Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 145 : Psychopath



Datang tanpa ketukan, Aiden memiliki kunci lain untuknya. "Aku pulang" Ucapnya setelah masuk ke dalam rumah yang di penuhi aroma masakan yang menyengat.


"Oh? Sangat harum."


Aiden berjalan meletakkan tote bag nya di ruang tengah dan berjalan ke dapur darimana aroma itu datang. Di dapur terlihat ibu nya dengan rambut putih terikat mengenakan celemek masak yang benar-benar seksi.


Aiden: "..."


"Sial! Tidak! Tidak boleh, bagaimana bisa aku berpikiran yang tidak-tidak pada ibuku?" Ucapnya dalam hati melawan otak nya terus-menerus.


"Oh? Aiden, kamu sudah pulang? Benar-benar mengkhawatirkan, kamu selalu saja pulang malam akhir-akhir ini, apakah kamu menemukan teman baru yang cocok untukmu? Atau mungkin...."


Aiden: "Atau mungkin???"


"Ibu curiga bahwa kamu menemukan seorang gadis yang akhirnya menjadi pacarmu, itu alasannya kamu pulang telat akhir-akhir ini kan?"


"Aku memang menemukan seorang kenalan wanita, tapi dia akan menjadi bos ku mulai sekarang, dan aku mulai bekerja besok setelah aku pulang sekolah."


"Huh? Kamu selalu pulang malam, aku jadi kesepian tahu, hanya terus menonton acara-acara TV yang membosankan."


Malam ini suasana panas itu muncul lagi, jadi Aiden memutuskan untuk menutup setiap pintu dan jendela rapat-rapat. Setelah Aiden dan ibunya selesai makan, dia berkata bahwa dia akan tidur di kamar ibu nya sekali lagi. Tapi kali ini, dia membawa pisau dapur yang paling tajam ke dalam kamar.


"Jangan banyak bertanya, dan jangan mencoba berteriak. Ibu paham?" Ucap Aiden memberi instruksi pada ibunya.


"Hmmph ada apa?"


Dia menjelaskan soal firasat buruk termasuk suara-suara yang mengikutinya akhir-akhir ini, di tambah seperti ada sosok-sosok yang terus mengawasinya dari balik kegelapan. Namun meski begitu, Aiden bukan seorang pecundang, apalagi penakut. Jika sesuatu akan terjadi, dia harus melawan.


Orang-orang dari sekolah bahkan tidak akan mengenali wajah Aiden di luar sekolah. Karena dia tidak mengenakan kacamata orang cupu dan gaya rambut softboy. Dia lebih suka menghambur dan mengacak-acak rambutnya, menurutnya itu terasa lebih baik.


Di kamar ibu nya, ada sebuah pintu kaca di balik tirai yang menjadi halaman kamar untuk melihat pemandangan malam, dari sini, pemandangan kota tetap terlihat sangat indah. Aiden memutuskan untuk menyendiri di tempat ini sambil menjaga ibu nya. Orang yang paling dia sayangi, bahkan tak rela jika seseorang memandang ibu nya terlalu lama.


Ketika Aiden melihat seseorang yang memandang ibu nya terlalu lama, rasanya dia akan mengumpulkan semua rasa tidak menyenangkan itu di dalam satu kepalan tangannya dan benar-benar ingin menumbangkan seseorang dengan satu pukulan akibat melirik ibu nya.


Drop!


Tengah malam yang sunyi di antara rumah-rumah tetangga lainnya. Hanya rumah Aiden yang listriknya tiba-tiba saja padam. Dia benci ketika ibu nya menyuruhnya memeriksa meteran listrik, tapi dia sudah terbiasa sejak kecil untuk melakukan apapun yang di inginkan ibunya. Sebenarnya tidak hanya ibu nya, jika saja ada wanita yang benar-benar di cintai olehnya, mungkin dia akan menjadi sangat penurut seperti bagaimana dia menuruti semua keinginan ibu nya.


"Sial! Lampu nya mati."


"Jika hanya lampu rumah kita yang padam, maka ini adalah hal yang tidak beres, listrik di rumah kita benar-benar memiliki instalasi paling aman, bukan?"


"Iya, Aiden hati-hati."


