
Dari bukit hijau yang tidak terlalu jauh, pria itu mulai bergegas menuju Aiden dan Razel, berjalan dengan tas kotak berwarna hitam yang di gendong di bahu kiri nya. Aiden bahkan belum memulai kata-katanya, namun pria itu sudah meminta maaf secara blak-blakan terlebih dahulu. Dia ingin meminta maaf karena mengambil gambar seseorang secara diam-diam.
Aiden kemudian tertarik dengan profesi pria ini, kemudian dia memiliki satu ide lagi. Dia meminta agar pria itu menunjukkan hasil potret yang dia lakukan secara diam-diam.
Dia baru saja mengambil tiga gambar Razel dan Aiden yang berjalan sambil melirik, kemudian foto lainnya adalah foto Aiden dan Razel yang tertawa bersamaan di lengkapi pemandangan sempurna.
Aiden tertarik dengan hasil pemotretan pria ini, dia kemudian menunjukkannya pada Razel hingga membuat Razel takjub dengan hasil foto itu. Saat Aiden bertanya apakah pria itu seorang fotografer, pria itu menjawab bahwa dia bukan seorang fotografer ahli, dia hanya mengatakan bahwa dirinya adalah fotografer lepas yang suka menggambil gambar hewan, serangga, pemandangan, termasuk paparazi seseorang.
"Aku benar-benar mengagumi skill fotografi mu, apakah seseorang sepertimu bisa di sewa? Karena datang jauh-jauh untuk berlibur disini, maka aku dan ... maksudku kami juga membutuhkan foto-foto untuk kenang-kenangan berlibur disini."
"Hotel Garanet kamar nomor tiga puluh tiga, datanglah jika kamu menerima tawaran sebagai fotografer bayaran ku, kamu bebas menentukan biayanya, asalkan kami bisa memiliki foto-foto terbaik." ucapan tambahan Aiden.
"Maaf saudara, bahkan aku akan menerimanya sekarang juga dengan tawaran seperti itu." jawab pria itu.
Pria itu kemudian menjabat tangan dengan Aiden sambil memperkenalkan namanya. Namanya adalah Noah, seorang fotografer lepas berusia dua puluh enam tahun, yang sebenarnya pernah menyelesaikan pendidikan strata dua atau magister bidang fotografi di universitas RCA atau di kenal dengan nama Royal College of Art yang terletak di Kensington Gore, London.
Sambil memotret Aiden dan Razel, Aiden meminta agar Noah menjelaskan asal usulnya bisa menjadi seorang fotografer yang sangat ahli, maka dari itu, dia mulai memperkenalkan dirinya pada Aiden yang membuat Aiden takjub akan gelar yang telah dia peroleh, dan yang membuatnya tidak bekerja di bidang fotografi, studio atau semacamnya saat ini adalah alasan bahwa dia berhenti berkerja untuk beberapa tahun dan ingin menikmati liburannya sendirian dengan mengambil potret-potret keindahan alam.
Tapi dia beruntung bertemu Aiden yang juga bertujuan untuk pergi ke luar negeri hanya demi menjalin hubungan lebih dekat dengan Razel termasuk foto prewedding. Maka dari itu, Noah bisa mendapat bayaran yang cukup besar sesuai bayaran yang mereka sepakati. Karena tidak ada trolley bayi, kebetulan ada sebuah tempat dimana para wisatawan bisa mendapatkan perlengkapan bayi atau mungkin cukup menyewa perlengkapannya.
Aiden ingin Noah mengambil gambar yang lebih sempurna dari sebelumnya, namun hanya perlu ada fotonya dan Razel, maka Mira kecil akan di letakkan di dalam keranjang bayi yang bertepatan di sebelah Noah sambil memegang kamera dan berdiri untuk mencari angle dan pencahayaan terbaik, karena Aiden ingin foto ini menjadi foto prewedding yang luar biasa, Razel bahkan tidak menduga semua hal yang telah di rencanakan Aiden untuknya.
"Saudara Aiden, aku minta maaf, tapi ... apakah kamu bisa memadamkan rokok mu sebentar saja? Jika bisa, maka baguslah." ucap Noah setelah menemukan posisi terbaik untuk memotret."
"Oh, benar juga." respon Aiden sambil membuang dan menginjak rokoknya dalam sekejap.
Lagipula, Razel merasa terganggu saat Aiden merokok di dekatnya dan membuat asap-asap itu mengenai wajahnya. Namun dia tidak menegur sama sekali entah apa alasannya, lagipula Aiden seharusnya tidak merokok di saat-saat seperti ini, apalagi di dekat seorang bayi.
Selanjutnya, Noah hanya memberi beberapa instruksi agar mereka berpose sesuai pasangan yang seharusnya, karena Aiden bilang bahwa dia ingin memiliki foto seperti prewedding, dan sebenarnya foto ini bertujuan sebagai foto prewedding yang kemungkinan satu di antara banyak gambar akan dia pilih dan di pajang di ruang tamu rumah baru mereka nanti.
"Baik ... satu-dua-tiga!! Satu-dua-tiga!!"
CEKREKK!
Noah mengambil gambar dengan sangat cepat, kemudian merubah posisi tubuhnya dari sudut yang berbeda.
"Ubah pose ... satu-dua-tiga!! Satu-dua dan ... tiga."
CEKREKK!
