Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 43 : Selection to enter the elite class




Burger daging naga iblis ini perlahan kupotong dari bagian utuhnya menjadi seperlima bagian. Anggap saja bagian ini setara dengan seukuran sendok nasi.


"Buka mulutmu."


Dia membuka mulutnya dengan tidak terlalu besar, ketika tanganku mengantar masuk potongan burger iblis ini. Rasa menakutkan ketika tanganku mendekati mulutnya, rasanya dia akan memakan seluruh jariku sampai habis.


SLURPP...!


"Lepaskan! Jangan menjilati jariku seperti itu!"


Tanganku tentu tidak akan masuk ke dalam mulutnya, ini hanya mengantar potongan burger iblis untuk menempati mulutnya, bahkan tidak ada jariku yang menyentuhnya sedikitpun. Dia menarik tanganku, dan menjilati jari-jariku, itu terasa geli, walau terasa nikmat juga sementara, tapi ada juga rasa memalukan ketika di pandang orang lain.


"Saus nya tertumpah di antara jari-jarimu, jadi aku akan membersihkannya."


"Apa-apaan ... disini ada tisu, kamu bisa membersihkannya dengan tisu."


"Tidak, itu hanya akan mengurangi cita rasa nya jika komposisi saus nya berkurang dari bagian lainnya."


Tidak mungkin! Hal seperti itu hanyalah hal biasa, jika hanya beberapa tetesan saus yang terkena jariku, itu tidak akan menghilangkan 5% rasa dari burger itu, itu hanyalah alasannya.


Aku menarik tanganku kembali, namun rasanya aku tidak ingin membersihkan jariku, ini adalah keberuntungan jika aku mendapatkan kesempatan untuk menjilat balik jariku sendiri yang menjadi bekas saus.


"Apa yang kamu lakukan? Cepat bersihkan jarimu dengan tisu."


Tidak ada waktu, dan tidak ada kesempatan, dia membersihkan bekas jariku ini dengan tisu sampai bersih, kini aku seperti kehilangan segalanya.


"Jangan melakukan hal konyol dengan berpikiran bahwa kamu akan menjilati kembali jarimu, kita bisa melakukannya dengan bebas di rumah."


KREKK!!!


Hatiku menjadi tak enak, bahkan Eiji memandang dan mendengar kalimatnya dengan jelas, ini pasti akan menjadi sebuah kesalahpahaman.


"K-k-kalian?"


"Tidak Eiji ... tidak, ini salah paham, aku tidak pernah melakukan hal apapun kepadanya."


"Eiji~ dengarkan aku. Aiden tidak sepolos seperti yang kamu pikirkan, dia bahkan membuat ku telanjang tanpa satupun baju di kamarnya, kemudian dia berbalik dan mengintip. Itulah sejatinya dia."


Sampai pada akhirnya, waktu konyol dan memalukan ini berakhir, karena tiba waktunya untuk seleksi pemilihan kelas baru. Setiap murid akan di tes dengan ujian yang sama, menguji sihir dan kemampuan mereka dengan alat pengukur potensi kekuatan, aku mendengar dari Eiji bahwa hal itu di lakukan disini.


Nyatanya, ini cukup berlangsung lama. Karena dari banyaknya murid kelas satu, setiap kelas dan setiap siswa akan di uji di hadapan seluruh siswa kelas satu lainnya. Sulit di bayangkan ketika seseorang di uji di ruangan tersendiri akan kekuatannya, namun di saksikan oleh seluruh siswa kelas satu yang menunggu nama mereka akan di panggil selanjutnya.


Walau urutan kelas kami masih begitu lama, namun semua kelas satu di wajibkan berada dalam barisan, dimana barisan panjang dan lebar ini melihat layar proyeksi kualitas tinggi di depan kami. Dimana kami semua akan menonton siswa satu persatu yang mengeluarkan seberapa kuat kekuatannya.


Akan ada standar angka kekuatan untuk memasuki kelas elit, bagi mereka yang tidak memenuhi standar angka itu, mereka hanya akan tetap berada di kelas biasa. Sungguh memalukan, bahkan ketika aku melihat anak-anak pertama yang langsung gagal untuk mencapai angka setinggi itu.


Sudah ada sekitar tiga puluh murid yang menyelesaikan seleksi mereka, dan hanya dua orang yang terpilih untuk masuk ke kelas elit. Jika ada tiga puluh yang terselesaikan, dengan dua keluar dari ruangan mereka masing dengan wajah bangga, maka dua puluh delapan lainnya akan melangkah keluar dari ruang uji mereka dengan wajah biasa saja, murung, atau mungkin sedih.


Nilai kekuatan di umumkan dalam layar proyeksi beserta adegan seperti siaran langsung yang terjadi di dalam ruangan untuk dilihat semua orang di luar. Tingkat kemampuan sihir mereka di uji dengan beberapa kemampuan dasar yang sudah di berikan.


