
Semua tahanan disini mengenakan pakaian putih yang sama sepertiku untuk laki-laki, namun aku belum melihat tahanan wanita satu pun dan memang hanyalah Haumea yang merupakan tahanan wanita bersama ku.
Haumea pun menggenakan pakaian putih, namun pakaian seperti gaun tertutup yang khusus untuk semua tahanan kerajaan ini. Para tahanan ini sepertinya memiliki hukuman yang tidak terlalu berat, karena pria berengsek di sana sempat mengatakan kalau saja dia akan bebas nanti, dia akan membunuh kami.
Itu berarti, mereka bukanlah tahanan dengan hukuman mati. Setelah berhenti dari tawa nya yang benar-benar terdengar ke segala arah, Haumea menyentuh tangan kiri ku ke arah jeruji besi kami.
"Aiden, buka borgol kita dan buka pintu besi nya." Pinta nya padaku dengan suara lembut dan pupil merah yang menyala.
Walau semua kekuatannya di segel olehku, dia masih tetap memiliki aura iblis yang sebenarnya mampu membuat seluruh istana dan seisinya hancur menjadi debu jika dia mau.
Tapi dia ingin aku melakukan sesuatu pada pria itu, aku membaca keinginannya dari matanya.
"Tunjukkan seperti apa kekejaman raja iblis, kamu raja iblis, bukan? Kamu mengatakan diri mu adalah raja iblis tirani. Kalau begitu tunjukkan padaku." Ucap Haumea sambil menyentuh tanganku di jeruji besi.
"Hoy! Hoy! Bocah! Berhenti berhalusinasi bodoh seperti itu! Benar-benar menjijikan." Ucap lelaki di sel jeruji yang lain.
Sebelum masuk ke sini, aku sudah melihat sepanjang jalan walau hanya sekilas, setiap sel tahanan di isi oleh tiga orang tahanan.
"Tahanan baru, apa yang kalian lakukan sampai bisa di penjara seperti kami? Apakah kalian mencuri? Membunuh ternak seseorang? Ahahaha tindakan yang bodoh!" Ucap lelaki yang berbeda namun dari sel yang sama.
"Sangat di sayangkan~ anak muda seperti kalian harus di penjara jika benar karena perbuatan konyol seperti itu." Ucapan dari seseorang lagi pada sel yang tepat berada di depan sel kami.
Tangan Haumea yang menyentuh tangan kiri ku terasa mulai memanas dan bergetar.
"Nah, anak muda, katakan masalah apa yang kalian berdua perbuat? Mungkin kami semua atau ratusan tahanan penjara ini bisa membantu kalian untuk tertawa bersama, AHAHAHAHA..." Ucap lelaki yang sama pada sel tahanan di sebelah sel kami.
Kemudian setelah dia mengucapkan itu, semua orang yang berada di seluruh sel segera tertawa terbahak-bahak seolah-olah kami adalah penjahat dengan kejahatan kecil di mata mereka.
Tawa itu...
Aku menutup mata dan menundukkan kepala ku sejenak, kemudian melihat wajah Haumea yang benar-benar ingin melihatku.
Raja iblis tanpa ampun yah?
Aku kemudian menatap jeruji besi yang kami pegang hingga meleleh dan berwarna putih saking panasnya. Jeruji terbuka, aku akan keluar untuk memberi semua orang hadiah.
"Satu ... dua ... tiga ... empat. Empat orang yah?" Ucapku setelah keluar dari sel tahanan.
Aku berjalan keluar tanpa alas kaki menginjak bebatuan lantai penjara ini, semua tahanan memang tidak memakai alas kaki. Dan saat aku membakar jeruji untuk keluar, satu tepukan tangan ku menyalakan semua obor dan menerangi pandangan gelap gulita mereka untuk melihat keberadaan yang keluar dari sel tahanan.
Haumea masih memegang tangan kiri ku dan ikut berjalan bersama ku ke lorong sel tahanan dekat perempatan, begitu banyak orang memasang ekspresi terkejut ketika melihat kami berjalan keluar dari sel tahanan.
"Aku mendengar ada empat orang mengucapkan hal yang tidak menyenangkan, dan aku tahu kalian semua, yang tertawa maupun tidak tertawa, aku mengetahui itu."
