Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 162 : Switzerland



Aiden mulai mengurus semua perlengkapan yang di butuhkan anak ini mulai dari; popok, pakaian penghangat, hingga tambahan surat pernyataan dokter dan formulir yang membebaskan pihak maskapai dari hal buruk yang terjadi pada bayi.


Dia menyiapkan banyak hal dengan cepat, namun tidak ingin menyiapkan hal-hal yang lebih merepotkan seperti membeli trolley bayi dan bagasi tambahan. Aiden bahkan telah membooking dua tiket first class hanya untuk mendapatkan pelayan lebih untuk anak ini. Dia juga tidak ingin Razel mendapatkan pelayanan terbatas dengan kondisi yang masih dalam pemulihan setelah melahirkan.


Di hari ketiga, Aiden dan Razel telah tiba di bandara dan berangkat sekitar jam lima pagi. Dia bilang, dia akan menghabiskan setidaknya sebagian uang yang Razel bayar untuknya. Tiket first class penerbangan ke Swiss cukup mahal, namun penerbangan yang cukup cepat hanya membutuhkan dua belas jam untuk sampai.


Anak ini sempat menangis, namun Razel membisukannya dengan memberikan ASI. Di perjalanan, bahkan dia tidak memiliki topik untuk berbicara dengan Aiden yang duduk tepat di hadapannya dan menyilang kedua tangannya dari tadi. Sampai akhirnya Aiden yang memulai pembicaraan karena dia merasa bosan jika hanya terus duduk dan berdiam diri.


"Karena ini adalah anakku, kamu telah membuatku kehilangan status sebagai lelaki dan terpaksa membuatku harus menyandang status sebagai seorang ayah, yang perlu bertanggung jawab." ucap Aiden.


Kemudian dia mulai menyinggung soal nama untuk bayi ini. Dia bilang bahwa mereka berdua harus menetapkan nama anak ini dengan masing-masing dari mereka akan memberi satu nama yang harus memiliki arti. Aiden mengatakan nama pertama yang akan dia berikan.


Aiden memberi nama Mira, arti nya adalah seorang gadis asing yang cantik, dan kemudian dia menambahkan tambahan nama Al di depannya yang ketika di gambung menjadi Almira yang memiliki arti sang gadis asing yang cantik. Jika dia memiliki seorang anak, tentu dia akan memberi nama yang bermakna.


Dan kini, dia memiliki seorang bayi perempuan yang harus menjadi gadis cantik suatu saat nanti. Razel cukup lama saat memikirkan nama belakang, dan pada akhirnya, dia memberikan nama Tyrin. Nama ini merupakan pelesetan yang tidak jauh dari nama asli Tyrian yang artinya ungu, dia berharap bahwa anak ini memiliki warna rambut ungu seperti miliknya.


Lagipula rambut Razel aslinya murni berwarna hitam tanpa campuran warna apapun, namun dia mewarnainya di salon dengan warna ungu seperti yang dia sukai. Itu membuatnya menjadi lebih percaya diri. Dan kemungkinan rambut anak ini sudah pasti akan berwarna hitam juga, dia hanya mengikuti warna mata aneh milik Aiden.


Aiden tidak keberatan atas nama yang di berikan Razel, dia menghargainya. Nama-nama ini juga masih masuk akal ketika semuanya di satukan menjadi Almira Tyrin yang membentuk makna gadis asing berambut ungu yang cantik. Dan kesepakatan cepat di antara mereka berdua adalah panggilan Mira atau Rin untuk anak ini. Razel senang atas keputusan Aiden.


Karena nadanya yang sedikit keras, pramugari wanita yang lewat di dekat mereka kemudian menghampiri keduanya sambil membawa beberapa makanan cemilan khas maskapai penerbangan dan mengucapkan selamat atas kelahiran anak mereka. Ini adalah pertama kalinya Razel benar-benar di anggap sebagai seorang ibu.


Selama perjalanan, keduanya mulai bertukar lelucon satu sama lain, sampai akhirnya pesawat tiba di Bandara Internasional Geneva pada pukul sebelas lewat sepuluh menit. Di pintu keluar pesawat, para pramugari cantik berdiri sejajar untuk mengucapkan selamat datang di Swiss dan ucapan senang bisa mengudara bersama para penumpang.


"Selamat datang di Swiss, semoga penerbangan Anda memuaskan bersama kami, Cesia Airlines." ucap pramugari yang paling pertama.


Kemudian pramugari yang satu mulai menunjukkan rasa sukanya pada anak kecil yang lucu.


"Ahhh.... anak manis, tidak ada kendala? Kamu baik-baik saja kan?"


Ada begitu banyak kata yang di ucapkan dari para pramugari itu, tidak hanya bertanya, namun masing-masing dari mereka juga mencoba menyentuh pipi halus Mira.


"Nona, maaf jika saya bertanya aneh, tapi apakah mata nya terlahir merah seperti ini?" ucap pramugari yang berada di tengah pramugari lainnya.


