Reborn As A Tyrannical Demon Lord

Reborn As A Tyrannical Demon Lord
Chapter 64 : Mega Flare




Aku mengagumi cara mereka bertarung, mereka maju secara bersamaan dari arah yang berbeda, mereka pikir aku tidak bisa mengelak dengan serangan-serangan seperti ini.


Flare!


Dengan jariku, ku semburkan api ke tiga arah masing-masing pada mereka, bertabrakan dengan arah tak tentu, menyebabkan kerusakan tempat ini. Angin kencang mulai menerbangkan pepohonan bagaikan kapas yang melayang di angkasa.


Menyapu semua gedung dan bebatuan besar bagaikan pasir, gerakan mereka memang cepat, namun aku masih bisa menangkap setiap gerakan itu. Dan lelaki yang tampaknya di sebut sebagai Akira ini memiliki gerakan yang lebih unggul daripada keduanya, dia sebenarnya cepat, hanya saja meninggalkan gambaran demi gambaran dari titik awal berdirinya untuk menipuku.


Dia pikir aku tidak tahu hanya dengan meninggalkan gambaran-gambaran dirinya yang membayang berlari, namun teknik seperti ini pernah kulihat, mereka akan bergerak sangat cepat, sehingga aku berpikir mereka masih berjalan dengan efek image yang tertinggal seperti itu.


Dan aku tahu, bahwa dia sudah pasti akan sampai ke belakangku.


"Kena kau!" Ucap lelaki itu.


Sesuai yang kuduga, kecepatannya memang cepat, namun sihir penghalang akan ku aktifkan secara terus menerus untuk menahan semua kekuatan sihir mereka secara bersamaan.


Flare!


Melancarkan lagi api Flare untuk mendorong nya jauh ke tempat lain, sementara dua lainnya masih menyerangku dengan pedang dan sabit.


SING! SING!


Serangan mereka cukup kuat, rasanya pedang ku akan retak dan hancur. Mereka semua tidak biasa, bahkan kekuatan mereka cukup tinggi di bandingkan murid-murid akademi iblis. Jika mereka adalah iblis, mungkin mereka akan setingkat pada kelas elit. Tapi ... melawan diriku saja dengan sebanyak ini adalah hal payah.


Mereka semua lebih baik berada pada tingkat kelas elit kedua. Kemudian mereka semua di tambah Leon dan Chester juga tidak masalah, aku akan melawan siapapun sebanyak apapun mereka. Biarkan hasil akhir yang menjadi penentuannya.


Lelaki yang ku serang dengan Flare suar api biasa tidak terlalu terpengaruh, dia langsung datang seperti kecepatan cahaya lagi, melaju dalam sekejap ke arahku dengan pedangnya.


Jadi inilah waktunya, aku terus menahan tiga senjata hanya dengan satu pedang di tanganku. Mereka semua benar-benar pecundang, jika harus satu melawan satu, mereka sudah pasti berakhir di tanganku dengan tragis hari ini.


Kemudian gadis yang memegang buku itu mengalihkan seluruh ruang dan pemandangan ini memutar dengan aneh, mencoba membuatku terpojok, tapi aku hanya perlu menghindari semua serangan ini dan menyerang balik selama ada celah.


Jadi, disinilah tampaknya kami akan bertarung terus untuk menghancurkan banyak tempat, entah sampai kapan mereka akan terus berhenti menyerangku dan memberi celah, tapi sayang sekali. Aku akan terus menghindar mendekati kota. Biarkan pertarungan ini mengisi kota, menabrak seluruh gedung tinggi itu.


Sampai aku berlari ke atas jembatan melayang yang benar-benar besar, ada banyak sekali mobil-mobil dan nyawa disana. Inilah akibat jika mereka bertarung denganku, akan kubiarkan wilayah ini rusak sepenuhnya, kalau perlu aku akan meledakkan seisi kota ini.


Mereka semua mengejarku sampai ke jalanan kota, ketika kerumunan orang berhamburan karena ledakan-ledakan serangan mereka, jadi kuputuskan untuk mengacaukan lintasan dengan serangan ledakan violet secara berurutan. Merusak beberapa gedung hingga runtuh ke bawah.


Rasanya, manusia-manusia itu seperti tertindas bagaikan semut-semut yang tak berarti. Tapi lelaki bernama Akira ini melaju lagi dengan cepat menyerang ke depanku, membuatku hampir tidak bereaksi, gerakannya benar-benar di luar tangkapan mata apapun. Orang ini cepat, bahkan lebih cepat dari suatu cahaya.


Ketika pedang nya menabrak lagi dengan pedangku, yang lainnya akan ku hancurkan dengan teknik kedua dari kekuatan api ku.


Jadi, dua orang ini terlalu menggangu, aku akan menyingkirkan mereka, lagipula wanita berambut merah muda ini sering mengikuti gerakan ku, seperti bisa membaca gerakanku dan meniru Flare ku.


...MEGA FLARE!...


WUSH! WUSH! WUSH!


