
Dan saat itu juga, dia melihat ke belakang, ke arahku. Dan bertanya apa yang ku lakukan, aku mengatakan bahwa aku berlari begitu jauh ke atas, namun dia masih tetap terlihat berjalan santai di tangga sambil memegang bagian pegangan tangga di kanan.
"Kapan kita akan sampai?"
"Mungkin tidak akan pernah sampai jika kamu tidak menggenggam tanganku ke atas." Ucapnya dengan membuang muka.
"Hih, jangan sok iya, aku sedang mencari jawaban dan aku akan langsung membawa kita ke ujung anak tangga ini."
Marie: "Tungg–"
Aku langsung memetikkan jariku bersamaan dengan keinginan ku untuk mencari jawaban tentang keberadaan Marie yang asli.
"Kita sudah sampai, ini berada di atas ujung tangga, bukan? Kalau begitu ... apa yang akan kita lakukan disini?" Tanya ku padanya.
Aku langsung mengakhiri perjalanan tidak terbatas ini dan langsung berpindah ke atas tangga tak berujung. Mungkin aku tidak akan pernah sampai ke sini jika terus berjalan biasa. Tapi saat aku bertanya padanya, dia sudah menghilang lagi.
Aku berada di suatu tempat seperti sebuah aula besar yang panjang ke depan. Di hiasi dengan lantai keramik yang warna merah dan ungu membentuk motif seperti papan catur. Dan di kanan dan kiri adalah tiang-tiang megah yang menjulang tinggi ke atas. Di setiap beberapa meter, ada patung-patung mahluk yang aneh. Mungkin mereka semua adalah iblis. Tapi ini adalah patung, tidak mungkin ada iblis lain selain raja iblis yang ada di tempat ini.
Jangan-jangan semua patung ini adalah patung raja iblis di setiap generasi. Aku melihat ke setiap patung dari jauh, nama mereka semua memang tertulis masing-masing di patung mereka. Semua patung raksasa setinggi sembilan meter yang ada di kanan dan kiri ku adalah patung dari semua raja iblis yang pernah ada.
Aku terus berjalan ke depan, tempat ini mungkin menuju ke arah tahta yang mereka bilang, seperti penampilan nya, tempat ini benar-benar kerajaan iblis. Begitu banyak tulisan mantra iblis terukir di setiap dinding. Mantra-mantra ini mungkin di benci oleh semua penyihir, terkecuali penyihir yang menggunakan sihir gelap dan menyembah iblis.
Melewati gerbang besar tanpa pintu, aku berada di jembatan yang begitu panjang, di bawah juga begitu dalam seperti kegelapan yang tidak ada dasarnya. Saat aku terus melangkah di jembatan setan ini, aku merasakan sesuatu yang aneh, perasaan bahwa jembatan ini hanyalah ilusi.
Ya.
Memang benar, ini adalah ilusi.
Pasti ilusi.
Setelah menyadarinya, aku menggaruk kehampaan perlahan, seolah-olah meletakkan tanganku pada air yang mengalir tenang untuk merobek nya. Sekali robekan dari kanan ke kiri, pemandangan berubah seperti air yang menjadi jernih. Ilusi menghilang, tidak ada jembatan dan jurang gelap yang tidak ada dasarnya.
Yang ada hanyalah diriku yang berada di bibir pantai. Air nya berwarna merah darah, dan di kejauhan adalah lautan lepas tak berujung dengan ombak besar berwarna merah yang lebih gelap lagi. Langit nya merah seperti ketika aku membuka Inferno Gates di dunia manusia, pemandangan ini benar-benar keterbalikan dari pemandangan manusia.
Lautan merah dan langit merah saling bertemu pada satu titik yang dihiasi oleh matahari berwarna hitam. Ombak terus menabrak pantai dengan keras, dan bebatuan besar di pinggir pantai ini adalah bebatuan yang mirip seperti tanduk iblis raksasa.
"Aku sudah menunggu mu sangat lama, Aiden."
"Marie? Itu kah kau?" Tanya ku setelah mendengar suaranya dari mana-mana.
Dan kemudian aku langsung menatap pemandangan dengan mataku untuk memecahkan dimensi, namun tidak ada yang terjadi, ini bukanlah ilusi, ini nyata. Karena aku bisa memperkuat mataku lewat aliran kekuatan Will Power dan menghancurkan apapun hanya dengan menatap nya.
