
Saat berjalan di antara gedung besar sekolah, dia melihat sosok bayangan dengan tangan penuh kuku yang panjang dan seorang wanita berjubah putih yang menutupi sebagian wajahnya hingga ke hidung. Bibir wanita itu terlihat dengan lembut, namun yang di hadapinya adalah mahluk berbentuk bayangan yang tubuhnya hampir seperti tubuh fisik.
Detik berikutnya Aiden masih melihat ke arah mereka. Wanita dengan pakaian putih mengarahkan kekuatannya untuk menunjukkan lubang sihir proyektil yang bersinar. Dari setiap lubang-lubang itu, pedang-pedang suci dengan keluar dan melaju ke arah mahluk bayangan tersebut. Namun tidak semudah yang di pikirkan, mahluk bayangan itu menciptakan tangan-tangan bayangan dari penyerapan bayangan di sekitar.
Dengan memanfaatkan bayangan-bayangan di sekitar, sosok tersebut mampu menciptakan benda apapun untuk menahan pedang-pedang milik wanita itu. Setelah menyaksikan semuanya, Aiden akhirnya bisa mengerti seperti apa rupa hal yang di hasilkan dari bunyi-bunyi yang menggangu.
Tangan-tangan bayangan yang menangkap pedang kemudian menghancurkan mereka seperti kapas. Selebihnya dari pedang-pedang yang berantakan datang ke gedung-gedung sekolah, memecahkan kaca-kaca ruangan, bahkan tertancap di tembok yang mengikis wajah Aiden.
Berhasil selamat dari lemparan pedang secepat itu, jantung Aiden berdebar sangat kencang. Pedang-pedang itu bahkan menancap ke tembok yang sangat dalam hingga bilah nya tak terlihat. Suara wanita itu kemudian terdengar lama hingga membuat Aiden berdiri untuk melihat mereka dari kejauhan.
Tapi saat itu juga, wanita itu telah kalah. Tangan bayangan yang begitu tajam menembus perutnya hingga ke belakang, apapun di tembus oleh tangan bayangan itu, tentu saja organ-organ tubuhnya rusak fatal hingga ke tulang-tulang nya. Yakin bahwa gadis itu tidak bernafas dan mati, sosok bayangan berbentuk manusia itu jatuh ke tanah dengan cepat menyatu bersama bayang-bayang dari benda di sekitar dan menyembunyikan keberadaan nya.
"Jeanne!!!"
Sesaat kemudian, terdengar teriakan perempuan lainnya dari bagian atas atap, sosok berjubah lainnya yang turun begitu cepat dari langit dengan meneriakkan nama gadis itu. Mereka berdua tampaknya hampir sama di mata Aiden, penyihir yang sedang melawan mahluk jahat di depan matanya. Namun temannya terlambat untuk menyelamatkannya.
"JEANNE!!!!!!"
Temannya berteriak sekali lagi sambil menangis memeluk sosok gadis penuh darah itu. Penutup wajah nya mulai terbuka, menampilkan wajah cantik yang pucat oleh serangan pembawa maut. Temannya yang menangis segera bergegas menggendong gadis bernama Jeanne itu menuju masuk ke gedung sekolah, setelah tangga lantai dua, ruangan terdekat gelap gulita di buka olehnya.
Menyingkirkan semua meja dan kursi dengan sihir-sihir nya, Aiden yang penasaran terus mengikuti nya dan mencoba untuk tidak menghasilkan satu suara entah sekecil apapun itu. cahaya dari ruangan itu bersinar cukup cerah menembus ventilasi-ventilasi kelas. Aiden masih mengintip dari luar ruangan sambil terus menurunkan nafasnya. Mencoba menahan rasa terkejut yang sangat besar di hatinya. Seorang gadis yang setiap hari pergi ke sekolah di bus yang sama dengannya adalah seorang penyihir.
Gadis itu meletakkan tubuh temannya yang sekarat di tengah lingkaran sihir yang telah dia gambar di lantai, kemudian beberapa permata kecil berwarna di letakkan di setiap bagian yang menuliskan simbol sihirnya. Saat da menunjukkan sebuah buku tebal di atas tangan kirinya, lembaran dengan kalimat yang di sentuhnya berubah menjadi kalimat yang menyala.
"Untuk matahari yang telah terbenam, dan untuk bulan dan bintang-bintang yang hadir disini, di atas lingkaran suci ini, izinkan kami menggunakan sihir suci penyembuhan mu, izinkan kami melakukan pemanggilan para roh penyembuh semesta. Datanglah ... datanglah ... datanglah!"
Setelah kalimat yang seperti sebuah mantra di ucapkan oleh gadis berjubah tersebut, seluruh permata kecil bersinar bersama lingkaran sihirnya, menciptakan roh-roh suci yang mampu menyembuhkan apa saja. Sosok-sosok roh yang keluar mengelilingi ruangan bersama cahaya berkilauan di sana dini. Setelah semua roh beterbangan dan membentuk formasi, mereka langsung terbang masuk ke tubuh gadis sekarat di atas lingkaran sihir ini.
