Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 191: Blood Addict



Terbangun tiba-tiba di atas kasur, Aiden ingat bahwa dia hampir terlambat untuk masuk kerja. Dia sempat bangun untuk menggendong Razel ke kamar dan memberinya selimut. Sofa ruang tengah begitu sejuk. Dia tidak ingin membangunkannya, jadi Aiden mandi untuk menyegarkan kepalanya, kemudian membuka lemari dengan pakaian yang berjejer rapi bersama hanger.


Dia kembali ke ruang tengah menuju dapur untuk membuat sereal dengan susu hangat seperti biasanya. Dia pikir dia akan terlambat bekerja, setelah melihat jam sambil berdiri di hadapan cermin, dia berkata, "Kairi ini tidak boleh terlambat, haha." sambil menyantap sendok sereal pertama, Aiden menyalakan kembali ponselnya dan menerima begitu banyak pesan di pagi hari.


Sekitar tiga ratus pesan yang belum di buka. Kebanyakan dari pesan-pesan itu berasal dari rekan-rekan kerjanya yang mengajaknya menikmati beberapa makan malam, karena seluruh pegawai sebenarnya telah menerima gaji bulanan pada 26 Maret kemarin, ada beberapa panggilan tak terjawab sejak pukul sebelas siang dan pukul empat sore.


Panggilan-panggilan itu berasal dari orang yang di berikan oleh Erine, karena lupa mengabari orang tersebut soal kendala dalam pertemuan mereka, maka Aiden akan mengatur kembali pertemuan mereka pada pukul delapan malam. Sementara itu, ada tiga panggilan dari nomor yang tak di kenali pada pukul enam sore kemarin.


Pesan dari orang tak di kenali akan otomatis beralih ke dalam pesan yang diarsipkan, maka, Aiden baru membacanya sebelum dia berangkat ke kantor. Pesan itu ternyata berisi pesan dari Alaya, wanita yang kemarin menyelamatkannya. Alaya bilang, dia akan menemui Aiden lagi demi informasi lebih lanjut. Gadis itu telah siuman dari pingsannya.


Sterilisasi interior mobilnya memang sudah selesai, tapi pihak pembersih akan mengantar mobil itu pada pukul sembilan pagi, jadi Aiden meninggalkan pesan, jika saja mobil itu telah tiba di rumahnya, Razel akan tetap berada di rumah untuk menerima kuncinya. Sejauh ini, dia masih belum tahu pasti ada berapa banyak penyihir-penyihir di luar sana.


Sesampai di mejanya, sebagai Kairi, Aiden menemukan sebuah amplop dengan lem berlogo Golden Box di antara tumpukan berkasnya. Entah dari mana, tapi dia memilih untuk membuka amplopnya sambil menebak bahwa isinya mungkin sebuah penyampaian yang penting dari para atasan. Tapi, pesan itu rupanya merupakan surat pelantikan yang berisi lokasi dan waktunya.


Dia berpikir bahwa dia memiliki banyak waktu yang tidak bisa di sia-siakan. Setelah membaca seisi suratnya, Aiden kembali bersandar di kursinya sambil membuka ponsel untuk membaca beberapa pesan. Pesan yang paling cepat dia tangani adalah orang yang di rekomendasi oleh Erine, ini bukan soal menjadi pembunuh bayaran, atau seberapa banyak bayaran yang dia perlukan. Tapi ini tentang hobinya.


Hari ini, Aiden kembali menjadwalkan pertemuannya dengan orang rekomendasi dari Erine, dia ingin mereka bertemu di jembatan Caitlin pada pukul satu siang. Sambil bertukar pesan dengan orang tersebut, dua orang wanita dan dua orang pria datang dari pintu masuk. Salah satu di antara mereka, wanita bernama Agnes menyapa Aiden.


"Oh! Pak Kairi, kami telah menghubungi mu tadi malam, tampaknya kamu sangat sibuk. Sayang sekali, padahal kami mengajakmu untuk minum bersama." ucap Agnes.


"Maaf, aku kelelahan dan tertidur."


"Haa!! Pak Kairi, kamu benar-benar datang lebih cepat dari kai hari ini ya." ucap seorang pria bernama Han.


"Tidak juga, kupikir aku akan terlambat hari ini ternyata aku datang lebih cepat." jawab Kairi.


Setelah sapaan pagi, atau basa basi peningkat mood, beberapa karyawan yang lainnya kembali bekerja, Ada yang bekerja ke lapangan sebagai karyawan logistik dan ada yang tetap duduk di ruangan yang sama dengan Kairi sebagai staff logistik.


Ada banyak hal yang harus di lakukan, dia berpikir seperti itu, beberapa waktu kemudian Aiden keluar lagi dari kantor untuk berjalan ke seberang dan mencari cafe terdekat. Dua menit setelah berjalan, di ujung perempatan lampu lalulintas ada sebuah gedung yang di penuhi dengan kaca. Blue Tea tertulis namanya di bagian tengah gedung itu.


