Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 70 : Can only cook instant food




Marie, perhatikan baik-baik dua kemasan ini, semuanya sama-sama beku dari freezer pendingin paling atas.


Yang di tangan kananku ini, adalah nugget, merupakan makanan dari bahan baku nya yang merupakan potongan-potongan daging ayam, tepung-tepungan, dan bumbu lainnya, mereka diolah dengan cara di giling menggunakan mesin di campurkan dengan pengemulsi, air, bumbu, dan tepung sehingga menjadi emulsi.


Dan yang ada di tangan kiriku ini, adalah kentang, atau bisa di bilang stik kentang yang terbuat dari potongan-potongan kentang. Antara kentang dan nugget ini, aku memasaknya dengan cara yang sama, menuangkan minyak goreng ke penggorengan ini, menunggu beberapa detik sampai minyaknya panas.


Ku masukkan beberapa nugget dan kentang secukupnya, namun aku menuangkan banyak ke dalam sana. Nugget dan kentang di atas minyak panas secara bersamaan. Kemudian aku menaburkan gara secara merata seperti kesukaanku, sebenarnya aku suka ketika mereka sedikit asin. Namun itu bisa membuat kepala menjadi sakit.


"Ya, ya, hal seperti ini kurasa ada di dunia iblis juga, aku tahu, tapi nama mereka bukan nugget atau kentang goreng." Ucap Marie.


Lalu? Apakah kamu tahu cara memasaknya?


"Ya, dengan sihir, kalau tanpa kekuatanku kuarsa itu akan berwarna menjadi coklat yang menyerupai hitam dengan bau hangus."


Sudah kuduga! Jangan menggunakan kekuatan jika hanya memasak, kamu memang tidak berbakat, sudahlah.


"Jangan menyebutku begitu!"


Sudahlah, jangan cerewet, lihatlah minyak nya cukup panas, sekarang mereka semua yang berwarna kuning pucat akan menjadi kuning seperti emas yang mendekati warna coklat. Hingga itu tiba, mereka semua bisa di angkat secara bersamaan.


Aku mengambil kembali mangkuk besar mie itu, hanya mie yang ku masak sebanyak dua bungkus. Biarkan dia merasakannya, setelah itu ku letakkan semua kentang goreng dan nugget ini di atasnya.


"Nah! Sudah selesai! Buka mulutmu!"


Aku mengambil satu potongan nugget yang di potong kecil, setidaknya aku ingin merasakan sensasi menyuapi seorang wanita sekali lagi, ini adalah kesempatan hahahaha...


Jadi, Marie menurutiku untuk membuka mulutnya dan menerima potongan nugget panas ini, dia segara memakannya dan mengunyah perlahan sampai wajahnya berubah drastis.


"Aiden! Ini benar-benar enak! Berikan padaku."


Ucapnya sambil mencoba merampas mangkuk ini.


Hah? Kenapa kamu ingin merebut semuanya, aku juga mau makan, lihatlah malam ini aku bahkan hanya memakan sup lendir menjijikan.


"Tidak ada lagi selain ini yang bisa kamu masak?" Ucap nya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Yahh, sayang sekali. Aku hanya bisa memasak mie instan, nugget dan kentang instan ini secara bersamaan, ini adalah kombinasi makanan sempurnaku sejak di dunia manusia, bagaimana enak bukan?


"Enak kukatakan enak, tapi kamu ternyata juga tidak memiliki bakat memasak selain merebus air dan memasak mie bersama makanan instan tinggal goreng, kamu sebut dirimu berbakat huh?"


Sejak kapan aku pernah menyebutkan bahwa diriku berbakat dalam memasak? Aku hanya menunjukan kemampuanku, setidaknya aku bisa daripada kamu yang melakukannya jauh lebih buruk dari pada kata tidak berbakat.


Dan begitulah aku berdebat lagi dengannya, namun harus berbagi satu mangkuk mie penuh nugget dan kentang ini berdua. Rasanya membuatku kenyang dan pusing, rasa mengantuk juga mulai membuatku ingin tertidur di sofa lembut ruang tamu.


Aku tidak akan naik ke atas, r-rasanya tidak ingin lagi beranjak dari sofa ini, pada akhirnya aku masuk ke alam mimpiku dalam bersama cahaya putih, menutup mataku perlahan dan berada di kesadaran mimpi.


Aiden Leonore


Suara seseorang terdengar.


Dimana ini? Apakah aku bermimpi?


Terlihat sebuah tempat berwarna putih buta memanjang dan meluas tanpa batas ke segala arah, yang ada hanya sebuah meja dan wajah anak laki-laki yang sebelumnya, dia memang hampir setinggi diriku.Dengan rambut putih dan bulu mata putih.


Siapa kamu?


Memangnya aku harus menyebutkan namaku?


Kamu perlu memperkenalkan diri dengan sopan sebelum berbicara dengan siapapun.


Begitukah? Kurasa itu tidak penting, tapi baiklah ... namaku adalah Alshian.


Alshian?


"Tentu, kamu memang bermimpi, tapi aku mengundangmu ke atas sini atas persiapan cerita selanjutnya."


