Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 61 : Perfect view




Kelas kami tidak ada, karena kami akan berhenti dalam pelajaran normal selama dua Minggu ini. Semua di fokuskan untuk latihan pertandingan nanti.


Tapi, aku memutuskan pada Valerie agar aku berhenti latihan, aku biarkan saja Leon dan Eiji akan menjalani latihan mereka yang selanjutnya yang akan datang dan lebih keras.


Valerie pasti akan memberikan mereka latihan yang lebih rumit lagi.


Sementara itu, aku akan tetap menjalani pelajaran biasa yang sama membosankan nya dan tidak menantang. Ini hanya mengisi diriku saja agar berbaur dengan teman kelas yang lain.


Jadi pada esok paginya, Eiji dan Leon tentu saja tidak masuk ke dalam pembelajaran hingga waktu pulang sekolah dan akan terus berlanjut sampai jadwalnya selesai. Hingga waktu nya sudah sampai nanti, aku yakin mereka sudah mempersiapkan diri mereka sebaik mungkin setelah latihan siksaan itu.


Seperti biasanya, masih terus mencatat isi dari buku guru itu. Ini membosankan, setelah semua waktu untuk mencatat habis, guru pasti akan menjelaskan ulang tentang bagian yang di tulis lebih lanjut dan pengertian yang mungkin tidak di ketahui orang lain.


Saking membosankannya, aku sampai tertidur dengan pulas di kelas. Bahkan teman-teman kelasku yang lainnya menjahiliku ketika tidur, mereka menciptakan banyak foto dari sihir untuk di salin secara nyata ke media fisik. Mereka hanya menyediakan beberapa kertas sebagai media nya, dan sepertinya salah satu dari anak kelas ini memiliki kemampuan untuk menangkap gambar dengan sebuah sihir lalu memindahkannya ke dalam sebuah kertas bagaikan foto.


Bagaimanapun, foto ini begitu banyak dan bersamaan dengan gaya tidur yang jelek, aku tersadar ketika sebenarnya ada perasaan tidak enak ketika aku mendengar suara tertawa dari luar tidurku, aku tahu, tapi aku tidak terlalu sadar akan kenyataan karena masih berada di alam mimpiku sendiri.


Begitu aku bangun, bahkan seisi kelas yang bahkan mungkin salah satu nya sedang menyelesaikan tugas yang tertunda menoleh padaku. Guru sudah tidak ada, karena pelajaran istirahat tiba. Anak-anak kelas elit ini jarang pergi ke kantin, karena mereka sudah membawa makanan mewah mereka sendiri. Bahkan beberapa dari mereka juga mengenakan almamater dengan warna merah.


"Aiden! Aiden! Bangunlah, dan lihat dirimu hihi."


Gadis-gadis ini tertawa begitu menjengkelkan, mereka benar-benar jahil karena aku tidak menghiraukan mereka sejak hari pertama. Benar, itu karena aku sibuk bersama Marie. Apapun yang kulakukan selalu bersamanya.


Begitu cermin itu memperlihatkan wajahku, wajah yang penuh coretan dan gambaran yang buruk untukku. Mereka semua tertawa tapi aku punya rencana yang lebih baik untuk membalasnya.


Aku langsung saja maju ke depan seluruh meja, turun perlahan bagaikan tangga kebawah. Jadi semua teman kelasku kini melihat. Dengan alat tulis khusus sihir ini, aku menuliskan sebuah kata di udara, tapi sebelum itu, aku langsung menghapus seluruh coretan tanpa melakukan apa-apa.


Ini saatnya bertindak keren.


"Yo! Teman-teman~ jadi dengarkan aku, Aiden Leonore ... aku akan memberi satu pertanyaan dan kalian akan menjawabnya."


Jadi, mereka semua memandang ke arahku dengan fokus bersama rasa ingin tahu, ku tuliskan kalimat itu di kehampaan dengan kata "Aku bisa mewujudkan keinginan kalian semua." Dan beberapa langsung tertawa tidak percaya, sementara banyak dari mereka juga menganggap ini serius dan percaya.


"Mewujudkan keinginan kami? Hal seperti apa yang bisa kamu wujudkan? Apakah kamu benar-benar yakin?"


"Sangat yakin, cepat atau lambat keinginan kalian akan terpenuhi hanya dengan melakukan syarat."


Jadi, mereka semua bertanya apakah syaratnya, tapi aku serius. Ku katakan pada mereka untuk menulis setiap keinginan mereka sekarang dan akan langsung ku wujudkan sekarang juga tanpa lama, tuliskan satu keinginan mereka secara pribadi di kertas selembar kecil dan gulung dengan sangat kecil, yang sudah selesai akan bawakan gulungan sekecil kelingking itu padaku.


Kursi guru ini sepertinya terlihat bagus.


BRUAK!


