
Dengan transformasi selanjutnya, tangannya mampu untuk beregenerasi kembali. Dia menyerang ku dengan pedang hitam biru di tangannya. Ketika aku mencoba menghindar, ribuan tangan iblis dari bawah tanah mulai mencengkeram ku, membuatku tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Tamatlah riwayatmu sekarang! Hahaha!!"
Serangannya menghasilkan ledakan yang setara seperti sebuah dinamit yang di letakkan berbaris untuk merubuhkan gedung sepuluh tingkat. Area perbelanjaan ini bahkan sudah rata dengan tanah.
Aku tahu tidak banyak orang yang melihat hal seperti ini, ini terjadi di malam hari ketika penduduk kota tidak lagi berada di luar rumah. Mereka yang di sekitar menyaksikan ledakkan ini, bahkan mereka lari karena ketakutan. Lagipula getaran dari ledakkan ini terasa begitu keras seperti gempa 15,8 magnitudo.
Semoga saja mereka semua menjauh dari pertempuran ini.
Karena aku yakin, transformasi iblis selanjutnya akan memberikan kerusakan tingkat tinggi sebagaimana Dylan menyerap tata surya dan menghancurkannya ke dalam lubang hitam. Semakin banyak mereka bertransformasi, semakin kuat fisik mereka, sihir mereka, bahkan kecepatan tempur mereka.
Mereka kuat, bisa bertransformasi dari tahap pertama sampai ke tahap kedua, tidak banyak iblis yang berubah sampai sejauh itu menurut yang kupelajari.
"JahahaHAHAHAHAHA...."
....
"Aiden sudah terbunuh! Sesuai perintah, kita bahkan sudah menangkap ratu yang tersegel!
Dengan begini, kita bisa menyerap kekuatannya ke dalam kristal hitam dan membunuhnya untuk selamanya!"
Aku melihat lelaki bernama Aamon itu sedang tertawa dengan wajah yang tidak terlihat, mereka semua memiliki transformasi dengan wujud yang berbeda-beda. Namun, sepertinya aku sedang melihat lelucon para iblis konyol.
"Benar! Dengan begini lautan hitam akan berkuasa ke selur–"
CRUAKSSHH!!
Aku hanya mengarahkan jariku pada iblis bernama Migare itu, si berengsek yang juga merasa dirinya kuat. Ketika jariku mengarah padanya, dia mati begitu saja dan ambruk ke tanah. Jantung nya langsung meledak berhamburan ke luar dari dadanya.
Ekspresi mereka semua segera berubah, bagaimana rasanya ketika kamu berada di depan garis finish, tapi seseorang yang lebih cepat akan melampaui mu dan merebut kemenangan?
Yeah~ itu cukup bodoh sih.
Lagipula, sejak awal mereka tidak akan pernah sampai ke garis finish.
"Aku tidak mengira bahwa kalian benar-benar bodoh sampai sejauh ini."
Aamon: "Kamu?!?! Masih hidup?"
"Yeah, yeah, berpikir bahwa kalian telah menyandera ratuku? Oh, benar-benar perilaku tidak terpuji. Tapi itu cocok untuk kalian."
Aamon: "Omong kosong!"
Dia segera mengeluarkan kristal hitam dari kehampaan dengan aura kuat yang memancar ke segala arah. Mencoba menyerap jiwa dan segala kekuatan Marie, tapi ini benar-benar hal yang paling-paling bodoh, lebih bodoh sepuluh kali lipat dari yang sebelumnya.
Aku tidak bisa menahan tawaku, jadi aku tertawa seperti seseorang yang benar-benar stress, aku tidak pernah menyangka bahwa tawa gila ku akan kembali seperti sejak aku sendirian di dalam kegelapan kamarku.
Itulah yang terjadi ketika aku menjadi manusia, aku terus berkhayal akan kekuatan semacam ini, benar-benar berkhayal bahwa semua ini nyata, semua ini ada, dan semua itu milikku. Di saat itu juga, jiwa ku terlalu mendalami Khayalan dan imajinasiku, tenggelam begitu dalam dan tertawa atas ilusi bagaikan realita.
Aku tertawa, tertawa begitu gila dan senang.
Rasanya seperti semuanya nyata ketika aku berimajinasi terlalu jauh.
Orang tua ku selalu masuk ke kamar ku secara tiba-tiba di tengah malam, mereka memarahiku atas tawa yang tidak terbendung. Katanya, itu terdengar hingga ke rumah tetangga.
Bahkan, mereka pernah marah besar atas tawaku dan mencoba membawaku ke rumah sakit jiwa.
Dasar manusia dengan imajinasi rendah, pantas saja hidup kalian akan selalu terlihat biasa.
