Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 42 : Devil dragon meat burger




Hari ini adalah hari dimana seleksi untuk masuk ke kelas elit tiba. Aku dan Marie sudah membuat perjanjian, bahwa kami berdua akan naik ke kelas elit. Dia tentu saja akan membantuku untuk mencapai kelas itu.


Tidak hanya itu, Eiji juga akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa satu kelas denganku lagi. Menantikan kelas baru dimana murid-murid dengan hati yang busuk tidak perlu ada di hadapanku.


Aku...


Marie, pacar palsuku...


...Dan Eiji teman baikku.


Tentu saja, kita akan mencapai kelas itu, itu mungkin adalah hal yang mudah dengan adanya Marie di sisiku. Tapi ini sempurna ... ketika aku menjadi manusia menyedihkan yang belum pernah berpacaran, namun aku memiliki gadis yang tidak akan bisa kumiliki di dunia manusia, berpacaran langsung dengan ratu iblis walau ini hanyalah hubungan palsu.


Gadis berambut merah, cantik, jahat, gila, dan banyak lagi. Semua kesukaanku ada pada Marie, suatu hari nanti aku akan menyebutnya dengan Haumea, mungkin nanti ... ketika aku sudah berhasil menjadi raja iblis.


Tangan lembut yang jahat ini terus menggengam tanganku dengan erat, bergandengan dan tidak ingin melepaskan ku. Marie terus bersamaku mulai saat itu. Dan hubungan palsu ini sudah berlangsung selama satu bulan lebih sejak saat itu.


"Bagaimana? Apakah kamu siap?"


"Hahaha ... tentu saja, ini akan menjadi mudah, bagiamana denganmu?"


"Jangan remehkan aku!!"


Ucap Marie sambil menarik rambutku dengan marah. Bahkan jika dia usil ataupun marah, dia akan sering menarik rambutku, dan jika itu menjahiliku, dia akan mencabut sehelai rambutku dengan kekuatan tak terhingga seperti rasanya otakku akan tercabut bersama sehelai rambut itu.


Tapi pemandangan tidak menyenangkan setelah sekian lama hadir lagi, ketika mereka adalah anak-anak yang menerima seranganku waktu itu, tentu saja Cade dan teman-temannya yang begitu menyedihkan, berjalan di dekat kami berdua.


"Wah! Wah! Wah ... lihat, gadis dari keluarga yang tidak di kenal menggunakan almamater merah, setelah tidak sekolah begitu lama dia hadir kembali dan bahkan ... apa-apaan itu?"


Kemudian salah-satu temannya menjawab :


"Mereka berpacaran mulai sekarang."


"Apa?! Gadis ini bahkan memiliki selera yang buruk, bahkan dia menyukai lelaki tanpa bakat ini."


Cade tertawa diikuti semua temannya dengan tawa yang begitu mengejek, bahkan setelah menerima serangan yang tidak di ketahui itu, membuat mereka sekarat, mereka tidak berubah satu persen pun, sifat mereka akan tetap sama, pengaruh buruk yang entah darimana sampai mendidik mereka seperti ini.


Aku tahu tangan Marie terasa hangat dan semakin memanas, biasanya dia akan langsung menampar seseorang, itu mungkin saja, seperti yang di lakukannya padaku.


Aku hanya membuat suhu tubuhku untuk tetap dingin menyaingi suhu panas itu, membuatnya mengerti dan tenang akan tindakannya. Sampai Cade dan teman-temannya pergi meninggalkan kami berdua sambil terus tertawa mengejek, padahal tidak ada sesuatu yang lucu. Tapi aku hanya akan menyinggung dengan satu kata.


"Cade..."


"...Serangan yang waktu itu di belakang sekolah, bagaimana menurutmu? Bagaimana menurut kalian? Apakah itu masih kurang? Kurasa kita semua bisa bertemu lagi jika kalian semua akan merasakan tamparan yang lebih keras lho~ Hahahahaha!"


Mereka semua terdiam bisu dari tawa menjengkelkan itu, mereka pasti akan trauma jika harus diingatkan lagi dengan rasa itu. Aku hanya meninggalkan mereka semua, dengan Marie yang heran mengapa aku bisa membuat mereka semua terdiam bodoh seperti itu.