Aku menendang meja itu ke samping untuk memisahkannya dari kursi. Kini aku akan terlihat keren hanya dengan kursinya saja, aku akan buat mereka semua membayar hal jahil seperti ini. Walau mereka semua jahil, ini adalah lelucon yang bersih dan baik, mereka bukan menjahiliku atas rencana buruk atau dendam apapun. Tidak ada rasa benci satu sama lain disini.


"Kalian menulisnya lama sekali, aku sudah bosan menunggu."


Ucapku dengan tanganku yang memangku wajahku dan menyilangkan kakiku. Oh betapa kerennya aku sekarang. Bagaikan penguasa kelas. Selagi tidak ada Marie, aku akan berbuat sesuka hatiku disini.


Pada akhirnya, semua gulungan kertas kecil terkumpul ke depan, tidak perlu ku baca dengan membuka nya satu persatu di atas meja, itu adalah hal bodoh yang akan mengurangi rasa keren dari diriku.


Jadi ku terbangkan sembilan belas gulungan kertas kecil ini di udara, membuka semua kalimat itu di setiap kertasnya. Aku cukup tersenyum melihat keinginan mereka yang lucu.


"Aiden, jangan baca setiap permintaan itu, cukup kamu sendiri yang mengetahuinya, dan langsung saja tepati perkataan mu itu."


"Ya, benar. Chester benar."


Ucap serentak murid lainnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mulai mewujudkan setelah syaratnya terpenuhi."


"Syarat? Cepat katakan syaratnya dan wujudkan keinginan kami sekarang juga, jangan katakan kamu tidak bisa."


"Tidak bisa? Kamu meremehkanku? Syaratnya cukup mudah, bagian depan ini cukup luas untuk menampung kalian semua, sekarang berbaris lah dengan rapi di depan sini."


Ucapku sambil menunjuk lantai yang masih memiliki tempat untuk mereka, sembilan belas orang masih sangat cukup untuk di tampung di depan sini, lagipula kelas ini cukup besar, dan lebih besar dari kelas ku sebelumnya.


Jadi, mereka semua maju untuk turun ke bawah sini, berdiri membuat barisan dengan jumlah sembilan belas orang di depan kursiku.


"Sujud."


"Apa? Apa maksudmu untuk membuat kami semua sujud di depanmu?"


"Lakukan saja! Kalian semua lakukan atau..."


"Aiden! Bahkan jika harus berkelahi, ayo kita berduel di tengah lapangan sekarang."


Chester terlihat sangat berani, dia menantang ku sekarang. Sebenarnya dia merupakan teman dekat Leon juga, tidak heran jika mereka berdua adalah teman yang sama-sama berani.


Walau begitu, bukan hanya dia yang tidak menerima, tentu saja mereka semua tidak akan menerima syarat bodoh untuk sujud di depanku seperti ini. Ini benar-benar merendahkan diri mereka.


"Kedua kalinya kukatakan untuk lakukan."


"Maaf, Aiden, kami tidak bisa, silahkan lakukan keinginan bodoh mu itu pada orang lain yang lebih bodoh daripada kami."


"Sujud!"


Perkataan terakhir ku sudah menjadi yang ketiga kalinya kuucapkan, dan aku tidak suka ketika mereka semua memberontak. Mereka semua tidak akan bisa melawan, ku buat tubuh mereka semua jatuh bersujud dengan sendirinya, sembilan belas orang ini tidak akan bisa menggerakkan tubuh mereka. Tubuh mereka sekarang dalam kendaliku. Bahkan jika aku harus menyuruh mereka berlari mengelilingi seluruh akademi selama seribu putaran, itu tidak masalah. Jiwa dan hati mereka sudah pasti menolak, tapi tubuh mereka akan tetap patuh padaku.


Sembilan belas kepala bersujud rata di lantai, hidung dan dahi semaunya menyentuh lantai dengan sempurna. Inilah balasannya karena kalian semua menjahiliku.


"Ini adalah balasan karena kalian semua menjahiliku, bukan karena kalian semua, karena hanya beberapa, namun yang tidak terlibat akan tetap terlibat."


"Sayang sekali,"


"...Tapi ini adalah pemandangan yang sempurna untukku, aku tidak akan mengabulkan permintaan ini dengan mudah begitu saja, jika kalian masih tidak menerima atas balasanku seperti ini, cobalah lawan aku."


HAHAHAHAHA!!!


Ini benar-benar menyenangkan, aku bagaikan penjahat dan penguasa kelas satu-satunya, bahkan jika mereka semua yang merupakan kelas elit tingkat pertama ini tidak akan bisa menyentuhku. Ku buat mereka semua bersujud selama sepuluh menit.


Waktu nya cukup, aku tidak akan mengunci mulut mereka semua, walau mereka mengeluh, aku akan membalas perkataan mereka dengan tertawa balik. Mereka seharusnya belum menyadari tanda di leherku ini, maka dari itu, aku belum membocorkan identitasku sebagai calon raja iblis, itu tidak lucu ... jika orang-orang tahu bahwa calon raja iblis langsung di ketahui berada sebagai pelajar akademi.