Tidak mengagumkan.
Tidak epik.
Biasa saja, dan tidak ada yang menarik!
Manusia biasa akan berpikir lurus, mereka lahir, belajar, bertumbuh dewasa, mencoba meluruskan segala lika-liku kehidupan. Hingga mereka mencari pendidikan setinggi langit, memiliki pekerjaan yang layak, menikah, memiliki anak dan keluarga hingga seterusnya yang menjadi keturunan.
Rakyat jelata miskin tanpa cita-cita pun memiliki hal yang sama. Mereka juga ingin belajar, berkeluarga, kepuasan hasrat seksual, kemanusiaan, kepopularitasan, dan kehidupan dunia lainnya.
Bagi manusia, ini menyenangkan dan ini indah.
Di samping itu, ada lagi tujuan utama mereka yang terlupakan, setiap manusia pasti memiliki kepercayaan. Mereka percaya akan Tuhan, menyembah Tuhan sebagai yang Maha kuasa.
Nama Tuhan akan selalu ada di sebut kapan saja ketika mereka berdoa, memohon pertolongan, perlindungan, meminta sesuatu, penguasa kehidupan dan kematian.
Manusia dan binatang adalah mahluk rendahan yang selalu akan tetap berada di hirarki terbawah, mereka akan hidup normal, mensyukuri apapun pemberian Tuhan. Mencoba meraih kebaikan dunia untuk melewati kematian dan akhirat ... melangkahkan kaki menembus Surga.
Aku percaya bahwa Tuhan itu ada.
Dia di sebut sebagai Elgine. Walau dalam kepercayaan yang berbeda-beda, terkadang di dalam agama-agama dunia menyebutkan nama lain dari Tuhan mereka adalah Elgine.
Lagipula kisah-kisah sejarah setiap agama hampir memiliki kesamaan yang saling berhubungan.
Ngomong-ngomong...
Bicara soal Tuhan, ada mahluk yang lebih hina dari manusia yang perlu di selesaikan.
Iblis yang sok kuat di hadapanku.
Tawa ku terus berlanjut, karena itu bodoh. Nada suaranya berubah dan bertanya mengapa aku tertawa.
"Bertanya soal mengapa aku tertawa? Harusnya aku ingin bertanya balik sejak kapan kamu terbodohi oleh ilusi?"
Aku berhenti tertawa.
Tersenyum seperti penguasa.
Ketika dia berbalik ke arah Marie yang akan di serap, ilusi nya ku hentikan. Semua ilusi menghilang cepat bagaikan abu yang di terbangkan oleh angin satu arah.
Aamon: "Tidak mungkin!! K–"
Dia segera terdiam dan panik melihat ke segara arah, berputar pandangan beberapa kali. Yang terlihat hanya iblis dengan nama Migare yang sudah tersungkur bersama jantung nya yang meledak.
Oh, benar-benar bodoh.
"Mencari sesuatu? Mencari temanmu? Maksudmu ... ini?"
PTEK!
Lubang-lubang di tanah segera terbuka, membangkitkan sembilan orang lainnya yang mati. Tubuh mereka yang tadi nya berwajah dengan wujud transformasi yang keren sekarang telah musnah. Yang ada hanyalah tubuh setengah tengkorak.
Aamon: "Hahhhh?!?!?"
Aku membuat teman-temannya menjadi undead, bukankah itu ******, iblis dengan transformasi hebat yang bahkan bisa di ubah menjadi undead.
Kemudian aku menggerakkan mereka semua untuk memakan satu sama lain, tulang memakan tulang saling bergigitan seperti mahluk konyol.
"Aku tidak tahu, kalian ini dari dunia iblis yang mana. Mungkinkah kalian adalah Iblis-iblis yang di buang dari alam iblis?"
Aamon: "Kamu, bagaimana bisa tahu?"
Aku bergerak dalam sekejap, langsung berada di depannya dan memancarkan aura ku untuk menggetar jiwa nya. Tanganku langsung sampai ke lehernya dan mencekiknya hingga kakinya melayang.
"Hanya menebak, sekarang katakan. Dunia manakah itu?"
"Iblis seperti apa yang hidup di dunia lain sebagai iblis terbuang?"
Aamon: "Akhhgghhg!!!"
Dia terus menjerit kesakitan ketika lehernya hampir kuhancurkan dengan genggamanku.
"Katakan."
"Aku tidak akan membunuhmu, karena menyiksamu masih lebih baik."
"Ahaha~ Marie, kurasa ini tidak sopan, tapi aku akan meminjam beberapa pasukan iblismu."
Aku menamai pemanggilan iblisku dengan....
...MILITES INFERNUM...
Wush! Wush!