"Apa? Serangan apa yang kamu lakukan?"


"Kurasa hanya pelajaran kecil untuk mereka, lagipula, itu berkat bantuanmu, membuatku menyamar menjadi seorang gadis untuk menyelamatkan Eiji. Tapi, wajahmu terasa seperti marah, ada apa?"


"Aku sangat ingin menampar mereka semua dalam sekali pukulan."


"Kenapa tidak di lakukan? sebenarnya aku tidak ingin kamu melakukan itu."


"Itu karena emosi ku yang melewati batas, pukulanku bisa menewaskan mereka semua seketika hanya dalam sekali tamparan angin. Sungguh! Aku seperti ingin merobek-robek mereka semua."


"Ingin bersenang-senang menghajar mereka lagi setelah ujian?"


Aku mengarahkan tanganku lagi padanya, berniat mengajaknya mengelilingi sekolah lagi sambil terus bercanda lebih banyak daripada di rumah.


"Aiden!!! Sangat-sangat-sangat tidak ingin membuatku menolak."


Marie sangat tersenyum dengan ajakanku, ini karena kita akan menyiksa anak-anak itu lagi, aku tidak ingin membiarkan Marie memukul mereka sampai mati, itu masih belum merasakan siksaan yang kuat. Mereka harus tetap hidup untuk menerima rasa penindasan balik dariku.


Kejadian yang bahkan menghancurkan bagian gedung-gedung belakang sekolah itu, Aiden menyinggungnya lagi. Membuat mereka semua bergetar hebat di dalam hati karena ketakutan jika merasakan serangan seperti itu lagi.


Tulang-tulang mereka patah dengan banyak di saat itu, retak-retak pada sendi dan banyak lagi luka dalam yang tentu saja membuat mereka hampir kehilangan nyawa, untung saja mereka di selamatkan dengan cepat. Terutama Cade sembuh lebih dulu dengan pengobatan healing ekstra dari keluarganya. Keluarga bangsawan memiliki banyak keluarga besar yang dapat di andalkan, entah dari sihir, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Namun sayang sekali ... jika mereka masih berani lagi berniat buruk terhadap ku, atau bahkan sampai menyentuh Marie, jangan harap mereka masih bisa hidup untuk hari esok.


Di jalan dekat taman-taman sekolah, Eiji menemui kami. Dia bahkan membawakan tiga kantung kertas berwarna coklat yang entah apa isinya.


Sambil berjalan dengan cepat menghampiri kami : "Aiden! Marie!"


"Apa itu?"


"Ini Makanan! Ayo kita memakannya bersama, sebelum memulai semua uji coba seleksi."


Eiji menuntun kami semua ada tempat duduk yang cukup luas dengan meja di bawah pohon peneduh yang cukup rindang dan terasa sejuk. Disini tidak terkena area panas Ishan. Beberapa pohon lain juga memiliki meja yang di tempati oleh murid-murid lainnya. Mereka melakukan aktifitas lain selain makan, entah berbincang dengan sesama teman mereka, atau semacamnya.


"Ambillah, ini gratis, kalian tidak perlu membayarnya." Ucap Eiji sambil memberikan kantung kertas itu masing-masing pada kami.


"Jadi? Hanya aku atau kamu adalah teman baik Aiden yang lainnya?"


"Sepertinya begitu, aku bahkan sama seperti Aiden, bedanya, aku menjauhkan diriku dari mereka hanya karena ingin menjebak seseorang dengan rencana busuk."


"Aku menghargaimu atas itu, dan atas makanannya terima kasih, mendapatkan kata terima kasih dari seorang ra-"


Umpphhh!!!


Aku segera menutup mulutnya yang sepertinya tidak bisa di rem lagi, dia pasti akan mengucapkan bahwa dia adalah ratu iblis, dengan bicaranya yang angkuh setiap kali mengatakan seperti itu. Tapi sekarang aku bisa berbicara secara telepati bersamanya. Ini keajaiban sejak beberapa waktu yang lalu.


Tutup mulutmu! Kita berada di lingkungan sekolah, jangan ucapkan ratu atau semacamnya yang bisa membuat orang lain menjadi heboh. Aku memperingatinya seperti itu.


