
Aiden dengan mata yang redup kemudian berdiri dari kursinya sambil meninggalkan Dareen dengan kalimat "Hubungi aku ketika kamu telah mengumpulkan kepercayaan padaku."
Setelah meninggalkan Dareen sendirian, Aiden kembali memusatkan pikirannya pada pesan teks dari nomor tak dikenali yang menghubunginya lima hari yang lalu. Pesan itu memberi sebuah penawaran.
Aiden membalas pesan dan bertanya pada pengirim, entah bagaimana orang seperti ini bisa menemukan kontaknya, maka dia bertanya dengan sedikit rasa penasaran. Balasan itu kemudian di kirim dengan cepat pada Aiden, dan jawabannya, pengirim menemukan kontaknya dari dokumen akademi, menemukan kontaknya dari rasa penasaran.
Karena Aiden tidak merespon lagi soal tawaran yang secara tiba-tiba, pengirim mulai menggunakan panggilan telepon pada malam itu. Aiden yang mengangkat telepon mengucapkan kalimat yang singkat di sana.
"Katakan dengan jelas tujuanmu, dan jawab pertanyaan ku, selebihnya bukan urusanku." Ucap Aiden di sebelum menutup telepon.
Setelah menutup panggilan, pesan terakhir yang di kirimkan Aiden di tulis dalam bahasa inggris yang bertuliskan "Meet me at this place". Kemudian dia membagikan lokasi pertemuannya untuk pengirim pesan yang tak di kenali.
Di suatu tempat, pengirim pesan itu kemudian menyampaikan hasil percakapan dengan Aiden pada wanita di depannya. Melihat hasilnya, wajah wanita itu segera memasang ekspresi masam, dan tersenyum kembali.
"Tchh! Pria itu ... kenapa sifatnya begitu keras?!"
"N-nona Erine, maafkan saya karena membuat ide yang begitu buruk." ucap seorang pria pengirim pesan.
"Tidak masalah, kali ini semua akan baik-baik saja."
Sebenarnya, kota tempat Aiden tinggal adalah kota metropolitan. Penduduknya begitu padat, karena kepadatan penduduk, presentasi tindak kriminal di kota ini menduduki posisi pertama daripada kota-kota besar lainnya. Namun, tindak kriminal paling keji yang menggegerkan publik adalah pembunuhan berantai yang di lakukan sosok seperti Aiden.
Sejauh ini, tindak kriminal paling banyak adalah kasus penggunaan narkoba termasuk pihak-pihak pengedarnya, pembunuhan berencana, pemerkosaan dan pelecehan, juga gangster dan perampok. Bicara tentang kasus pembunuhan, kebanyakan dari kasus ini terjadi karena pembunuhan berencana, selebihnya adalah pembunuhan karena perampokan dan pemerkosaan.
Kasus pembunuhan berantai tidak hanya di lakukan oleh pemilik ide, biasanya mereka juga menyewa beberapa pembunuh bayaran ahli agar rencananya berjalan mulus, namun, lebih banyak yang memilih untuk melakukan pembunuhan dengan tangannya sendiri entah itu berencana karena pembalasan dendam atau mungkin faktor lainnya.
Berbeda dengan pembunuh bayaran, mereka adalah orang-orang terlatih yang biasanya bekerja berkelompok atau individu demi mendapatkan uang yang mereka butuhkan. Tidak peduli siapapun target pembunuhannya, asalkan pekerjaan itu mampu memberi mereka uang, mereka akan melaksanakannya. Semakin sulit rencana dan targetnya, biasanya semakin mahal upahnya.
Di sisi lain, ada juga pemimpin kelompok kriminal yang sebenarnya menghubungi Aiden untuk menyewanya sebagai pembunuh bayaran, namun, mereka tidak paham seperti apa sifat Aiden, dan bagaimana caranya bekerja. Maka dari itu, mereka menghubunginya secara tertutup dengan nomor-nomor palsu.
