itu dan melepasnya dari telinga nya. Dia bilang bahwa bunga itu cantik dan meminta untuk memasangkan lagi bunga itu di telinga nya, padahal dia bisa melakukan itu saja sendiri.
"Cobalah lihat penampilan mu di air."
"Benar juga, air."
Dia kemudian melihat wajah nya sendiri di tampilan air walau air nya sedikit kacau karena aku sedang mengayuh. Dia bilang, itu sangat bagus kemudian bertanya padaku soal penampilan nya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi aku terus mengucapkan sesuatu yang menyenangkan hatinya.
Dia melepas lagi bunga itu dari telinganya untuk kedua kalinya dan meletakkan bunga yang sama di telinga ku.
"Hahaha, kamu terlihat lucu seperti itu."
"Hum, begitu yah, terasa aneh."
Aku menghilang kembali kayuh nya dan berhenti mengayuh. Tubuh ini bisa merasakan lelah juga, aku tidak mampu lagi menampung Daemonic dan Will Power secara bersamaan di tubuh seorang manusia. Tubuhku bisa hancur, oleh karena itu, aku memaksimalkan tubuh ini dan memberi setidaknya satu dari sepuluh bagian kekuatanku.
"Kenapa kamu berhenti?" Tanya Haumea.
"Aku juga lelah tahu, tubuh ini bisa kelelahan." Jawabku.
"Akhirnya kamu tahu, kenapa aku bisa merasa lebih lelah."
"Oh, ya. Kamu memang terlihat tidak pernah memakai hiasan yah? Haumea."
"Kurasa begitu, karena tidak menarik untuk ku."
"Seperti cincin? Apakah itu juga tidak menarik?"
Tanya ku.
"Entahlah, memang nya kamu akan memberikanku sebuah cincin?"
"Jangan terlalu berharap pada ku."
Tapi...
Aku kemudian menciptakan api untuk membentuk dua buah cincin kecil dengan ruby kristal merah gelap di atasnya, bentuk nya sangat kecil.
"Sebuah cincin! Aiden, jangan-jangan kamu..."
"Jangan-jangan apa?"
"Kamu ingin mengajak ku menikah dengan cincin seindah ini?"
"Berpikir sejauh itu? Aku hanya ingin memberi cincin untuk mu sebagai tanda hubungan istimewa di antara kita."
"Ahh! Hatiku yang begitu dalam tersakiti lagi."
Sebenarnya, aku ingin melakukan hal seperti itu, seperti memberi cincin tunangan, atau cincin kawin padanya. Namun, aku benar-benar malu untuk mengatakan hal seperti itu.
Tadinya aku berniat melakukannya dan mengatakannya, tapi aku harus berbelok lagi untuk melewati jalan yang lebih panjang dan berliku untuk rasa cinta ku. Ini karena pilihan ku sendiri atas rasa ketidakberanian ku. Jadi, aku terpaksa mengatakan kalau itu adalah cincin hubungan istimewa.
"Cincin hubungan istimewa ya?"
"Ya, cincin hubungan istimewa, ayo, berikan tanganmu padaku."
Kemudian dia memberi tangan kanan nya pada ku, aku memasangkan cincin ini perlahan di jari manis nya dan aku berkata "Untuk ratu ku." kemudian, aku berniat memasang cincinku sendiri, dan dia memaksa untuk memasangkan padaku sama seperti yang ku lakukan.
Seperti yang di lakukan olehku, dia juga mengambil tangan kanan ku dan meletakkan cincin ini di jari manis ku.
"Untuk raja ku~"
Aku tersenyum karena nya, sepertinya dia tidak tahu bahwa di dunia manusia memasang cincin di jari manis sebelah kanan pada pasangan mereka adalah tanda pernikahan, bukan tanda tunggangan atau apapun. Ya, walau mungkin aku bisa menikahi nya tanpa izin siapapun, karena kami berdua bebas dari siapapun.
"Hahahahaha..... senyuman mu itu lucu, aku menyukainya."
"Hmmph, mungkin aku akan berhenti tersenyum."
Aku kembali menciptakan sebuah kayuh dan kembali mengayuh perahu nya menuju sisi lain danau, sementara dia terus mengajak ku berbicara, karena aku adalah orang yang mati topik dan sulit memulai pembicaraan terhadap siapapun. Hingga keberanian ku muncul untuk memulai kata-kata ku, mungkin aku tidak akan berhenti berbicara bahkan tertawa untuk menunjukkan sifat ku yang lain.