Wush! Wush! Wush! Wush! Wush!!
Beberapa pasukan pria bersetelan serba hitam yang mengkilat datang dari kehampaan yang di selimuti kegelapan. Kepala kambing jadi-jadian, tanduk yang berputar dan melengkung ke bagian belakang dengan mata merah mereka yang gelap.
Aku mengembalikan Marie kembali ke sini.
Marie: "Wah, wah, wah.... Iblis yang di buang yeah? Sangat menjijikan sekali."
BANG!
Dia dengan cepat mengeluarkan pistol yang kuberikan tadi, menembak kepala orang ini hingga jidatnya tembus dan menghancurkan seluruh isi kepalanya.
Pistolnya mengeluarkan asap setelah menembak, seolah-olah ini adalah senjata api biasa. Namun sebenarnya pelurunya tercipta dari sihir yang tidak akan pernah habis.
Marie: "Aiden, hidupkan lagi, terus hidupkan, sampai dia mau mengatakan sesuatu."
Aku terus menghidupkan iblis ini dari kematiannya. Kemudian aku menggerakkan semua iblis berkepala kambing ini untuk mendekatinya, kemudian mengulitinya perlahan.
Huuh, rasa sakit yang luar biasa.
Aku bisa melihat itu dari matanya.
Dia menjerit kesakitan setengah mati sebelum otaknya hancur lagi di tembak oleh Marie. Empat orang iblis berkepala kambing berdiri pada empat bagian tubuhnya, masing-masing berada di tangan dan kaki.
Kulitnya benar-benar terkelupas hingga daging dan darah terlihat. Setelah dia beregenerasi kembali, kulitnya akan terus di kupas kembali dan Marie terus menembak kepalanya dengan pistol ini.
Siksaan terus berlanjut, tidak ada satupun kata pengakuan yang keluar dari mulutnya. Dia terdiam pasrah dengan tubuh penuh darah yang di kuliti terus-menerus dan kepala nya yang meledak berkali-kali.
Tidak ada respon.
Padahal aku sudah menarik nyawa nya kembali. Dia terlihat seperti mati sungguhan. Tapi dia tidak mati, dia sadar.
Apa yang di lakukannya?
Satu peluru, satu nyawa nya melayang.
Setiap kali Marie menembak, dia akan mati lagi dan aku akan membangkitkannya terus-menerus hanya demi kepuasan Marie.
Namun, ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba terasa. Dan aku kemudian melihat sesuatu, suatu tempat, kejadian yang tidak pernah ku ingat. Namun, ini adalah saat dimana aku masih kecil, tepatnya aku melihat diriku yang baru saja di lahirkan.
Sosok ayah dan ibuku yang kukenali.
Ibuku baru saja di keluarkan dari ruang persalinan dalam keadaan tidak sadar, wajah ayahku yang terlihat khawatir dengan raut wajah serius menunggu kehadiran ku. Lalu, gambaran ini melompat begitu saja ke waktu yang sedikit di percepat.
Ibuku yang sudah sadar menggendongku di kasur rumah sakit, bayi itu ... sepertinya itu adalah diriku yang baru lahir.
Aku tidak pernah bisa mengingat memori ku pada usia lima tahun kebawah. Disana, ayahku juga berada di dekat ibuku. Mengelus kepala dan mencium kening ku perlahan.
Kenapa aku tiba-tiba berpikiran untuk melihat ke sini?
Sesuatu yang aneh di rumah sakit tiba-tiba terjadi. Seorang dokter tiba-tiba menjadi gila dan membunuh semua bayi di ruang inkubator dengan sadis.
Orang-orang di rumah sakit segera berlarian. Seseorang menelpon polisi secepat mungkin, ayah dan ibuku masih tidak tahu apa yang terjadi di lantai bawah rumah sakit. Ruang tempat mereka berada sekarang adalah di lantai tiga.
BLUWSH!!
Semua nyata.
Ini adalah kenyataan.
Tapi....
Aku berdiri disini sebagai Aiden Leonore yang berbeda, aku tepat berada di lantai paling bawah. Seorang dokter berkacamata penuh darah memandangku dengan tatapan seorang pembunuh, seolah-olah memiliki dendam besar dalam tatapan matanya.
Dia berjalan dengan cepat menuju ke arahku, kupikir dia akan melakukan sesuatu, tapi dia melewati ku dengan cepat.
Tidak!
Tidak cepat!
Itu lebih dari cepat.
Dia bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat dari cahaya, bagaikan cahaya hitam beserta asap yang melewati ku begitu saja.
Aku berjalan perlahan tanpa berlari sedikitpun, menuju lantai dua. Melewati banyak anak tangga hingga naik ke lantai tiga rumah sakit ini.