Aku pergi berjalan bersama Haumea pada lelaki pertama yang paling banyak berbicara, tubuhnya besar, kokoh seperti atlet yang mampu mengangkat besi lebih dari dua ratus kilogram.
"Jadi ... kamu yang paling pertama yeah~" Ucapku sambil tersenyum dan membuat semua jeruji melengkung dengan meleleh.
Aku masuk ke dalam sel tahanan mereka, Haumea tetap berdiri di depan jeruji untuk menyaksikan ku. Dua orang yang bersamanya tidak mengucapkan apa-apa, tapi aku tahu ketika mereka juga ikut menertawakan kami.
Dua orang ini ... aku membuat tubuh mereka terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil, kemudian aku membuka lantai batu ini dalam sekejap hingga bagian tubuh mereka yang terpotong bersama darah yang meledak terkubur di bawah sel penjara.
"Mereka sudah mati~ karena mereka ikut tertawa, ketahuilah bahwa aku mengetahui siapapun yang tertawa, tunggulah giliran kalian semua." Ucapku dengan nada yang terdengar ke seluruh penjara bawah tanah hingga membuat mereka semua ketakutan akan getaran suara ku.
"Dan untuk kamu..."
Dia kemudian maju dengan cepat untuk melayangkan tinju dari tangan besar nya itu. Tapi aku langsung mencekik lehernya ke tembok sampai retak. Aku tidak membiarkannya mati, namun cekikan ku pasti terasa begitu menyakitkan hingga tangannya tidak mampu bergerak untuk melawan. Dan matanya mulai berkeliaran kesana kemari saat dia mendekati kematiannya.
"Tubuh mu kokoh sobat, apakah kamu adalah seorang atlit? Petarung? Atau semacamnya?Tapi sayang sekali kamu hanya bisa mati di tangan orang biasa sepertiku tanpa perlawanan." Ucapku sambil mencekik dengan tekanan terakhir yang membuat leher dan kepalanya patah hingga memancarkan darah.
Kepala dan tulang lehernya tidak hanya patah, melainkan hancur hingga kepala dengan otak kecil itu terlepas dari tubuhnya.
"Tersisa tiga orang yeah" Ucapku dengan suara keras yang mengancam sambil tersenyum.
Di depan sel pria ini, ada dua orang di sel yang sama yang juga mengejek ku dengan tawa yang menyebalkan. Tidak boleh ada yang tertawa disini selain aku dan Haumea.
Sel yang sebelumnya kami masuki tersisa beberapa jeruji besi, aku membuat jeruji yang tersisa melayang dan membentuk sebuah besi bagaikan tombak pendek dengan ujung runcing. Aku tidak langsung membuat besi-besi ini melesat dan menembus kepala mereka, melainkan membuat tubuh mereka berdua menempel di dinding seperti membatu agar aku bisa membuat besi-besi tajam ini menembus otak mereka perlahan dengan rasa sakit yang dalam.
"Satu jeruji untuk satu kepala."
"Dua jeruji untuk dua kepala."
Ucapku sambil menggerakkan jeruji itu di kepala mereka, ujung jeruji mulai menyentuh dahi mereka berdua dan perlahan maju untuk merobek kulit mereka. Mereka sudah cukup merasakan rasa sakit luar biasa ketika jeruji ini masuk sedikit menembus kulit mereka.
Setelah kulit, ada sedikit daging dan tengkorak mereka, maka aku menciptakan api merah yang seratus juta kali lipat lebih panas dari lava gunung berapi pada ujung setiap jeruji untuk masuk lebih dalam dan menembus tengkorak mereka sampai hancur.
Mereka berteriak.
Berteriak sekencang-kencangnya seolah-olah itu mampu terdengar hingga ke ruang kerajaan, namun sayang sekali, jeritan mereka mungkin terdengar oleh semua orang di penjara ini, tapi aku membuat agar jeritan mereka tidak terdengar hingga ke luar penjara bawah tanah ini.
"Kenapa kalian berteriak? Ini sudah malam lho~ kalian hanya akan membangunkan orang-orang yang tertidur pulas di rumah mereka." Ucap Haumea pada mereka berdua.
Yeah, tidak terdengar oleh bagian kerajaan, namun aku membuat suara mereka berdua terdengar sampai ke seluruh wilayah ini, hewan-hewan dari hutan bahkan burung yang beterbangan di langit malam akan mendengar jeritan mereka yang begitu kencang.
