Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 115 : Dimensional round




Setelah pukulanku mengenai wajahnya, dia langsung terbang keluar dari atmosfer untuk menabrak planet di sekitar bumi.


Planet Mars.


WUSH!!


Aamon: "Apa yang kau lakukan?"


Dan dalam sekejap, dia tiba-tiba berada di belakang ku. Padahal aku yakin, dia jelas ku lempar ke planet terdekat dari sini. Aku bahkan melihatnya mendarat di sana.


"Sial!! Kau cepat juga."


Aku kemudian melayangkan tendangan ku ke arahnya, dia terus menghindar dan membalas dengan pukulan untuk mematahkan seluruh tulang ku.


Bash!


Bash! Bash! Bash! Bash! BASH! BASH!


....


Pukulan yang begitu cepat dan sengit terjadi lagi, setengah tempat ini kini rata dengan tanah bagaiman sebuah kota yang di binasakan nuklir.


BRUAK!!


Pukulan terkuatnya mengenai ku dengan cepat, membuat ku terlempar ke sisi lain area.


Tapi aku menstabilkan posisi di langit dan kembali dalam waktu zero second saja untuk sampai langsung menyentuh wajahnya.


BAGHH!!


Pukulan kuat ku kembali menghantam wajah nya dan menerbangkannya ke luar angkasa. Begitu cepat waktu kami bertarung, sejak pertama kali aku melemparnya ke planet terdekat, bahkan hingga sekarang, ini hanya membutuhkan waktu satu detik bertarung.


Ketika dia melayang ke luar angkasa untuk menabrak bulan lagi, aku memanjangkan tanganku, benar-benar panjang hingga menembus langit dan mencapai tubuhnya.


Tubuhku hanya berada di bumi, tanganku benar-benar memanjang ke langit seperti tangan bajak laut topi jerami dari serial One Piece yang seperti manusia karet.


Hingga mendarat di wajah nya lagi, kecepatan terbang menjadi semakin cepat dan menabrak bulan.


Pukulan ku begitu kuat kali ini.


Aku menerbangkannya hingga menabrak bulan dan membuat bulan terbelah menjadi lebih dari dua puluh bagian. Sisanya adalah bagian-bagian yang tak terhitung jumlahnya oleh kerusakan pukulan.


Aku mengunci tubuhnya untuk tidak bergerak.


Membuka gerbang neraka tidak terlihat sekali lagi dan membangkitkan tombak api neraka di tanganku.


Ini di namakan...


...SPEAR OF DESTINY...


Dengan api membara di tanganku, aku melempar kuat tombak sepanjang delapan meter ini ke langit. Kecepatan tombak melebihi kecepatan seratus miliar kali lipat kecepatan cahaya yang menembus atmosfer hingga membelah semua benda langit yang di lewatinya.


Bahkan, jika ada mahluk hidup di alam semesta ini yang masuk ke dalam dunia ku, mungkin takdir nya akan rusak ketika tombak ini melewatinya.


Tidak perlu terlihat oleh siapapun, cukup tombak ini melewati mahluk hidup apapun yang ada, takdir mahluk seluruh alam semesta dan seisinya akan berbelok. Itu sebabnya namanya adalah tombak takdir. Karena ini juga berasal dari Neraka di lapisan terdalam, maka selain merusak takdir, tombak ini mampu menembus dimensi ke seluruh alam semesta dan membuat siapapun yang di lewati akan kehilangan sisi baik nya.


Ini bukan apa-apa.


Ada saatnya aku akan mengeluarkan pedang terbaik ku.


Tombak ku benar-benar menyentuhnya, menabraknya hingga hancur berkeping-keping di tengah bongkahan bulan yang pecah kemana-mana.


Tombak ini benar-benar memiliki api ungu dan merah yang menyala bersamaan.


Dalam sekejap, aku berpindah lagi untuk menyentuhnya langsung. Karena dia beregenerasi begitu cepat.


Begitu instan.


Seluruh tubuhnya yang terbelah setelah terkena tombak tumbuh lagi. Mereka semua kembali menyatu dengan sempurna.


Itu bukan hanya terbelah, tombak ku benar-benar menghancurkan seluruh organ dalam tubuhnya hingga kepala nya hancur lebur.


Aku datang lagi untuk menyentuhnya dan terus memberi pukulan.