Seperti kemampuan sihir, kemampuan fisik, kemampuan berpedang, dan kemampuan menahan serangan sihir. Semuanya di uji berbeda kepada setiap orang, dengan nilai keempatnya akan di gabung hingga memenuhi angka untuk masuk ke kelas elit.


Dua puluh delapan orang yang terlihat keluar dengan nilai mereka yang di gabungkan setiap orang rata-rata berada pada angka 700, 840, atau mungkin 950 dan sebagainya yang di bawah angka 1000, bahkan yang menyedihkan ada yang mencapai angka hanya dengan 422. Kurasa ada orang lain yang mungkin sama menyedihkannya dengan diriku. Namun terlihat di barisan itu, teman-temannya malah menyemangati untuk berusaha lebih giat lagi lainkali, berbeda dengan semua teman kelasku, mereka akan menyoraki murid payah seperti itu dengan kata-kata kasar yang bisa menyakiti hati, bahkan tawa yang tidak enak di dengar.


Kenyataan sebenarnya sudah terjadi, ketika beberapa murid yang mencapai angka 422, 549, 552, dan 513, malah di soraki oleh kata-kata yang menyakitkan, dan itu adalah kelas-kelas barisan lain yang terlihat lebih kuat dari kelasku. Bahkan orang-orang dari barisan kami juga meneriakkan kata-kata menghina kepada mereka, namun tidak ada sorakan penghinaan dari Cade dan teman-temannya.


Aku sadar ketika menoleh kebelakang, mereka tepat berada pada barisan sejajar di belakang kami, setiap kelas akan memiliki dua barisan. Dan Cade bersama kumpulan ya berada di bagian-bagian paling belakang, aku menoleh sebentar kepada mereka ketika wajah mereka yang memandangku kemudian mengubah wajah mereka ke arah lain, seperti seseorang yang ketakutan.


Aku tahu, dan mereka juga tahu, insiden hari itu ... akulah pelakunya, akulah penyebabnya, dan setelah selesai ujian seleksi ini berakhir, aku akan mencari mereka lagi. Tunggu saja!


Tentu kelas kami akan bertanya satu-sama lain, ketika kelas ini adalah bagian paling ahli dalam menghina, namun Cade beserta kumpulannya yang paling berisik tidak berteriak satu kata pun atau tertawa. Ekspresi mereka sudah berubah semenjak aku menyinggung kejadian ledakan Violet itu lagi.


Bahkan kami sudah menunggu beberapa waktu yang sangat lama, ketika sudah waktunya untuk kelas kami bagian seleksi, urutan namaku di lompat yang seharusnya abjad A akan menjadi yang lebih dulu dari pada abjad B dan yang lainnya. Bahkan di teruskan sampai ke kelas selanjutnya, ketika seluruh murid di kelasku menyelesaikan seleksi mereka dengan lancar, walau dari empat puluh sembilan murid di kelasku, yang masuk seleksi ke dalam kelas elit hanya lima orang juga, dua di antaranya adalah nilai yang lebih tinggi.


Dengan Eiji yang mencapai angka 1277 dan Marie yang mencapai angka 9863 yang sempat menghebohkan seluruh akademi. Angka ini sangat tinggi, bahkan hampir merusak peralatan yang ada. Membuat seluruh akademi bersorak dengan keras dengan hadirnya gadis berambut merah dengan nilai yang melampaui angka tahun-tahun sebelumnya yang hanya menempuh angka 3700+ dan ini tidak hanya di saksikan oleh seluruh angkatan murid kelas satu, namun para guru, staff, murid kelas dua sampai kelas empat, bahkan penjaga sekolah, dan seluruh yang ada terus menonton dan akan terus melihat hingga akhir.


Marie mencetak rekor yang begitu jauh untuk masuk ke kelas elit tingkat pertama, angka 9863 menjadi sangat tinggi dalam sejarah akademi iblis. Sisanya, murid yang penuh dengan rasa menghina dari kelasku hanya mendapat nilai rata-rata angka 830-970 benar-benar tidak ada yang mengagumkan. Cade dan para teman-temannya bahkan hanya mendapat angka 945-986. Tampaknya kelas ini hanya pandai menghina orang lain.


Tidak ketika kelas kami juga di balas dengan teriakan menghina dari kelas-kelas lainnya, bahkan anak kelas dua hingga kelas empat juga meneriaki kelas kami, kecuali Marie, Eiji, dan tiga orang lainnya yang berhasil mencetak angka di atas seribu.


Yang menjadi masalah adalah namaku yang menghilang dari urutan absen, aku bahkan tidak melakukan apa-apa sejauh ini, dan hanya menonton sampai kelas selanjutnya.