"Kalian kenapa? Tampaknya kalian adalah pasangan yang cukup lucu." Ucap Eiji.


Benarkah?


Marie kemudian memaksa tanganku untuk lepas dari mulutnya, dengan marah dan menggigit tanganku. Itu benar-benar terasa sakit, bahkan bekas gigitan itu memerah ke bagian tanganku, seperti kucing yang mengigit dengan sangat erat, sampai taring itu akan menembus ke dalam kulitku.


"Lepaskan!! Jangan menutup mulutku terlalu lama!!" Ucapnya dengan marah.


Kami semua hanya melanjutkan kembali bersama untuk membuka masing-masing dari tas kertas coklat kecil ini. Berisi sebuah roti bulat dan ini memang terlihat tidak asing, hal seperti ini juga ada di dunia iblis, walau ukurannya sedikit berbeda, agak lebih besar sedikit. Dan ini seharusnya di sebut burger di dunia manusia, aku cukup suka memakannya, dari penjual jalanan, McDonald, atau mungkin yang ada di KFC.


Rasanya bisa saja berbeda-beda, namun selama semuanya menggunakan daging ayam, itu tidak terlalu masalah, karena aku pernah merasakan satu dengan daging sapi, rasanya tidak sesuai seleraku.


Eiji sudah memakan benda itu lebih dulu, begitu juga Marie, daripada menyebutnya benda, mungkin aku menyebutnya saja dengan nama burger iblis, karena aku tidak tahu disini dinamakan seperti apa.


Marie yang memakan satu gigitan dengan cepat, kemudian langsung memberi bekasnya padaku.


"Rasakanlah sebelum kamu memakan milikmu."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Makan! atau sehelai rambutmu akan ku cabut lagi dari kepalamu."


"Baiklah ... baiklah!"


Aku bahkan memakan burger iblis bekam gigitan Marie, Eiji hanya memandang kami berdua, Marie yang terus memarahiku dan mengaturku, Eiji pasti menggangap bahwa Marie sedikit jahat dan mengerikan, andai dia tahu betapa jahatnya gadis ini.


Satu gigitan kuberikan pada burger yang di berikan Marie, membuat perasaanku berubah seketika, rasa enak ini, seperti rasa daging naga iblis yang ada di restoran malam itu, namun yang ada di restoran itu sedikit lebih enak daripada ini. Sebelas dengan sepuluh, itulah perbandingannya, tidak berbeda jauh rasanya.


"Marie! Apakah ini daging naga iblis? Ada di dalam sini?"


Sambil menganggukkan kepalanya berulang kali : "Humm ... humm ... benar, bagaimana? Enak bukan?"


"Enak!! Benar-benar enak! Teringat akan restoran malam itu."


"Hah? Restoran?" Tanya Eiji.


"Yap! Aku mengajak Marie berkencan di restoran mewah dan tanpa sadar memesan daging naga iblis yang begitu enak."


Oh! Kenapa aku berbicara jujur seperti ini?


"Aiden, daging naga iblis merupakan daging nomor satu paling enak dari segala daging yang ada di dunia iblis, tentu saja rasanya tak terkalahkan, harganya mahal, bukan?"


"Benar! Mahal!!"


PFTTT!!!


Walau aku mengatakan mahal, sebenarnya aku dan Marie waktu itu hanya membawa selembar uang dan menggandakannya dalam jumlah banyak, sehingga kami akan terlihat seperti orang kaya. Hahahaha!


"Berhenti mengoceh terlalu banyak, tuan, sekarang berikan balasan itu untuk nona ini, aku baru saja menerima satu gigitan awal."


"Baiklah, baiklah."


Tapi, Marie menampar tanganku lagi, dengan alasan bahwa dia tidak ingin di berikan begitu saja, dia ingin aku memotong burgerku yang bahkan belum di gigit sedikit pun, di potong dengan bagian kecil hanya untuk menyuapinya, kurasa itu membuatku sedikit malu, daripada seperti itu, lebih baik aku menahan malu lagi, daripada harus menahan sakit ketika dia mengancam akan menusuk jantungku di ruang lain.