Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 138 : Bloody Head And Bones



Kekacauan memenuhi pikirannya, ketakutan hanya dengan merasakan kehadiran ku di depannya, tapi gadis penyihir ini tidak akan mati begitu saja karena tubuh yang ku gunakan hanyalah gambaran sosok diriku dari Vebernhae.


Ruang kosong replika pemandangan dark sea mengelilingi sepotong daratan yang kami pijak. Bahkan aku bisa mendengar suara gemetar hebat dari gigi nya, melihat bagaimana makhluk-makhluk iblis pembawa kiamat tertidur di dalam gelapnya lautan kegelapan. Wajah-wajah mahluk neraka yang terkutuk.


Aku melepaskan ikatan rantai dari seluruh tubuhnya dalam sekejap untuk membiarkannya bergerak leluasa. Mencoba melangkah dari kursi besi tersebut, gadis ini terjatuh saat dia melakukan langkah pertama, tersungkur bagaikan binatang yang sekarat tanpa makanan selama berbulan-bulan.


Aku mendekat lagi di hadapannya, menciptakan rantai di lehernya yang terhubung begitu saja pada tanganku.


"Gadis penyihir ... maksudku, gadis peliharaan ku, bagaimana dengan nama ini? Terdengar luar biasa bukan?" Ucapku sambil memegang dagu nya dan mengangkat wajahnya untuk menatap mata ku.


"L-L-Lepaskan aku.... tolong!!" Ucap nya dengan mata berkaca yang akan segera mengeluarkan air mata.


"Oh~ tentu saja....."


"Tidak."


HAHAHAAHAHA.....


Ku pikir tidak baik jika tak menyentuh gadis ini sedikit pun, maka aku memerintah tubuhnya untuk bergerak sesuai kemauanku, berdiri kembali ke kursi untuk menambahkan perhiasan pada dirinya.


Menghapus semua kekuatan sihir yang ada di dalam tubuhnya dan membuat nya merasakan tekanan mental. Tangan kanan ku mulai menyentuh tangan kiri gadis penyihir tersebut, tangan lembut seorang penyihir cantik.


"Menurutmu.... aku harus mulai dari kuku yang mana??"


Gadis itu mencoba menjawab dan melawan, namun sayang sekali tubuhnya tidak akan pernah bisa melawan, aku membuatnya mengucapkan sebuah kalimat.


"Silahkan tuan~ jari mana saja yang Anda inginkan." Jawabnya dengan nada gembira karena dirinya yang telah dalam kendali ku.


Wajahnya tersenyum, dan tidak ada perlawanan yang bisa di lakukan, aku benci melihat seseorang menangis, maka aku membuat nya tersenyum ceria dengan paksa kendali. Mencabut kuku seseorang satu persatu cukup menyakitkan, namun aku akan mencabut sepuluh kuku dari sepuluh jari di saat yang bersamaan.


Dia menyerahkan kedua tangannya kepada ku hanya dengan pengendalian tubuh yang ku lakukan, wajahnya masih tersenyum dengan mata yang mengalirkan air mata, aku menatap lagi wajahnya sesaat dan tertawa, apa-apaan ekspresi itu!!!


"Tenang saja, ini tidak akan lama dengan satu tarikan."


Jari telunjuk ku mengarah pada kedua tangannya dan dalam sekejap aku mengarahkan telunjuk ku bergerak ke atas, mencabut semua kuku nya dalam satu tarikan, hingga darah-darah kecil memancar kemana-mana yang bahkan membuat beberapa jari nya putus.


...AGGHHHHHHHHHHHHH.......


Gadis itu berteriak sekuat tenaga, bahkan terus berteriak seolah-olah suara nya akan segera habis bersama kulit cerah yang memucat bagaikan mayat. Darah yang terus keluar segera menghiasi tangan dan pakaiannya.


SREKK!!


Seluruh pakaiannya kemudian robek seperti tercabik-cabik, tak menyisakan satu pun pakaian pada tubuh nya, telanjang sepenuhnya bersama rantai yang mengikat lehernya bagikan anjing.


Penyihir berambut hitam itu pasti memiliki kesadaran semesta di mana ia dapat merasakan kekacauan yang telah datang menemui alam manusia.


Mereka mulai berpisah, yang tersisa hanyalah Haumea, gadis berambut merah muda dan seorang lelaki penyihir tersebut. Gadis penyihir yang di sebutkan sebagai Airin itu memiliki sihir tingkat tinggi untuk mencegah kehancuran dunia.


