
Pada jam kosong yang begitu panjang, kelas justru tidak masuk, karena ketidakhadiran guru Valerie untuk mengajar mereka. Hal ini membuat Eiji datang ke perpustakaan untuk mengisi waktu daripada berada di kelas bersama murid-murid busuk itu.
Berbeda dengan Valerie, dia malah pergi ke perpustakaan juga untuk mencari Aiden disana, mungkin dia berada disini tanpa alasan. Valerie tepat berada di meja yang sama ketika dia melihat Eiji sudah lebih dulu di sana, membuat Eiji terkejut untuk pertama kalinya, bahwa guru baru ini berada di perpustakaan, tepat di sampingnya.
"B-B-Bu guru?? Apa yang kamu lakukan disini?"
"Membaca sesuatu, atau bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku mencari murid kesayanganku?"
"Begitu rupanya, ternyata kamu memiliki banyak murid kesayangan yah? Pasti mereka begitu cerdas."
"Tidak juga, aku hanya memiliki satu murid, dia tepat berada di kelasku. Aiden Leonore."
"Aiden? Guru, aku juga mencarinya sejak pagi, sepertinya dia tidak masuk lagi ke sekolah, absen nya bolong-bolong dengan kacau."
Di meja yang sama, Valerie sebagai guru, dan Eiji duduk di sana, membaca buku yang jelas berbeda. Tidak ada topik pembicaraan lain lagi, maka suasana segera hening dengan buku mereka masing-masing.
"Guru! Guru!"
Eiji memanggil dengan suara yang sangat kecil.
"Hmmm?"
Eiji kemudian memberi isyarat untuk mengecilkan suaranya, menempatkan jari telunjuk di tengah bibir, yang artinya bisa saja diam atau perkecil suara.
"Baiklah, aku hanya ingin mengatakan bahwa gadis di samping kita terasa agak familiar."
"Benar! itu benar! kupikir hanya aku yang berpikiran seperti itu."
"Apakah menurut anda dia adalah Aiden yang berpura-pura hanya untuk bolos?"
"Aku kurang yakin soal itu tapi, mungkin dia adalah Aiden."
Keduanya memandang gadis itu, mereka bertiga tepat berada di meja yang sama. Namun, gadis itu sedikit jauh dari mereka, jarak dua kursi dari samping Eiji.
EKHEM! EKHEM!
Gadis itu kemudian batuk sedikit dan melanjutkan kembali bacaannya.
Guru dan murid ini terus menatapnya daritadi, di saat yang bersamaan, kedua nya menutup wajah mereka seolah-olah membaca dan mengamati setiap baris kalimat dengan serius, tapi sebenarnya pandangan keduanya terus mengarah pada gadis itu.
Aiden yang merasa seperti di tatap, tetap melihat buku nya secara terus menerus. Selama beberapa menit hingga membuat kepalanya jadi tidak fokus, rasa tatapan itu seperti mengarah padanya, membuatnya melihat ke arah Valerie dan Eiji.
Dia berbalik untuk menguji perasaan tidak enak itu, tapi menurutnya, kedua orang ini terus menatapnya dari tadi. Ketika wajahnya memandang pada Valerie dan Eiji, keduanya langsung mengubah lirikan mata mereka kembali pada lembaran buku mereka masing-masing.
Aiden memiliki rencana soal cermin yang agak jauh dari sisinya, cermin yang entah kenapa berada di dinding itu, cermin sederhana yang melengkung. Dia melirik kembali pada setiap bacaannya, kemudian melihat dari pantulan kaca di sisi lain.
Wajah dan lirikan itu jelas, kedua orang ini menatapnya lagi, Eiji dan Valerie sama saja, keduanya terus melihatnya. Dia terpaksa harus bertindak sedikit.
"Mau sampai kapan kalian terus menatapku seperti itu?"
Ucapnya dengan bertingkah ingin keren, seolah-olah dia menyadari mereka, tapi sebenarnya dia mengetahui itu semua dari sedikit pantulan cermin yang agak jauh.
"Ehehehe, bukan maksudku untuk menatapmu dengan buruk, namun rasanya aku pernah melihatmu di suatu tempat, itu sebabnya aku hanya ingin memastikan."
"Kita tidak pernah bertemu di suatu tempat, dan jika ada, itu adalah sekarang, di tempat ini."
Valerie berdiri dari kursinya, menuju pada tempat duduk gadis itu, menatapnya dengan keras dan bertanya.
"Kurasa kita bukan hanya pernah bertemu~ tapi kamu adalah Aiden!"
Kemudian Valerie langsung menarik rambut gadis itu dengan kuat, tidak ada yang bisa di lepaskan, rambut hitam panjang itu murni adalah rambut seorang gadis. Membuat Valerie melakukan hal yang tak terduga.
"Ahhhh-Ahh! itu sangat sakit!!"
PING!
