
Lima puluh meter mendekati gerbang rumahnya, Aiden menghentikan mobilnya dan menyuruh pria gelandangan keluar untuk muntah. Saat pria gelandangan itu turun dan muntah, Aiden jalan ke depan untuk memarkir mobilnya di depan pagar rumah. Dia turun sambil melihat gelandangan itu muntah dari kejauhan. Gelandangan itu akhirnya mengalami kondisi yang menyedihkan dan berjalan sejauh lima puluh meter menuju Aiden.
"Hmmm, begitu menyedihkan. Ingat! Jangan pergi kemana-mana, tunggu di meja taman itu, dan aku akan memberimu sedikit makanan." ucap Aiden.
"Baik! Baik! Asalkan aku mendapatkan makanan." jawab gelandangan dengan perasaannya yang masih mual.
Aiden punya sepiring opor ayam yang belum habis dan beberapa buah-buahan segar di kulkas, jadi dia membawanya keluar dengan tangan kanannya memegang mangkuk berisi opor ayam dan tangan kirinya memegang paper bag berisi tiga buah apel dan beberapa anggur.
Pria gelandangan itu masih saja patuh demi sebuah makanan, dia duduk dengan begitu lemas karena belum makan sejak kemarin malam. Sejak tadi pagi, dia belum menemukan tempat sampah berisi makanan sisa yang masih bisa di makan. Beberapa tempat sampah restoran yang dia jelajahi hanya berisi daging ikan yang sudah busuk dipenuhi belatung dan tumpukan tisu kotor serta beberapa cairan-cairan dari sup yang asam.
"Hei, bangun dan makanlah." ucap Aiden sambil membanting piring dengan keras ke atas meja.
Pria itu segera bangun dan bersemangat melihat makanan di hadapannya, dia menyentuh sendok secepat mungkin dan melahap tanpa henti. Benar-benar rakus. Aiden duduk di hadapannya, namun dengan jarak yang cukup jauh agar tidak terkena aroma busuk pria itu.
"Namaku Valo Kairi, aku adalah orang yang kamu temui kemarin malam."-Aiden meletakkan selembar uang bernilai seratus scarlet di atas meja dan meletakkan apel di atasnya agar tidak terbang tertiup angin-"Ini uang yang kamu butuhkan untuk membeli makan dalam beberapa waktu ke depan.
"Setelah menghabiskan makanan itu, ambil uang ini, simpan baik-baik ke dalam saku mu dan jangan sampai hilang. Aku akan menunggu cerita mu."
Hanya dalam tiga menit, gelandangan yang kelaparan telah menghabiskan makanannya. Sementara itu, Aiden tetap duduk sambil memegang ponselnya dan mencari orang-orang bernama Rosa Vilakh yang tepat.
"Kamu ... pria miskin, apakah ini istrimu?" tanya Aiden sambil memperlihatkan foto wanita dengan akun instagram bernama rosavilahk0689
"Tidak, istriku tidak gemuk seperti itu." jawab pria gelandangan.
"Jika istrimu cantik, kupikir dia pasti begitu jijik melihat kondisimu saat ini, sadar diri lah! Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang mau bersamamu, terkecuali geladangan yang senasib denganmu." ucap Aiden dengan kalimat yang cukup menghina.
"Bagaimana dengan ini, apa rosa yang ini terlihat seperti istrimu?" ucap Aiden dengan memperlihatkan Rosa yang berbeda.
"Tidak, tidak, istriku juga tidak sekurus itu." jawab pria gelandangan dengan ekspresi seperti orang mabuk.
"Bajingan, kamu terlalu banyak omong kosong, sadarlah!! Dirimu sendiri kurus dan bahkan lebih busuk dari yang di bayangkan."
Dari hasil pencarian, ada sekitar enam ratus akun bernama Rosa, namun Aiden hanya membuka setiap akun yang memiliki nama Vilakh di belakang atau depannya. Setelah menunjukkan enam puluh tiga akun dengan Rosa yang berbeda pada pria gelandangan itu, yang terakhir membuat matanya terbuka lebih lebar.
"Yang itu! Ya! itu seperti istriku!"
Aiden melihat begitu banyak foto postingan di instagram wanita ini, kemudian dia bertanya nama pria selingkuhan istri dari gelandangan itu, gelandangan itu menyebutkan nama yang sama dengan pria yang ada di foto akun wanita itu, kemudian Aiden memperlihatkan foto Rosa dengan pria yang ada di fotonya.
"Apakah pria itu adalah orang ini?"
"Benar! Dia! Aku sangat membencinya, sialaan!!!!"