Ketika pertarungan sedang terjadi antara Haumea dan penyihir yang lainnya, aku datang melewati gerbang iblis sambil membawa gadis penyihir berambut ungu yang telanjang dengan rantai seperti anjing di hadapan mereka semua.


"Luar biasa! Luar biasa!!"


Aku mengarahkan jari telunjuk ku pada lelaki yang bertarung melawan Haumea. Cukup jari telunjuk ku menunjuk ke arahnya saja sudah mampu membuatnya terbang begitu jauh menyapu gunung-gunung yang saling berdampingan.


Bukan apa-apa, aku hanya menamainya tembakan kecil.


Gadis berambut merah muda itu kemudian memandang ke arah temannya yang telah ku perlakukan sedikit buruk, aku hanya mencabut semua kuku nya, namun aku tidak sengaja membuat beberapa jarinya putus.


"C-C-Ciann! T-Tolong!!"


"To–"


Aku kemudian segera menginjak kepalanya hingga wajahnya tertanam ke dalam tanah. Gadis penyihir berambut merah muda dengan pedang sabit nya terlihat ragu untuk menolong.


"Ada apa? Bukankah ini temanmu?"


Ucap ku pada gadis itu.


........


"Ayo tolong dia."


Gadis itu bahkan tidak menjawab dan bimbang tentang kalimat yang harus dia ucapkan, karena sudah terlambat, maka aku menarik rambut ungu gadis ini untuk membuat nya berlutut sedikit, aku tidak mencabut dengan cepat.


Tidak perlu ada ucapan terakhir.


KKRRRR.....


Aku mencengkeram kepala nya dan mencabut nya secara perlahan, darah segera memancar kemana-mana, dan...


KKRAAAKKKKKKHH!!!!!


Langkah terakhir adalah langsung mencabut kepala nya bersamaan dengan tulang leher nya, kepala nya yang terputus dari tubuhnya bahkan menyatu hingga keluar bersamaan dengan tulang punggungnya. Beberapa organ tubuhnya juga keluar sambil memancarkan darah ke segala arah.


Tiba-tiba kecepatan tinggi datang menuju padaku, menyentuhku, dan memukul perutku begitu kuat. Lelaki itu..... aku tahu namanya adalah Akira, dia membalas serangan yang sama seperti yang ku lakukan, bedanya adalah dia memukul dengan cukup kuat daripada sekedar mengarahkan jari telunjuk.


Menggelikan.


"Flaire?"


"Flaire?"


Dia terus berjalan kembali ke arah mayat temannya, memandang bersama ekspresi yang tidak percaya dengan realita di depannya.


"Ci–"


"Cian??"


Dia kemudian mencari teman penyihir nya yang berambut merah muda, namun sangat di sayangkan bahwa gadis itu telah kalah, dia lari ketakutan dari pertarungan karena tidak ingin mati.


Dengan rasa tak percaya, pikirannya kacau balau, Lelaki bernama Akira yang malang mulai meletakkan kedua tangannya untuk mencengkeram kepalanya.


"Apa yang terjadi?!"


"Apa yang...."


"Hmmmhahahaha... benar-benar pengecut, temanmu telah mati, mereka lari!! Bagaimana denganmu? Hanya akan terus menangis di sana??"


HAHAHAHAHAHAHA!!!!


Aura yang kuat perlahan melonjak ke segala arah, mata merah nya bersinar dan segera menutupi seluruh wajahnya dengan topeng putih.


"APA YANG KALIAN PERBUATTT!!!"


Saat dia marah, energi yang dahsyat mulai menyapu apapun yang berada di sekitarnya.


Aku menyukainya!!! Anak ini.....


"Haumea."


Kemudian aku memanggil namanya.


Saat aku memanggil, Haumea mengarahkan pandangan padaku tanpa kata. Aku ingin dia kembali ke Vebernhae dan menyisakan pertarungan satu lawan satu antara diriku dengan Akira. Tapi dia menolak dan tetap menyaksikan secara langsung, memilih untuk tetap berdiri dari kejauhan.


Ini mungkin sedikit membutuhkan pukulan besar.


Lelaki bernama Akira itu mulai berubah dengan wujud pakaian hitam dan topeng putih yang membuka sebuah mata satu tepat di tengah-tengah topeng nya. Gempa dahsyat kemudian mengguncang seluruh daratan dan mengeluarkan pedang merah bersama energi yang dahsyat.


Sapuan angin menjadi begitu kencang. Mengembalikan senyum ku dan mengharapkan sebuah pertarungan menarik.