Tiga serangan api bombardir bercampur warna ungu ku lancarkan pada mereka berdua, kemudian aku harus terus menjaga diriku dari serangan gadis-gadis penyihir itu. Tidak kusangka ada sekolah sihir nyata di dunia manusia. Mereka begitu merepotkan.


"Kalian benar-benar begitu niat sampai membuatku terpojok seperti ini?"


"Maaf saja! Ada dendam yang harus ku balaskan atas masa laluku." Ucap lelaki itu, kalau tidak salah namanya adalah Akira.


Walau sejauh manapun mereka masih menghindari serangan ledakan Mega Flare ku, aku akan meningkatkan ke tingkat akhir Flare.


Aku kubawa mereka semua ke tengah kota. Keramaian yang begitu ricuh di tengah kekacauan ini. Ledakan-ledakan yang kuhancurkan ini sudah hampir membawa kerusakan ke tengah kota.


Seluruh gedung-gedung kemudian beterbangan seperti ingin terbalik ke langit, gadis itu memiliki kontrol kendali ruang. Jika terus begini, aku akan gagal menghancurkan kota mereka dan di bawa ke sebuah tempat seperti domain. Ini tidak boleh terjadi, aku harus menghancurkan penarikan ke dalam domain seperti itu.


Kami semua bertarung dengan kecepatan tinggi di antara cahaya-cahaya bersinar, menciptakan pijakan-pijakan langit untuk berlari. Gedung-gedung lain terus ku serang juga untuk merubuhkan gedung lainnya, gedung-gedung pencakar langit ini hanya perlu kuhancurkan dengan serangan fatal di bawahnya.


Ku luncurkan Mega Flare ke beberapa gedung pencakar langit yang menjulang tinggi ke awan. Ledakan ini, tidak akan ada gedung yang mampu menahannya. Mereka akan jatuh bagaikan domino dan menghantam setiap manusia bagaikan semut.


"Sialan!!"


Lelaki yang satunya lagi melaju untuk menyentuhku, tapi aku benar-benar tidak suka itu, jadi ku tendang pedang nya sampai terbanting ke arah lain. Sisanya akan terus ku layani sampai ada celah untuk lari.


Jika terus-menerus seperti ini, aku akan kalah. Mereka mungkin saja memiliki kekuatan lain yang tersembunyi hingga staminaku habis dan mereka akan menghabisi ku disini.


Tidak boleh!


Keinginanku masih panjang, aku belum pernah menemui cita-cita ku, memiliki kehidupan yang kuinginkan dan alur cerita keinginanku. Aku masih belum boleh kalah, jika aku kalah disini, maka itu sama saja dengan mati.


...VIOLET BLASTER!...


Violet blaster mungkin cukup untuk menciptakan ledakan skala besar pada mereka, akan ku buat mereka menjauh. Jadi, serangan violet ku meledak sampai meluluh lantakan beberapa blok kota ini. Cahaya ungu ini, aku suka pemandangannya, menghasilkan awan jamur yang besar ke langit.


Pemandangan ini akan mengaburkan penglihatan mereka, aku bisa berlari sebentar untuk mengurangi pertempuran yang terlalu banyak. Aku terus berdiam diri di atas gedung pencakar langit lainnya. Perasaanku berdebar kencang. Apa-apaan dengan rasa gembira ini, aku bahkan senang ketika pertama kalinya bertarung seseru ini, mereka semua benar-benar cocok untukku, tapi masih kurang jika mereka juga masih menyembunyikan kekuatan lain dariku, aku akan menunggu.


Serangan Violet ku kali ini lebih besar daripada serangan yang sebelumnya ku lancarkan pada Cade dan teman-temannya. Jika waktu itu adalah satu persen dari ledakan, maka kali ini aku sudah membuatnya menjadi dua puluh persen. Dan jika harus terpaksa oleh keadaan yang mendesak, aku akan langsung mengeluarkan Final Blaster. Akhir dari semua teknik violet yang akan menyapu rata banyak benua bagaikan nuklir, bumi ini akan rusak.


Cahaya merah di balik kabut tebal ledakan menyala dengan silau, aku melihat ke bawah ketika sesuatu kemudian menyerangku ke atas, aku ketahuan lagi berada di atas sini. Lelaki itu sudah memakai sebuah topeng dengan satu mata di wajahnya, bergerak-gerak bagaikan mata naga.


Pedang hitam ini juga tampaknya sangat kuat, aura penghancur yang luar biasa. Jika dia mengharuskan ku bertarung dengan serius, maka akan ku buat mereka semua mengeluarkan kekuatan terbaik mereka untukku, biarkan kota ini menjadi lautan api. Di penuhi ledakan sinar violet. Aku sedikit kasihan jika mereka semua harus terkena Final Blaster ku, karena otomatis, manusia-manusia ini tidak akan selamat, dua benua sekaligus akan meledak menjadi debu.


Pecahan-pecahan kaca gedung bertabrakan kesana kemari, seperti potongan kecil kertas yang berhamburan di langit. Anak-anak kecil tak bersalah mati karena perbuatanku, tapi sebenarnya, ini bukan karena salahku tapi karena mereka semua membawa ku sini dan melakukan tindakan kasar.