"Tunggu sebentar~ kamu adalah gadis asli? huhhhh? dia benar-benar mirip dengan wajah Aiden ketika menjadi seorang gadis, sekarang katakan... Siapa namamu?"
Pertanyaan yang membuatnya diam sejenak, dan terus di perhatikan oleh Eiji, sebuah nama baru harus di pikirannya dengan cepat. Kalau tidak, identitas palsu ini akan terbongkar terlalu cepat.
"Eirene Alshina."
Wajah Valerie terlalu dekat, seperti interogasi yang berlebihan, namun dia menggangap nama itu cukup baik. Mungkin gadis ini memiliki kemampuan yang sangat kuat sampai tidak bisa di deteksi olehnya.
"Kurasa aku salah orang, minta maaf jika guru telah melakukan hal yang salah."
Valerie meminta maaf atas kelakuannya, kemudian dia segera keluar dari bagian meja ini dan bermaksud untuk mencari Aiden di tempat lain. Anggap saja ini tidak pernah terjadi, ketika dia berjalan sudah sangat jauh, namun menjentikkan jarinya untuk membuat gadis itu lupa soal hal yang telah dilakukan padanya.
Gadis Eirene yang merupakan Aiden nyata hanya tersenyum seperti melihat orang konyol di dalam hatinya, dia cukup senang bisa membodohi orang lagi, apalagi jika mereka adalah orang dengan kecerdasan yang lumayan tinggi.
"Tapi maaf, Valerie~ penghapusan ingatan itu tidak lagi bekerja untukku..."
"HihihhEHAHAHAHAHAHAHA!!!!"
Baiklah, sekarang yang tersisa hanyalah Eiji...
"Kamu."
"Aku?"
"Yeah~ aku memiliki jawaban untuk pertanyaan pertamamu tadi, tapi itu bahkan bukanlah sesuatu yang bisa aku ucapkan untuk di dengar seorang guru."
"Jawaban?"
"Yang pertama, tentu saja kita pernah bertemu, itu ketika aku tidak sengaja lewat di dekat gudang akademi yang cukup sepi, dan ada beberapa murid yang akan mengancam karena kamu tidak ingin bekerja sama dengan mereka, benar?"
"Kurasa itu dia! kamu adalah gadis yang lewat sekilas! tapi tidak mungkin, seorang wanita tidak mungkin membantuku untuk bertahan dari banyak orang seperti itu."
"Yakin? sekarang beritahu, ancaman apa yang di katakan untukmu?"
"Seperti ancaman bahwa mungkin aku akan berkelahi dengan seorang anak bernama Cade, mereka semua berada di kelas yang sama denganku. Tapi sayangnya, Aiden tidak ada disini."
Aiden yang menjadi wanita hanya tersenyum di dalam hatinya, cara ini mungkin cukup untuk sedikit membantu Eiji dari anak yang keras kepala itu. Dia hanya perlu berjalan jauh di belakang Eiji ketika waktu pulang itu tiba.
Mari lihat apa yang akan di lakukan anak-anak pecundang itu.
Eiji mulai berjalan sesuai kesepakatannya untuk tidak mendapatkan ancaman lagi, dengan duel satu melawan satu dengan Cade, dia di beri jaminan untuk tidak di beri ancaman lebih, seperti di pukuli bersama-sama.
Tapi semua itu hanya omong kosong dan kebohongan belaka, seorang pecundang tidak ingin terlihat sebagai orang yang kalah, maka dia memanfaatkan semua temannya untuk memancing Eiji kesini sendirian.
Eiji sekarang berada tepat di gedung sepi belakang sekolah, tidak ada siapaun kecuali Cade bersama teman-temannya.
"Eiji! kamu bernyali besar juga untuk datang kemari!"
"Aku bukanlah pecundang yang akan lari dalam masalahku."
Walau dia mengucapkan seperti ini, Eirene hanya menyuruhnya untuk tetap melakukan akting nya disana, menunggu mereka melakukan sesuatu terhadapnya. Eiji sedikit ragu, apakah gadis baru yang membantunya ini bisa di harapkan atau tidak.
"Kalau begitu, majulah!" Ucap Eiji.
Cade tidak memberi aba-aba apapun, tapi semua temannya yang berjumlah enam orang maju secara bersamaan dengan cepat. Aliran kekuatan sihir yang di arahkan secara bersamaan untuk menyerang Eiji.
Tidak ketika di matanya mereka semua terlihat bergerak sangat lambat. Sebuah ruang bebas yang menciptakan segalanya menjadi sangat lambat.
Suara langkah kaki sepatu terdengar dari belakangnya, membuat Eiji menoleh ke arah langkah itu, terlihat Eirene yang datang seolah-olah itu semua biasa saja. Eiji hanya memasang ekspresi aneh di wajahnya, tidak mengerti apa yang ada di depannya.
"Eirene!! a-a-apa ini?!?"
