
Hidupku benar-benar terasa menyedihkan, seperti kalimat dari beberapa film, suatu karakter menyebutkan bahwa dirinya cocok sendirian, di samping itu, tokoh lainnya juga mengatakan hal yang sama tentang pandangannya pada suatu karakter yang suka menyendiri. Tapi seperti itulah diriku, aku suka melakukan segalanya sendirian, terasa mudah, tanpa beban, dan lumayan berjalan sesuai keinginanku.
Tapi, ada saat di mana aku juga merenung, bahwa tidak memiliki teman rupanya seburuk ini. Lagipula, siapa yang mau berteman denganku sekarang? Karakterku telah terpasang di iklan-iklan perkotaan besar sebagai seorang predator gila, hanya menunggu waktu saja bahwa suatu hari mungkin aku akan kalah, rencana ku gagal, dan identitas ku terungkap. Bahkan orang-orang dari masa lalu ku akan segera mengenal ku bahwa orang yang mereka kenal adalah orang gila.
Seperti itulah Aiden merenung sekejap kemudian bertengkar dengan segala isi kepalanya, dia ingat bahwa sebelum semua ini, dia hanyalah seorang mahasiswa biasa yang memang telah mengalami kerusakan mental. Dia kadang berbicara sendiri ketika dia baru bangun, itu terasa menyenangkan baginya. Bahkan beberapa temannya sering menjadikannya lelucon dengan merekamnya ketika dia di antara sadar dan tidak sadar namun berbicara sendirian.
Ingin di katakan bahwa itu adalah efek otak yang belum sepenuhnya bekerja ketika seseorang bangun dari tidur, tapi Aiden tidak hanya seperti itu, dia benar-benar mengalami hal serupa dalam keadaan sadar di mata orang lain. Seringkali dia terbangun di tengah malam saat itu, mencoba meyakinkan dirinya bahwa fajar telah tiba, tapi tidak.
Emosi nya sering berubah begitu drastis, seperti bagaimana dia tertawa dan tiba-tiba marah tanpa sebab di karenakan tekanan mental yang tiba-tiba dan kemudian mengacu pada emosi nya. Di sosial media, dia juga pernah melihat sebuah video yang hanya berisikan kata-kata, di sana tertulis bahwa begitu banyak orang memang normal, tapi mereka begitu geli dan mencoba menjauhi teman yang memiliki emosi aneh dan tiba-tiba marah tanpa sebab.
Melihat kalimat dari video pada saat itu, Aiden merasa seperti memandang sebuah cermin atau sedang di hina oleh media sosial. Dia tersinggung walau itu memang benar, jadi, dia pernah bertanya-tanya mengapa dirinya seperti itu. Sebelum menjadi individu yang introvert, Aiden dulu memiliki banyak teman, hubungan, dan sebagainya entah itu di real life maupun sosial media.
Ketika Aiden masih duduk di bangku kelas dua SMA, dia pernah mengagumi banyak fiksi, rasanya mengagumkan ketika seseorang mampu menulis sebuah cerita dengan pikirannya sendiri, kemudian dia mencobanya pada saat itu, walau penuh dengan hal-hal konyol. Di tahun berikutnya, dia menulis satu cerita lagi yang merupakan cerita kesukaanya hingga saat ini.
Awalnya fiksi-fiksi itu di tujukan hanya untuk membentuk suatu karakter dengan kemampuan di luar batas kemanusiaan, tapi pada awalnya dia sadar bahwa itu lumayan sinting hingga akhirnya dia terus mengakali naskah dengan mengubah sang karakter utama menjadi karakter yang tidak berarti. Menulis hal itu, dia benar-benar gembira ketika menyiksa seseorang walau melewati sebuah tulisan.
Dan itulah awal mula di mana dia menulis bagian-bagian kejam pembunuhan yang menarik minatnya entah darimana itu. Dia menulis tentang bagaimana karakter utama yang merupakan penjahat bersenang-senang ketika mencabik-cabik organ korban dengan pisau kemudian menggantung tubuh mereka di langit-langit dan memenuhi darah ke segala arah. Itu gila, tapi dunia nyata mewujudkannya menjadi cerminan hidupnya.
Jika dia menjadi seperti ini, segila ini, hanya karena dirinya sendiri, maka dia pernah berpikir apakah seseorang memang menikmati dirinya sebagai fiksi, begitulah pemikirannya pada saat itu. Aiden pernah percaya ketika dia masih di bangku kelas tiga sekolah menengah atas, duduk di depan layar komputernya bersama rokok dan sebotol vodka, dia berpikir bahwa dirinya mungkin hanyalah karakter fiksi yang luar biasa di dambakan oleh penulis di luar pikirannya. Mungkin saja itu ada.
