Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 59 : Take a picture with me




Hari esok adalah hari ini.


Yap, tepat sekali. Seperti biasa juga, pelajaran akan selalu berjalan. Tidak selamanya pelajaran adalah praktik sihir, itu hanya di lakukan tiga kali dalam satu minggu. Semua ada jadwalnya, termasuk materi tentang sejarah-sejarah iblis dan dunia iblis ini.


Kurasa menjawabnya cukup muda jika harus di beri sebuah soal mata pelajaran ini, soalnya ... aku sudah menghabiskan hari-hariku sebelumnya di perpustakaan bersama buku sejarah yang membosankan. Namun kisah-kisah itu cukup menarik, jadi aku terus melanjutkan untuk membaca.


Pelajaran sejarah sihir itu, kami semua selalu di suruh mencatat banyak lembaran halaman yang bahkan hanya di tampilkan selama tiga puluh detik di depan semua murid. Lebih dari tiga puluh detik, tampilan proyeksi akan di ganti ke halaman berikutnya.


Tidak peduli siapa yang tertinggal dengan catatannya, walau dia belum sempat menuliskan lima kata terakhir, maka berakhir. Dia harus melanjutkan menulis ke halaman selanjutnya dan jangan terlambat lagi. Hal ini di lakukan untuk meningkatkan penglihatan, penelitian, dan kemampuan-kemampuan menulis murid.


Itu akhirnya selesai pada pukul sembilan, akan ada satu jam waktu istirahat dan pelajaran akan masuk kembali sampai pukul setengah dua. Itu berarti sampai pulang sekolah.


Karena hari ini Marie juga masih belum sadar, maka Leon duduk tepat di kursi Marie, itu di sebelahku. Dia menulis dengan agak lambat dan tertinggal, jadi dia akan menyalin catatanku dengan mudah.


Setelah itu, aku dan Leon berjalan ke kelas yang tidak jauh dari sini, tepatnya sangat dekat, itu adalah kelas Eiji. Kita akan pergi lagi menemui bu Alin itu. Mengumpulkan data diri mereka sekaligus, tapi aku hanya menemani mereka berdua.


Lagipula, jika berada di kelas, aku hanya akan di wawancarai gadis-gadis di kelasku. Aku harus mencari cara untuk berpura-pura tidur agar mereka menggangu. Tapi kali ini, aku memiliki alasan untuk mengabaikan mereka semua, itu karena Leon dan Eiji, aku harus mendampingi mereka menemui bu Alin sekali lagi.


Ketika mereka menahan ku karena alasan bahwa aku tidak memiliki urusan dengan mereka, aku mengatakan bahwa ini bukan hanya urusan Eiji dan Leon, tetapi urusan ku juga.


Di perjalanan...


"Aiden, tahukah kamu?"


"Tentu tidak~ bagaimana aku bisa tahu jika bahkan kamu belum mengatakan sesuatu?"


"Oh yah! Senior kelas dua dan tiga mengajakku untuk bergabung dengan OSIS. Bagaimana? Aku keren bukan? Aku akan menjadi murid rajin yang terkenal, di sayangi guru, dan banyak lagi."


Ucapnya dengan penuh gembira.


Tapi aku hanya merespon dengan :


"Oh, aku tidak peduli."


Tapi, Eiji sudah tahu bahwa aku hanya bercanda, dan aku memang jarang memperdulikan sesuatu yang tidak penting bagiku, dan bukan urusan yang mengganguku.


Siang jam istirahat ini, kami bertemu bu Alim lagi dan mereka segera menyerahkan data diri mereka masing-masing. Bu Alin menanggapi semuanya satu persatu dengan biasa saja, dia bahkan tidak tertawa ataupun tersenyum. Itu berarti biodata mereka baik-baik saja.


"Jadi, bu Alin ... bagiamana dengan milikku? Apakah dataku di terima?" Aku mencoba bertanya padanya.


"Yah~ di terima dengan baik.


Nada nya santai, namun wajahnya terlihat biasa saja, aku ragu dia marah soal kemarin.


Kemudian seseorang yang kukenal datang, memiliki rambut putih juga, yah bulu mata putih ini, sudah pasti Valerie. Dia datang menyapa Alin dan kemudian menyapaku lagi.


"Halo, tuan maskot sekolah."


"Sial! Jangan memanggilku seperti itu!!"


"Hah? Aiden, kamu kasar sekali, ini adalah guru Valerie, dialah yang akan menjadi pelatih kalian sebelum mengikuti kontes. Jaga ucapanmu dengan baik terhadapnya." Ucap bu Alin.