Aamon: "Cuma begini saja?!?! Aku ini abadi! Jangan berpikir bisa membunuhku."


Pukulan ku di tangkap olehnya, dia membanting ku kembali ke bumi dalam sekejap juga. Melayangkan pukulannya untuk memukul perutku berkali-kali. Setengah detik, bahkan kurang dari setengah detik, ratusan juta pukulannya telah menghantam perutku berkali-kali.


Aku merespon dengan cepat untuk menghentikan pukulannya, berbalik secepat mungkin dan menangkap tanduknya.


Saat tanganku benar-benar menyentuh tanduknya, aku membawa nya bergerak dengan kecepatan tinggi dan memutari bumi hampir setengah detik dengan total 23.477.666.234 putaran. Aku menarik nya dari tanduk nya begitu cepat, menyeretnya ke berbagai macam tempat dan benda untuk merusak wajahnya.


Membenturkan wajahnya ke lautan.


Membuat wajahnya menghancurkan gunung.


Hingga putaran ke 23.477.666.235. Putaran ini menjadi putaran terakhir dimana aku membawa nya ke dimensi lain dari dunia paralel di dalam dunia yang ku ciptakan.


Semua orang menganggap alam semesta itu luas, menggunakan teori mereka atau semacamnya dan terkadang, ada juga orang-orang yang mengatakan bahwa alam semesta itu memang luas, luasnya tidak terbatas dengan perluasan tanpa henti.


Tapi, alam semesta memang seperti itu, mereka memiliki luas tidak terbatas dengan segala isi nya.


Multiverse arena yang ku ciptakan bukanlah sekedar dunia dimensi berisi multiverse tidak terbatas.


Untuk singkatnya, di dalamnya adalah multiverse dengan jumlah yang tidak terbatas.


Di dalam satu multiverse, berisi alam semesta yang jumlahnya tidak terbatas juga, dimana masing-masing alam semesta adalah luas yang tidak terbatas, sebagaimana alam semesta biasanya dengan berbagai garis waktu bercabang tanpa batas.


Aku menciptakan total seribu lapisan dunia. Lapisan kedua berisi multiverse yang sama hingga seterusnya.


Oh, ini hanyalah omong kosong belaka.


Namun mereka berada di lapisan yang lebih tinggi, lapisan ini bukanlah perbedaan dimensi atau semacamnya, lapisan-lapisan ini bahkan tidak penting, jadi anggap saja semua ini adalah hiasan untuk perluasan arena.


Aku hanya menempatkan mereka sebagai ribuan lapisan yang membentuk multiverse arena ini. Begitu juga dengan satu multisemesta saja yang berisi alam semesta parallel lainnya di dalamnya dengan kemungkinan tidak terbatas.


Kamu bisa membayangkan isi dari dua multiverse. bagaimana dengan tiga? Apakah pikiran Anda sudah mencapai ujung nya? Menemukan akhirnya?


Kurasa tidak.


Dan tentu saja tidak akan.


Ini bukan sekedar multiverse arena dimensi tidak terbatas. Ini adalah tempat dimana realita normal tidak akan berlaku. Hukum fisika, matematika dan hal logis termasuk non-logis akan di bengkokkan disini sesuai keinginanku.


Dengan total 23.477.666.235 putaran, itu bukanlah putaran yang mengelilingi bumi yang sama berkali-kali. Singkatnya, setiap putaran akan berakhir dengan kehancuran bumi yang terbelah hingga ke intinya dengan kecepatan ini dan terhitung sebagai putaran baru pada dimensi yang berbeda.


Dan totalnya ada 23.477.666.234 bumi yang sudah hancur oleh gerakan ku. Ini adalah bumi yang ke-23.477.666.235. Aku tidak memutari yang satu ini, kurasa sudah cukup untuk menghantam wajahnya ke suatu tempat lagi, dan harus ku akui, dia seratus kali lebih kuat daripada Dyland, padahal mereka sama-sama bertarung melawanku sampai menggunakan transformasi ke-4.


Dia bahkan cepat, dan mampu merespon beberapa serangan ku dan membalas dengan serangannya yang lain.


Aku masih membuat tubuhnya berhenti bergerak seolah-olah membatu, membawa nya mengalami kehancuran jutaan kali. Tidak ku sangka dia beregenerasi begitu cepat hanya dalam sekejap mata, bahkan mata seseorang yang tidak berkedip tidak akan mampu menangkap kecepatan regenerasi nya.