Hari ini telah di selesaikan.
Dua minggu sebelumnya, atau tepat ketika malam pertama Aiden bertemu dengan Erine dan bawahan dari kantornya di sebuah bar kota, dia sudah berpikir keras bahwa ada suatu motif jika seseorang dengan jabatan yang lumayan baik dalam perusahaan mencoba menyewa pembunuh bayaran. Tapi dia bukan pembunuh bayaran, Aiden hanya melakukannya untuk bersenang-senang karena rasa pasrah atas dirinya.
Tebakannya saat itu hanyalah dua hal, yang pertama menyingkirkan pekerja yang bersaing dengannya, atau menyingkirkan atasannya sendiri. Aiden bisa menebak seperti ini dengan cepat melalui pengalamannya dari berbagai film-film pembunuhan dengan adegan-adegan transaksi narkoba, atau pasar gelap yang menjual senjata api ilegal, hal-hal berbau seperti itu sudah tidak asing di matanya.
Maka ketika Aiden pulang di malam itu dengan keadaan yang akhirnya mabuk, dia tertidur panjang hingga bangun kembali pada pukul dua belas siang. Bagi kebanyakan orang, kebanyakan mengonsumsi alkohol di malam hari akan membuat bangun tidur terasa sangat melegakan, di malam itu, Aiden mengonsumsi terlalu banyak alhokol dan mencoba manahan dirinya agar tidak hilang kendali.
Tapi ketika pengemudi online mengantarnya pulang, dia bahkan memejamkan matanya begitu dalam, bangun kembali ketika dia sudah sampai di depan gerbang rumah. Aiden yang dalam kondisi mabuk berat sempat menabrak pagar rumahnya sendiri, dan sebenarnya itu cukup menyakitkan hingga membuatnya terjatuh. Kondisinya lebih buruk dari pada Dave yang dicekoki olehnya.
Pukul dua belas siang di hari itu, dia bangun dan tersadar kembali bahwa ada hal yang harus dia lakukan. Aiden pergi menuju ke sebuah tempat yang di kenali mirip seperti warnet, tapi bedanya tempat itu bukan hanya tempat serupa warnet yang menyediakan komputer dan internet, tempat itu adalah sebuah tempat yang bahkan bisa di gunakan untuk memesan tiket transportasi berupa mobil, kereta, hingga pesawat, paket liburan dalam negeri maupun luar negeri, juga bisa menjadi tempat untuk pendaftaran lamaran kerja secara online.
Karena Aiden kurang mengerti soal pendaftaran dalam situs website, jadi dia menyerahkannya pada pihak seperti ini, dia hanya duduk di sana sekitar tiga jam. Admin hanya perlu bertanya tentang data dirinya, atau informasi-informasi status lainnya mengenai jenjang pendidikan terakhir, dan sebagainya yang akan di jawab ke dalam sesi pendaftaran lamaran kerja.
Dan inilah kebenaran yang lebih mengejutkan, Aiden telah menggunakan identitas palsu sebagai Valo Kairi sebelumnya, di malam ketika dia mabuk berat, Aiden masih membeli sebotol anggur dan menyimpannya di dalam tas kantong hitam ekslusif dari bar. Tas itu benar-benar terlihat seperti tote bag. Tidak hanya dirinya, di malam itu Razel tidak sengaja mencoba mencicipi sedikit atas saran Aiden.
Itu adalah pertama kalinya bagi Razel meminum alkohol, tapi hanya dengan enam gelas dalam takaran seperdua berturut-turut, dia tidak mampu lagi mempertahankan akalnya. Itu sebabnya Razel akhirnya sadar bahwa di hari itu, dia terbangun tanpa busana dan telanjang total di balik selimut tebal karena mereka mabuk dan tidak sadar melakukan hubungan suami istri. Aiden terkadang tersenyum sendirian ketika mengingat hal itu.
Tapi setelah semua itu, rencananya berhasil membuat Razel mabuk dan menghipnotisnya untuk menuruti perintah Aiden dalam menciptakan semua berkas dan identitas palsu mengenai Valo Kairi, tidak ada yang tahu hal ini. Tapi tiga hari yang lalu pesan notifikasi masuk ke dalam ponselnya yang merupakan pesan konfirmasi dari PT Golden Box yang berisi pesan selamat karena dirinya telah di terima untuk bekerja di sana. Hari ini, adalah satu langkah keberhasilan dari rencana Aiden.