Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 104 : First Owner




Kami meninggalkan rumah ini lagi dalam keadaan sunyi, aku menciptakan kunci baru sesuai dengan lubang yang ada pada pintu itu.


Memindahkan kami langsung di keramaian, perpindahan dalam sekejap yang tidak akan terlihat oleh mata siapapun. Dengan begini, kami bisa sampai langsung ke pusat perbelanjaan di kota.


Marie benar-benar terlihat seperti orang kampungan. Dia bilang, dia pernah melihat semua ini, tidak hanya sekali dua kali, namun dia menggunakan penglihatan mata scarlet nya untuk memantau para Iblis Scarlet, dia mengawasi apa yang mereka kerjakan.


Tentu saja, dia sudah sering melihat banyak hal aneh di dunia lain, seperti dunia modern, dunia masa lalu, kerajaan, mobil sport mewah, pesawat terbang, dan banyak hal lainnya. Namun, dia tidak pernah melihatnya secara langsung, bahkan sekarang, dia tidak melihatnya juga secara langsung. Hanya bisa merasakan seperti apa rasanya berada di dunia manusia.


Merasakan seperti apa rasanya melihat sebuah mobil yang bergerak sebagai kendaraan di dunia manusia modern. Masih ada begitu banyak hal yang tak terhitung jumlahnya yang belum dia kenali di luar dunia nya sendiri.


Wajahnya tersenyum cukup lembut kali ini, bahkan, aku akan memperlihatkan padanya, apa itu handphone dan bagaimana cara menggunakannya.


Kami menghabiskan malam cukup panjang untuk berkeliling di pusat perbelanjaan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan soal uang, kami memiliki apa saja jika harus membayarnya dengan uang. Karena konsep uang di dunia ini, telah ku ubah.


Jika memerlukan langkah yang lebih maju lagi, maka bukan konsep uang untuk satu dunia saja yang ku ubah, melainkan konsep uang di seluruh alam semesta. Tapi, itu benar-benar tidak penting, dan bukan urusanku.


Beberapa jam kemudian, kami membawa begitu banyak barang, terutama di tanganku, tas belanjaan ini benar-benar di penuhi dengan baju, menyebalkan! Tidak di kehidupan manapun, wanita selalu merepotkan.


Dia benar-benar belum pernah melihat baju-baju di dunia manusia, awalnya dia melihat beberapa dari luar toko ketika kami di jalanan, tapi Marie menarik tanganku dengan erat untuk merubah jalur lagi untuk pergi ke toko pakaian.


Awalnya dia hanya mencoba satu pakaian dan berniat membeli satu saja, tapi kini ada begitu banyak pakaian yang di pilihnya.


Mobil-mobil yang berhenti dengan rapi dan sejajar di sepanjang pinggiran jalan ini sepertinya adalah taksi, namun, mobil mereka cukup bagus. Aku mencoba mendekatkan diriku ke kaca, ketika kaca sebelahnya turun dan memperlihatkan wajah sopir tersebut.


Dia bertanya padaku, apakah aku ingin memesan taksi, awalnya aku tidak menjawab dan terdiam beberapa saat karena memikirkannya, tapi, aku menjawab "Ya" setelah itu. Marie masuk lebih dulu, dan aku mengikutinya, semua barang belanjaan kami muat dan akan mudah jika dengan hal seperti ini.


Alasan aku tidak berteleportasi begitu saja adalah karena Marie, dia bilang padaku untuk mencoba benda ini, dia bahkan belum pernah melihat isi dari benda ini, jadi kebetulan ini adalah taksi.


Dia bahkan melihat kesana-kemari dari dalam sini, sebuah bangunan kota yang menjulang tinggi dengan cahaya lampu yang tak terhitung di mana-mana. Dia sebelumnya juga bertanya padaku dan berkata "Benda ini menyenangkan." Sampai itu jelas terdengar di telinga sopir tersebut, sopir itu bahkan tersenyum menahan tawa karena Marie menyebut mobil ini dengan sebutan benda tanpa tahu namanya.


Lalu, aku menjawab padanya bahwa ini adalah taksi, sebuah kendaraan non-pribadi yang di gunakan untuk angkutan umum, mereka akan mengantar seseorang dan meminta tarif tergantung dua pandangan. Dari jarak seberapa jauh tujuan yang akan di tempuh, dan kesepakatan antara penumpang dan sopir.


Kami melihat pemandangan kota malam di kanan dan kiri, melewati jalan tol dengan cukup cepat. Jalan-jalan yang melayang cukup banyak, sepertinya ini sebuah negara yang cukup makmur dan berkembang.


Hanya satu jam lebih dalam perjalanan, kami sampai ke rumah sebelumnya yang telah di tuju dengan map. Bayarannya juga tidak terlalu mahal. Setelah turun dengan beberapa tas belanjaan, mobil itu pergi meninggalkan kami, menuju penumpang selanjutnya.


Sekarang, seseorang sedang berdiri di depan pagar rumah ini, menengok kesana kemari ke dalam rumah, seperti mencoba memanggil seseorang dari dalam. Dan kami menghampirinya sambil bertanya.


Seorang lelaki berumur sekitar empat puluh tahunan, bisa ku tebak. Saat menghampirinya, dia memandang ke arah kami berdua dan bertanya apakah kami menghuni rumah ini? Aku kemudian menjawab yeah.


"Maaf, aku adalah pemilik rumah ini, dan rumah ini bahkan di huni tanpa sepengetahuan ku, kamu bisa terkena pelanggaran berat pada hukum." Ucap lelaki itu.


