
Fisik Razel benar-benar lemah, sama seperti wanita biasa. Walau efek operasi persalinan sudah membaik, namun Razel terjatuh dan terguling di tangga karena memikirkan bahaya yang mendatanginya. Peristiwa itu terjadi dua hari yang lalu, Saat mendarat, kepalanya terbentur dan pergelangan kakinya terkilir.
Aiden menemukan Razel dalam kondisi pingsan di ruang tamu sekitar pukul sebelas malam. Karena tak bisa berbuat banyak, Aiden menghubungi pihak rumah sakit terdekat untuk membawa Razel dan melakukan perawatan selama satu hari. Razel kembali pulang kemarin, namun karena sifat manjanya dia tidak ingin berusaha berjalan dengan tongkat patah kaki.
Dalam kondisi terlemahnya, dia bahkan masih mampu merayu Aiden agar tetap di biarkan bergerak dengan kursi roda. Selama masa pemulihannya, Aiden tentu akan sering mendorong kursinya, ke dapur, ke ruang tamu, dan tempat lain yang sulit di jangkau.
Selebihnya Aiden ingin dia berjalan sendiri dengan tongkat kaki. Bukan berjalan sendiri untuk meninggalkannya, namun Aiden akan tetap berada di dekatnya agar tidak terjadi kecelakaan kecil lagi. Sudah lama sekali, Aiden tidak mencicipi masakan ibunya. Namun, masakan Razel juga tidak kalah jauh.
Aiden pulang setiap malam setelah bekerja di bar kopi dan karena tahu bahwa Razel sedang cedera, dia memutuskan untuk membeli sebuah buku berisi resep memasak di toko buku yang baru saja dia lewati. Dia akan segera pulang, menyegarkan pikirannya, kemudian mencoba memasak sesuatu dari panduan yang ada di dalam buku.
Membuka pintu kamar, Aiden langsung mengganti semua pakaiannya, kemudian menyalakan pendingin ruangan. Tapi Razel kemudian menegur, dia tidak boleh mengubah setelan suhu menjadi dingin, karena Mira kecil itu pasti akan kedinginan.
Dengan ekspresi seperti orang yang tidak bersemangat hidup, Aiden menjawab "Jika suhunya dingin, lapisan kainnya bisa di tambah, dan jika masih kurang hangat, peluklah dia. Dan jika masih kurang lagi, aku yang akan memelukmu bersamanya."
Razel hanya diam membisu sambil kembali memberi ASI, melihat Aiden yang sejak tadi mengusap rambut dengan handuk, Dia kemudian bertanya "A-apa kamu sudah makan?" Aiden kemudian meliriknya sekali, kemudian membalas.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu."
"Maaf, aku belum b—"
"Aku tahu, kamu belum bi—" Aiden memotong kalimat Razel, namun Razel segera menutup mulutnya hanya dengan perintah jari dari jarak jauh. Itu bukan sihir, namun Aiden hanya merespon secara tiba-tiba soal gerakan jari Razel yang bergerak seperti menyuruhnya untuk diam.
"Bisa."
"Tutup mulutmu! Dan jangan terus-terusan memotong kata-kata ku. Ini sudah kesekian kalinya kamu memotong, lima ratus ... mungkin sudah seribu kali memotong."
"Ohya? Kenapa bisa seribu kali? Tunjukkan padaku, kapan, dimana, dan setiap pukul berapa aku memotong kalimat mu?" ucap Aiden sambil mendekat agar Razel menjadi gugup.
Razel tak menjawab sedikitpun pertanyaan itu, karena Aiden tidak mungkin memotong kalimat sampai sebanyak itu. Sebelum bergegas ke dapur, suasana hatinya kembali menjadi lebih baik setelah melihat anaknya yang menendang Razel saat menyusui. Seolah-olah itu adalah pembalasan dari bayi kecil untuk memberi tendangan kecil pada ibunya.
"Hmhmhm ... dia bahkan tahu bagaimana cara membalaskan dendam ayahnya." ucap Aiden sambil tertawa kecil tanpa membuka mulut.
Dia kemudian mengambil kembali kantong plastik berisi buku panduan memasak yang sebelumnya di letakkan di sofa ruang tamu.
Aiden langsung berada di kondisi malas setiap kali dia melihat dapur. Dia hanya pergi untuk memasak air panas dan membuat kopi, berbalik ke ruang tengah, dia segera menjatuhkan tubuhnya ke sofa sambil melihat halaman buku itu satu per satu.
Karena merasa bahwa dia tidak mampu memasak, Aiden akhirnya tertidur sekitar dua puluh menit. Terbangun kembali, dia segera sadar dengan cepat bahwa dia sedang memasak air panas. Air yang di masak sudah kering dengan kondisi teko yang awalnya berwarna biru muda, kini menjadi warna abu-abu dengan bagian menghitam di bawahnya.
"Bodoh!! Aku malah tertidur!"