"Hah? Sejak kapan kamu menjadi kakakku? Kita bahkan hanya berbeda enam tahun lho."


"Meski begitu, aku lebih tua."


Sekarang, kami adu mulut sedikit. Guru ini, Eiji dan Leon hanya melihatku dengan tatapan miring dan bodoh, mereka melihat bahwa aku bercanda dengan seorang guru layaknya teman. Lagipula, mereka semua terlihat masih berumur delapan belas tahun walau usia mereka adalah dua puluh tahun atau lebih. Jadi aku menganggap mereka bagaikan teman.


Panggilan bu guru, bu Alin, atau semacamnya? Itu hanya di tetapkan di lingkungan sekolah atau jika berada di dekat murid, dia sebenarnya mengatakan kepadaku kemarin di kala hanya ada kami berdua, aku bisa memanggil dengan namanya saja. Alin.


Tidak mungkin, ternyata guru yang akan menjadi pelatih kami adalah Valerie, aku ragu dia akan memberi pelajaran yang sesat dan sulit terhadap Eiji dan Leon nanti, tapi dia tidak akan mengerti batas kemampuanku sekarang, bahkan jika harus menyeimbangi kekuatannya, akan kulakukan.


"Sebenarnya, kalian berdua sudah boleh pergi sekarang, terkecuali Aiden. Kamu tetap tinggal disini dan ada lagi urusan yang harus kamu selesaikan untukku." Ucap bu Alin.


"Aiden, bagaimana denganmu?" Tanya Leon dengan memperhatikanku.


"Tidak apa, kalian berdua pergi saja lebih dulu, aku akan menyusul di kantin nanti."


Jadi mereka pergi, meninggalkanku bersama Valerie dan Alin. Sebenarnya guru ini ingin membuat Valerie pergi juga.


"...Ekhem! Valerie, maaf karena ini adalah urusan pribadi jadi ... bisakah kamu meninggalkanku dengan Aiden sebentar?"


"Urusan apa?"


"Itu rahasia, Aiden kemari lah."


Aku datang padanya dan dia membisikkannya sesuatu, itu tentang hal yang kukatakan kemarin. Aku ingat mengatakan sesuatu sebelum keluar dari ruangan itu, bahwa jika dia ingin mengambil fotoku dengan wajah pada kamera, itu boleh saja.


Aku bisa kan? Aku bisa kan?


Ucapnya dengan berbisik padaku.


"Alin, sayang sekali, aku memiliki pendengaran yang kuat, aku bisa soal apa?"


Jadi aku menjawab saja bahwa guru Alin ini adalah penggemarku, dia menginginkan fotoku dengan wajah tersenyum atau bergaya sesuai keinginannya, bahkan mungkin dia ingin mengambil fotonya bersamaku. Saat itu juga, Valerie langsung tertawa terbahak-bahak untuk Alin.


"Hahaha... Apa-apaan itu, kamu menjadi penggemar muridmu sendiri? Cukup langka."


"Hah? Memangnya kenapa?"


Wanita akan mulai adu mulut, jadi aku akan meninggalkan mereka berdua sementara aku menyusul pada Eiji dan Leon di kantin. Kuberitahu satu rahasia keren ku pada Leon, bahwa aku bisa menciptakan makanan enak dan mahal sekelas produk premium hanya dengan keinginanku. Itu membuat mereka mengagumi ku sekarang, mereka tidak perlu lagi menahan diri untuk tidak belanja selama empat hari hanya untuk satu hari dengan daging naga iblis yang lembut.


Sekarang, semuanya mudah denganku, aku bisa menciptakan banyak hal atas keinginanku, menduplikasi nya menjadi lebih banyak, mengubah-ubah nya dengan sangat-sangat mudah. Tidak perlu lagi membuat mereka membayar mahal makanan seperti ini.


Tapi, ada satu hal yang menjadi perjanjian untuk ini, aku memanfaatkan kesempatan untuk dapat memerintah mereka, dengan penciptaan makanan lezat dan enak, maka mereka harus menaati perintahku untuk melakukan keinginanku tanpa harus membuatku keluar dari pintu kelas sedikitpun.


Jadi, aku hanya perlu bersantai dan tidur di dal kelas sejuk ini.


Dan hari ini, aku terpaksa harus memenuhi janjiku untuk datang ke rumah guruku hanya untuk memberinya sebuah foto. Foto itu di cetak dengan sangat bagus, dia sampai terlihat begitu gembira. Kupikir dia awalnya diam dan terus diam karena marah padaku.