
Ketika wasit sudah menyiapkan aba-aba pertamanya, mereka sudah berhadapan sejauh sepuluh meter dimana barat dan timur saling berhadapan. Lawan Eiji benar-benar sudah mengambil posisi lain dari dirinya sendiri untuk kuda-kuda pertarungan langsung.
Di lihat dari gaya nya, aku yakin, dia akan langsung menyerang Eiji dengan kecepatan tinggi pada kuda-kuda seperti itu. Namun, Eiji masih saja berdiri dengan santai di sana sambil memegang ujung gagang pedang nya yang masih berada di dalam sarungnya.
Wasit perlahan mundur ke bagian lain di dalam arena ini yang jauh dari jangkauan pertarungan, cukup garis sihir dan titik tengah yang memberikan aba-aba, ketika warna garis nya harus berubah bersama asap kehijauan, maka mereka semua akan langsung mulai.
Garis tak hingga itu pun menjadi hijau.
WUSHHH!!
Anak lelaki itu bergerak langsung bersama kecepatan tinggi, menghilang dari tempatnya dan menuju ke arah Eiji, menyapu setiap angin yang berada di lintasan nya. Gerakannya cukup cepat, mungkin kalian pernah melihat pernapasan petir Zenitsu dari seri kimetsu no yaiba? Yeah, kamu cukup melihatnya dengan kecepatan secepat itu yang melayang dalam jarah delapan meter hampir menuju Eiji.
"Eiji!! Apa yang kamu lakukan?"
Ucap Leon dengan serius di sampingku sambil melihat layar proyeksi di sisi lain.
Entah apa langkah selanjutnya yang akan di lakukan Eiji, aku tidak tahu, tapi setidaknya, semua orang punya gaya bertarung mereka masing-masing.
Tapi ... ketika kecepatan tinggi bersama pedang itu hampir menyentuh Eiji, tiba-tiba Eiji dengan sangat cepat mengeluarkan pedangnya dari sarung dan segera menabrak bilah dengan bilah hingga berbunyi benturan bagaikan baja sihir yang saling menghantam. Menghasilkan efek cahaya yang cepat.
"UwooOOOO....!!!!!!!!!"
Selain membuat teriakan penonton menjadi luar biasa dengan adegan itu, rasanya seluruh stadion bergetar bersama suara puluhan juta orang, bahkan para caster segera bersuara dengan takjub bersama komentar mereka dengan gerakan itu. Tangkisan kecepatan cahaya yang menabrak dengan kecepatan cahaya.
"Uwoh!!! Eiji! Luar biasa. Aku belum pernah melihatnya bertarung seperti itu."
Ucap Eiji dengan wajah takjub.
"Aiden, ternyata aku memang tidak salah untuk mempercayakan mu memilih mereka berdua sebagai pemain cadangan." Ucap Alin kyoushi dengan wajah yang tersenyum.
Yeah, Eiji dan aku sering membaca di perpustakaan, dan aku tahu, apa yang selanjutnya akan terjadi.
"Eh? Apa?" Ucap Leon dan Alin kyoushi dengan cepat dan serentak, sambil melihat kepadaku dengan serius.
Yeah, jadi ...
Bergerak bersama kegelapan, lebih cepat dari segala cahaya, untuk menghancurkan segala cahaya.
Seperti itulah ucapanku. Gerakan iblis bayangan, lalu, aku tahu. Ini lah saatnya, aku memberikan peningkatan indera pendengar mereka sekejap, untuk fokus memperhatikan Eiji yang benar-benar sangat jauh dari jangkauan apapun, tidak akan ada yang mendengar ucapan kecil itu selain musuhnya sendiri. Dan inilah yang mereka dengar untuk kedua kalinya, tapi sekarang terdengar dari mulut Eiji di kejauhan tengah arena yang tak di dengarkan.
"Bergerak bersama kegelapan, lebih cepat dari segala cahaya, untuk menghancurkan segala cahaya."
SLUVHHH!!!
Dia bergerak lebih cepat dari cahaya yang brutal sekarang, berpindah berkali-kali bahkan beberapa pijakan yang tidak berada di dataran, bergerak sedikit untuk mengangkat pijakan nya ke udara, membelah setiap udara dengan kecepatan yang benar-benar melampaui setiap cahaya.
Leon: "Apa itu?!?!"
"Yeah, itu lah beberapa teknik dari buku yang kami baca, buku yang cukup menarik untuk Eiji, walau tidak terlalu menarik untukku. Tapi, aku senang ketika dia selalu menjadi semangat untuk membuat dirinya menjadi seperti diriku, padahal aku selalu mengatakan untuk menjadi dirimu sendiri."
UwooOOOAAAAAAAA.....!!!!!
WHOOOOOOOOOO....!!!!
Teriakan itu semakin keras sekarang, dan yel-yel dari empat ribu siswa akademi iblis kami di tembakan dalam serempak menuju suara yang menggetarkan ruang. Pedang nya benar-benar memasukkan serangan berkali-kali untuk membuat lawannya jatuh dengan cepat, namun dia akan bangkit kembali dan bergerak lagi dengan cepat.
Sungguh, lawan-lawan kali ini adalah peserta dengan kemampuan yang hebat, mungkin semakin lama akan semakin menarik. Lelaki itu menyerang Eiji lagi dengan cepat. Ketika keduanya saling menghindar dan menangkis serangan, serangan berikutnya akan di lancarkan ketika salah satu dari mereka menemukan celah yang bagus.
Dan langkah berikutnya, habislah sudah. Eiji pasti akan menyerang dari sisi terbaik yang mengandalkan posisi terburuk dari lawannya. Di akhiri begitu saja dengan tebasan akhir yang menjatuhkan lawannya kembali, kemudian mengarahkan ujung pedang nya di wajah anak lelaki itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan khusus kami...