Seseorang yang menjadi pengirim pesan untuk berkomunikasi dengan Aiden sebenarnya hanya seorang bawahan yang di perintahkan oleh atasannya. Dan Wanita yang dia sebut sebagai nona Erine saat itu sebenarnya adalah atasannya sendiri. Erine sendiri merupakan wanita berusia dua puluh tiga tahun yang bekerja sebagai manajer produksi rokok di perusahaan Aisquin .
Namun, belum di ketahui apa penyebab wanita ini mencari pembunuh bertopeng sekelas Aiden. Selama ini, dia mengintai untuk mencari lebih banyak informasi Aiden dengan hacker sewaan. Secara umum, jabatan wanita ini seharusnya terbilang cukup baik sebagai manajer perusahaan besar, begitu juga dengan gajinya. Uang nya yang berlimpah tidak menutup kemungkinan bahwa dia mampu menyewa pihak-pihak ahli untuk rencananya.
Dua hari kemudian, wanita ini benar-benar pergi menuju lokasi yang di berikan Aiden. Di sana tercantum nama 69 House sebagai nama tempatnya. Pesan berupa pembagian lokasi yang di bagikan Aiden baru bisa terbuka setelah tiga puluh lima jam. Tidak ada yang menyangka bahwa mereka akan membahas rencana pembunuhan di bar minum.
Beep! Beep! Be—
"Ya, ini aku, temui aku di meja nomor delapan di bagian paling ujung." Ucap Aiden saat menjawab teleponnya.
Saat wanita itu melihat sosok yang di yakini nya adalah sosok seperti Aiden, dia segera bergegas menuju meja tersebut dan duduk di sana.
"Aku akan duduk disini."
"Ahh, seorang nona-nona yah~"
"Jangan panggil aku nona-nona!! Namaku Erine Lilith, kamu bisa memanggilku Erine."
"Um ... sebelumnya, aku ingin bertanya, kenapa kamu menginginkan lokasi ini?"
"Bukan apa-apa, aku hanya tertarik dengan tempat yang belum pernah ku coba. Jadi, langsung saja katakan tujuanmu."
"Kamu Aiden, benar?" Tanya Erine untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah orang.
"Jika itu ya, memangnya kenapa?"
"Jadi aku tidak salah ya, tapi seharusnya tempat publik bukanlah tempat yang tepat untuk berbicara."
"Oh, ayolah nona, aku sudah rela datang tengah malam begini hanya untuk seseorang yang mengirimi pesan tanpa tujuan. Sekarang katakan tujuanmu, atau berdiri dari meja ku."
"Berdiri dari meja ini? Memangnya meja ini adalah hak mu seorang diri?" Balas Erine dengan sedikit terbawa emosi.
"Itu sudah jelas, sebelum kalian datang, aku membayar meja ini hanya untuk diriku sendiri." Jawab Aiden dengan senyuman anehnya.
"Kalau begitu aku akan membayar lebih mahal dan menarik hak mu atas meja ini."
Wanita itu kemudian bergegas dengan cepat menuju kasir bar untuk meyakini ucapan Aiden, saat dia pergi, bawahannya, seorang pria yang juga merupakan bawahan Erine di perusahaan rokok hendak menyentuh kursi di hadapan Aiden dan mencoba duduk di sana.
"Sedetik saja tubuhmu menyentuh kursi ku, maka aku tidak akan ragu membunuhmu di sini." Ucap Aiden dengan tatapan tajam.
"Bajingan." Ucap pria itu sambil menggerakkan giginya dan kembali mundur untuk tetap berdiri.
Erine yang kembali menuju Aiden bahkan hanya mendapatkan jawaban yang sama tentang hak atas meja pelanggan yang berbayar. Pada akhirnya, mereka harus mendapatkan izin Aiden untuk berbicara dengan cara yang baik.
"Chhh ... hahahahaha! Jawaban yang sama??? Menyedihkan sekali." Ejek Aiden dengan alisnya yang mengkerut sebelah.