"Aku hanya mengubah seluruh waktu menjadi lambat~" sambil mengibaskan rambut hitamnya.
"Kemampuan ini!!! tidak mungkin!! kamu? siswa memiliki kemampuan seperti ini? apa-apaan!"
"Aku hanya membantumu, lagipula lihatlah semua ini, apakah kamu benar-benar bersiap untuk menerima semuanya secara bersamaan?"
"Jika kupikir, kurasa ini benar-benar tidak adil."
"Tidak adil? tentu saja, lihatlah pecundang yang berdiri paling belakang disana, asal kamu tahu, dia adalah yang paling lemah di antara mereka semua."
Aiden sudah tahu, bahwa anak yang lain lebih kuat daripada Cade yang memimpin mereka, dia hanya disegani karena warna baju merahnya? oh apa-apaan, itu adalah hal yang tidak penting di mata Aiden. Bukan suatu hal yang berharga dan membuatmu kuat. Itu hanyalah gelar atau bagian lain dari keluarga mereka yang membuat mereka terlihat terhormat. Andai saja orang-orang tahu bahwa keturunan keluarga bangsawan selemah dan pengecut seperti ini.
"Aku akan memutuskan..."
"Menyingkir dari sini kebelakang ku, ini mungkin akan sedikit menyakitkan jika kamu terkena serangan ku."
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku bilang mundur! jangan membuang waktu, karena aku tidak mengehentikan waktu."
Eiji berlari agak jauh kebelakang Eirene, hanya mereka berdua yang bisa bergerak secepat ini dalam zona Eirene. Apapun yang berada di dalam jangkauannya akan melambat seperti tidak bergerak, tapi bergerak sedikit demi sedikit dengan sangat lama. Sekalipun itu lesatan peluru atau kecepatan cahaya, mereka akan terlihat seperti diam saja, namun bergerak selambat mungkin dalam zona ini.
Dia hanya menunjuk dengan satu jari telunjuk tangan kanan nya, ke arah semua anak yang menerjang begitu lambat. Cahaya ungu yang begitu menyilaukan. Aiden melihat sedikit pada Eiji di belakang, memastikan bahwa dia sudah cukup jauh dari serangan ini.
...VIOLETO BLASTER!...
Perlahan seluruh zona lambat di hilangkan, ketika angin mulai terasa menyapu baju mereka berdua, tidak, menyapu semua yang ada secara sedikit demi sedikit. Hingga zona lenyap sepenuhnya dalam sekejap, maka terlambat sudah. Tidak ada cara untuk membuat mereka lari dari jangkauan sekuat ini.
PIUSHHHH!!
Zona lenyap dalam sekejap, kecepatan ledakan melebihi kecepatan suara segera datang menghampiri mereka semua, menabrak dengan sangat keras, mengahasilkan gelombang kejut yang besar, menyapu semua pepohonan dan apapun yang ada disekitar, cahaya ledakan ungu yang seperti putih silau, begitu panjang menabrak sampai ke arah sekolah.
Serangannya begitu mematikan, bahkan gedung-gedung sekolah yang terkena bagian ini segera hancur dan runtuh untuk di tembus seketika, menjadi bangunan yang di tembus oleh sesuatu seperti api ledakan berwarna ungu. Gelombang kejut ini juga merusakkan pendengaran orang dalam beberapa saat sampai seluruh kaca yang di jangkau akan pecah berkeping-keping.
BLUSHHH!!!
Serangan terjadi, semua terlambat, tidak akan ada cara untuk kabur. Apa yang di harapkan terjadi sesuai realitanya, kahancuran yang bahkan bisa dilihat orang-orang dari kejauhan, karena bunyi ledakannya yang begitu besar.
Tidak ada salahnya untuk mencoba semua kemampuan sihir yang dimilikinya sekarang, tanpa perlu mengucapkan kata pun itu bisa untuk Aiden, kekuatan Will power yang di pecah lagi menjadi kekuatan lainnya.
Aiden tidak tahu harus menamai apa kekuatan yang ada dalam dirinya, jika itu benar-benar kuat seperti semua yang ada dalam mimpinya, maka dia akan menyebutnya sebagai Will power saja, walau Fyrena tidak menyebutkan apa itu Will Power.
Namun, jika harus terjadi dan benar-benar menggangunya, biarkan dia membuka kekuatan ini lebih besar lagi, seperti violet blaster yang bagaikan satu persen dengan ledakan sebesar ini akan di tingkatkan pada lima persen, hingga daya ledak yang begitu tidak terkira seperti seratus kali lipat dari ledakan nuklir.
Hal seperti itu mungkin bisa langsung membuat sebagian Izar menjadi rusak, dan sisanya akan berdampak begitu parah pada kerusakan alam. Jika itu adalah bumi, mungkin mereka akan langsung meledak berkeping-keping ke angkasa, membuat puing-puing kacau menabrak bulan dan planet sekitarnya.