Yang terakhir, aku melemparnya ke tanah hingga membentuk lingkaran yang bisa di lihat dari luar angkasa. Ketika dia bangkit kembali, kami saling memukul terus menerus hingga aku mendapatkan celah untuk menarik tangannya dari tubuhnya.


Aku menarik tangannya hingga putus, terpotong dari bagian lengan yang mendekati bahu, kemudian aku memukul nya berkali-kali dengan tangan nya yang ku putuskan. Hanya dengan memutuskan tangannya, sebenarnya ini tidak berarti apa-apa, karena tangannya sudah tumbuh lagi sejak ku putuskan.


Dia menjauh lagi dan memberikan sihir jarak jauh yang menghasilkan ledakan beruntun dengan skala besar.


Kemudian, dia terbang ke langit sambil menciptakan beberapa lingkaran kegelapan di belakang nya. Cahaya matahari yang di belakangi oleh nya menutup seluruh wajahnya pada kegelapan.


"Tcih. Cobalah untuk kabur dari ini." Ucapnya.


Dia menyerang ku dengan setiap lingkaran yang ada, serangan yang begitu cepat keluar dari setiap lingkaran sihir proyektil itu.


"Kabur dari ... apa??"


Serangan dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku, menghasilkan ledakan besar dimana-mana ketika mereka mengenai ku dan mengacaukan daratan. Semua tertutup oleh debu dan asap.


Sayang sekali, itu hanya menjadi tembakan yang percuma sejak awal. Inferno Wall harus ku aktifkan lagi hanya untuk membakar balik serangan beruntun yang begitu konyol.


"Ah, Ah, terlalu biasa!"


Aku langsung mengarahkan jariku ke langit, lubang-lubang yang tak terhitung jumlahnya terbuka seketika di tanah, mereka tidak terbuka di waktu yang bersamaan, namun secara acak terbuka hampir di waktu yang sama tanpa urutan yang jelas.


Gerbang neraka.


Inferno Gates.


Ini adalah salah satu tembakan andalan ku untuk menghujani seseorang menjadi roti lapis penuh tusuk gigi di atasnya. Ini bisa di buka di mana saja, satu gerbang, dua gerbang, sepuluh gerbang, gerbang yang tak terhitung jumlahnya sekalipun atau dengan ukuran yang bebas.


Dan kali ini, tanah retak sekejap dan menciptakan lubang tanpa dasar yang langsung terhubung dengan Neraka.


"Sepertinya itu adalah tembakan yang kurang menarik, biarkan aku menunjukkan padamu, tembakan sebenarnya dari Neraka." Ucapku masih dengan tanganku yang menunjuk ke langit.


Pedang-pedang, tombak, kapak, atau apapun yang berasal dari neraka keluar lebih cepat ke langit bersama api yang membakar kehampaan, kecepatan yang tidak bisa di hitung oleh rumus apapun, dan tidak bisa di simpulkan melalui kalkulasi apapun untuk mengukur kecepatan tembakan kh.


Semua melaju menjadi tembakan yang menabrak tembakan.


Serangan beruntun api cahaya kecil bertabrakan dengan harta-harta Neraka. Dia akan kalah lagi jika mengadu sihir denganku.


Sudah pasti dia akan kalah.


Langit bergemuruh lagi, seolah-olah dimensi akan pecah berkeping-keping. Aku menggeser langit dimana angkasa akan membuka lubang-lubang dari neraka yang tidak terhitung jumlahnya. Langit menjadi merah oleh cahaya dari neraka. Merah gelap menindas dengan gerbang-gerbang yang tercipta dari awan kegelapan, mengelilingi gerbang alternatif Neraka.


Tidak hanya terbuka beberapa lubang neraka di bawah tanah, bahkan aku menghubungkannya sampai ke langit. Membuat tembakan atas dan bawah, kanan dan kiri.


Aku menyerang nya dari segala arah.


Ribuan, jutaan, bahkan tidak akan pernah terhitung jumlahnya.


Senjata-senjata iblis dari Neraka naik dan turun ke sini. Dari Neraka lapisan tertinggi yang terdalam. Datang bersama api yang mampu membakar seluruh alam semesta ini menjadi debu. Kini, kehancuran datang dari segala arah. Melaju tak terhingga ke arah orang di depanku.