Kemudian ibu nya memeluk erat tangan kiri Aiden dan berjalan di belakangnya melewati kegelapan. Suara pintu di lantai bawah terdengar sedang di buka paksa, namun mereka tidak tahu, pintu yang mana yang terbuka karena suasana yang begitu gelap.


Aiden terpaksa menyalakan senter dari ponselnya yang tidak terlalu terang, namun setidaknya itu mampu menerangi jalan untuk mereka lewati. Namun mereka terkejut ketika pintu belakang di dapur terbuka.


"Aiden? Kenapa pintunya terbuka?" Tanya ibu nya dengan ketakutan.


Jika pintu telah terbuka, maka...


"Pegang erat tanganku!!"


Aiden kemudian menarik ibu nya dengan cepat berlari keluar menuju pintu saat sebuah pisau hampir menuju wajah ibunya. Ibu na memegang erat tangannya sambil gemetaran.


"Tenang saja ibu, jangan takut. Tolong pegang ponselku." Ucap Aiden dengan pisau dapur kecil yang tajam di tangannya.


Benar saja, seorang psikopat yang lainnya datang masuk menembus rumah mereka dengan merusak paksa kuncinya dan membawa pisau dapur yang sama seperti yang dia gunakan.


"EHEHEHEHE!! EHEHEHEHEHE!!!!"


Sosok tersebut tertawa di balik topeng badutnya.


"Aiden!"


"Ibu, tolong jangan berteriak dan tetaplah di belakang ku."


Dengan cepat lelaki bertopeng badut itu berlari menuju Aiden bersama pisau tajamnya. Aiden yang terkejut harus menahan sedikit serangan nya walau terkena goresan pisau yang merobek bagian lengannya. Pisau nya terlempar ke arah lain, dan dia terpaksa harus melawan dengan tangan kosong.


"Bajingan! Berani-beraninya kamu membuatku ingin menekuk badan!!" Aiden dengan marah langsung melayangkan tinjunya pada topeng badut tersebut.


Saat sosok itu terjatuh, dia melakukan tendangan berkali-kali di perut psikopat tersebut. Psikopat yang melawan sambil tertawa kemudian memaksa pisau nya untuk menikam Aiden berkali-kali. Walau dia memiliki banyak darah sekarang, namun dia harus menahan rasa sakit itu untuk melindungi ibu nya.


Menghindari tendangan Aiden, psikopat itu melancarkan tendangan ke perut Aiden hingga terlempar ke belakang, posisinya kini terbalik, Aiden akan terbunuh jika terus terbaring di sana. Namun dia jatuh di posisi pisau nya yang terlepas dari tangannya sejak awal. Dia menghindar dan menusuk bagian kaki psikopat tersebut.


"Bajingan!"


Siku lengannya kemudian di lancarkan untuk memukul wajah bertopeng tersebut hingga posisinya terbuka, dan saat posisimu orang itu menjadi kacau, ketika Aiden bertarung, dia akan selalu mencoba mengacaukan posisi kuda-kuda dari lawannya dan menendang bagian kelamin dengan sangat keras hingga rasa sakit itu membuatnya tak mampu berdiri.


Nguuung!!!!!!


Suara sensor kemudian berbunyi, ada satu psikopat lagi dengan topeng badut tersenyum yang membawa gergaji mesin menyala. Dia berjalan mengincar ibu Aiden. Berpikir tidak mampu melawan senjata seperti itu, Aiden menarik ibu nya lari keluar dari kompleks tersebut. Dia sengaja memancing mereka keluar agar keributan yang akan dilakukannya tidak terdengar oleh tetangga.


Karena dia....


"Karen aku..."


Akan membunuh mereka semua.


"Akan ku bunuh mereka semua."


Berjalan hingga mendekati jalan tol, dengan emosinya dia menendang tiang rambu peringatan di jalanan hingga patah, dan setelah patah, akhirnya dia akan memiliki senjata setidaknya untuk menyaingi sebuah gergaji mesin.


