
Terkadang, aku berjalan-jalan mengelilingi kota, melihat banyak pedagang yang saling melakukan jual beli dengan konsumennya. Tempat ini juga agak berbeda, disini aku melihat secara langsung dimana toko pedang itu ternyata ada.
Mereka adalah sebuah tempat yang menyediakan banyak pedang-pedang bagus, setelah lama berkeliling kota, aku akhirnya menemukan toko pedang yang katanya merupakan tempat terbaik di kota ini.
Lagipula sejak awal hari sekolah, sebenarnya aku sudah berkeliling sedikit dan melihat toko pedang lainnya, namun aku tidak terlalu peduli soal itu.
Kupikir membeli salah-satu dari mereka adalah hal yang bagus untuk latihan. Jadi, kuputuskan untuk memasuki tempat ini, kemungkinan bertanya lebih dulu adalah yang terbaik.
Sebuah wanita datang dengan pakaian khusus berwarna hitam.
Tampaknya dia adalah pelayan toko pedang ini, lagipula semua pedang-pedang disini terlihat begitu indah, berkilauan, dan warna-warna mewahnya membuatku seperti menginginkan semuanya, namun aku hanya bertujuan untuk memiliki satu.
"Permisi, anak lelaki, mencari sebuah pedang? Pedang yang kuat? Kokoh? Tahan lama? Mampu membelah batu? Silahkan, kami punya banyak yang mungkin kamu inginkan."
"Hmmm tunggu dulu ... anak lelaki? Kupikir usia kita sama, memanggilku seperti itu."
"Eh? Kupikir kamu lebih muda dariku, kamu anak dari akademi iblis, bukan?"
"Ah, yah yah, kupikir begitu."
"Tentu saja usiamu akan berada pada sekitar enam belas atau mungkin sembilan belas tahun, kan?"
Gadis ini tahu perkiraan usiaku, bahkan jika harus mencapai usia sembilan belas tahun, mungkin itu setelah aku mencapai kelas empat di akademi. Masih ada waktu tiga tahun lagi.
"Kupikir kamu benar, usiaku memang masih enam belas tahun, dan baru saja memasuki akademi beberapa bulan yang lalu."
"Nahh, itu berarti aku tidak salah, aku lebih tua darimu lho~ usiaku ... dua puluh dua tahun."
Dia mengatakan usianya dua puluh dua tahun, padahal dia seperti terlihat seumuranku atau mungkin tujuh belas tahun, gadis ini memiliki usia seperti Valerie. Nampaknya dunia iblis memiliki penduduk yang menua cukup lama. Mereka bahkan masih terlihat segar saja, walaupun sudah menginjak usia tiga puluh atau mungkin empat puluh tahun.
"Baiklah, panggil adik saja tidak apa, jauh lebih baik daripada 'Anak lelaki' bagaimana?"
"Bagaimana dengan namamu?"
"Kupikir nama ku tidak penting, bagiamana dengan A? Sebutkan saja inisialku."
"Baiklah, lalu ... pedang seperti apa yang kamu cari? Atau butuh perbaikan pedang? Kami bisa melakukan semuanya."
Aku mendengar jelas bahwa dia mengatakan perbaikan pedang atau melakukan semuanya, jika seperti itu, mungkinkah dia bisa menciptakan pedang sesuai kemauanku?
Aku terus berjalan di temani gadis ini, berkeliling-keliling pada banyak koleksi pedang yang di jual, pedang emas, silver, cyan, dan bahkan pedang hitam legam disana terlihat keren dan baik.
Aku mencoba menuju langsung ke arah pedang hitam itu, membuat mataku hanya tertuju kesana, rasanya seperti ringan.
Saat kusentuh, bilah nya begitu licin, bagaikan layar ponsel tanpa antigores, begitu halus, namun ujungnya benar-benar tajam.
"Kamu menyukai yang itu?" Tanya gadis itu.
"Apakah ini bagus? Seberapa bagus?"
"The Raven, terbuat dari material hitam khusus dari puncak pegunungan merah, bahannya cukup kuat, dari pandai besi yang menciptakannya, kudengar dia bahkan bisa membelah kaca dengan rapi, bahkan memotong segala jenis logam, besi, tembaga, atau baja."
"Boleh kucoba?"
"Tentu saja, pastikan kamu tidak merusaknya, ikuti aku..."
Aku mengikuti gadis penjaga toko ini menuju ke suatu ruangan, tampaknya ruangan ini adalah tempat untuk menguji seberapa bagus pedang ini, atau seberapa kuatnya dia.