"Um, kupikir begitu, dia hanya mengikuti warna mata ayahnya." ucap Razel sambil memandang ke arah Aiden. Kemudian para pramugari itu juga mulai melihat mata merah Aiden. Rasanya aneh karena dia di panggil sebagai seorang ayah, apalagi dia tidak suka ketika matanya di tatap.


"Adik kecil ini ... nona, bolehkah kami tahu siapa namanya?"


Dan kemudian Razel menjawab.


"Kami baru menemukan namanya dalam perjalanan, dan namanya adalah Almira Tyrin." jawab Razel.


"Mira ya, senang bisa mengudara bersama mu adik kecil, kami berharap ayah dan ibumu akan memesan tiket dan pesawat yang sama lagi agar kita bisa bertemu lagi."


Aiden hanya diam berjalan sambil menenteng tas berukuran sedang milik Razel yang di dalamnya berisi semua perlengkapan bayinya. Kemudian Razel berjalan lebih dulu di depannya sambil menggendong anak ini. Keduanya keluar di saat-saat terakhir, di tambah lagi anak ini membuka matanya yang membuat para pramugari itu heboh dengan warnanya. Dia tersenyum hanya ketika para pramugari itu tersenyum juga.


Tiba dari pintu masuk, Aiden harus mengambil koper mereka di tempat pengambilan bagasi, dia berusaha untuk bergegas secepatnya agar Razel tidak menunggu lama dan kebisingan bandara akan menggangu anaknya yang tidur.


Di pintu keluar, beberapa transportasi online sudah tersedia cukup banyak, setiap jenis transportasi online memiliki setidaknya empat hingga tujuh orang dengan pakaian yang sama sesuai jenis transportasi nya, yang di mana semuanya menawarkan jasa tumpangan untuk para penumpang dengan transportasi online pelayanan terbaik, selain itu, mereka mengatakan bahwa mereka akan mengantar penumpang melewati rute tercepat untuk sampai ke tujuan.


Dia yang memilih yang mana saja yang terlihat memiliki kualitas bagus, asalkan dia bisa dengan cepat sampai ke hotel yang telah dia pesan. Sebelumnya dia juga telah membooking satu kamar ekstra di hotel Garanet dengan pemandangan yang cukup sempurna. Setelah menelusuri banyaknya hotel dan sanggraloka, dia menemukan beberapa yang terbaik.


Hotel ini hanya berada di kelas menengah, namun harganya benar-benar terjangkau, di tambah lagi fasilitas-fasilitas kualitas yang setara, juga pemandangan Air Terjun Staubbach yang bisa terlihat dari jejeran hotel-hotel dan resort mewah.


Berjalan di antara lembah dan rumput hijau indah ini, Aiden dan Razel membawa bayinya berkeliling melihat pemandangan sekitar. Razel sedikit demi sedikit menatap Aiden, saat Aiden merasa bahwa Razel meliriknya, dia membalikkan wajahnya ke arah Razel, Razel kemudian membuang wajahnya lagi seolah-olah dia tidak melirik sedikitpun.


Razel meliriknya lagi ketika Aiden tidak melihatnya, mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya Aiden sadar dan menertawakan Razel, saat dia tertawa, Razel juga tertawa karena tingkah bodoh yang tidak masuk akal. Di saat itu juga, Aiden tiba-tiba saja merasa bahwa sesuatu mengikutinya, tapi dia tidak tahu darimana asal pandangan tersembunyi itu.


Melihat sekeliling secara perlahan, dia menemukan seorang pria yang tampaknya sedikit terlihat lebih tua darinya. Pria itu berdiri dengan memegang kamera pada kedua tangannya, dia juga tahu bahwa Aiden menyadarinya.


"Razel, lihatlah." ucap Aiden untuk menunjukkan keberadaan pria di atas sana bersama kameranya.


"Memangnya ada apa dengan pria itu?" tanya Razel.


"Aku ingin kamu menggunakan sihir suara untuk memanggil pria itu kebawah sini, katakan bahwa aku ingin dia turun kesini sekarang juga."


Razel kemudian menggunakan sihir suara yang sangat dia kuasai, sebelumnya dia benar-benar mahir menggunakan sihir suara untuk menggabungkan suaranya menjadi suara iblis, suara itu sebenarnya mampu membuat seseorang menjadi lemas, atau bahkan sakit.


Panggilan yang di tujukan pada pria itu tidak terdengar seperti panggilan dari sihir, namun itu seperti bisikan di otaknya yang membuatnya yakin bahwa dia perlu turun ke bawah sana, atau mungkin dia di butuhkan di bawah sana. Jadi itu seperti perasaan yang tiba-tiba muncul pada dirinya sendiri untuk mematuhi bisikan yang ada tanpa sadar bahwa itu adalah panggilan dari seorang wanita penyihir yang hanya terlihat seperti wanita biasa bersama bayinya.