Penutup teko itu bahkan sudah melekat dengan tekonya, airnya habis total. Aiden memutuskan untuk kembali mengisi air dan menyalakan kompor, namun berusaha untuk tidak tertidur. Di dapur, dia membawa kembali buku panduan memasak tersebut dan melihat kembali halaman resep yang cocok dengan bumbu dapur yang ada.
Mendengar intro musik-musik agresif seperti itu, dia mulai membayangkan bahwa dirinya adalah sesosok raja yang bangkit dari singgasana sambil berjalan menyeret pedang di lantai batu kerajaan yang retak karena kedatangan seorang lawan yang berhasil menjatuhkan seluruh pion.
Atau dengan bagian-bagian terbaik yang paling agresif yang membuatnya mengkhayal sedang bertarung dengan seseorang hingga membuat alam semesta meledak sepenuhnya. Dia tertawa setelah berhenti mengkhayal dan berkata di dalam hatinya bahwa itu benar-benar luar biasa.
"Um ... kembali mencoba." dia sadar bahwa teko sudah kembali menguap dan mengeluarkan siulan panjang.
Rasa malas itu benar-benar sulit untuk di lawan, maka hal termudah yang dilakukannya adalah memasak nasi goreng berwarna merah dengan tambahan mie yang di campur bersama telur goreng. Telur dan mie itu di masak di wajan yang berbeda dan hanya nasi goreng seperti inilah hal pertama yang di coba olehnya.
Aromanya lumayan harum, namun dia merasa tidak terlalu yakin soal rasanya. semua makanan hanya berada di satu mangkuk, setidaknya cukup untuk porsi dua orang. Aiden kembali ke kamar atas dengan kopi panas di tangan kirinya, dan semangkuk nasi goreng di tangan kanannya. Dia membuka pintu dengan kakinya sambil berhati-hati karena tangannya hanya dua.
Aiden meletakkan gelas kopinya terlebih dahulu, kemudian berjalan membawa masakannya menuju Razel.
"Kenapa wajahmu sepertimu itu?" ucap Aiden melihat wajah Razel yang sedikit pucat. Dia baru menyadarinya.
"Tidak apa-apa."
Aiden segera meletakkan tangannya di dahi Razel, suhu tubuhnya lumayan panas seperti sebelumnya.
"Kamu masih sakit, jangan bergerak dan makanlah."-Aiden mengambil sesendok nasi goreng buatannya dengan potongan kecil mie dan telur di atasnya-"Aku akan menyuap mu."
Razel: "..."
Menyuap istrinya secara perlahan, Aiden kemudian melempar sebuah pisau kecil yang sengaja dia bawa dari dapur. Pisau kecil itu dengan sangat cepat menusuk sebuah cicak yang menempel di tirai.
Razel dengan ekspresi terkejut tiba-tiba menyaksikan cicak yang di bunuh Aiden, "Hah? Cicaknya! Aiden, darimana kamu ...."
"Cicak mata-mata, sangat tidak normal, aku sudah menyadarinya sejak satu minggu yang lalu tapi aku baru mencoba untuk memastikannya sekarang." ucap Aiden sambil kembali menatap cicak yang pecah menjadi beberapa kepingan kristal.
Dia memang sudah melihat cicak itu sejak minggu lalu, kemudian dia melihatnya lagi tiga hari kemudian dengan posisi yang tidak berpindah jauh. Sebelum meninggalkan kamar menuju dapur, dia juga telah melihat cicak ini berpindah lagi di bagian tirai yang lain. Benar-benar aneh jika cicak itu tidak berpindah dalam waktu yang sangat lama.
Hasilnya terbukti ketika pisau yang di lempar Aiden mengenai cicak tersebut dan menghasilkan bunyi pecahan kecil yang berjatuhan dengan sangat cepat ke lantai. Setelah itu, Aiden juga mengatakan bahwa akan ada satu hewan yang dia bunuh selain seekor cicak abnormal ini.
Dia tidak memberi tahu Razel hewan seperti apa yang akan dia bunuh, namun dia hanya mengikuti tebakannya, ketika sesuatu yang benar-benar aneh muncul lagi, mungkin itu adalah hewan selanjutnya yang akan dia bunuh. Karena kondisi Razel yang tidak membaik, di tambah lagi kontradiksi yang mulai terjadi di antara anggota-anggota sekte itu, Aiden mulai yakin bahwa ini bukanlah ulah para pengkhianat sekte melainkan ulah dari penyihir jahat yang lainnya.
Sekte penyembah iblis yang lainnya mungkin mencoba mencari tahu sosok Razel yang merupakan penyihir gelap dengan banyak sihir keramat yang dia sembunyikan, sebenarnya bukan di sembunyikan, namun Razel membutuhkan banyak tenaga untuk mengeluarkan sihir-sihir keramat tertentu.
Dan itu bukan hanya mengancam keselamatan Razel jika identitasnya di ketahui oleh heavenly witch, tapi juga mengancam identitas Aiden dengan tanda di lehernya. Jika identitas mereka tersebar, seluruh kota pasti akan membunuh mereka.