Aku mengambil pedang itu, dan memeganginya dengan tanganku sendiri. Luar biasa! Rasanya benar-benar ringan.
SING!
ZEP!
Setelah ku ayunkan pedang ini dengan posisi miring yang cukup, bekas tebasan yang tak terlihat itu perlahan tergeser dari sambungannya, artinya aku mengincar bagian kepala orang baja ini, kepala nya akan mulai bergeser dari lehernya, hingga akhirnya jatuh ke tanah.
"Bagus! Pedang ini benar-benar seperti keinginanku."
Hmmmm, aku memuji pedang dari toko ini, agar membuat pemilik dan penjaganya senang atas produksi mereka, walau kupikir apakah pedang ini masih bisa menjadi ringan, atau ada jenis pedang lain yang lebih ringan dari ini. Namun, aku tidak menyukai pedang berwarna lain, terkecuali itu adalah silver atau hitam.
"Jadi? Bagaimana? Apakah kamu akan membelinya?"
"Berapa harganya?"
"Enam ratus ribu Scarlet."
"Hah?? Mahal sekali! Ini bahkan dua kali lipat dari harga daging naga iblis, apakah harganya bisa di turunkan untukku? Lihatlah? Aku tampan dan keren? Bukankah aku cocok menggunakannya? Bagaimana dengan diskon untukku?"
Aku mencoba merayu nya untuk membuat harga enam ratus ribu scarlet mungkin bisa diturunkan, singkatnya ... aku menawar harganya hehehe...
"Kamu menawar? Tunggu sebentar, aku akan bertanya pada ayahku."
Setelah mendengar hal seperti itu, ternyata pelayan ini adalah anak dari pemilik toko pedang ini, pedang mereka memang benar-benar berkualitas, orang-orang kota bahkan sampai di kota lain, katanya datang kemari hanya untuk mencari pedang kesukaan mereka.
Setelah beberapa menit duduk, kurasa hanya satu menit, gadis itu datang kembali dan mengatakan bahwa harga nya bisa di turunkan menjadi lima ratus delapan puluh scarlet saja, artinya, mereka mengurangi harga dua puluh scarlet, tapi...
"Baiklah, lima ratus delapan puluh scarlet. Bisakah simpankan ini untukku? Aku akan kembali malam ini untuk membelinya."
"Hah?? Kupikir kamu mencoba dan bertanya untuk benar-benar membelinya, rupanya kamu belum membelinya!!"
Gadis toko: ಠ_ಠ
"Lho? Aku bilang simpankan, aku akan datang kembali malam ini untuk membelinya, aku berjanji."
"Baiklah, batasnya adalah jam sembilan malam, kalau tidak, toko akan tutup lewat dari jam sepuluh malam, buka kembali besok pagi pada pukul tujuh, dan mungkin..."
"Mungkin apa?"
"Orang lain akan membelinya lebih dulu, jika kamu tidak datang malam ini."
"Oh, Baiklah, aku pasti akan datang."
"Aku menunggumu~"
Aku keluar dari toko itu perlahan, rasanya seperti hampir mendapatkan apa yang kuinginkan, pedang itu sangat bagus rasanya.
Padahal gadis itu sudah marah tadinya, aku sudah menghabiskan waktunya untuk berjalan mencari pedang, menguji pedang, bahkan ternyata aku hanya bertanya harganya, hihihi, sebenarnya, itu hanyalah sebuah trik untuk bertanya soal harganya dengan cara yang lebih baik. Kurasa agak bodoh jika aku hanya bertanya lalu pulang karena alasan lupa membawa uang.
Lagipula, aku memang tidak pernah membawa uang selama sekolah, dan aku tidak pernah memegang uang scarlet, terakhir kali dan pertama kalinya, itu adalah uang untuk membayar total makananku dan Marie di restoran itu.
Aku tidak menyangka, di antara ratusan pedang dengan price list yang ada, beberapa termasuk hitam The Raven itu, tidak memiliki price list di bawah mereka, jadi aku tidak bisa melihat harganya. Kurasa Pedang-pedang terbaik tidak akan di sebutkan harganya.
Tapi kurasa cukup aneh, tanda pada lemari untuk pedang berkualitas adalah tidak memperbolehkan siapapun untuk mencoba nya dan menyentuhnya, terkecuali Pedang-pedang biasa tanpa larangan.
Namun, aku berhasil menyentuh pedang itu, mencobanya, bahkan ini diizinkan oleh gadis itu sendiri, kurasa ini karena aku terlihat keren dan tampan? Oh bagus sekali.