Aiden mengarahkan kembali pisau yang sama ke arah gelandangan itu, "Sekali lagi kamu menjerit, menangis, atau berteriak, aku akan membunuhmu di sini dan memotong semua tubuhmu untuk makanan anjing tetanggaku."
Pria gelandangan itu terdiam lagi seperti orang yang sangat bodoh sambil menggigit kuku kakinya. Melihat tindakan bodoh seperti itu, Aiden segera menyuruh pria itu segera pulang, tapi pria itu menolak karena jembatan Marinhe terlalu jauh dari sini, itu sekitar delapan puluh kilometer dari rumah ini. Jadi dia harus bersabar lebih dan kembali membawa gelandangan ini ke area Marinhe.
Di jalanan, Aiden mengatakan pada pria itu, "Dua hari lagi ... jika kamu berani membunuh untuk membalas dendam pada pria yang merebut istrimu, aku akan membawa mereka semua ke hadapanmu."
Kemudian setelah sampai di dekat jembatan tersebut, gelandangan itu turun dengan patuh karena merasa ketakutan dengan Aiden. Kemudian Aiden membuka bagasi belakang mobilnya dan mengeluarkan sebuah shotgun yang di tutup oleh kain hitam. Dia memegang senjata tersebut dengan tangan kanannya dan mengatakan. "Jangan katakan hal-hal ini pada siapapun yang kamu temui, jika sampai ada orang yang tahu tentangku, aku akan mencari orang itu, aku juga akan melubangi kepalamu dengan senjata ini."
Aiden memelototi gelandangan tersebut, "Kamu mengerti?"
"Ya! Aku mengerti, aku janji!!!"
Aiden pulang kembali ke rumahnya malam ini tanpa membunuh pria gelandangan tersebut, padahal dia benar-benar berniat membunuh pria ini kemarin malam. Saat pulang, dia terpaksa menyimpan pakaian yang dia kenakan hari ini untuk di bawa ke laundry dan di cuci sebersih mungkin hingga tidak ada satupun aroma najis dari gelandangan bodoh seperti itu.
Mobilnya juga akan di bawa ke tempat pencucian mobil besok pagi. Jadi Aiden menelpon tempat pencucian mobil dan meminta untuk penjemputan mobilnya besok pada pukul tujuh pagi. Biaya ini mungkin lumayan mahal, namun tidak masalah jika untuk menghilangi setiap sentuhan kotor dari pria gelandangan itu.
Razel sudah pulang ke rumah sejak pukul delapan malam, namun dia tidak tahu bahwa Aiden membawa seorang gelandangan di depan pagar rumah dan memberinya makanan sisa dari kulkas. Pada pukul sebelas setelah mandi di malam hari, Aiden duduk sendirian di sofa ruang tengah sambil melihat setiap hal-hal yang ada di sosial media wanita bernama Rosa Vilakh.
Wanita itu terlihat memiliki kehidupan mewah dengan suami barunya, dia begitu tega menyakiti perasaan seorang pria hingga nasibnya menjadi begitu hancur, tapi Aiden menyukai semua ini, saking senangnya, dia berdiri untuk mengelilingi ruang tengah sambil tertawa kecil sendirian.
Di mulai dari malam ini, dia akan mencari semua informasi secepatnya tentang wanita itu, terlebih lagi suaminya. Dimana mereka tinggal, bagaimana aktivitas mereka, tempat-tempat seperti apa yang mereka kunjungi, Aiden akan mengawasi sebisa mungkin di waktu luangnya.
Tidak hanya itu, dia menghubungi kembali Erine untuk meminta informasi dari jaringan yang dimilikinya. Sebenarnya Erine merupakan wanita yang friendly dan di kenal ramah pada berbagai pegawai di kantornya, karena pertemanannya, dia dapat berteman di mana saja dengan batas tertentu sesuai tujuannya untuk mendapatkan jaringan sosial terbuka maupun tertutup.
Wanita manajer ini mampu memiliki jaringan pada beberapa orang di dalam kantor polisi, jaringan dengan beberapa orang IT, atau beberapa remaja muda yang hobi meretas lampu lalu lintas dan iklan jalanan, itu terlihat seperti orang bodoh. Namun berguna untuk beberapa informasi rahasia yang dapat di pecahkan.
Tapi Aiden terkadang lebih suka melakukan semuanya sendirian, salah satu contohnya adalah mencari beberapa pasar gelap untuk menjual organ-organ tubuh selanjutnya dalam pembunuhan yang tak terduga, pembunuhan selanjutnya mungkin membuatnya berencana untuk mengambil organ-organ tubuh korbannya kemudian di jual ke pasar gelap dengan harga yang lebih murah.