Efek-efek cahaya bergerak di seluruh tubuhnya, hingga beberapa detik kemudian, gadis itu sadar dengan cepat dan memuntahkan seteguk darah yang mengotori semua jubahnya. Saat gadis bernama Sianne itu sadar, temannya yang mengorbankan banyak kekuatan sihir untuk menggunakan sihir pemangilan roh penyembuh segera mendekatinya dengan tubuh lemas.
"Jeanne!"
Gadis itu segera memeluk temannya yang kembali siuman.
Aiden masih terpanah dengan sihir nyata yang di lihatnya secara langsung, mencari celah untuk mulai berbicara dan menyatakan kekagumannya, namun itu tidak bisa di lakukan sembarangan.
"Huh? Jishu ... ka-kamu menyelamatkan ku."
Jeanne yang telah pulih dengan cepat membantu Jishu keluar dari ruangan tersebut. "Jishu, bertahanlah" Ucapnya. Saat Aiden menyadari bahwa mereka semua akan berpapasan, dia tidak punya cara lain selain lari sekencang-kencangnya agar tidak di lihat oleh siapapun. Suara sentakan kaki yang cepat dan keras tidak menginjak setiap anak tangga, Aiden pergi begitu saja untuk tetap mengawasi mereka dari jauh.
"Hah?!?! Siapa di sana?!"
Ucap Jeanne dengan terkejut sambil melihat ke sekeliling lorong kelas yang gelap dan berwaspada.
"Gawat!! Jishu, jika masih ada seseorang yang berkeliaran di sekolah ini, maka identitas kita akan terungkap sebagai penyihir!"
"Ahhh, apa sih yang di lakukan seorang siswa jam malam seperti ini berkeliaran di lingkungan sekolah?" Ucap Jishu dengan lesu.
"Jeanne, untuk malam ini kita akan menunda pengejaran tujuan kita, kamu juga perlu beristirahat kan? Aku tahu itu, kamu tidak perlu berbohong, raut wajahmu menunjukkan bahwa kamu kelelahan."
"Baiklah, kita berhenti sampai di sana." Balas Jeanne dengan wajah yang kelelahan."
Hujan turun cukup lebat malam ini, Aiden yang berjalan pulang basah kuyup di guyur oleh hujan. Tidak ada taksi menuju perbatasan kota, jika ada, itu cukup sulit di temukan. Tangan kiri masih memegang tas tote bag nya, dan tangan kanannya menutup sebelah wajahnya sambil tersenyum.
"Oh Astaga!! Sihir itu ada? Aku tidak bermimpi kan??"
"Sihir itu ada." Tiba-tiba saja ada sebuah suara yang menjawab entah dari mana asalnya.
Sekujur tubuh Aiden merinding, dia berjalan melewati kolong jembatan yang gelap gulita tanpa ada satupun kendaraan yang melintas.
Tidak ada siapa-siapa, namun ada sebuah jawaban. Dia sedikit mempercepat langkahnya, tidak berbeda jauh dengan langkah sebelumnya. Berjalan melangkah sedikit cepat itu adalah kebiasaan Aiden. Setiap kali dia berjalan, tangan kanannya pasti berada di sekitar pinggul dan kantong celana, seolah-olah menahan sesuatu agar tidak jatuh dari kantongnya, sementara tangan kanannya berayun mengikuti pertukaran gerakan kaki.
Udara dingin dan hujan yang deras kini disertai oleh kabut dan kilatan petir di langit.
Berjalan maju tanpa henti, dia melewati beberapa tiang lampu yang kelap-kelip. Melihat sekilas kemudian beralih pandangan lagi ke depan. Tapi ada sesuatu lain yang terlihat sekilas dalam sekejap, sangat aneh dan mengejutkan.
Ketika dia berpikir kembali soal penglihatannya, dia kembali menoleh ke arah tiang-tiang lampu di belakangnya yang terus mati dan menyala. Sesampainya di rumah, ibu nya bahkan mengomelinya soal pulang malam tanpa alasan yang jelas. Itu membuat ibu nya khawatir. Namun, sekarang menjadi baik-baik saja. Karena setelah sampai di rumah, dia menguyur lagi semua tubuhnya di dalam rendaman bak air hangat.
Membuka pintu dan menyalakan pendingin ruangan. Kemudian menyelimuti kaki hingga dada nya dengan selimut adalah kebiasaan Aiden. Merasa tidak enak badan saat ini, dia bahkan tidak berniat menyentuh laptop dan PC nya, begitu pula dengan ponsel nya. Rasanya dia benar-benar mengantuk saat ini. Bisanya dia akan tidur sekitar jam 1 atau jam 2 malam.