"Aku bosan mendengar jeritan kalian."
Ucapku sambil membuat mulut dan bibir mereka hilang dalam sekejap.
"Hahahaha..... simpan jeritan kalian berdua untuk di neraka ya~" Ucap Haumea dengan tawa penuh rasa menghina.
Tidak ada suara dari kedua orang tanpa mulut dan jeruji besi panas mulai menembus melewati tengkorak mereka untuk menyentuh bagian-bagian dalam kepala nya. Aku suka bagian ini.
Aku semakin menggerakkan jariku untuk mendekatkan jeruji lebih kuat dan semakin panas menyentuh otak mereka. Tangan dan kaki mereka bahkan tidak bisa bergerak untuk merespon rasa sakit luar biasa seperti ini.
Perlahan dan perlahan, otak mereka hancur di tembus oleh jeruji panas dan mereka mati begitu saja. Ada satu orang lainnya di dalam sel yang menjadi saksi atas kematian mereka berdua, namun aku membuatnya menjadi batu dan dia akan menjadi batu yang duduk ketakutan selamanya karena dia juga ikut tertawa.
"Hmmm, yang terakhir yah?"
Ucapku sambil menemui orang yang sebelumnya berada di depan sel kami.
"Haumea, menurutmu ada berapa orang di dalam seluruh penjara ini yang tidak tertawa?"
"Aku tidak tahu." Jawabnya.
"Jika kamu tidak tahu, maka jawabannya tidak ada karena mereka semua tertawa."
Aku menabrakkan tanganku seperti memukul jeruji besi orang yang terakhir, kemudian aku menempelkan wajahku seperti orang gila yang mengeluarkan lidah untuk menjilat jeruji ini dan menertawakan nya.
"Elhkkk–akhhhhh" Aku benar-benar menjilati jeruji nya sedikit dan tertawa bagaikan orang gila, rasanya seperti sifat terdalam dari diriku yang keluar dan sulit untuk di kendalikan.
"AHAHAAHAHAHAHAHAH! Bagaimana jika aku membunuh kalian semua secara bersamaan? Bagiamana? Bagaimana? Jangan menangis yeah, karena aku tidak akan membunuh kalian semua, aku hanya menghancurkan tubuh kalian, namun jiwa kalian akan tetap melayang menjadi hantu yang bergentayangan."
"Ahahahahahahahahaha..... Aiden, itu cukup menyenangkan." Ucap Haumea.
"Yeah, benar. Aku melakukan semua ini untuk kita."
Kemudian aku mengubah semua api obor menjadi api yang berwarna merah redup untuk menggambarkan pembantaian seluruh tahanan penjara dengan darah. Aku bergandengan tangan dengan Haumea ke tengah semua ruang penjara bawah tanah ini.
Mereka menyaksikan kami berdua berdiri disini di sentuh oleh cahaya redup merah yang membuat mataku bersinar bersama sedikit kegelapan.
"Ada ucapan terakhir? Jika ada, untuk keluarga kalian, kerabat atau siapapun itu aku akan mengirimkan ucapan terakhir kalian. Tapi, oh kurasa tidak perlu, sebagai raja iblis kejam, kurasa kalian lebih baik mati tanpa kata-kata terakhir."
Aku melihat ke samping.
Melihat wajah Haumea yang menatap mata ku dengan rasa terhibur atas pemandangan mengerikan ini.
"Lakukan~" Ucapnya.
Dan saat itu juga, aku menjentikkan jari ku hingga membuat lima ratus orang lebih tahanan penjara mati meledak dan hancur lebur di dalam sel mereka semua. Sel kanan sel kiri, semuanya di penuhi darah. Di depan kami, di belakang kami ada begitu banyak otak yang berceceran dengan darah di lantai.
Usus mereka terbelah-belah hingga melayang ke sel orang lain, dan semua tulang yang mereka miliki patah dalam sekejap, setelah patah, tulang itu akan patah lagi hingga hancur sepenuhnya. Enam ratus orang mati di dalam sel dengan kematian yang sama hanya dengan petikan jari ku.
Penjara bawah tanah di penuhi oleh darah di dinding dan bahkan seluruh lantai nya. Di tambah lagi oleh semua organ tubuh yang meledak berkeping-keping. Melihat ini, aku dan Haumea tertawa sekali lagi sampai seluruh tempat bawah tanah bergetar hebat.