"Tuan, rumahmu akan segera ku beli, jadi, maaf karena menempati tempat ini begitu saja tanpa sepengetahuan, sekarang, mari kita masuk ke dalam untuk menyepakati penjualan ini."


"Tunggu, dimana orang tua kalian?"


Tanya nya lagi.


"Orang tua yeah, kami tidak memiliki orang tau, aku hanya tinggal bersama saudaraku."


Ada begitu banyak yang harus di perbincangkan, setelah mengajaknya masuk, dia kembali ke dalam mobilnya untuk mengambil sesuatu. Jadi, aku menunggu di dalam dan mengatakan pada Marie untuk menyeduhkan teh kepada pemilik rumah sebenarnya.


Saat dia menolak, aku menggerakkan tubuhnya untuk berjalan sesuai keinginanku, memasak air dalam dua detik dan menuangkannya di sebuah cangkir. Akan tidak sopan melayani tamu tanpa seduhan apapun.


Setidaknya ada beberapa cangkir teh di atas meja ini, dan beberapa biskuit yang baru saja kami beli, aku merobek semuanya dari bungkusan dan meletakkan mereka ke sebuah piring. Biskuit juga enak ketika mereka di celupkan ke dalam teh, kemudian memakannya secara perlahan.


"Silahkan, tehnya, maaf jika kami tidak memiliki banyak hal."


"Oh, tentu, tidak apa-apa, aku memaklumi hal tersebut, tapi aku sekarang berada disini untuk sebuah kesepakatan di antara kita. Aku masih belum yakin seorang yang terlihat seperti anak SMA sepertimu mampu membeli rumah ini."


"Apakah rumah ini mahal? Sepertinya begitu."


"Kamu akan segera melihatnya di dalam surat pernyataan ku. Dan kamu bisa membaca semuanya terlebih dahulu."


Setelah itu dia mengeluarkan beberapa kertas dan beberapa di antaranya yang di staples pada ujung kiri kertas itu. Aku melihat isi halaman pertama nya terlebih dahulu. Surat tanda pembelian rumah.


Ada begitu banyak syarat di dalam sana, aku membaca semuanya dalam sekejap, hanya dengan menyentuh kertas itu saja, aku bisa tahu semua isinya langsung. Dan beberapa yang menjadi masalah adalah identitas kartu kependudukan, aku bahkan lupa untuk membuat kartu ini.


Bahkan, dia meminta sebuah syarat untuk kartu keluarga, aku bahkan tidak memiliki kedua hal ini, Marie hanya terdiam berdiri di sampingku.


Marie: "Apa saja isinya?


Kemudian aku memberikan lembaran ini padanya, dia mulau membacanya dari halaman awal juga dalam beberapa menit. Namun, tidak ada masalah apapun. Kecuali dia berhenti membaca dan menatap ke arahku dengan tatapan kosong yang binggung.


Marie: "Eh? Kartu indentitas kependudukan yeah, dan juga ... kartu keluarga, em..."


Lelaki itu hanya terdiam sesaat, terus mereguk kembali teh nya bersama biskuit di meja. Menunggu jawaban dan kesepakatan dari kami berdua, aku juga menunggu keputusan yang akan di katakan Marie, jika tidak ada keberhasilan dalam negosiasi, maka jalan selanjutnya adalah pembelian paksa melalui manipulasi.


"Maaf, sepetinya kami adalah penduduk baru yang tinggal di negeri ini, bukan begitu, Aiden?"


Ucap Marie dengan kalimat tanpa rencana.


"Yap."


Dia memandang wajahku sebentar, melakukan kontak mata yang sepertinya melakukan isyarat di dalam mata merahnya itu untuk melakukan sesutau terhadap surat ini.


Sepertinya dia memiliki rencana baru untuk membuat lelaki ini menerima kami sebagai orang yang membeli rumahnya. Memenuhi segala syarat dan perjanjian yang ada.


"Kami ... kami sebenarnya belum memiliki kartu identitas kependudukan, dan soal kartu keluarga atau semacamnya, mungkin kami belum punya, dan akan segera kami miliki setelah kami berdua menikah, bukankah begitu, Aiden?" Ucapnya sambil tersenyum padaku.


PRUUUFTTT!!


Lelaki ini segera menyemburkan teh yang di minumnya, wajah nya segera berubah menjadi tak karuan dan berhenti menyantap apapun.


"Tunggu dulu! Kamu tadi mengatakan bahwa kalian tidak punya orang tua? Bukankah kalian bersaudara?" Tanya lelaki itu dengan terheran-heran.


"Sebenarnya begitu, ini adalah Aiden, adik lelaki ku, dan aku mencintainya. Tidak ada hambatan walaupun kami memiliki hubungan darah kakak beradik, kami akan menikah karena cinta, melakukan banyak hal bersama."


SIAAALLLL!!!!


Ini berbelok dari naskah yang kuharapkan, dia mengatakan hal yang tidak-tidak, aku benar-benar merasa malu lagi terhadapnya. Apa-apaan ini, sekarang bertukar posisi, dia menempatkan dirinya sebagai kakak ku, dan aku adalah adiknya yang mencintainya? Apa-apaan.


Lelaki itu ingin mengucapkan sesuatu, tapi lidahnya seperti terlipat karena omongan konyol ini.


"Tapi, bukankah ini tidak apa-apa sekarang? Lagipula, di dalam surat ini tidak ada syarat untuk kartu kependudukan atau kartu keluarga dan status kawin apapun itu, benar bukan?"


Ucapku pada lelaki itu.


Nama lelaki ini adalah Willy Ardolph sesuai yang kuduga pada keterangan pemilik rumah pertama, umurnya memang empat puluh tahunan, dan disana tertulis sebagai empat puluh tiga tahun.