"Apa yang coba kamu lakukan? Kamu sudah sampai disini, tidak ada ilusi, hanya kita berdua." Ucapnya lagi.
Aku mendengar suaranya datang dari segala arah memenuhi ruang, namun saat aku melihat ke depan, dia sebenarnya sudah berada di depanku. Berendam jauh di dalam lautan merah itu. Aku mendekat lagi untuk melihat lebih jelas dan memanggil namanya sekali.
Dia berbalik dengan rambut basah yang agak menutupi wajahnya tanpa senyuman, saat itu lagi, dia mengusap poni nya dengan tangannya untuk memperlihatkan wajahnya dan berkata "Ya, ini aku." senyuman jahat itu juga muncul lagi di wajahnya, kemudian aku bertanya balik...... "Apa yang kamu lakukan disana?!" Soalnya airnya berwarna merah darah seperti itu, jika warna nya seperti itu, itu bahkan lebih buruk dari lautan biru gelap.
"Aku mandi, lautan ini adalah darah ku sendiri, mau mencoba nya?" Katanya.
"Em, kurasa tidak."
"Baiklah, karena akhirnya kita bisa bertemu untuk pertama kalinya, aku ingin meminta permintaan pertamaku padamu." Ucapnya sambil terus berendam dan membelakangi ku.
Aku bertanya tentang apakah permintaan itu, dan dia menjawab dengan singkat. "Ambilkan handuk untukku dan bawakan ke sini." Jadi dalam sekejap, aku menciptakan satu handuk untuknya, tapi kenapa harus membawa handuk nya kesana.
Karena tidak ingin melakukan hal yang merepotkan, aku membawa handuk itu terbang menyebrangi pantai sejauh beberapa meter, namun handuk itu lenyap menjadi asap berwarna merah. Katanya, "itu bukanlah cara sopan untuk melayani ratu mu."
Jujur, sebenarnya aku pernah takut dengan lautan dan kegelapan, bukan takut karena nya, aku pernah takut sesuatu di balik kegelapan mereka.
Apa yang ada di bawah air yang gelap?
Apakah jurang tak berujung?
Apa yang ada di balik kegelapan ruang?
Apakah kehampaan?
Atau mahluk yang akan membunuhmu?
Jawabannya, aku tidak tahu. Karena aku pernah takut akan hal semacam itu, tapi mungkin sekarang tidak. Aku langsung bergegas membawa handuk di tanganku dan mulai melangkahkan kaki ku di air. Turun perlahan berjalan melawati pasir pantai hingga ke bawah, dan rasanya aneh.
Aku terus berjalan menyebrangi pantai beberapa meter hingga air sudah setinggi pinggang ku. Saat aku sudah mendekati nya, ada begitu banyak tangan-tangan yang memegang kaki ku dari bawah air.
"Marie! Tangan siapa ini!?"
"Mungkin ini adalah tangan semua mahluk yang pernah ku bunuh, ku bawa ke dunia ku sendiri untuk menghiasi kolam ku." Ucapnya sambil tersenyum.
"Bagaimana dengan handuk mu, cepatlah ambil, aku akan segera keluar dari sini."
Dia meraih tanganku dalam sekejap, kemudian menarik ku secara paksa hingga aku terjatuh ke depannya, namun aku mencoba untuk tidak jatuh dan melawan tarikannya.
Saat posisi terbalik, dia lah yang tertarik dan terjatuh ke arahku, tapi dia menjatuhkan dirinya lebih cepat dan dengan sengaja mencium ku.
Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan, ciuman nya cukup lama, dan tubuhku terlalu kaku. Saat semua terlepas, aku bertanya kenapa kamu mencium ku lagi?
"Hentikan itu, dan ayo keluar."
Aku berjalan kembali ke ujung pantai, sementara saat kaki ku naik ke daratan, tangan-tangan itu ikut menarik kaki ku juga, mereka semua adalah tangan berwarna hitam dengan kuku yang sangat tajam. Seperti tangan orang yang meminta tolong karena sekarat.
"Sambutan yang cukup aneh yah." Ucapku sambil membelakanginya.
"Begitukah? Padahal aku berharap kamu menyukai sambutan ku." Ucapnya sambil berjalan melewati ku.
Namun, dia membuatku terkejut lagi.
"Woah!! Sial! Pakai dulu pakaianmu! Baru lewat di hadapanku."