"Jahahaha! Kalian mau kemana??? Hiahahahaha!!" Psikopat yang mengejar mereka tertawa sambil berlari membawa gergaji mesinnya


Aiden masih berdiam dengan tiang rambu besar di tangan kanannya yang menjulang ke atas. Saat gergaji mesin itu hampir mengenainya, dia menghindar dengan cepat dan mengayunkan dua tangannya untuk mengincar kepala psikopat tersebut.


BANG!


Rambu besi yang mendarat tepat di wajah psikopat tersebut membuatnya pingsan dan mengeluarkan banyak darah. Psikopat yang kembali dari rasa sakit kelaminnya juga baru saja datang, namun telat.


"Dasar anjing kampung!! Berengsek!! Maju dan ambil teman mu di sini!!" Ucap Aiden dengan suara yang keras.


Saat psikopat bertopeng itu bergegas melangkah maju, Aiden mengangkat ujung tiang rambu yang patah dan bengkok, kemudian tanpa ragu dia menusuk kepala psikopat yang satunya hingga berlubang. Dia terus menusuknya dengan keras, dan lebih keras hingga mata nya hancur dan otaknya berhamburan menempel bersama darah memenuhi tiang rambu.


Yang terakhir adalah pukulan yang menghancurkan kepala psikopat tersebut hingga rambu nya bengkok. Psikopat yang terguncang tiba-tiba merasa sangat terancam karena cara gila Aiden yang sama saja seperti psikopat. Tidak semudah itu, psikopat yang mencoba lari kemudian di lemparkan sebuah pisau dari Aiden hingga menancap cukup dalam di bagian kaki nya dan membuat jalannya menjadi pincang.


"Bodoh!! Berhenti di sana! Atau aku juga akan membunuhmu!!"


"Aiden?! Apa yang kamu lakukan?!?!"


Ucap ibu nya dengan panik.


"Melindungi mu." Jawab Aiden.


Dia berlari sangat kencang dan menerjang psikopat yang pincang dengan tendangan yang mematahkan tulang psikopat tersebut dan tak mampu lagi berjalan. Setelah benar-benar terpojok, dia melayangkan tendangan-tendangan keras lagi ke perut psikopat tersebut tanpa henti. Hingga Aiden terlalu muak, dia membuka topeng psikopat tersebut.


Wajah pria bodoh yang pantas di hajar, Aiden tidak mengenakan sepatu ataupun sandal dari dalam rumah, karena dia harus bergerak cepat untuk menyelamatkan ibunya. Terasa menjijikkan jika telapak kakinya harus menyentuh wajah orang bodoh ini, maka dari itu, dia mengambil kembali pisau yang jatuh dari tubuh psikopat tersebut, menusuk kedua kaki nya hingga dia tidak mampu berdiri.


"Kamu, kamu tahu ini akhir dari hidupmu bukan?" Ucapnya sambil berbalik mengambil gergaji mesin yang masih menyala.


Dengan kaki telanjang yang menyentuh aspal dan pakaian yang sobek dikotori oleh semburan darah, Aiden berjalan membawa gergaji mesin dengan rambut acak-acakan yang menjadikan wajahnya lebih seram bersama mata merahnya.


"Hahh??!!" Psikopat tersebut benar-benar panik dan mencoba merayap untuk melarikan diri, namun dia hanya terlihat seperti anak anjing yang sekarat karena di tabrak oleh mobil.


"Anjing kampung yang berani-beraninya masuk dan membuat ibu ku harus menyaksikan pemandangan ini ... aku terpaksa harus mengantar mu juga ke neraka!"


"Tolong! Ampuni Ak–"


Ngiieeennggg.......


ARKHHHHHH!!!!!!! AHHHHHH!!!!!!!


Lelaki psikopat tersebut berteriak hingga akhirnya lehernya terpisah dari tubuhnya dan membuat nyawanya berakhir tragis..........


Mata setiap gergaji mesin yang berputar kemudian merobek leher psikopat tersebut secara perlahan, Aiden yang tak ragu lagi memotong kepala psikopat tersebut dari leher belakang, hingga memutuskan kepala nya sepenuhnya. Darah-darah memancar dan mengalir tanpa henti. Tidak hanya sampai di situ, Aiden kemudian memotong setiap bagian tubuh orang tersebut mulai dari tangan hingga kaki menjadi lima bagian yang terpisah.