Aliran listrik merah mengelilingi tangan dan pedang nya, memercik kesana kemari seolah-olah pedang itu mampu menyapu sebuah benua.


Aku menggores jari ku hingga robek dan mengeluarkan darah yang banyak, saat darah itu tumpah dengan cepat, saat itu juga aku membentuk nya. Pedang tajam dan panjang yang tercipta dari darahku sendiri, ini tidak akan patah tidak peduli seberapa kuat seseorang memukul ku.


Mata biasa tak bisa menangkap pergerakan seperti yang di lakukan nya, dia melakukan posisi untuk langkah yang lebih cepat, dan bahkan tidak hampir setengah detik, dia sudah berada dekat di depanku, jarak antara kami sangat jauh.


Namun belum terlambat untuk melakukan hal yang sama, aku memegang erat pada gagang pedang merah ku yang bersinar indah. Tanah atau apapun itu akan meleleh ketika bersentuhan dengan pedang ku. Aku juga melangkah dengan kecepatan yang sama ke arahnya, mempertemukan bilah pedang pertama kalinya.


Tabrakan pedang yang menciptakan gelombang kejut hingga membuat gunung-gunung yang begitu jauh berpindah lebih jauh lagi dari posisi awalnya. Tidak ada lagi tumbuhan atau pepohonan, yang ada hanyalah dataran kasar dengan kerusakan yang tak terhitung. Menjadi daratan yang tandus sepenuhnya.


Tubuhnya benar-benar berbeda dari sebelumnya, dia meningkatkan kekuatan fisiknya. Dia sedikit memundurkan posisinya dan kembali menyerang ku di sisi yang lain.


Dia cepat....


Sangat cepat!


Reaksi indera dan penglihatan ku tidak mungkin kalah, aku mampu memprediksi semua gerakan yang akan dia lakukan. Tapi setelah menahan pedang nya dengan sebuah gelombang suara, dia tak dapat menyentuhku. Aku membalas lagi dengan enam pukulan satu arah dengan kasar, itu adalah pukulan yang acak dan keras.


Orang ini ... dia masih mampu menahan pukulan pedang ku dengan satu tangan nya yang memegang pedang saja. Aku dan lelaki bernama Akira ini terus beradu pedang, kecepatan pertarungan yang benar-benar menyenangkan. Aku tidak menyangka akan menerima satu juta tebasan hanya dalam sedetik! Menangkis tebasan dengan dinding Inferno saja cukup.


Saat posisi menjadi benar-benar berjauhan, aku melancarkan serangan besar-besaran dari pedang ku, sebuah cahaya yang tercipta dari darah dan mampu menembus apapun yang ada di hadapan ku. Kecepatan serangan ku melesat ke depan dan memusnahkan gunung-gunung berlapis di kejauhan 17km.


Satu yang terlihat, dia tepat berada di titik serangan ku, namun berlari di dalam cahaya darah dengan satu tebasan yang akhirnya menciptakan jalur untuk mendekati ku. Aku tahu kemana selanjutnya dia akan menyerang, maka aku menciptakan tangan iblis ku sendiri, tangan yang benar-benar keras seperti material ini benar-benar tidak pernah ada di dunia manapun.


Tangan kiri ku menjadi tangan yang mengerikan, menahan pukulan nya saat dia mendarat dan mendorong tubuh ku terus menerus ke belakang. Gerakan selanjutnya benar-benar sulit di percaya.


Dia bergerak menjadi seribu kali lipat lebih cepat dari sebelumnya, setiap tebasan yang di lancarkan membelah apapun yang ada. Bahkan Haumea sudah menjauh hingga tak terlihat dari area pertarungan kami. Gerakan cepatnya benar-benar membawa aliran sihir yang kuat.


Namun aku tidak akan membiarkan tubuhku di sentuh begitu saja, menghilang dan menghilang, lebih cepat dari cahaya dan lebih cepat dari waktu ... melancarkan serangan-serangan ku yang lebih cepat daripada yang di lakukannya.


Lebih cepat..... lebih cepat!!!!


Sing! Sing! Sing! Sing!


Seratus juta pukulan pedang dalam sedetik, itu lah yang ku lakukan hingga menciptakan badai. Pada pukulan terakhir, aku menghentikan waktu dan membuat seluruh dunia membeku tanpa gerakan dan warna. Pemandangan hanya diisi dengan warna hitam dan putih.


Tak ada siapapun yang bergerak, bahkan mahluk mikro apapun itu, saat dia membeku sedetik aku melancarkan tinju ku ke wajahnya hingga dia terbang ke angkasa.