"Hmm, kalian bisa kembali kesini untuk melihat hasilnya." ucap Noah setelah mengambil lebih dari dua puluh foto yang menarik. Saat keduanya melihat hasil foto mereka, itu benar-benar hasil yang tak terduga. Namun Noah ingin agar mereka bergandengan tangan, berpelukan, atau membuat senyuman-senyuman itu menjadi lebih ceria.
Aiden kembali pada posisinya sesuai instruksi Noah, kemudian dia menatap mata Razel dan mengatakan "Genggam erat tanganku, bahkan lakukan dengan cintamu, buktikan padaku bahwa hubungan kita akan menjadi hubungan yang indah." Razel kemudian tersipu malu dengan ucapan Aiden.
"Aku lupa, emmmm ... apa ya?" Aiden berpikir sejenak."
"Soal bibirku, apa kamu masih mempermasalahkannya? Atau mungkin kamu masih keberatan jika aku menggunakan lipstik seperti ini?"
"Jujur, dan ini adalah kejujuran ku untuk kesekian kalinya, kamu memang wanita aneh apalagi dengan warna lipstik ungu mencolok seperti itu. Tapi aku juga menyukai ciri khas itu, dimana aku tidak pernah melupakan pandangan pertama wajahmu sebagai penyihir penyembah setan yang ingin memanfaatkan ku." ucap Aiden dengan nada yang sangat pelan.
"Bukan begitu, aku tidak bermaksud memanfaa—"
Aiden berbisik dengan cepat di telinga Razel "Tidak apa-apa, aku menerimanya, aku harus menerima dirimu, sebagai calon istriku."
"Aiden, kamu membuatku benar-benar malu. Aku ... aku mencintaimu." Razel kemudian memeluk Aiden dengan erat dan membiarkan cinta hangat itu terjalin pada Aiden.
"Tolong berjanjilah untuk mencintaiku." ucap Razel sambil memejamkan matanya.
"Dan selesai!" Teriak Noah dari kejauhan setelah berhasil menangkap foto yang sempurna. Keduanya bahkan sudah berjalan jauh sambil mengobrol dan menggandeng tangan satu sama lain. Noah kelelahan karena tidak harus memegang kamera, dia juga harus terus mengikuti keduanya sambil mendorong kereta bayi berisi Mira kecil.
Keduanya berjalan entah membicarakan sesuatu yang mungkin menarik hingga melupakan anak mereka. Benar-benar hasil pemotretan yang sempurna ketika keduanya bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang melakukan pemotretan. Noah juga tidak tahu harus menggunakan apa untuk membujuk bayi yang menangis.
"Saudara Aiden! Nona Razel! Huh! Hah!!" Ucap Noah dengan nafas yang tergesa-gesa seperti baru saja menyelesaikan lari estafet sebanyak lima putaran.
"Anak kalian sudah menangis sejak tadi, aku tidak tahu apa yang dia inginkan."
Razel kemudian mengangkat anaknya dari kereta bayi dan menggendongnya dengan ayunan yang sangat halus. "Ah~ anak ibu yang cantik, jangan menangis, ibu ada disini."
Aiden merasa bahwa seharusnya cukup untuk hari ini, karena anak ini juga perlu beristirahat, tempat ini cukup dingin. Maka pemotretan akan di lanjutkan besok. Di malam hari, Mira kecil kencing di popoknya sehingga keduanya harus mengganti popoknya. Kemudian membiarkannya tetap hangat di ruangan.
Duduk di kursi sofa sambil memandang Razel yang mengganti popok untuk bayinya, Aiden kemudian mengatakan alasan dia memilih tempat ini sebagai tempat untuk berlibur. Alasan itu bukan hanya karena sekedar indah, tapi lembah ini hampir mirip dengan padang rumput di dalam mimpinya, warna hijau segar yang sama, namun membuatnya memikirkan wanita berambut merah itu lagi.
Mendengar mimpi Aiden soal wanita itu, Razel mulai meyakini bahwa Haumea yang dia sembah, pasti hadir di mimpi Aiden dalam bentuk wanita cantik, dan Razel sedikit meyakinkan pada Aiden, bahwa Haseichta yang di katakan di dalam kitab Satare itu pasti benar-benar nyata.
Razel kemudian meninggalkan bayinya dan duduk di lantai dengan gaya duduk yang benar-benar menggoda, kedua tangannya menggenggam lengan Aiden dengan lembut.
"Aiden, dengar. Hanya ada kamu dan aku, yang kemungkinan di antara kita berdua mampu terpilih menuju Haseichta dan mewujudkan tiga keingi—"
"Sssttt!!!! Razel, aku pernah mendengar impian bodohmu soal mewujudkan kecantikan dan usia yang kekal abadi, bagaimana jika ada satu pria yang benar-benar mencintaimu? Dan bagaimana jika pria itu adalah aku yang mengganggap mu wanita yang sempurna, apakah kamu masih ingin mewujudkan kecantikan abadi itu?" tanya Aiden.
"Itu sudah jelas, Aiden. Aku akan menua, dan kecantikan ku akan hilang, aku tidak ingin menua, lalu mati dan kehilangan segalanya."
ucap Razel sambil memelintir rambutnya, dia kembali tersenyum jahat saat mengingat kembali ambisi nya untuk menuju Haseichta suatu saat nanti.