"Tidak ada pilihan lain, ini hanya membuang waktu! Dave, karena kita tidak bisa membicarakan ini secara terbuka, maka pergilah untuk mengetik surat agar dia bisa membacanya."
"Baik nona."
"Wah, Wah, peliharaan yang begitu penurut. Apa yang kamu janjikan pada bawahanmu, nona? Apakah kamu mengucapkan janji manis seperti, 'Dave~ aku akan memberi gaji lebih untukmu' atau 'kamu bisa menikmati tubuhku ini' AHAHA!!!! Apa-apaan itu?!"
"Tolong, suaramu begitu keras, seseorang bisa memandang kita."
Nada dering ponsel Aiden kemudian berbunyi sambil bergetar, dia tidak mengabaikannya dan segera mengangkat telepon.
"Razel?"
"A-aiden, apa yang kamu lakukan? Kemana saja kamu pergi, ibumu mungkin mencari mu sejak tadi, wajahnya terlihat seperti membenci ku."
"Begitukah? Katakan saja bahwa aku mendapat pekerjaan tambahan dari atasanku."
"Apa-apaan kamu ini, jangan lakukan hal yang aneh-aneh tanpa ku."
"Hal yang aneh-aneh? Aku tidak melakukan apa-apa, hanya menemui seseorang yang tak di kenali."
"Tak di kenali? Jangan berbohong dan jangan sampai aku mencari mu keluar."
"Razel! Jangan bodoh! Ingat apa yang harus kamu lakukan agar tetap di rumah, dan juga anakmu, pikirkan itu."
"Hah?? Begitu menyebalkan!"
"Jika sudah selesai, aku akan menutup teleponnya."
"Tunggu! Aide—"
Plup!!!
Aiden kemudian memutuskan panggilannya dan kembali memandang wajah Erine dan Dave di hadapannya.
"Masalah rumah tangga ya? Tidak ku sangka orang gila sepertimu mampu menemukan pasangannya, atau mungkin pasangan mu juga sama gilanya sepertimu? Asal-usul nya bahkan lebih tidak jelas daripada dirimu, hahaha."
"Apa yang kamu tahu soal istriku? Seorang penguntit tidak berhak bersikap sok tahu."
"Ya, aku tahu, istrimu itu adalah seorang wanita rumahan dengan histori pendidikan yang tidak jelas, ku akui, wanita itu cantik, tapi bagaimana bisa??? Mungkin orang gila seperti mu sudah menghipnotis nya terlalu berlebihan."
"Ah, nona ... komentarmu itu benar-benar tidak menyenangkan, aku benar-benar bosan mendengarkan komentar bodoh mu."
Tak lama kemudian, seorang pelayan bar wanita datang dengan meja trolley kecil yang mewah, di atasnya terdapat begitu banyak botol minuman dan gelas-gelas kaca. Setiap meja memesan minuman mereka. Namun, ini adalah bar yang memiliki 97% pelanggan pecandu alkohol. Erine sendiri bahkan tidak menyangka bahwa Aiden akan memesan tiga botol minuman sekaligus.
"Ehh?? Untuk siapa semua minuman ini?" Tanya Erine.
"Awalnya aku berpikir bahwa pengirim pesan adalah seorang lelaki, maka dari itu sebelum kalian tiba disini, aku memesan semuanya dan dua gelas lowball, tapi ... kamu, pengirim pesan rupanya seorang wanita, jadi tidak ada salahnya jika kamu mencoba."
"Aku benar-benar wanita yang menolak minuman beralkohol, bahkan rokok, jadi aku menolak tawaranmu."
"Ahh, begitu kah? Kalau begitu aku akan minum lebih dulu, cicipi lah jika kamu penasaran."
"Aku menolak, aku akan segera memesan jus sekarang. Lagipula, aku bukanlah orang yang mengirim pesan itu, melainkan bawahanku sendiri atas permintaan ku."