"Ada apa? Aku sudah terbiasa telanjang untuk waktu yang begitu lama, lagipula ... tidak pernah ada siapapun disini kecuali aku, dan sekarang hanya ada kita berdua."
"Apa-apaan, telanjang untuk waktu yang begitu lama. Itu agak aneh."
Dia berjalan lagi ke arahku dan mendekat.
"Kamu tahu sesuatu? Memakai pakaian terkadang membuat tubuhku terasa berat."
Kemudian, dia akhirnya memakai pakaiannya dan kini adalah pakaian yang berbeda. Jika memang aku tidak salah liat, rambutnya tidak sepanjang ini.
"Aiden~ apa yang kamu lihat?"
"Ehh? Tidak, bukan apa-apa."
"Kalau begitu, tolong pasang kancing bagian belakang ku." Pinta nya
"Baju yang baru?" Tanya ku lagi.
"Mungkin ya, aku baru berpikir untuk memakai pakaian hitam tahun lalu. Dan Marie yang kuciptakan dengan gaun merah adalah gambaran lama dari diriku."
"Oh ya, nama mu adalah ... Haumea ya."
"Aku senang kamu bisa memanggil nama asli ku, ku harap kamu bisa terbiasa denganku, karena kamu tidak bisa lagi kembali ke dunia bawah ... selamanya."
"Ehh!?!? Kenapa?"
"Kamu tahu, Aiden. Ada ratu iblis bernama Haumea yang tinggal di tempat tertinggi seperti ini, itulah diriku yang di puja semua iblis, dan ada manusia yang ku panggil untuk di jadikan iblis, awalnya aku hanya bercanda untuk menjadikannya budak, tapi ... oh, dia sudah mengambil ciuman pertama ku." Ucapnya seperti bertele-tele sambil berjalan kesana-kemari.
"Ini tidak ada hubungannya dengan ciuman kan?"
"Ada ... ciuman pertamaku adalah memberikan posisi raja iblis kepada mu, dengan begitu, kamu menjadi raja ku sekarang, dan aku adalah ratu mu, untuk mempererat hubungan kita lebih dalam, Aiden, ayo bersetubuh denganku."
....
...PFFFTTTTT!!!!...
Bukan keinginan ku, tapi tubuh ku tiba-tiba saja refleks muntah darah hingga membuatku batuk seperti tersedak.
"Hahahahahahahaha..... aku bercanda lho~"
"Jangan menggoda ku seperti itu, kamu benar-benar mirip dengan succubus."
"Oh~ ayolah, aku ini ratu iblis, menjadi succubus tentu adalah hal yang mudah. Apa perlu aku membuka kembali semua bajuku, memperlihatkan tanduk ku dan mengeluarkan sayap?"
"Tidak, tidak, tidak! Hentikan."
"Kalau begitu, cepat pasang res belakang ku."
Dia masih suka memerintah, padahal dia bisa melakukan semuanya dengan sihir, jadi aku menuju ke belakang nya untuk memasang semua kancing nya. Aku suka mencium aroma rambutnya, rasanya pernah ku hirup, namun entah dimana dan terasa seperti Déjà vu.
Setiap kali berada di dekatnya, aku diam-diam mengambil helaian rambutnya segenggam tanganku dan menghirup aroma nya. Kali ini rambutnya benar-benar panjang hingga menyentuh bagian pinggulnya, jadi aku mengatakan sesuatu lagi.
"Ternyata rambutmu yang sebenarnya lebih panjang yah?"
"Yah, seperti itulah, apa kamu menyukai rambutku? Apa warna rambutku terlihat bagus?" Tanya nya.
"Kurasa benar, aku menyukai warna rambut mu, aku menyukai aroma rambutmu, dan aku menyukai seseorang yang memiliki rambut berwarna merah seperti ini."
"Jadi ... kamu menyukai ku?"
Ku jawab "Ya."
"Jadi ... apa kamu mencintaiku?"
Ku jawab lagi "Aku tidak tahu."
"Jangan membuatku berkecil hati! Aiden!!"
"Ahh, berisik, sudahlah jangan banyak bergerak, aku mau memasang kancing mu."
Untuk mempermudah, dia mengangkat rambut nya sendiri, agar aku bisa melihat semua bagian yang terbuka. Tapi saat semua nya terbuka, aku cukup terkejut melihat tato di punggungnya, sebelumnya saat dia berbalik aku tidak menyadari itu, tato serupa simbol bintang terbalik yang memanjang ke atas dari bagian punggung bawahnya.