TOK... TOK... TOK...
Leon segera menuju ke pintu itu untuk membuka pintunya. Tapi, tidak ada siapa-siapa yang terlihat disana, lampu tiba-tiba saja berkedip-kedip, dan rasa keberadaan seseorang memang ada di luar sana, walau tadinya sangat kuat dan semakin mengecil.
Leon menutup kembali pintu karena memang tidak ada siapapun di sana. Hingga beberapa saat, suara ketukan itu terdengar lagi dari luar pintu. Siapa? Tapi, wajah mereka semua segera waspada jika saja itu bahaya. Aku memberikan Leon aba-aba untuk membuka pintunya sebelum aku melihat dengan mata ku sendiri siapa yang ada di luar sana.
Tapi, aku benar-benar melihat seorang gadis seperti para pekerja penawaran makanan yang ada di bagian stadion atas, mereka semua menggunakan kostum yang sama, entah itu office boy, petugas bagian dapur, atau sebagainya yang berhubungan sebagai petugas stadion ini. Terkecuali satpam.
"Leon, buka."
Jadi, dia menerima perkataanku untuk segera membuka pintu dengan cepat. Terlihat seorang gadis yang sedang membawa sebuah meja trolley pelayan yang cukup besar, yeah, ini mirip seperti meja pembawa makanan yang ada di rumahku. Wanda dan Eugene membawa makanan setiap hari dengan mudah menggunakan itu.
Alin kyoushi: "Eee... permisi? Ada yang bisa kami bantu?"
Gadis petugas: "Maaf nona, seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apakah ada bantuan yang kalian butuhkan? Aku mungkin bisa membantu."
"Ku rasa tidak ada." Jawabku dengan spontan.
Gadis petugas: "Oh, jadi seperti itu, baiklah, tapi stadion ini menyediakan beberapa minuman dan makanan untuk setiap peserta, kami di tugaskan untuk mengantar semuanya pada setiap murid ruangan peserta yang ada."
Alin kyoushi: "Begitukah? Kalau begitu, minuman seperti apa itu? Aku akan menerimanya."
Entah kenapa, tapi ... perasaanku sedikit tidak enak, aku merasakan sesuatu yang buruk.
Gadis petugas: "Setiap peserta di harapkan menjaga kesehatan mereka untuk tetap bertanding sesuai jadwal yang di tentukan, maka dari itu, kami di tugaskan untuk memberi minuman dan makanan khusus yang bisa meningkatkan mana sekaligus menstabilkan sihir di dalam tubuh para peserta."
Alin kyoushi: "Yeah, baiklah, letakkan itu di meja ini."
Gadis petugas itu pun langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan ini, ketika satu pijakan kakinya menginjak lantai ini untuk pertama kali, aku merasakan kekuatan yang cukup kuat dari dalam dirinya. Lalu, langkah kedua dan sisanya.
Sambil membawa semua minuman dan makanan ringan yang dia katakan penambah mana itu, aku mendekatinya dan melihatnya dari dekat.
Gadis petugas: "Emmm, ada apa?"
"Tidak, bukan apa-apa.
Aku hanya mendekatinya untuk merasakan lagi aura kuat yang menghilang itu ternyata berasal jauh di dalam dirinya. Ya, aku tahu, dia bukan petugas biasa, dia menyembunyikan kekuatan berlimpah di dalam dirinya dan menyembunyikan aura menindas semacam itu.
Alin kyoushi: "Terima kasih atas bantuannya."
Gadis petugas: "Baik, nona, aku juga berterima kasih padamu karena sudah membiarkanku menjalankan tugasku dengan baik. Semoga beruntung." Ucap gadis itu dengan sopan dan tersenyum.
Setelah mengucapkan itu, dia bergegas menuju meja trolley nya di luar pintu itu, dan akan segera meninggalkan ruangan.
Setelah melangkah keluar dari pintu itu, Leon bergegas untuk menutup pintunya lagi. Pintu itu hampir tertutup seluruhnya, ketika dari celah pintu yang belum tertutup sepenuhnya, senyum jahat dari gadis itu mengarah padaku. Ya, aku tidak salah soal itu, aku jelas sempat melihatnya dari celah kecil pintu itu, pandangan hanya di antara kami berdua pada pintu yang hampir tertutup. Senyum yang tiba-tiba mengembalikan aura mengerikannya.
"Jadi, begitu ~"
Menunggu beberapa detik, aku membiarkannya pergi bersama suara langkah kaki yang menghilang perlahan. Aku tahu, ada yang tidak beres dari gadis ini. Setelah menunggu sekitar dua puluh detik sampai tiga puluh detik, aku mengatakan pada mereka semua bahwa aku akan menuju toilet dan segera kembali.
Tidak ... salah ... aku membuka pintu untuk mengejar wanita itu. Dia mencoba membohongiku, orang seperti ini pastilah seseorang yang berpura-pura menjadi petugas stadion ini, mungkin saja mereka adalah pihak dari akademi lain yang terus memenangkan pertandingan, siapa tahu ini adalah trik yang mereka pakai juga untuk rencana menjatuhkan ribuan peserta untuk kemenangan satu akademi.
Dari tiga sang juara, hanya akan ada satu juara sejati. Bisa saja seseorang seperti ini menyebar racun ke setiap bagian makanan yang dia berikan. Bukan maksudku untuk berprasangka buruk, namun aku hanya berfirasat tidak enak sejak tadi dan bertabrakan dengan senyuman gadis yang jahat seperti itu.