Cafe ini belum pernah terlihat sebelumnya, jadi dia memutuskan untuk masuk begitu saja, di pintu masuk udara di dalam terasa begitu hangat dan aromanya cukup menggugah selera. Aiden mengambil meja nomor 14, karena tampaknya hanya meja itu yang kosong. Selebihnya telah di penuhi dengan pelanggan.


Melihat menu-menu yang ada, Aiden memutuskan untuk memesan ayam saus mentega dengan blue tea extra. Setelah waiters pergi menuju dapur untuk memberi catatan menu, seseorang datang ke meja Aiden. Dia seorang lelaki, tampaknya berusia delapan belas tahun, memiliki rambut berwarna hitam kecoklatan dan memakai sebuah kacamata dengan pakaian luar cardigan rajut mingyu berwarna coklat.


"Permisi tuan, bolehkah aku duduk disini?" tanya lelaki tersebut.


Aiden kemudian memandang ke arahnya dan mempersilahkan lelaki tersebut untuk duduk di depannya, karena dari banyaknya meja, hanya meja ini yang tersisa. Terkecuali mereka harus sabar menunggu pelanggan lain selesai dan pergi meninggalkan meja mereka.


"Maaf, aku harus berada disini karena tidak ada lagi meja yang bisa kudapatkan." ucap lelaki berkacamata tersebut.


Waiters yang peka dengan kedatangan pelanggan baru segera mendatangi meja Aiden lagi dan memberi buku menu pada lelaki di hadapan Aiden. Suasana begitu aneh, jadi Aiden memutuskan untuk bertanya pada lelaki di depannya, "buku apa yang kamu baca?"


Lelaki tersebut kemudian membalas pandangannya dan menjawab, "Oh, buku ini ... buku ku."


"Judulnya? Tentang apa cerita di dalam buku itu? Dari penglihatan ku, tampaknya itu bukan sebuah buku edukasi atau semacamnya, mungkin novel atau komik?" ucap Aiden.


"Ini novel, berceritakan tentang penjahat yang menjadi karakter utama, dan genrenya adalah fantasi supernatural dan horor." ucap lelaki muda itu.


"Oh, begitu, jadi kamu menyukai genre semacam itu ya."


"Benar! Benar sekali, apakah Anda juga menyukai cerita-cerita seperti ini?" tanya lelaki itu dengan sedikit bersemangat.


Aiden menjawab, "Aku menyukainya, terlebih lagi aku lebih menyukainya aksi yang nyata daripada sekedar fiksi."


"Aksi yang nyata?" tanya lelaki itu dengan kebingungan.


Aiden: "Aksi ... yang ... nyata."


Lelaki itu terus kebingungan sampai akhirnya makanan sampai, tidak ada lagi perbincangan setelah itu. Karena rasanya cukup canggung. Aiden menghabiskan makanannya terlebih dahulu untuk segera meninggalkan meja. Dia pergi sekalian membayar makanan yang dimakan lelaki itu, namun Aiden meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.


"Tunggu! Tuan!! Kamu! Berhenti." teriak lelaki itu dari kejauhan sambil mengejar Aiden yang sedang berjalan menuju arah penyeberang jalanan.


Mobil di jalanan terlalu padat, lelaki itu bahkan kehilangan jejak Aiden saat mobil-mobil yang melintas menutupi pemandangan, hari-hari ini terasa membosankan.


Beberapa saat kemudian ponsel Aiden berdering, nomor tak dikenal memanggilnya dengan tujuan yang tidak diketahui. Karena merasa memiliki waktu luang, Aiden mengangkat teleponnya. Dia hanya menggeser ke tombol hijau di layar untuk menjawab panggilan dan menunggu untuk mendengarkan sebuah kalimat.


"Halo, aku adalah kenalan dari nona Erine, apakah Anda masih membutuhkan jasa untuk meretas sebuah akun sosial media? Maksud saya, saya bekerja sebagai hacker diluar komunitas apapun itu, nona Erine memberikan nomor Anda padaku."


"Wanita bodoh itu, benar-benar." ucap Aiden dalam hati.


"Ya, aku masih membutuhkannya, temui aku di stasiun kereta bawah kota Rebecca jam delapan malam ini." ucap Aiden, kemudian menutup teleponnya.


Sial! Sial! Sial!!


Semua ini terlalu lama, butuh waktu yang lama.


Aiden sangat marah dengan emosi didalam hatinya, dia harus memikirkan bagaimana jalan tercepat untuk menggeser direktur dan membunuh Billie. Dia terlalu sakau ketika tangannya tidak merobek-robek tubuh seseorang, jiwanya mulai beronta-ronta dan mencoba mencari mangsa secepatnya.