Kamu memang tertidur, tapi selamat datang di tempatku, ranah sang penulis cerita. Kesadaranmu ku angkat ke atas sini dalam keadaan tidur. Beginilah ucapannya.


Ranah penulis? Ada dunia kosong seperti ini?


Katanya, dia akan mempersiapkan sebuah panggung atas cerita yang sudah dia rencanakan. Aku bahkan tidak mengerti siapa lelaki aneh ini. Aku tiba-tiba saja bertemu dengan dirinya disini.


Sebelumnya, kamu belum memberitahuku arti panggung cerita yang akan datang. Bicaralah dengan jelas.


"Kurasa orang sepertimu tidak perlu tahu apa-apa." Ucapnya sambil tersenyum.


"Tapi ... kurasa cerita tidak lama lagi akan bertemu pada bagian kehancurannya, kuharap kamu mengisi peran dan dialog yang telah di siapkan, hanya itu yang bisa kukatakan padamu, jadi aku akan menurunkan mu kembali ke duniamu."


Ak-Aku belum selesai bicara lho!!


Tunggu!!


Aku di usir dari tempat seperti itu, penuh cahaya putih yang luas. Kembali kepada sesuatu yang tidak di ketahui. Sekarang adalah hitam, kesadaranku sedikit terbuka keluar. Suara seseorang yang memanggilku.


Ketika kubuka mataku, itu adalah Marie bersama dua pelayanku yang lainnya, mereka semua menatapku dengan wajah kebingungan. Jadi aku berusaha untuk menyadarkan diriku dan mencari tahu situasinya.


"Aiden, Aiden, darimana saja kamu?"


Ucap Marie.


Hah? Aku dari tadi tertidur disini, ada apa?


"Tidak! Bohong, kamu pergi ke suatu tempat tadi, kamu keluar dari pintu depan dan menghilang secara tiba-tiba."


Sungguh, aku langsung berbaring di kursi ini setelah makan begitu kenyang dan membuatku akhirnya tertidur, kamu salah, kurasa itu adalah efek dari makanan ku yang terlalu enak. Jujur lah!


"Tidak mungkin, aku bahkan tidak menemukanmu dimana pun."


Ucapnya dengan tergesa-gesa.


Kuarsa aku hanya tidur daritadi sini,


Atau jangan-jangan itu bukanlah mimpi? Lalu apa maksudnya hal aneh dengan lelaki rambut putih itu?


Dia bahkan muncul sebelumnya sebagai sosok penampakan samar dalam mimpiku bersama dua orang itu, apa ini berarti dia adalah orang yang akan melakukan hal buruk terhadapku? Atau mungkinkah ... mereka semua masih hidup setelah kehancuran bumi itu?


Jika memang seperti itu, maka mereka semua akan mencari ku lagi, mereka mungkin akan datang dan mencoba membunuhku lagi. Kuharap mereka benar-benar mati setelah insiden itu.


"Aiden? Aiden, apa yang kamu pikirkan?"


Tanya Wanda.


Ehehehe, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong kenapa ini sudah jam lima pagi?


Kurasa kamu sudah menghilang sejak tadi malam, kami bahkan di perintahkan untuk mengelilingi seluruh kota dan tidak menemukanmu.


"Kamu menghilang kemana lagi? Kenapa mataku tidak bisa menemukanmu? Ah, padahal mataku harusnya melihat segalanya atas dunia iblis, aku menemukanmu lagi, dan ini adalah kedua kalinya." Ucap Marie dengan binggung bercampur sedikit banyak emosi.


Tapi aku disini sekarang, tidak ada yang perlu kalian semua khawatirkan.


SREEENHGG!!


Tiba-tiba sebuah borgol pada tangan kiriku terpasang bersama rantai yang terhubung ke borgol hitam pada tangan kanannya.


"Baiklah, dengan begini aku tidak akan khawatir. Segel rantai yang tidak akan putus oleh sihir, tidak akan hancur oleh keajaiban. Kamu tidak bisa lagi lari dariku jika begini, aku muak ketika kamu terus menghilang."


Lalu bagiamana aku akan bergerak kesana kemari?


"Mulai sekarang rantai ini ku segel dengan kekuatan besar ratu iblis, kamu tidak akan bisa membukanya, hahaha, Aiden~ kita akan selalu bersama kemana pun."


Oh, bagiku mungkin tidak masalah, tapi...


Aku terus berjalan bersamanya ke arah kamarku sendiri yang telah di ambil alih olehnya, mengoceh begitu banyak dalam perjalanan, padahal hanya naik tangga. Sekarang adalah alasan yang benar untuk membuka segelnya.


Anu... Marie, sekarang segelnya bisa di buka kan? Aku terlalu terkurung dengan hal semacam ini, ini berlebihan."


"Tidak, tidak, dan tidak! Jangan membantahku, mulai sekarang kamu juga akan mengikuti kemana aku pergi, ke dapur, ke halaman depan, menghirup udara pagi bersama."


Bukan, maksudku bukan itu, oh astaga rasanya aku tidak tahan lagi, langsung saja ke poin utama nya, bagiamana caraku ke toilet?